
Sudah dua hari sejak Michael tinggal di desa iblis itu. Semuanya nampak baik-baik saja tanpa ada protes dari penduduk desa.
Michael meringkuk di atas ranjang. Ini sudah kesekian kalinya ia mencoba menggerakkan kedua kakinya. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Jangankan bergerak, kakinya bahkan tidak lagi bisa merasakan apa yang disentuhnya.
"Kaki ku mati rasa," Ucapnya pasrah. Tekadnya untuk mencoba sudah padam. "Bagaimana aku akan pergi dari desa ini bila tidak bisa berjalan?"
Tok... tok... Riana mengetuk pintu dan masuk sambil membawa sepiring makanan lalu meletakkannya di meja dekat kasur. Ia kemudian berjalan menuju jendela dan membukanya.
Seketika hawa sejuk menerobos masuk. Hari masih pagi, dan matahari baru saja bersinar. Umumnya ini adalah suasana yang menenangkan hati, tapi tidak bagi Michael. Hatinya terasa panas dan dipenuhi kewaspadaan.
Riana berbalik dan melihat Michael. Pelat zirahnya telah digantung dan dijemur. Ia sekarang hanyalah manusia yang lumpuh dan tanpa pertahanan.
Riana kemudian melirik ke arah lantai di seberang kasur. Di sana nampak beberapa serpihan piring dan noda makanan mengotori lantai.
Ternyata selama dua hari terakhir, Michael selalu membuang makanan yang diberikan oleh Riana.
"Kau tidak lapar?" Tanya Riana.
Michael tidak menjawab. Melainkan berbalik dan kembali meringkuk ke arah berlawanan.
Riana berjalan menghampirinya dan berhenti di depan meja. Ia mengambil piring tadi dan menyedok makanannya dengan sendok.
"Setidaknya makanlah sedikit. Kau belum makan dari kemarin," Ucap Riana sambil menyodorkan sendoknya.
Michael tidak berkutik. Ia terus membenamkan wajahnya ke kasur dan mencoba menghindari makanan tersebut.
"Mungkin saja ada racun dalam makanan itu," Pikirnya.
Riana terus mencoba menyuapinya. Namun Michael terus menolaknya mentah-mentah.
Riana mulai jengkel. Ia meletakkan sendoknya dan langsung memegang wajah Michael lalu menariknya. Michael terkejut dan kini ia wajahnya kelihatan oleh Riana.
Kantung mata yang menggantung, muka yang pucat, dan bibir yang pecah-pecah. Kondisi Michael menjelaskan bagaimana ia menolak semua pemberian Riana selama ini.
"K-Kau," Riana terkejut. "Sudah berapa hari kau tidak tidur? Apa sejak ke sini kau tidak makan? Apa kau tidak haus?"
Michael mendorong lengan Riana menjauh. "Enyahlah, iblis. Jangan coba-coba menyentuh ku!"
Riana pun didorongnya hingga jatuh ke lantai. Untuk sesaat mata mereka saling menatap satu sama lain. Mata Michael dipenuhi kebencian dan kejijikan. Sementara mata Riana dihiasi gemerlap perasaan yang tulus.
"Jangan macam-macam dengan ku! Atau akan ku bunuh kau!" Michael berteriak kembali. Lagi-lagi ia berbalik dan membenamkan wajahnya kembali.
Riana menghela nafas pelan. Ia berdiri dan menatap Michael.
"Sebenarnya dia kenapa? Aku merasakan sihir aneh yang melapisi kakinya. Sihir yang entah kenapa terasa familiar," Batin Riana. "Ah, pokoknya aku akan coba membantunya. Lalu mungkin aku bisa menanyainya sesuatu."
Setelah itu Riana pergi keluar. "Jangan lupa makan, ya," Ucapnya sebelum pergi.
Di luar kamarnya, Riana tiba-tiba dicegat oleh seorang pria yang tak lain adalah kakaknya. Namanya adalah Ari. Pria iblis bertubuh kurus tapi tinggi. Rambutnya putih persis seperti milik Riana, hanya saja dipotong pendek. Mereka juga sepertinya banyak berbagi ciri-ciri fisik. Mungkin karena mereka adalah keluarga.
"Kakak?" Riana terkejut.
Ari menatap wajah adiknya. "Dari raut mu, sepertinya ada masalah di dalam, ya?" Ucap Ari menebak.
Riana mengangguk. "Dia tidak mau makan. Juga sepertinya ia menolak untuk beristirahat. Ia terus berjaga selama dua hari terakhir."
"Begitu ya. Jadi, apa kau akan terus merawatnya?" Tanya Ari sambil bersender di dinding. "Para warga desa sudah memperingati ku akan hal ini. Mereka mulai khawatir dengan keberadaan manusia di sini."
Riana nampak murung. "Kak, mungkinkah karena kita keturunan albino?"
Ari menatapnya heran. "Emangnya kenapa?"
"Aku merasakan aliran Mana yang familiar pada orang itu. Rasanya seperti bertemu ayah-- Tidak, tapi bertemu kakek buyut dari kakek buyut."
"Tapi tidak mungkin kan kalau ia juga seorang albino? Hanya ras monster yang bisa memiliki darah keturunan dewa albino."
"Entahlah. Aku juga tidak bisa memastikannya. Mungkin karena suatu mantra yang mengikat kakinya."
"Kakinya?" Ari mengerutkan alis.
Riana kemudian menjelaskan. "Ada semacam sihir segel di kakinya. Sihir itu mencegah Mana untuk mengalir ke pergelangan kaki secara total, sehingga menyebabkan kakinya lumpuh."
"Dan kau merasa familiar dengan aliran sihir itu," Sambung Ari. "Apa kau tahu siapa yang melakukannya?"
Riana menggeleng. "Tidak. Dia juga tidak mau bicara tentang itu."
"Cih! Ditanyai tidak mau jawab. Di beri makan tidak mau makan. Padahal kita cuma mau membantunya. Memang manusia sangat merepotkan," Gerutu Ari. "Tinggalkan saja dia. Dasar tidak tahu terimakasih."
Ari pun berjalan pergi. Ia mengambil sebuah busur panah beserta anak panahnya. Dililitkannya sebuah tas dipunggungnya dan meletakkan perlengkapannya di situ.
"Aku mendapat giliran patroli siang ini. Aku akan kembali nanti sore," Ucapnya sambil mengenakan sebuah sepatu boots coklat. "Jika terjadi apa-apa, langsung cari saja aku di pos ronda sebelah selatan. Dekat ke arah hutan."
"Baiklah."
__ADS_1
Ari pun melangkah pergi. Riana hanya menyaksikan punggung kakaknya menjauh dari pintu.
Tak lama kemudian, hari telah beranjak siang. Meskipun begitu, matahari tidak bersinar dengan terang. Awan-awan tebal nampak menggerombol memenuhi langit, menutupi cahaya sang surya.
Riana sedang mengangkat pakaiannya dari jemuran. Ia menghadap ke langit dengan pandangan cemas.
"Sepertinya akan hujan," Ucapnya pelan saraya memasukkan jemurannya ke keranjang. "Semoga kakak tidak apa-apa."
.
.
.
Beberapa menit kemudian, hujan deras turun mengguyur seisi desa. Sangat deras, hingga beberapa daerah mulai terendam genangan.
Ari duduk dengan santai di pos-nya, menikmati angin berhembus bersama kedua temannya.
"Hujannya deras. Apa kau pikir tidak akan banjir?" Tanya seorang temannya, Yanu.
"Menurut ku tidak apa-apa. Desa kita punya sistem saluran air yang cukup bagus," Balas Ari.
"Tapi sudah lama sekali gak hujan seperti ini. Rasanya dingin sekali," Sahut seorang yang lain, Ren.
"Gak usah lebay lah. Kalian kan sudah berlatih keras untuk situasi semacam ini," Ari membalas. "Lagian juga, kita bukan iblis lemah. Kita telah dipercaya untuk menjalankan tugas ini."
Yanu dan Ren mengangguk. "Yah, begitulah Ari. Selalu menyemangati rekan-rekannnya," Kata Ren.
Yanu melirik Ari. Wajahnya nampak sedikit cemas dan gelisah.
"Kau kepikiran tentang manusia itu, ya?" Tanya Yanu.
Ari mengangguk. "Ya. Dia sungguh manusia yang merepotkan. Adikku telah merawatnya dua hari terakhir, tapi ia tetap keras kepala menolak semua bantuannya."
"Riana-chan penyabar juga ya," Sahut Ren yang menguping. "Dengar-dengar, katanya manusia itu tentara kerajaan, ya?"
"Benar. Tapi kakinya lumpuh. Ia tak bisa bergerak dan tersesat di hutan sendirian. Waktu itu adikku yang menemukannya."
"Riana-chan sungguh baik. Tapi kadang baik ada batasnya sih," Sambung Yanu. "Manusia kerajaan kan berbahaya. Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan."
"Makanya itu, aku ingin adikku membuangnya. Ini kesempatan bagus."
"Riana-chan pasti tidak akan setuju."
Hujan turun semakin deras. Petir mulai menyambar dan angin bertiup semakin kencang. Badai sepertinya telah tiba.
"Hujan deras nih. Apa akan baik-baik saja?" Ren beranjak dan berjalan ke arah kentongan besi yang menggantung.
"Beri saja isyarat pada yang lain. Sampaikan pada warga, badai akan datang. Suruh mereka diam di rumah," Balas Ari.
Ren mulai mengetuk kentongan itu dengan sebilah batang besi. Suara yang dihasilkan dari hantaman antara dua unsur besi, menimbulkan suara yang cukup keras hingga bisa menembus suara derasnya hujan.
Teng! Teng! Teng! Ren memukulnya beberapa kali, hingga membentuk beberapa kode morse. Tak lama kemudian, pos lain di dekat mereka merespon dengan suara kentongan mereka.
"Bagus, mereka mendengarnya," Ren menaruh batang besinya.
"Man-teman..." Yanu tiba-tiba memanggil kedua temannya.
"Ada apa, Yan?" Ari merespon.
Yanu menyipitkan matanya ke arah hutan. Hujan lebat menghalangi pandangannya, tapi sesuatu bergerak secara samar ditengah hujan tersebut.
"Apaan tuh?" Yanu menunjukkan jarinya.
Ren dan Ari langsung menoleh bersamaan, ke arah Yanu menunjuk. Nampak sesuatu memang bergerak. Pergerakannya memang samar, tapi keliatan jelas kalau benda itu bergerak.
"Apa itu orang?" Pikir Yanu. "Mungkin dia habis kembali dari hutan. Panggil saja ia kemari untuk berteduh."
Tanpa pikir panjang, Ren menanggapi permintaan Yanu. Ia langsung memukul kentongannya kembali, bermaksud memberi isyarat bahwa ada orang di sekitar.
"Eh, dia berjalan lebih cepat," Yanu kembali manatapnya. "Ku rasa ia mendengar isyarat kita."
"Tunggu, Ren, Yanu," Ari tiba-tiba beranjak. Ia kemudian mengambil busurnya dan menaruh sebuah anak panah sebagai amunisinya.
"Ari, kau mau ngapain!?" Yanu terkejut.
"Waspada!" Teriak Ari sambil membidik busurnya.
Seketika, orang di tengah hujan itu langsung bergerak cepat menuju arah mereka. Walau hanya siluetnya yang nampak, tapi gaya berlarinya menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Gerakan larinya nampak sempoyongan, tapi cepat. Tangannya berayun tak beraturan. Dan dilihat dari pergerakan tubuhnya, bisa dipastikan ia tidak normal.
Ari langsung yakin setelah mengidentifikasi seluruh ciri-ciri tersebut. Tanpa ragu, ia pun melepas tarikan benangnya, dan mengirim sebuah anak panah meluncur ke arah kepala orang tersebut.
__ADS_1
"Ari!" Yanu berteriak. Namun, apa yang akan dilihatnya selanjutnya merubah ekspresinya.
Twaang! Anak panah berhasil mendarat tepat sasaran di wajah orang tersebut. Bahkan, tembakan Ari cukup untuk membuat kepalanya lepas.
Tapi bukannya langsung mati. Tubuh yang telah terpisah dari kepalanya itu terus berjalan tanpa arah. Memperlambat pergerakannya, hingga sampai di depan mereka tepat sebelum akhirnya tubuhnya jatuh terkapar.
"U-Undead!?" Yanu terkejut.
Ari langsung menarik busurnya kembali. "Cih, darimana zombi ini datang?"
Ren melihat sesuatu yang lain datang dari arah hujan tersebut. Namun kali ini, jumlahnya tidak satu.
"Ari, Yanu, ada yang lain!" Teriak Ren.
Tak lama kemudian, siluet-siluet mulai nampak di tengah hujan yang berjatuhan. Jumlahnya banyak dan bergerak cepat menuju arah mereka.
"Jumlah mereka banyak. Cepat beritahu yang lain!" Ucap Ari seraya mulai menembaki segerombolan zombi itu.
Ren dengan sigap memukul kentongannya dengan keras. Tapi anehnya, kali ini tak ada respon dari pos lain. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Ari!" Ucap Ren.
"Aku tahu! Yang lain pasti telah diserang. Hanya kita tersisa," Balas Ari.
Yanu berdiri dan menarik goloknya, bersiap untuk pertarungan.
"Man-teman, mereka datang!"
Para zombi telah sampai. Mereka satu persatu mulai menyerbu pos Ari dan mengepungnya dari segala arah.
"Sial, hujan ini menghalangi pandangan ku. Anak panah ku juga jadi basah semua!" Gerutu Ari seraya menembaki musuh di depannya.
Yanu bertempur dengan gagahnya dengan golok ditangannya. Sementara Ren menggunakan sabit yang ia bawa dan menyerang dari jarak dekat.
"Thunder Elemental: Zap!" Ren merapal mantra petirnya. Satu kejutan listrik dari tangannya cukup untuk melumpuhkan beberapa zombi secara langsung.
"Ren, awas dibelakang mu!" Teriak Yanu.
Tiba-tiba sebuah zombi muncul dari titik buta Ren. Ren tak punya kesempatan untuk merespon, sehingga zombi itu berhasil menggigitnya.
"Gahh!"
Ia menjadi lengah. Pertahanannya kendur, dan zombi-zombi lain menyerbunya dari berbagai arah. Mereka merobek kulit Ren satu persatu. Mulai dari ujung kaki, hingga wajahnya dirobek seutuhnya.
"Ren!" Yanu berteriak.
"Yanu, tidak ada gunanya menolongnya. Kita harus lari!" Ucap Ari. "Setidaknya kita harus amankan warga desa."
Yanu merasa bersalah meninggalkan temannya mati. Tapi apa yang dikatakan Ari benar. Ia harus mengenyampingkan rasa sakitnya untuk kebaikan banyak orang.
Mereka berdua langsung mundur. Mereka berencana lari. Namun tak disangka, kalau zombi-zombi itu bisa dengan mudah menyusul mereka.
"Mereka cepat sekali," Ucap Yanu menoleh ke belakang.
"Kita bahkan masih jauh dari desa," Sahut Ari. "Sial, kalau begini kita takkan sempat."
Yanu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia pun menarik goloknya dan mengambil posisi kuda-kuda.
"Ari, pergilah! Keselamatan desa bergantung pada mu," Ucap Yanu, bermaksud mengorbankan dirinya.
"Yanu!" Teriak Ari.
Namun Yanu langsung menancapkan goloknya ke tanah dan merapal mantra.
"Earth Elemental: Stone Wall!"
Tembok batu menjulang dari tanah. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk menahan pergerakan para zombi.
"Pergilah, Ari. Aku akan menahan mereka," Teriak Yanu.
Ari tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa melaksanakan kepercayaan temannya itu. Sambil berlari, ia sesekali menoleh ke belakang.
Pemandangan yang sungguh mengerikan. Bagaimana temannya dibantai dengan ganas dan brutal. Kepalanya digerogoti hingga lepas. Tangan dan kakinya dipatahkan dan makan layaknya makanan ringan.
Darahnya mengalir, bercampur dengan genangan air yang perlahan berubah merah. Mereka sudah tiada.
"Sialan kalian, Yanu, Ren! Jangan jadi sok pahlawan tanpa aku lah!" Ari terus berlari dengan linangan air mata menitis.
Ditengah hujan deras, Ari terus melangkahkan kakinya. Keselamatan desa, penduduknya, dan adiknya ditentukan olehnya.
.
.
__ADS_1
.