Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Bagus!


__ADS_3

"Huwaah..." Darren menguap dan membuka mulutnya lebar-lebar. Kebiasaan bangun tidurnya belum bisa hilang sepenuhnya.


Ia masih terbaring di kasur dan hendak bangun. Namun badannya rasanya tertahan.


"Eh, apa ini?" Darren merasakan sesuatu menahan tubuhnya untuk berdiri. Ia menoleh ke bawah dan melihat Shiro yang sedang tidur meringkuk mendekapnya.


Darren mengedipkan matanya beberapa kali sampai ia benar-benar memastikan kalau ini bukan mimpi. "Eh... EH!?" Darren berteriak dalam hati.


Ia tak mau bergerak tiba-tiba dan membangunkan Shiro, jadi ia hanya diam sambil panik tanpa bersuara.


"A-Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus membangunkannya?" Pikir Darren sambil menatap wajah Shiro. "Akan ku coba!"


Darren menggerakkan tangannya perlahan dan menyentuh Shiro dengan lembut. "S-Shiro, bangunlah," Darren mengguncang tubuhnya pelan. Ia tidak mau membangunkannya secara tiba-tiba.


"Nhhnn~" Shiro mendesah pelan. Tapi bukannya bangun, ia malah mengencangkan tangannya dan memeluk perut Darren lebih erat, layaknya guling.


"S-Shiro..." Ucap Darren pelan. Ia makin terkejut saat Shiro memendamkan wajahnya ke perut Darren. "Agh, aku harus bagaimana?"


Sebuah ide terlewat di benak Darren. "Ah iya! Tora!"


Darren mulai memanggil nama Tora dengan nada pelan. "Tora! Pfftt... Tora!" Ia memanggil beberapa kali, namun tak ada jawaban. "Apa ia masih tidur?"


Saat menoleh ke bawah, tidak ada seorang pun ada di sana. Karpet yang Tora gunakan untuk tidur sudah bersih dan tak ada orang di sana.


"D-Dia sudah sudah tidak ada. Gawat, aku harus apa sekarang?" Batin Darren kepanikan. "Seharusnya aku tidak melakukan ini semalam."


Dengan wajah kebingungan, Darren sesekali melirik ke arah Shiro.


Wajah Shiro yang manis, dengan rambut putih dan telinga yang menggemaskan, rasanya Darren ingin sekali membelai telinganya berbulunya itu. Bukan apa-apa, ia hanya penasaran apa telinga itu sama dengan telinga anjing.


"Mumpung lagi tidur kali ya..." Darren mengulurkan tangannya perlahan. Namun, ia segera menariknya kembali. "Gak, gak, gak. Aku tidak boleh melakukannya. Itu tidak sopan."


Darren memejamkan matanya, bermaksud untuk menghentikan niatnya. Tapi, ia membuka mata sebelahnya sedikit dan kembali melihat wajah Shiro yang masih tertidur pulas.


"Wajahnya manis, sih. Andaikan ia karakter fiksi, mungkin ia bakal jadi waifu yang banyak peminatnya," Batin Darren. "Tapi itu udah gak penting lagi sih, mengingat sekarang aku sudah hidup di dunia fantasi."


"Darren-sama~" Shiro tiba-tiba bersuara. Tapi Ia masih tertidur dan malah memeluk Darren semakin erat. Ia mulai mendesah pelan, entah sedang memimpikan apa. "Nhnn~ Darren-sama~"


Darren hanya bisa terdiam dengan wajah berkeringat. Matanya melotot seakan hampir keluar dan ia menggigit bibirnya sendiri. Ini pertama kalinya seorang perempuan memanggil namanya dengan nada yang begitu menggoda.


"G-Gawat, ia malah mengencangkan pelukannya. Ini berbahaya," Tatap Darren dengan panik. "Kalau sampai ada yang melihat, bisa bikin salah paham."


Tiba-tiba...


Tok, tok, tok, seseorang mengetuk pintu. Wajah Darren langsung mengeras seketika. Rasa panik mengumpul di benaknya.


"Gawat, ada orang."


Dengan reflek Darren menarik selimut yang ada di sampingnya dan menutupi dirinya beserta Shiro sekalian.


Kreek... terdengar pintu terbuka. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mulai mendekat ke arah mereka.


Darren berusaha diam sesenyap mungkin. Ia mencoba menahan nafasnya agar tak terdeteksi. Namun, Shiro terkadang mulai meronta walau masih tertidur pulas.


"Semoga Shiro tidak berisik," Harap Darren.


Suara langkah kaki itu berhenti tepat di samping Darren. Darren semakin menahan nafasnya.


"Aih, kenapa kamar ini berantakan sekali. Seingat ku kamar ini seharusnya kosong," Terdengar orang itu berbicara pada dirinya sendiri. "Selimutnya acak-acakan. Seperti habis dipakai. Andaikan aku punya waktu, aku ingin sekali merapihkannya. Tapi sekarang aku harus buru-buru."

__ADS_1


Terdengar orang itu membuka laci kayu di samping kasur dan meletakkan sesuatu di dalamnya. "Sip, sekarang aman."


"Itu siapa ya?" Batin Darren. "Suaranya bukan suara Tora. Dan juga ia nampaknya tidak tahu kalau aku di sini."


"Baguslah kalau ia tidak tahu. Aku tidak mau membuat kesalahpahaman," Darren berusaha mengatur nafasnya. Ia pun melirik ke arah Shiro untuk mengecek keadaannya.


Saat ia melirik, Shiro sudah membuka matanya. Ia menatap Darren dengan wajah tersipu yang merah.


"Eh, Eh, ada apa ini? Kenapa aku memeluk Darren-sama?" Shiro sadar kalau kedua tangannya sedang memeluk perut Darren. "Dan juga, di mana aku. Apa aku sedang berada satu selimut dengan Darren-sama?"


"Tidak, tidak. Aku sudah melewati batas. Ini tidak sopan. Aku harus menyingkir."


Shiro melepas pelukannya dan hendak menyingkir. Namun tiba-tiba lengan Darren menyambar tubuhnya.


"D-Darren-sama--" Shiro terkejut.


Darren memeluk Shiro. Shiro hanya terdiam melihat sifat agresif Darren yang jarang sekali ia tunjukkan. Setelah memeluk Shiro, Darren menatapnya dan mengedipkan mata kepadanya.


"Semoga Shiro paham maksud ku," Batin Darren dalam hati. "Akan berbahaya kalau ia sampai bergerak lagi. Orang itu bisa-bisa menemukan kita."


Setelah Darren memberi isyarat dengan kedipan matanya, tiba-tiba Shiro malah memeluknya semakin erat dan mendekapkan wajahnya ke dada Darren.


"E-Eh!? Sedang apa dia?" Darren terkejut. "Apa dia tidak paham maksud ku?"


"Siapa di sana!?" Orang tadi tiba-tiba berteriak.


Darren dan Shiro terkejut.


"Esema-sama, siapa i--" Sebelum Shiro menyelesaikan kalimatnya, Darren langsung menutup mulutnya.


"Shhh..." Darren berdesis sambil meletakkan jarinya di mulutnya.


Orang tadi mulai berjalan mengitari ruangan. Darren bisa mendengarnya dari suara langkah kakinya yang bergerak.


"Sepertinya hanya perasaan ku saja," Ucap orang itu. "Sebaiknya aku cepat pergi sebelum ada yang melihat ku."


Orang itu langsung melangkahkan kakinya dengan cepat dan pergi meninggalkan ruangan itu. Darren mengintip dari balik lubang kecil di selimut dan tidak melihat siapa-siapa.


"Syukurlah ia sudah pergi," Darren keluar dari selimut sambil tangan masih memeluk Shiro.


Shiro hanya tersipu sambil gemeteran karena gugup. Ia melirik ke wajah Darren, tapi begitu Darren membalas tatapannya, ia langsung membuang wajah.


"Orang tadi itu, siapa ya?" Gumam Darren. Perhatiannya malah teralih kepada orang tadi. "Ia seperti sedang diam-diam. Apa ia semacam penyusup?"


"Ah benar! Tadi sepertinya ia menaruh sesuatu di laci," Ucap Darren lagi. Ia segera berdiri dari kasur dan mengecek laci yang ada di sampingnya.


"I-Ini--" Darren terkejut melihat apa yang ia temukan. Sebuah batu berwarna hitam yang memancarkan energi sihir aneh. "Apa ini batu sihir? Tapi warnanya berbeda dari batu sihir yang pernah kulihat sebelumnya."


"Esema-sama, ada apa?" Rasa gugup Shiro langsung menghilang saat ia melihat wajah Darren yang mengeras. Ia tahu kalau sesuatu telah terjadi.


"Shiro, sebaiknya kita segera temui Simson dan laporkan hal ini," Darren mengambil batu itu dan langsung pergi.


.


.


.


"Simson," Darren membuka pintu ruangan tempat Simson berada.

__ADS_1


"Ah, kalian rupanya. Kebetulan sekali," Simson menyambut mereka. Tapi ia tak sendirian. "Kami sedang mengadakan rapat di sini. Ku harap kalian bisa bergabung."


Semua orang di sana langsung menatap Darren. Jumlah mereka sekitar sebelas orang. Mayoritas ras mereka adalah iblis, tapi ada beberapa juga yang merupakan monster dari ras lain. Di sana juga ada Clara dan Dyland.


Darren langsung menunjukkan batu sihir yang ia temukan kehadapan mereka.


Wajah terkejut langsung terpapar di wajah semua orang. "B-Batu itu-- Bukankan itu batu sihir kegelapan?"


Simson langsung bertanya pada Darren. "Darimana kalian mendapatkan itu?"


"Saat kami tidur di kamar, seseorang masuk dan meletakkannya dalam laci," Jawab Darren. "Aku tidak tahu siapa yang meletakkannya, dan juga aku tidak sempat melihat wajahnya."


"Mencurigakan!" Seseorang tiba-tiba berteriak. Ia adalah seorang ogre berkulit gelap dengan wajah yang sangat mengerikan. "Simson, apa orang ini yang kau maksud kemarin?"


Simson mengangguk.


Ia melanjutkan. "Mereka pasti mata-mata dari pemerintah. Dan mencoba membuat masalah dari dalam," Ucapnya. "Dari penjelasan mereka, sudah jelas kalau ini dibuat-buat."


Darren membalas. "Tidak, kami serius!"


"Lalu, bagaimana ceritanya kalian bisa tahu kalau orang lainnya yang meletakkannya? Apa yang sedang kalian lakukan waktu itu?" Sambung ogre itu.


Darren mau menjawab, namun langsung menutup mulut. Jika ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mereka bisa-bisa malah membongkar rahasianya.


"Hey, hey, Marvin. Jangan membuat anggota baru kita tertekan," Clara menyahut kepada ogre itu. "Kau ini selalu berprasangka buruk saja."


Marvin si ogre hanya menunjukkan wajah jengkel tanpa membalas sama sekali.


"Shiro-chan, Esema-kun, maaf ya atas kelakuannya si Marvin. Dia memang gak punya sopan santun," Clara menoleh kepada Darren. "Lalu, apa kalian bisa ceritakan apa yang terjadi?"


"Aku tak bisa cerita apa-apa lagi. Memang itu yang terjadi," Jawab Darren.


"Benar-benar mencurigakan," Marvin kembali membuka mulut. "Sudahlah. Sudah jelas mereka itu mata-mata. Mereka hanya ingin menuduh salah satu dari kita untuk mengadu domba."


Clara menepuk jidat. "Jangan seperti itu. Kau ini tidak bisa berpikir dewasa, ya?" Ucap Clara. "Memang sih mereka tidak bisa membuktikan kalau mereka tidak bersalah. Tapi kita juga tidak punya bukti untuk membuktikan mereka bersalah."


"Benar kata Clara," Dyland akhirnya bergabung. Ia melipat tangan dan menunjukkan wajah datar seperti biasanya. "Kita tidak bisa menuduh mereka begitu saja."


"Apa yang membuat mu berpikir begitu, Dyland-kun?" Seorang iblis perempuan menyahut.


"Alasannya simpel. Pertama, mereka mungkin jujur dan memang ada seseorang yang meletakkan batu itu. Artinya, secara tidak langsung, mereka telah memberitahu kita bahwa ada pengkhianat ataupun penyusup di tengah-tengah kita," Jawab Dyland. "Alasan kedua lebih simpel lagi. Mengingat kita sedang kekurangan anggota, kita bisa memanfaatkan mereka untuk membantu kita."


"Hey kak, bukankah kata 'memanfaatkan' terlalu berlebihan?" Clara menyahut.


"Hanya kata itu yang terlewat di kepala ku."


Semua orang di sana mulai menoleh satu sama lain. Mendengar penjelasan Dyland, mereka mulai mencurigai orang-orang di dekat mereka.


"Semuanya, tenanglah!" Simson menggebrak meja. Semua mata langsung tertatap kepadanya. "Aku tahu kalau sekarang kita ada dalam keadaan yang tegang."


Ia kemudian menunjuk Darren dan Shiro. "Mereka mungkin berkata jujur. Namun juga bisa sebaliknya," Ucapnya. "Jadi, untuk memastikan, biarkan manusia ini yang melihat kebenarannya."


Seorang pria maju ke depan. Rambutnya berwarna hitam dan matanya coklat. Wajahnya terasa tak begitu asing bagi Darren.


Pria itu menatap Shiro dan Darren. "Perkenalkan, nama ku Bagus."


"Bagus? Tunggu, nama mu memang Bagus?" Sahut Darren. "Namanya seperti tidak asing."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2