
"Aku datang dari dunia lain," Ucap Darren.
"Darren, apa maksud mu?" Ravenna menyahut keheranan. Sementara mereka yang lain hanya menatap Darren dengan ekspresi yang hampir sama.
"Aku bukan dari dunia ini. Melainkan dari dunia yang jauh di sana. Dunia yang terpisah ruang dan waktu," Ucap Darren lagi. "Sebuah tempat yang berbeda dengan realita kalian. Tidak ada sihir, tidak ada pedang."
"Aku pernah mendengarnya," Ucap Kaido. "Dalam legenda, diceritakan ada seorang tokoh pahlawan yang dipanggil oleh para dewa. Pahlawan itu pada akhirnya akan menyatukan seluruh dunia, walau ia harus mengorbankan nyawanya. Tapi yah, itu hanya legenda semata."
"Aku tidak terlalu paham sih," Ucap Akira mengelus ujung topengnya di bagian dagu. "Tapi kalau kau memang datang dari dunia yang jauh, bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
"Soal itu, aku juga kurang tahu. Semuanya terjadi begitu cepat," Balas Darren. "Tapi diriku di dunia asalku, sempat tertabrak kereta sesaat sebelum tiba di sini. Sisanya, aku sendiri merasa seperti terteleportasi."
"Tertabrak kereta? Seperti kereta kuda? Lalu, apa kau sudah mati saat berpindah ke sini?""
Darren terdiam. Benar juga, apa sebenarnya ia mati? Kalau dipikir-pikir, ia tiba-tiba langsung berada di padang rumput tempat awal ia berdiri. Tubuhnya pun masih utuh tanpa luka yang begitu serius. Terlebih mengingat gaya hantaman kereta pastinya bisa menghancurkan tulang-tulangnya.
"Tunggu, apa aku ini bereinkarnasi?" Darren berbisik. "Bagus juga mengalami hal yang serupa. Tidak jelas bagaimana ia terkirim. Soalnya ia langsung berpindah sesaat sebelum dihantam tsunami."
Ravenna menghela nafas. "Lagipula, jika legenda yang dikatakan Kaido benar, maka seharusnya Darren sempat bertemu dengan Dewa, bukan? Walau tujuannya untuk menyatukan dunia sudah setengahnya dimulai."
Darren merengut. "Dewa... Raja Iblis... Seperti yang dikatakan Clara. Tapi, aku jadi bingung sebenarnya apa tujuan awal aku dibawa kemari."
Darren pun menggebrak meja. Matanya terlihat dipenuhi rasa frustasi.
"Darren-sama," Shiro memegang lengan Darren, berusaha menenangkannya. "Apa mau dilanjutkan?"
"Ya. Masih ada satu hal lagi yang harus ku sampaikan."
Darren kembali menegakkan tubuhnya. Para hadirin semua sontak memandanginya dalam hening.
"Satu lagi," Ucap Darren. "Sebenarnya perjalanan ku ke benua iblis bukan tanpa alasan. Melainkan demi mencari para Raja Iblis Sejati."
"H-Hah?! Raja Iblis Sejati? Bukannya mereka semua sudah mati?" Ucap Ravenna.
"Mereka masih hidup. Aku bahkan berhasil bertemu tiga dari mereka."
__ADS_1
Semua orang di ruangan tercengang hebat. Mulut mereka menganga, dan mata mereka melotot terkejut.
"T-Tiga Raja Iblis Sejati. Aku tidak bisa membayangkan di dunia ini masih hidup makhluk seberbahaya mereka," Batin Kaido.
"Sejujurnya, bahkan kami ras monster sekalipun jadi merinding saat mendengar nama mereka," Sahut Tugo. "Lalu, untuk apa kau bertemu dengan mereka?"
"Awalnya aku hanya ingin mencari beberapa informasi tentang kebenaran dunia. Namun aku malah menemukan fakta lain. Salah seorang dari tujuh Raja Iblis Sejati, sedang mengincar nyawa ku."
Seketika semua orang tereksiap. Tangan mereka mulai bergetar diiringi tatapan mata yang berkedut.
"Darren-sama, itu tidak benar kan?!" Kaido berdiri dari kursinya, menimbulkan suara gebrakan meja yang keras.
"Kaido, tenanglah. Kita tunggu penjelasan darinya," Nigel berusaha membuatnya duduk kembali.
"Diincar Raja Iblis Sejati? Ini bukan lagi jadi masalah sepele," Ucap Tugo yang tadinya duduk begitu santai, menjadi duduk dengan serius.
Keadaan perlahan jadi riuh. Kelihatan di wajah orang-orang kalau mereka mulai panik dan cemas. Tak terkecuali Akira, yang bahkan sebelumnya tak gentar menghadapi Tomatsu sekalipun.
"Esema-kun, mungkinkah alasan Raja Iblis itu mengejar mu karena kau dari dunia lain?" Tanya Akira.
Nigel tiba-tiba menyahut. "Maaf memotong, Darren-sama."
Darren menoleh. "Hm? Oh kau. Aku ingat kau salah satu dari kelompok manusia hewan itu."
"Aku senang anda masih mengenali diriku," Nigel tersenyum, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Namun jika boleh mengemukakan pendapat ku. Darren-sama adalah orang dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Anda mampu menguasai berbagai elemen yang ada di dunia ini. Tidak heran jika kekuatan mu diincar oleh makhluk seberbahaya itu."
"Lalu, apa kau punya pendapat lain?"
Nigel menyeringai. "Mungkin yang ku katakan selanjutnya bukanlah sebuah pendapat. Melainkan hanya sebuah laporan yang mungkin berkaitan dengan beberapa masalah yang terjadi."
Darren mengangkat alisnya. Kemudian Nigel beranjak dari kursi dan berjalan mendekat kepada Darren. Di tangannya, ia membawa beberapa berkas-berkas yang nampaknya sangat penting.
"Apa ini?" Darren menerima berkas itu dari tangannya.
"Laporan tentang informasi yang sudah ku kumpulkan dari orang-orang yang singgah di kota," Balas Nigel. "Awalnya aku hendak membahas ini dalam rapat dengan Ravenna. Namun ku rasa lebih baik anda melihatnya terlebih dahulu."
__ADS_1
Darren membaca tiap berkas itu dengan teliti. "Penyakit misterius. Ruam dengan bau busuk. Dan luka yang menggelembung."
"Sesuai yang anda baca. Aku menemukan beberapa musafir yang singgah memiliki gejala-gejala yang tertulis di situ," Sambung Nigel.
"Jangan-jangan, ini...!" Mata Darren terkesiap. "Apa ada orang di kota yang tertular atau semacamnya?"
Nigel menunduk. "Sebenarnya, beberapa petualang mengalami kondisi yang begitu parah. Gejala-gejala yang ditunjukkan pun tidak menunjukkan tanda-tanda mereda sedikitpun."
Darren menggeram frustasi. Ia tahu kalau penyakit ini memang sangat berbahaya, dan walau ia bisa menggunakan sihir yang sama seperti saat ia menyembuhkan adik Ravenna, tak mungkin baginya untuk menggunakannya kepada banyak orang.
Nigel meneruskan. "Beberapa orang menyebut kalau itu adalah penyakit kutukan. Namun cara kerjanya sedikit mirip dengan sihir Wither, hanya memiliki efek berkepanjangan yang lebih berbahaya. Kami pun telah melakukan beberapa penelitian dengan melakukan eksperimen pada hewan-hewan kecil."
"Hasilnya?"
"Undead. Mayat yang tersisa berubah menjadi mayat hidup."
Darren melepas tatapannya dari berkas itu dan berpaling untuk sekali lagi melirik Nigel.
"Undead-- penyakit semacam itu bisa menciptakan monster seberbahaya itu?!" Darren berteriak penuh keterkejutan. "Tidak mungkin. Di dunia ini, seharusnya belum ada teknologi semacam itu. Bahkan di duniaku saja belum."
Nigel berjalan kembali ke kursinya. "Sekarang kita tahu dari mana asalnya undead-undead yang berkeliaran," Katanya. "Dan jangan lupa. Jika ada Raja Iblis yang benar-benar mengejar Darren-sama, maka bisa saja ini adalah serangan pertamanya."
Semua orang melirik satu sama lain dan saling bertukar omongan dengan nada gundah. Darren sendiri tidak pernah menyangka akan menemukan sesuatu yang mirip di film-film horor tentang zombie di dunia ini.
"Ini tidak mungkin, kan," Darren berbisik pada dirinya sendiri. Ia ingin tidak percaya, tapi ia sendiri sudah mendapatkan buktinya.
"Kalau begini terus, maka..." Sambungnya, "Dunia bisa dalam masalah."
.
.
.
To be continued...
__ADS_1