
Perlahan mereka berdua melangkah saling mendekat. Mereka bertukar pandangan. Masing-masing memperhatikan postur lawan satu sama lain. Celah, persiapan, dan kemungkinan, semuanya adalah penentu kemenangan dalam pertarungan ini.
Tak lama, Serina nampak mengedipkan mata, seolah ia usai menganalisa postur Akira secara keseluruhan. Ia mengambil kuda-kuda dan melesat dengan tendangan memutar.
Akira tak tinggal diam. Ia menghindari serangan yang datang. Namun nampaknya Serina tak berniat meluncurkan satu serangan saja. Di balik serangan pertama, serangan kedua kemudian menyusul. Begitu seterusnya.
Pertarungan sengit tak terelakkan. Akira berusaha menghindari setiap serangan Serina yang datang. Ia tak boleh terkena sedikitpun, mengingat betapa mematikannya tenaga yang dihasilkannya.
"Tapi ku yakin, ini bukanlah kekuatan maksimalnya," Akira menatap ke arah Darren yang sedari tadi masih digendong. "Semisal Darren lepas dari genggamannya, ia pasti akan menggunakan kedua tangannya. Jika itu terjadi, aku sejujurnya tidak tahu harus senang atau harus khawatir."
Lelah terus menerus dipojokkan, Akira mengambil gerakan balasan. Dengan pedangnya, ia menangkis pukulan Serina. Percikan api bertebaran, seolah dua logam saling bergesekan.
Gerakan Serina sedikit terhenti, membuka celah kecil bagi Akira. Tanpa ragu, ia segera mengambil kesempatan tersebut. Dengan serangan menusuk, Akira meluncurkan pedangnya ke arah tubuh Serina.
Grabb! Dengan satu tangannya, Serina menangkap mata pedang tersebut. Akira terkejut, sambil perlahan mengangkat matanya ke wajah Serina.
"Pisau yang bagus," Serina menyeringai. Kemudian dengan mudahnya meremukkan pedang zamrud itu.
Serpihan permata berjatuhan ke tanah. Tanpa basa-basi, Serina meluncurkan pukulannya ke arah Akira yang masih setengah syok.
Woosh! Pukulannya hampir mengenai wajah Akira. Untung Akira segera merespon dengan gerakan menghindar ke belakang. Ia segera mengambil jarak aman dan meluncurkan serangan balasan.
"Emerald Bullet!" Dari jarak jauh, Akira menembakkan peluru-peluru batu yang terbuat dari zamrud.
Serina mengangkat tangannya, melindungi wajahnya dari serangan yang datang. Puluhan permata hijau pun menghujaninya. Tak lama kemudian, kepulan debu berterbangan diiringi bunyi tetesan darah yang mengalir.
"Cih, boleh juga. Jurusmu itu bukan kekuatan elemen, kan?" Serina melirik Akira dari celah-celah telapak tangannya. "Kemampuan untuk memanipulasi mineral. Ini bakat yang lumayan mengesankan."
Akira menyahut, "Terimakasih pujiannya. Namun daripada itu, cepat serahkan Esema-kun sekarang!"
Serina menghela nafas. "Akira, si Hijau Zamrud, apa kau masih belum mengerti juga ya?" Ucapnya. "Kau seharusnya tahu kan kalau sobatmu ini bukanlah orang biasa? Ia datang dari dunia lain. Dunia di luar ambang pengetahuan kita."
"Ya, aku tahu itu. Aku juga tahu apa rencana kalian," Balas Akira sambil terus memasang kuda-kuda waspada. "Kalian berniat mengincar kekuatannya, bukan? Entah apa yang ingin kalian lakukan dengan itu."
Akira melanjutkan serangannya. Melihat bagaimana serangan terakhir begitu efektif, ia memutuskan untuk kembali menggunakan serangan jarak jauh.
"Emerald Bullet!" Peluru hijau berhamburan menyerbu Serina.
Serina mengangkat tangannya, seraya berkata. "Trik yang sama takkan berkerja dua kali."
__ADS_1
Dalam sekejap, puluhan peluru hijau tersebut menghilang di depan telapak tangan Serina. Hal tersebut membuat Akira was-was. Ia segera mencoba menyingkir dari tempatnya berdiri. Namun sebelum ia berhasil, rentetan peluru hijau menerjang kakinya.
Krakk! Zirah kakinya tergores hingga hancur. Akira sendiri terjatuh ke tanah karena sandungan serangannya sendiri.
"Dia mengembalikan serangannya padaku," Batin Akira serata mencoba bangkit berdiri.
Tapi saat ia mengangkat wajahnya, Serina telah muncul dengan senyuman seringai. Di sisinya, telapak tangannya telah terkepal kuat, siap meninjunya dari balik titik lipatan ruang.
"Emerald Wall!" Akira cepat bereaksi. Ia memukulkan tangannya ke tanah dah menciptakan tembok zamrud yang menjulang di antara mereka.
Duarr! Pukulan super kuat itu menghantam dinding yang keras, menciptakan ledakan yang menghempaskan puing-puing kristal ke segala arah.
Akira yang telah mundur pun tak luput dari efek ledakkannya. Setengah topengnya hancur terhantam serpihan tembok yang melayang ke arahnya. Kini sisi kiri wajahnya terbuka, dihiasi luka gores yang berdarah-darah.
"Bukan hanya bakatmu saja yang hebat. Fisikmu juga nampaknya sudah terlatih. Sesuai ekspetasi dari nama Si Hijau Zamrud," Serina tersenyum.
"Untuk seorang berbadan cebol, bicaramu berisik juga ya."
Akira menyeka darah dari wajahnya dan membuang bagian topengnya yang rusak. Setiap usapan yang menyentuh wajahnya, ia bisa merasakan perihnya rasa sakit dari luka-luka yang membekas. Tidak seperti Serina, ia hanyalah manusia biasa.
"Jawablah, Akira," Serina melontarkan pertanyaan. "Jika kau harus membunuh Darren untuk menyelamatkan dunia, apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja membunuhnya," Akira bangkit berdiri dengan tangan terkepal. "Sesuai dengan apa yang akan kulakukan sekarang."
Wajah Serina tiba-tiba berubah, seolah bukan inilah jawaban yang diharapkannya. Di saat bersamaan, Akira telah mengacungkan tangannya ke arahnya.
"Emerald Touch!" Teriaknya.
Kristal-kristal hijau mencuat dari segala arah, dan bergerak ke arah Serina. Tapi ada yang aneh dengan serangannya. Kristal-kristal itu memang mengarah pada Serina, tapi tidak ke arahnya secara tepat.
"Jangan-jangan..." Mata Serina terpelotot.
Dengan cepat ia menggerakkan tangannya dan menghancurkan semua kristal yang datang. Setelah semuanya hancur, Serina berbalik pada Akira.
"Kau barusan... kau tidak mengarahkannya kepadaku, kan?" Serina menatap Akira.
Akira menyeringai. "Ah, aku tidak tahu. Aku hanya ingin membunuhnya," Jawab Akira. "Lagipula kalau ia mati, dunia ini akan selamat, kan? Kalian takkan mampu memiliki kekuatannya lagi."
Serina melirik Darren di pundaknya, kemudian tersadar dengan rencana Akira. Ia tak bisa menahannya selain tertawa.
__ADS_1
"Ah aku mengerti sekarang," Tawanya. "Kau berpikir kalau aku akan melindungi Darren karena misiku untuk membawanya hidup-hidup, kan? Yah, kau tidak salah sih. Aku memang ditugaskan begitu."
Tiba-tiba...
Bruk! Tubuh Darren digeletakkannya begitu saja di tanah. Akira agak terkejut karena bukannya melakukan yang sebaliknya, Serina malah mengikuti rencananya walau ia tahu ini jebakan.
Serina kemudian mulai menggerak-gerakkan kedua lengannya dengan luwes. Terdengar udara yang masuk ke hidungnya begitu lancar, seolah selama ini mereka terhambat dalam lorong sempit.
"Ini yang kau mau bukan? Kalau begitu baiklah, aku sudah melepaskan Darren," Ucap Serina. "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Membawanya kembali, walau itu berarti meninggalkan tekan-rekanmu yang lain?"
Benar juga, Akira hampir lupa dengan teman-temannya yang sedang pingsan. Tidak mungkin ia meninggalkan mereka sendirian bersama Serina. Tapi mendengar kalimat ini dari Serina sendiri, membuatnya menjadi semakin waspada akan apa yang direncanakannya.
Merasa ancamannya meningkat, Akira segera mempersiapkan dirinya sendiri dan mengeluarkan senjatanya. Nafasnya perlahan mulai tak beraturan.
Simpelnya, situasi benar-benar tidak mendukung posisi Akira. Akira diberi tiga pilihan. Menyelamatkan Darren, atau menyelamatkan yang lain. Tentu kedua pilihan tersebut tidak akan berakhir baik, jadi ia bergerak ke pilihan ke tiga. Yaitu bertarung.
"Siapapun yang menang, ia berhak membawa Darren," Ucap Serina. "Kurasa kau sudah paham situasinya. Sekarang, mari langsung kita mulai saja. Tapi tentu saja bukan di sini."
Serina menjentikkan jarinya. Tiba-tiba sebuah lipatan ruang melingkupi mereka berdua, mengubah sekitaran mereka ke sesuatu yang lain.
Apa ini? Mereka sedang dibawa ke tempat yang jauh. Jauh dari hutan dan tempat Darren beserta teman-temannya terkapar. Ketika semuanya berakhir, mata Akira tak mampu menangkap apapun.
"G-Gelap sekali," Akira berusaha menjaga postur berdirinya dari guncangan yang berlalu.
Ketika ia oleng dan hampir terjatuh, ia diselamatkan oleh sesuatu yang menopangnya berdiri. Sesuatu yang bukan manusia ataupun makhluk hidup. Teksturnya kasar dan berbatu. Rasanya seperti dinding. Apa ia berada di ruangan tertutup?
"Batu?" Akira meraba-raba. Ia mencoba melihat di tengah gelapnya tempat itu. "Ini kan... di dalam goa!"
"Benar sekali," Serina menyahut dengan suara menggema. "Aku rasa ronde kedua kita akan lebih seru jika ganti arena. Dan kuputuskan untuk memilih arena dengan ruang bergerak yang minim."
Keringat mengalir ke ujung dagu Akira. Ia sadar bahwa dirinya dalam masalah besar. Ini gawat sekali. Pergerakannya akan benar-benar terbatas. Apalagi jika Serina menggunakan kekuatan Non-Euclediannya. Ia ragu apa dirinya punya kesempatan untuk menghindar.
Suara Serina lagi-lagi menggema. "Baiklah kalau begitu. Kita langsung mulai saja! Ronde kedua dan terakhir!"
.
.
.
__ADS_1