Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tombak Hitam Obsidian


__ADS_3

"Recall,"


.


.


.


Darren terbangun tepat di tengah kerumunan goblin. Goblin? Apa dia dalam bahaya? Tenang saja, sepertinya mereka adalah goblin yang dibawa oleh Ravenna. Ditanah, tepat dibawahnya, terdapat perlengkapannya yang dibuang sudah tergeletak dan kotor.


"Darren, kau sudah kembali," Ravenna datang menghampiri Darren yang masih duduk dengan lemas di tanah. Ia kemudian menarik tangannya dan meletakkannya di atas bahunya.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya, aku oke. Hanya sedikit lelah," Balas Darren dengan layu. Menggunakan sihir spesial Akira ternyata menguras Mana-nya. Ia harus istirahat sekarang.


Darren kemudian kembali mengenakan semua perlengkapannya yang tergeletak ditanah. Mulai dari pakaian hingga jubahnya.


"Untung saja mereka tak berniat membawa perlengkapan ku," Ucap Darren lega. "Syarat utama untuk melakukan sihir recall adalah memiliki sebuah benda untuk dipasang sebagai segel teleportasi. Tepat sebelum aku melepaskan barang-barangku, aku menempelkan segel Recall pada jubah ku. Dengan tertinggalnya perlengkapan ku disini, maka aku bisa kembali tepat di desa Lizardmen."


"Woah, Darren sudah kembali," Kanrei menyambut kedatangannya dengan hangat. Disambung oleh seluruh rakyat Lizardmen dan para manusia hewan yang bersorak-sorai.


"Darren-sama!" Suara keramaian yang memanggil nama Darren.


Bagi Darren, hal semacam ini terasa seperti mimpi. Ia sempat mencubit pipinya sendiri, tapi ia tahu kalau ini semua kenyataan. Di dalam hatinya, ia merasa senang diperlakukan layaknya pahlawan, tapi sebenarnya ia hanya tak lebih dari seorang kriminal di mata para manusia.


"Kalian--" Darren sedikit terharu. Apa yang telah ia lakukan? Apa membunuh banyak manusia layak mendapatkan pujian seperti ini?


"Aku harus berhenti, tapi sudah terlambat. Tangan ini telah berlumur darah dan darah itu tak bisa di cuci."


"Tapi jika memang ini cara satu-satunya. Aku akan lakukan itu, untuk mewujudkan kedamaian. Bahkan jika nyawa seseorang menjadi taruhannya."


"Agar kejadian yang sama pada ku tak terulang lagi."


"Yuzuna, Rolf, Hayate, akan kuciptakan dunia dimana semua orang akan hidup bahagia."


Darren dibaringkan diatas sebuah ranjang. Disampingnya, Ravenna duduk menjaganya sambil memegangi sebotol potion pemulih Mana.


"Ravenna, sebenarnya dunia apa ini?" Tanya Darren, tak sadar dengan apa yang ia katakan. Ia setengah sadar dan setengah tidur.


"Dunia?" Balas Ravenna sedikit bingung, tapi tetap menjawab. "Dunia penuh keputusan asaan. Dimana aku juga pernah tertelan oleh keputus asaan itu sendiri."


Tapi tanpa disadari, ternyata Darren telah tertidur lelap. Ravenna hanya tersenyum lembut dan memeluknya untuk beberapa saat, lalu melepasnya.


"Terimakasih, berkat mu, adikku punya kesempatan untuk hidup."


.


.


.


Beberapa Hari Sebelumnya...


Hari cerah seperti biasanya. Matahari bersinar terik dan langit kosong tanpa awan. Ravenna berjalan keluar dari pintu rumahnya dan berjalan menuju Guild Petualang.


"Ah, Ravenna-san," Sambut guildmaster. "Ada apa? Tak biasanya petualang berlian datang kesini tanpa alasan, kan?"


Ravenna hanya memasang wajah malas. Dengan dingin, ia mengatakan sesuatu yang tak pernah diduga oleh setiap orang.


"Aku ingin berhenti," Ucapnya datar.


"Ingin berhenti?" Ulang Guildmaster memastikan apa yang ia dengar.


"Aku ingin berhenti menjadi petualang."


Semua orang disana terkejut. Mereka tahu siapa Ravenna itu. Ia adalah petualang tingkat berlian yang terkenal. Selalu menjalankan quest dengan sempurna, dan memiliki reputasi tinggi dikalangan petualang. Siapapun pasti akan senang jika menjalankan misi bersamanya. Tapi, tadi-- Ucapannya itu, membuat semua orang terpelongo diam.


"Kamu s-serius?" Ucap Guildmaster lagi.

__ADS_1


"Ya," Ravenna membalas singkat dengan tatapan dingin di matanya.


"Baiklah. Kalau begitu, ini komisi mu."


Ravenna berjalan keluar dari Guild dengan sekantung uang di tangannya. Sudah jadi peraturan bila seorang petualang tingkat emas ke atas untuk mendapatkan uang pensiun bila berhenti menjadi petualang.


Tapi, bukan uang yang Ravenna incar. Sudah lama ia ingin berhenti menjadi petualang. Yang ia inginkan adalah kehidupan normal bersama adiknya.


Semenjak adiknya jatuh sakit, ia harus menjadi petualang untuk membiayai pengobatan yang selalu mengekangnya setiap hari. Tapi berkat Darren, tali pengekang itu berhasil diputuskan dan Ravenna sekarang bebas untuk mengejar impiannya sendiri.


"Walau uang ini sedikit, tapi setidaknya akan cukup bagiku untuk membuka usaha kecil-kecilan."


Ravenna mempercepat langkahnya untuk segera kembali ke rumah dan memberitahu kabar baik ini kepada Ryuu.


Tiba-tiba, sesuatu lewat di hadapannya. Cepat-cepat ia langsung bersembunyi dibalik sebuah tembok dan menguping apa yang terjadi.


Ternyata pasukan Erobernesia datang kesini. Tapi apa yang hendak mereka lakukan dengan jumlah pasukan sebanyak itu?


"Ratusan? Tidak-- Ribuan!" Hitung Ravenna.


"Minggir kalian semua!" Para pasukan bagian pinggir mulai mengusir warga yang menghalangi jalan. "Ini urusan pemerintahan. Minggirlah!"


Ravenna semakin penasaran. Ia mengikuti mereka sampai ke pintu gerbang kota dan menguping setiap pembicaraan mereka. Tentu saja dengan diam-diam.


"Pintu gerbang ini. Ini kan mengarah ke arah hutan. Apa yang mereka rencanakan?" Gumam Ravenna.


"Woah, Accel-sama. Sangat terhormat bisa bertemu anda disini," Ucap penjaga gerbang sambil membungkuk. "Jika boleh tahu, kemana anda ingin pergi?"


Accel menjawab, "Maaf, ini urusan kerajaan. Jadi kami tak bis-"


"Kami akan menyerbu desa Lizardmen!" Potong seorang tentara yang sepertinya mabuk. "Akan kubantai mereka semua, dan takkan ku sisakan satupun."


"Oy, Tom. Bukankah ini saat yang tidak tepat untuk mabuk!?" Protes Accel. "Bodoh sekali kau."


Penjaga gerbang hanya tertawa kecil, berusaha menjaga sikapnya di depan seorang petinggi kerajaan. Ia pun tetap membuka gerbang kota dan membiarkan ribuan pasukan itu lewat.


"Aku harus memberitahu Darren dan para Lizardmen," Itu adalah hal pertama yang muncul di kepalanya. Entah kapan ia mulai menjadi seorang yang peduli dan tidak bisa diam. Ia sendiri mulai merasakan perubahan pada dirinya.


Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan itu. Tentara Erobernesia bisa tiba disana kapan saja dengan kuda-kuda mereka yang pastinya lebih cepat dari langkah manusia.


Tanpa menunggu lebih lama, ia mulai mengejar mereka. Walau akhirnya ia tertinggal cukup jauh di belakang. Setidaknya ia ingat dimana lokasi desa itu.


Tanpa senjata dan hanya berpakaian layaknya orang biasa. Baju zirahnya tertinggal di rumah, dan tak mungkin ia menghabiskan waktu hanya untuk mengambilnya.


Ia lari pontang-panting, dengan harapan dihatinya yang putus asa. Tak mungkin ia bisa sampai disana tepat waktu.


Memasuki hutan, ia sudah sendirian. Para tentara telah pergi jauh, hanya dengan meninggalkan jejak-jejak tapak kuda di tanah. Sementara Ravenna mulai ngos-ngosan, dan berhenti dari larinya untuk mengambil nafas.


"Akan ku panggil Raiko," Ravenna berencana memanggil Serigala Petir miliknya. Namun...


"Hey," Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakan. Suaranya berat tapi terdengar lembut. "Kau Ravenna, kan?"


Ravenna menoleh ke belakang, sebelum akhirnya ia panik karena melihat sebuah Ogre sedang berdiri tepat di hadapannya. Ogre itu berbadan besar dengan kulit berwarna agak kecoklatan. Tanduknya dua dan matanya merah menyala. Pastinya orang akan ketakutan jika berhadapan dengan makhluk seperti itu.


"O-ogre!" Ravenna panik. Ia terpeleset dan jatuh tersungkur ditanah.


Tapi ogre itu malah duduk disebuah akar pohon yang tebal dan mulai mengeluarkan sebuah apel dari tas-nya.


"Tenanglah dulu," Ucapnya santai. Ia juga tak terlihat ingin menyerang, atau setidaknya begitu. "Makanlah ini, dan pulihkan tenaga mu."


Ravenna masih dililit rasa takut. Dengan reflek ia meletakkan tangannya ke punggungnya, bermaksud mengambil senjata, tapi ia sadar bahwa senjatanya sudah tak ada. Hal itu membuatnya semakin panik.


Satu-satunya cara hanya dengan memanggil Raiko. Tapi apa ia akan sempat? Ogre itu bisa saja menyerangnya selagi ia masih merapal.


"Huff, sepertinya kau masih sulit menerima kenyataan ini," Sambung Ogre itu dengan nada malas. Ia mulai berdiri dan menghampiri Ravenna dengan perlahan.


"Dia akan menyerang. Tamatlah riwayat ku." Ravenna sudah ketakutan.


Tapi apa yang terjadi selanjutnya sangat mengejutkan. Ogre itu ikut duduk di tanah, tepat di sampingnya dan lanjut menyodorkan apel tersebut. Ia benar-benar terlihat santai tanpa ada tatapan haus darah di matanya. Ini adalah tatapan yang jinak, dan membuat Ravenna bertanya-tanya, "Siapa yang sanggup menjinakkan sebuah Ogre?"

__ADS_1


Ogre memiliki reputasi paling ditakuti di antara monster-monster umum lainnya. Lizardmen, Goblin, dan manusia hewan, Ogre adalah monster pemakan daging manusia dan memiliki insting haus darah yang tinggi. Mereka pintar dan kuat. Sayangnya, hal itu adalah alasan utama kenapa mereka ditakuti.


Tubuh Ravenna bergerak sendiri tanpa disadari. Tangannya mulai meraih apel itu dan memakannya. "Kenapa aku merasa tenang? Bukankah seharusnya aku takut?"


Ogre itu sedikit tersenyum. Lalu ia mulai membicarakan sesuatu.


"Sepertinya kau sedang mengejar seseorang," Ucap Ogre itu.


"Y-ya, benar."


"Erobernesia, kan?"


"Darimana kau tahu?"


Ogre itu mengerang sedikit sambil memperbaiki posisi duduknya. "Tuan ku adalah orang berwawasan luas. Hampir segalanya ia ketahui. Dan hebatnya lagi, ia tak segan untuk berbagi pengetahuannya pada bawahannya."


"Tuan?" Tanya Ravenna sambil mengunyah apel. "Benar dugaanku. Seseorang pasti telah mengubah jati diri makhluk buas ini."


"Siapakah Tuan mu itu?" Sambung Ravenna bertanya.


Ogre itu hanya memalingkan wajahnya ke langit dengan wajah berbinar. Matanya berkaca-kaca, seakan ingin menangis.


"Dia adalah seorang dewa," Ucapnya dengan nada penuh kegembiraan.


Ravenna memiringkan kepalanya. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada Ogre ini. Seperti apa masa lalunya dan apa saja yang telah membuatnya berubah hingga seperti ini. Tapi ia membalasnya dengan senyuman dan anggukan lembut.


"Dia pasti orang yang sangat berkesan bagi mu, kan?" Ucap Ravenna sambil tersenyum.


Ogre itu mengangguk setuju. Ia kemudian mengusap air matanya dan kembali mengeluarkan tas-nya. Ia mulai merogohnya seakan sedang mencari sesuatu. Padahal tas itu hanya tas kecil, kenapa ia terlihat kesusahan sekali?


Sringg... Sebuah tombak panjang yang terbuat dari logam hitam ke ungu-unguan, keluar dari tas kecil itu. Ini seperti keajaiban di mata Ravenna.


"Ini, ambillah," Ogre itu menyodorkannya seakan-akan itu adalah benda murah.


"Hey, hey, hey, apa ini!?" Ravenna terkaget-kaget. Ia baru saja bertemu dengannya dan ia sudah mau memberi tombak sekeren ini?


"Ini tombak hitam obsidian," Balas Ogre itu. "Ambillah, Tuan ku yang memberikan ini."


"Tuan mu? Apa kau tidak salah orang?" Ucap Ravenna tak percaya. "Kita baru saja bertemu dan Tuan mu itu-- Aku bahka tak mengenalinya."


"Tuanku sering mengatakan pepatah: Tak kenal bukan berarti tak sayang," Balas Ogre itu sambil tersenyum.


Walaupun Ravenna tak pernah melihat Ogre tersenyum, tapi senyuman ogre ini sangat hangat. Ia terlihat lega dan bersyukur. Tak ada alasan bagi Ravenna untuk menolak tombak tersebut, dan Ogre itu tetap bersikeras.


"Baiklah," Ravenna menerima tombak itu dengan senang. "Aku sangat berterima kasih."


Ogre itu membalasnya dengan senyuman khasnya sambil kembali berdiri.


"Kau sedang dalam perjalanan ke Desa Lizardmen, kan?" Ucap ogre itu sambil membersihkan celananya dari tanah. "Pergilah sedikit ke arah timur dari sini, dan kembali lagi ke utara. Kau akan bertemu orang-orang-- Tidak, lebih tepatnya monster yang mungkin bisa membantu mu."


"Apa maksud mu?"


"Pasukan Erobernesia terlalu banyak bagi mu. Jika kau kesana tanpa rencana dan tanpa bantuan, itu hanya akan mendatangkan malapetaka. Mereka bisa saja menganggapmu sebagai musuh dan malah membunuh para sandera."


Ravenna sedikit tersontak mendengar itu. Malapetaka? Sandera? Sebenarnya siapa ogre ini hingga bisa mengetahui begitu banyak hal?


"Kenapa?" Tanya Ravenna, "Kenapa kau membantu ku?"


Ogre itu tersenyum lagi. Kali ini ia terlihat menangis sedikit. Entah apa yang ada di pikirannya.


"Tuan ku sedang bersedih. Setidaknya ini akan membuatnya senang."


Ravenna tak mengerti dengan apa yang ogre itu katakan. Ia hendak bertanya tapi ia mengurungkan niatnya.


"Aku senang bisa membuat orang lain senang," Ucap Ravenna sambil tersenyum. "Apalagi jika orang itu sangat berarti bagi orang lain. Aku ucapkan terimakasih banyak."


Ogre itu pun pergi meninggalkan Ravenna. Ia melambai-lambai sampai akhirnya ia menghilang di tengah bayangan hutan. Meninggalkan Ravenna yang sedang diombang-ambingkan oleh pertanyaan.


"Sebenarnya, apa mau Ogre itu?"

__ADS_1


__ADS_2