Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Si Topeng dan Si Pendek


__ADS_3

Dari balik topengnya, Akira mengamati bentuk fisik Serina. Ia jadi teringat akan peringatan yang Darren pernah berikan sebelumnya, sewaktu ia hendak pergi ke Benua Iblis.


"Succubus... kecil. Huh, jadi kau yang dimaksud Esema-kun?" Kata Akira. "Melihatmu barusan, sepertinya kau memang berniat menculiknya, ya."


Serina menatapnya dengan pandangan tajam. "Dan kau. Kau pasti si Hijau Zamrud, kan? Apa polisi Friedlich memang suka ikut campur masalah negara lain?"


"Ini adalah masalah pribadi. Masalah Esema-kun adalah masalahku juga."


"Oke, cukup adil juga. Tapi jangan harap aku akan menyerah begitu saja."


Akira terkekeh dari balik topengnya. "Aku juga tak berniat demikian."


Akira sudah melihat bagaimana mantra succubus itu bekerja. Mantra itu memang tidak bisa melukai secara langsung. Namun dengan menggunakan objek-objek di sekitar, ia bisa membuat mantra itu jadi senjata mematikan. Simpelnya, semua tergantung seberapa efektif caramu menggunakannya.


"Ia melipat ruang sebagaimana ia melipat kertas. Cara kerjanya mirip portal, namun rasanya benda ini bergerak lebih cepat. Mataku pun bisa melihat sisi lain dari titik lipatan dengan jernih."


Akira berniat untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Mulai dari potensi maksimum mantra tersebut, bagaimana caranya Serina menggunakannya, dan kelemahannya yang mungkin bisa ia manfaatkan.


Akira pun mencoba memancing Serina untuk menggunakan mantranya. Ia menjadi yang pertama meluncurkan serangan.


"Emerald Touch!" Akira meluncurkan kristal-kristal yang mencuat dari dalam tanah. "Tertusuk sekali saja, maka sekujur tubuhmu akan membatu."


Tanpa melepaskan Darren dari genggamannya, Serina menghindari semua serangan dengan gesit. Seolah beban di pundaknya itu hanya seberat sehelai kertas. Hal tersebut membuat Akira sedikit terkejut.


"Kapasitas fisiknya jelas di atas manusia. Jika ia menggunakan pukulan atau tendangan untuk menyerang, mungkin akan terasa seperti dihantam batu," Batin Akira. Insting bertarungnya memaksanya jadi lebih waspada.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Serina tiba-tiba berbicara. Ia mengangkat satu tangannya. "Dark Elemental: Non-Eucledian!"


Akira segera mengeluarkan pedangnya. Matanya terus menatap ke sekeliling. Ia menduga bahwa Serina pasti akan menciptakan lipatan ruang di sisi butanya dan menyerangnya dengan cepat. Ia pun terus mengawasi dengan tajam.


"Darimana ia akan muncul?" Akira menduga-duga.


Matanya kemudian menangkap sesuatu bergerak dari sisi kirinya. Ia segera menoleh dan melihat visual yang seolah terdistorsi.


"Itu pasti dia!"


Ia hampir maju untuk menebaskan pedangnya, namun segera menyadari bahwa sesuatu yang lain muncul dari lipatan ruang itu. Sebuah batang pohon yang datang menerjang melewati titik lipatan tersebut.


"A-Apa-apaan ini?!" Akira segera memiringkan badannya, menghindari pucuk pohon yang datang. Namun walau demikian, ia tak luput dari ranting-ranting kecil yang berhasil menggoresnya.


Batang pohon itu terjatuh setelah menabrak pohon-pohon lain di depannya. Getaran kuat langsung timbul, menyebabkan debu-debu berterbangan karena hempasan angin yang kuat.


Di tengah selubung debu yang menghalangi pandangan, Akira hanya bisa menggenggam pedangnya erat-erat sambil mewaspadai sekelilingnya. Untungnya ia menggunakan topeng, jadi tak ada debu yang menyelinap ke dalam matanya.


"Ia pasti akan menyerang lagi. Kira-kira dari mana? Aku harus bisa membaca gerakannya!" Pikirnya.


Tak butuh waktu lama, Serina muncul dengan tangan yang siap meninju Akira. Ia datang dalam kecepatan tinggi, yang di mana membuat Akira hampir terlambat untuk bereaksi.


Akira menarik pedangnya ke depan untuk bertahan, namun satu pukulan Serina cukup untuk menghancurkannya berkeping-keping. Hebatnya, ia melakukan semua itu tanpa melepaskan Darren dari pundaknya.


Melihat pedangnya hancur tak berbentuk, Akira segera mengayunkan kakinya di tengah situasi sengit itu. Tendangannya berhasil menghantam dagu Serina. Membuatnya terhempas ke belakang.

__ADS_1


Nafas Akira mulai terengah-engah. Sementara Serina tersenyum seraya menyeka setetes darah yang menitis dari bibirnya.


"Duh, bibirku jadi luka kan. Bisa-bisa aku sariawan. Tapi lupakanlah, kemampuan regenerasiku takkan membiarkannya terjadi," Ucap Serina menyeringai. "Tak ada manusia yang bisa melukaiku. Walaupun bisa, aku akan meregenerasi lukaku secepat elang melesat."


Akira hanya menatap dengan berbagai perhitungan dalam kepalanya. Ia sekarang sadar betapa hebatnya lawan di depannya ini. Hal itu membuatnya sedikit tertekan, apalagi saat mengingat bahwa pertarungan ini mempertaruhkan nasib Darren-- Tidak, mungkin lebih tepatnya mempertaruhkan nasib dunia.


"Aku membutuhkan rencana," Batin Akira. "Sejauh ini aku sudah melihat bagaimana caranya bertarung. Ia adalah petarung jarak dekat yang mengandalkan tangan kosong. Kapasitas fisiknya juga besar, baik dalam ketahanan dan kekuatan. Itu membuatnya menjadi petarung jarak dekat yang mematikan. Dalam pertarungan jarak jauh pun, ia lebih mengandalkan sihir pelipatan ruangnya."


Akira melirik ke arah Darren yang masih dipikul oleh Succubus itu. "Tapi aku yakin kalau ia masih belum menunjukkan kekuatan maksimalnya. Aku yakin Darren cukup membebaninya. Apalagi nampaknya ia ditugaskan untuk menculik Darren hidup-hidup."


Perlahan, senyuman percaya diri mulai timbul di balik topengnya. "Sepertinya aku lebih diuntungkan dalam pertarungan ini."


Akira menciptakan kembali pedang hijaunya dan perlahan maju dengan penuh keyakinan. Keyakinan untuk menang tentu saja.


Serina melihatnya mendekat. Ia tersenyum, dengan niat untuk segera mengakhiri semuanya di sini.


"Jadi kau menghampiriku? Daripada kabur, kau memilih untuk menghampiriku?" Ucap Serina. "Walaupun kau tahu kalau kekuatanmu berada jauh di bawahku, sama saja berjalan ke liang kuburanmu sendiri."


Akira berjalan semakin dekat. "Aku tak bisa menghajarmu tanpa mendekat."


Serina membalas dengan tatapan percaya diri. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menghampiri Akira. "Kalau begitu mendekatlah semau mu."


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2