
Kini mereka sudah berada di Vertrag. Keramaian disana sangat tidak normal, bahkan lebih ramai daripada di Veronheim. Bisa dibilang, Vertrag sangat mirip dengan New York yang dimana dijuluki kota tak pernah tidur.
Ini masih pagi dan keramaian sudah memenuhi jalan-jalan di kota itu. Untungnya, Darren tidak berjalan di jalan utama. Demi memperkecil kemungkinan seseorang akan mengenalinya, ia memilih untuk berjalan menyusuri gang-gang kecil yang gelap dan sepi.
"Sebenarnya kita mau kemana, Remi?" Darren mengikuti Remi yang berjalan di depan. Ia bilang bahwa ingin membawa Darren ke suatu tempat yang mungkin bisa membantunya mencari Tora.
"Kita akan ke tempat rahasia ku," Remi menjawab dengan antusias. Ini membuat Darren penasaran.
Mereka berjalan dari gang ke gang lain. Melewati tempat-tempat sepi, gelap, dan juga kumuh. Kalau dilihat-lihat, sebenarnya tempat seperti ini bisa ditemukan di mana-mana di Indonesia.
Mereka berhenti di sebuah bangunan tua. Bangunan itu sudah terbengkalai. Tempat itu berada tepat ditengah kota, namun karena pintu masuk gedung itu harus melalui gang yang gelap, jadi jarang ada orang yang keluar masuk situ.
Tora menunjukkan Darren sebuah pintu. Ia membukanya dan mengajak mereka masuk. Di dalam, sudah ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk dan juga tertidur di lantai.
Keadaan disitu awalnya tenang, tapi Remi memecah suasana. "Semuanya, lihatlah!" Ia menunjukkan tangannya ke arah Darren yang baru masuk pintu.
Orang-orang itu menoleh. Jumlah mereka sekitar enam orang. Dau pria, dan empat perempuan. Setelah diperhatikan, Darren sadar kalau mereka semua bukanlah manusia.
Sebagain besar memiliki tanduk, tanda bahwa mereka dari ras iblis. Ada juga yang mempunyai telinga unik, tanda bahwa mereka adalah manusia hewan.
Ketika mereka melihat Darren, wajah mereka langsung pucat. Mereka langsung lari ke pojok ruangan dan mengangkat tangan seakan hendak di tangkap.
"Ku mohon, jangan tangkap kami," Ucap seorang. Mereka semua terlihat gemetar dan ketakutan.
Mereka mengira bahwa Darren adalah petugas kepolisian yang datang untuk menangkap budak-budak yang kabur. Tapi Darren dengan tenang menjelaskan hal itu.
"Jangan takut. Aku disini bukan untuk menangkap kalian," Ucap Darren lembut. Ia tahu cara menenangkan mereka.
Remi maju ke depan. "Teman-teman, tenanglah. Ia bukan polisi," Ia menenangkan mereka. "Ia adalah Darren. Pahlawan kita."
Darren agak merasa aneh saat Remi bilang hal itu. "Pahlawan... kita?" Batinnya.
Remi menoleh kepada Darren, seakan ia mengerti perasaan Darren. "Ah, maaf, Darren-sama. Aku belum menjelaskannya," Ucapnya. "Mereka adalah budak-budak dalam pelarian. Majikan mereka memperlakukan mereka dengan buruk, jadi mereka tidak tahan dan melarikan diri."
"Karena mereka tidak bisa keluar dari kota ini dengan mudah, jadi kami bersembunyi di gedung tua ini. Walau kumuh, tapi hanya tempat ini yang bisa kami gunakan," Sambungnya.
"Seperti mu?" Ucap Darren, bermaksud membicarakan tentang tanduk Remi.
Remi mengangguk. "Mereka mungkin menerima yang lebih buruk lagi," Ucapnya pelan. "Luka, baik fisik maupun mental, tidak bisa disembuhkan dengan mudah. Perlakuan manusia-manusia itu sangat keji. Aku berharap mereka mati saja."
Walau Darren baru bertemu dengan Remi, tapi dari mendengar perkataannya, ia bisa memahami betapa sulitnya kehidupan Remi. Mempunyai majikan yang tak punya hati dan suka melampiaskan amarah pada bawahan.
Bahkan Tora yang merupakan manusia pun tak luput dari ego busuk manusia-manusia rendahan itu. Terkadang manusia itu lebih buruk daripada hewan.
Remi langsung sadar dengan perkataannya. "Eh, maafkan aku, Darren-sama. Aku tidak bermaksud bicara buruk tentang manusia, hanya saja--"
Darren memotong sambil tersenyum. "Aku setuju dengan mu. Beberapa manusia memang bersikap seperti binatang," Balasnya. "Tapi itu bukan berarti semua manusia jahat."
Darren berjalan perlahan ke pojok ruangan dimana para budak tadi berdiam ketakutan.
"Tenang saja," Ia tersenyum lembut. "Aku bukan manusia jahat."
Shiro ikut berdiri di sampingnya. Ia juga tersenyum, membuat para budak itu merasa tenang melihatnya.
"Semuanya," Ucap Shiro sambil tersenyum. "Tidak perlu takut."
Mata mereka langsung terbuka. Mereka mulai berdiri dan ketakutan mereka mulai mereda.
"Darren-sama. Apa kau Darren yang asli?" Ucap seorang budak.
Darren mengangguk perlahan. "Ya, akulah Darren. Buronan yang telah membantai pasukan Erobernesia demi menyelamatkan Manusia Hewan."
Tomatsu ikut nimbrung. "Ya, dia Darren. Dan aku.." Ia memperkenalkan dirinya. "Aku adalah Raja Iblis, penguasa mutlak Kerajaan Erfroren. Barangsiapa yang berani merendahkan rakyat ku, takkan luput dari amarah dingin ini."
Mendengar perkataan Tomatsu membuat mereka semakin terpukau.
"Raja Iblis?" Ucap seorang kepada yang lain. "Beneran?"
"Jika Raja Iblis bersamanya, ia pasti Darren yang asli," Balas yang lain. "Aku percaya padanya."
Kemudian mereka mulai membungkuk di hadapan Darren dengan wajah bersyukur. Mereka terus-terusan memujanya bagaikan pahlawan yang turun dari surga.
"Lalu, Darren-sama," Ucap seorang wanita. "Untuk apa anda datang ke tempat ini?"
Darren membalas. "Salah satu teman ku menghilang, dan aku tidak bisa menemukannya. Aku ingin mencarinya, tapi kerajaan ini bisa menangkap ku bila aku ceroboh."
"Ah, jadi anda ingin tetap berada di bayang-bayang?" Ucap seorang lain.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu," Sambung Darren. "Aku ingin meminta bantuan pada kalian. Bukan sebagai majikan ataupun pahlawan, melainkan sebagai sesama manusia."
Mereka tersentuh dengan ucapan Darren. Ini pertama kalinya mereka bertemu manusia yang bersikap baik pada mereka. Tidak memaksakan kehendak dan menganggap rata semua orang.
Remi maju ke depan dan mencoba memperkenalkan semua orang disana pada Darren.
"Ini Mia," Ia menunjukkan seorang wanita dari ras Iblis. Ia terlihat hanya memiliki satu tanduk kecil disebelah kiri. Darren tak mau menanyakan sebabnya, karena mungkin itu adalah hal buruk.
Remi bergerak ke pria disampingnya. Ia memiliki telinga manusia hewan dan sepertinya ia berasal dari ras musang. "Dia adalah Robert."
Kemudian Remi menunjukkan dua orang perempuan yang kembar. Mereka juga berasal dari ras manusia hewan. Telinga mereka berwarna coklat dan berbentuk setengah lingkaran, mirip seperti beruang. "Mereka berdua kembar. Yang tua bernama Sella, dan adiknya bernama Selly."
Saat Remi hendak memperkenalkan pria disampingnya, pria tersebut maju secara tiba-tiba dan membungkukkan badan. "Aku Rendi. Aku lahir dengan darah setengah iblis dan manusia," Ucapnya. "Sebuah kehormatan bagiku bisa berada dihadapan mu, Darren-sama."
Darren terkejut mendengarnya. Itu berarti perkawinan silang antara dua ras yang berbeda bisa terjadi di dunia ini. Mengetahui itu saja sudah cukup bagi Darren, karena ia mungkin akan bertemu lebih banyak makhluk campuran di masa mendatang.
Lagipula, Rendi memiliki tata krama yang sangat sopan. Apa dia pernah menjadi pelayan kerajaan sebelumnya?
Remi melanjutkan perkenalannya. Ia menunjukkan seorang wanita yang terkapar di pojok ruangan dengan wajah yang pucat. Ia seperti sedang sakit dan tatapan matanya terasa kosong.
"Ada apa dengan dia, Remi?" Darren berbisik.
"Namanya Katherine. Ia berasal dari ras iblis," Jawabnya berbisik. "Aku tidak tahu pasti dengan apa yang terjadi padanya, tapi intinya ia menderita penyakit yang mematikan."
Darren mengernyitkan dahi. "Penyakit mematikan? Seperti apa?"
Remi menggeleng. "Aku tidak tahu detailnya. Setiap aku bertanya, ia hanya menggeleng sambil tersenyum lalu mengatakan: Aku tidak apa-apa," Remi menolehkan wajahnya dengan sedih menatap Katherine. "Kini ia hampir seperti mayat hidup. Ia tak bisa lagi tersenyum, dan hanya diam tanpa bergerak sepanjang hari."
Mendengar penjelasan Remi membuat Darren penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Penyakit macam apa yang diderita Katherine hingga bisa mengancam nyawanya. Dan jika ia mampu, Darren ingin sekali menolongnya.
Ia berjalan mendekati Katherine yang terkapar diam. Ia bahkan tak bereaksi saat Darren mendekatinya. Ia hanya melirik sebentar dan kembali menatap ke kosongan.
"Kau Katherine, kan?" Darren mencoba bersahabat. Ia berharap Katherine mau berbicara dengannya. "Nama ku Darren, senang bertemu dengan mu. Ku dengar kau sedang sakit ya? Apa ada hal aneh yang kau rasakan?"
Katherine hanya diam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Matanya juga tak bergerak sedikitpun. Tapi ia mulai menggerakkan jemarinya. Ia berusaha menunjukkan sesuatu.
"Apa kau bisa bicara?" Tanya Darren, tapi lagi-lagi Katherine hanya diam. Sepertinya penyakit ini lebih parah dari apa yang Darren bayangkan.
Perlahan jari-jemari Katherine mulai meraba pergelangan tanga Darren. Dengan tenaga yang pelan, ia berusaha menariknya.
Darren mengangguk dan kemudian mulai menyentuh perut Katherine dengan pelan. Ia tak mau terburu-buru dan malah membuatnya kesakitan.
"Maaf Katherine, aku tidak sopan," Ucap Darren seraya meraba kebalik pakaiannya.
"Apa ini? Ini... lengket!" Darren menemukan suatu tekstur yang aneh di tangannya. "Rasanya tekstur ini tidak asing."
Rasanya lengket sekaligus licin. Perasaan ini pernah Darren rasakan sebelumnya. Benar, ini adalah perasaan yang sama seperti saat ia bertemu adik Ravenna.
Darren harus bertindak lebih jauh. "Katherine, maafkan aku," Darren membuka setengah pakaian Katherine hingga perutnya cukup terbuka.
Benar saja, perut Katherine sudah membusuk. Gelembung-gelembung lengket yang bisa meletup kapan saja terdapat di mana-mana. Bahkan ini terlihat lebih parah dari yang adiknya Ravenna derita.
"Apa aku harus menggunakan sihir seperti waktu itu lagi?" Gumam Darren. "Sepertinya iya. Tapi aku akan langsung pingsan."
Sebelum Darren menggunakan mantra itu, ia berbalik dan menoleh kepada Remi.
"Remi, aku punya permintaan," Ucapnya sambil berdiri.
"Iya?"
"Ada kemungkinan bahwa aku akan pingsan setelah ini. Jadi, aku ingin kau mencari keberadaan Tora," Sambungnya. "Ini mungkin terdengar egois, tapi ku mohon."
Remi mengangguk. "Baiklah. Aku paham."
Kemudian Darren menoleh kepada Shiro dan Tomatsu. "Shiro, Tomatsu," Panggilnya. Mereka berdua pun menoleh.
"Selama aku pingsan, aku ingin kalian berdua berjaga. Seseorang bisa saja sudah melihat ku ke sini, dan serangan bisa datang kapan saja," Sambungnya. "Jika terjadi sesuatu yang sangat buruk, bawa semua orang kabur. Bahkan jika perlu, tinggalkan saja aku."
Shiro menjadi agak cemas sementara Tomatsu menjawab, "Baiklah. Kau yang minta ya."
Darren kembali berbalik, kini dihadapannya hanya ada Katherine yang sudah mulai memejamkan mata.
"Kondisi Katherine mungkin lebih buruk. Kemungkinan kalau penyakit itu sudah menggerogoti beberapa organ internalnya, jadi ia tidak bisa banyak melakukan apa-apa lagi."
"Hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan. Aku yakin ini pasti berhasil."
Darren berjongkok dan mulai memejamkan matanya. Ia mengulurkan tangannya kepada Katherine dan mulutnya mulai berkomat-kamit
__ADS_1
"Non-elemental Spell: Total Purification."
Cahaya kuning keemasan bersinar menerangi seisi ruangan. Semua orang disana langsung menghalangi pandangan mereka karena silaunya cahay tersebut.
Saat cahaya itu menghilang, luka busuk di perut Katherine sudah menghilang. Perutnya kembali mulus dan tak ada bekas luka sedikitpun.
Darren merasakan energinya menyusut dengan deras. Mana-nya terkuras dan kini tubuhnya menjadi sangat lemas. Matanya mulai berkunang-kunang dan kepalanya pusing.
Tak lama kemudian ia tersungkur ke lantai dan pingsan. Semua orang disana langsung menghampiri Katherine untuk memeriksa keadaannya, sementara Shiro dan Tomatsu berlari menuju Darren.
"Darren-sama!" Teriak Shiro histeris.
"Jangan khawatir, ia hanya pingsan. Masih ada sisa Mana pada tubuhnya, jadi ia akan baik-baik saja," Ucap Tomatsu. "Mungkin ia akan pingsan agak lama."
Shiro menatap Darren yang tengah tertidur. Air mata perlahan turun di pipinya.
"Darren-sama..." Ucapnya kecil. "Kau bahkan sampai sejauh ini..."
Darren segera diangkat dan dipindahkan ke sebuah tempat tidur yang terbuat dari tumpukan koran. Sementara Shiro dan Tomatsu menjaganya di gedung tua itu, Remi dan yang lain langsung menjalankan misi mereka untuk mencari informasi tentang Tora.
"Semuanya, jangan kecewakan pahlawan kita. Ayo berjuang semaksimal mungkin!" Teriak Remi menyemangati teman-temannya.
.
.
.
Sementara itu...
Tora melangkahkan kakinya dengan berat. Ia belum makan dari tadi dan kini ia sedang berjalan-jalan tanpa arah dengan perut kosong.
"Ugh... laparnya," Ucapnya sambil terus memegangi perutnya. Ia menengadah ke langit dan bergumam, "Apa ini pilihan yang tepat?"
Tiba-tiba seseorang muncul dari gang kecil dan menjawabnya. "Tentu benar. Ia itu pembunuh, kenapa harus ragu untuk meninggalkannya?"
Tora terkejut dan langsung bersiaga. Saat ia menoleh, seorang pria tiba-tiba muncul dengan jubah yang menutupi kepalanya.
"Siapa kau?" Tora menjadi waspada.
"Kau membicarakan tentang buronan itu, kan?" Balas pria tersebut. "Aku pernah dipermalukan olehnya sekali, jadi tidak mungkin aku lupa dengannya."
"Jawaban mu tak sesuai dengan pertanyaan ku," Ucap Tora.
"Ah, maaf-maaf," Orang itu menunjukkan wajahnya. "Aku Accel."
Tora langsung kaget. "A-Accel!? Ahli sihir dari Erobernesia?" Ia terbelalak. "Sedang apa kau disini? Dan juga, darimana kau tahu tentang ku?"
Accel tertawa. "Tenang saja, Tora-kun. Aku disini untuk menolong mu," Ucapnya. "Kau dan aku mempunyai pikiran yang sama, yaitu manusia yang berbahaya harus dimusnahkan dari dunia ini."
"Kau tahu kan seberapa berbahayanya majikan mu itu?" Sambungnya. "Kau ketakutan saat bersamanya. Ia bisa membunuhmu kapan saja, atau bahkan membunuh semua orang yang kau sayangi."
Tora melotot. Ia masih tak percaya ahli sihir Erobernesia benar-benar muncul di hadapannya.
"Kau ingin bebas dan hidup damai tanpa masalah, kan?" Accel menghampiri Tora dan menyentuh. "Aku bisa membantu mu menggapainya."
"Membantu ku?" Ulang Tora dengan tatapan ragu.
"Ya, tentu saja. Itu hal mudah. Kau tidak lupa kan sedang berbicara dengan siapa?" Accel menatap Tora dengan senyuman lebar diwajahnya. Itu adalah senyuman licik. "Tapi, kau juga harus menolong ku terlebih dahulu."
Tora menyahut pelan. "Membantu, bagaimana?"
Accel semakin tersenyum lebar. "Tuntun aku kepada majikan mu. Maka semua yang kau dambakan akan terwujud. Kekayaan, jabatan, dan harga diri, semua yang kau mau."
Tora membalas tatapan Accel dengan serius. Ia terdiam sejenak, kemudian membalas.
"Baiklah," Jawabnya. "Lalu, apa kau punya rencana?"
Accel menyeringai. "Tentu saja ada. Itulah kenapa aku butuh bantuan mu."
.
.
.
~To be Continued~
__ADS_1