Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Waktu dalam Botol


__ADS_3

Darren membuka matanya perlahan. Langit-langit kayu langsung menyambutnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang lembut selagi ia berbaring. Rasanya seperti seprei kasur.


"Oh, hey. Akhirnya kau bangun," Ucap Ravenna yang duduk di sampingnya.


Darren mengangkat tubuhnya dan terduduk di atas ranjang. Ia masih merasakan sedikit sakit pada tubuhnya. Terlebih di bagian wajah dimana tendangan Serina berhasil membuatnya tak sadarkan diri.


"Ukh..." Darren memegangi kepalanya. Setelah beberapa saat, ia baru teringat apa yang sedang terjadi. "Gawat! Aku harus mengalahkan Serina."


Darren hampir beranjak dari kasur. Namun Ravenna langsung mendorongnya hingga jatuh lagi.


"Sepertinya kau masih belum sepenuhnya sadar, ya," Ucap Ravenna. "Lihat sekelilingmu sekarang!"


Darren memandang sekeliling. Sekarang ia baru paham dengan apa yang terjadi. "Aku sudah kembali?" Katanya sambil melepas lega. "Berarti succubus itu berhasil dikalahkan?"


Ravenna mengangguk. "Ya. Walau hampir semua dari kalian menderita luka parah. Tapi tenang saja, semua teman-temanmu sudah aman dan mendapatkan perawatan intensif. Kecuali Akira."


"Akira?" Darren terkejut.


Ia baru ingat bahwa sesaat sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia sempat mendengar suara Akira. Apa itu berarti ada pertarungan sengit setelah dirinya tak sadarkan diri?


"Apa yang terjadi kemarin?" Tanya Darren.


Ravenna menyodorkan segelas air pada Darren. Darren menerimanya dan meneguknya, seraya Ravenna menjelaskan jawabannya.


"Teman barumu, Hain, yang memberitahu kami apa yang terjadi," Jelasnya. "Setelah ia bangun dari efek mantra tidur, ia melihat semua orang tergeletak di tanah. Yang membuatnya heran adalah ia melihat dirimu terbaring, sementara succubus itu tidak nampak di sekitar situ. Lalu ia sadar bahwa satu orang telah menghilang juga."


Darren meletakkan gelasnya. "Akira?"


Ravenna mengangguk. "Benar," Balasnya. "Akira berusaha mengalahkan succubus itu sendirian, demi mencegah dirimu diculik olehnya. Akhirnya ia berhasil menang, walau hampir setengah badannya dipenuhi luka. Kami cukup kesulitan saat mencarinya. Tapi kami berhasil menemukannya terbaring pingsan di goa dekat situ, bersama succubus yang sudah dilumpuhkan."


Darren menggenggam kepalan tangannya. Wajahnya menunduk. Walau tak menunjukkan rautnya, kelihatan jelas kalau ia merasa bersalah. Lagi-lagi ia membuat orang lain terluka karena dirinya. Rasanya, kenangan buruk bersama Rolf dan Yuzuna kembali membesit di kepalanya.


Ravenna hanya bisa menyaksikan hal itu. Tapi ia tak melakukan apapun. Menurutnya, Darren takkan mungkin jatuh hanya karena hal semacam itu. Terlebih setelah semua yang ia lalui.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sudah membaik?" Tanya Darren.


"Ia mendapatkan perawatan spesial. Kondisinya masih tak sadarkan diri semenjak dibawa ke sini. Tapi dilihat dari bentuk tubuhnya, kurasa kita tidak perlu terlalu khawatir," Ujar Ravenna.


"Huh?"


"Beberapa bagian tubuhnya memang terluka. Tapi di beberapa bagian juga, lukanya seolah tertutup oleh permata hijau," Jelas Ravenna. "Setelah diselidiki, ia ternyata menggunakan bakatnya untuk mengobati lukanya sendiri."


Darren bernafas lega mendengarnya. Tapi ia penasaran dengan bagaimana cara kerja bakat yang bekerja ke arah ofensif dapat berguna sebagai bakat penyembuh.


"Apa itu mungkin?" Tanya Darren.


"Seharusnya tidak," Sahut Ravenna. "Tapi nampaknya, tekadnya yang kuat memaksanya begitu. Menutup luka dengan benda keras bukanlah hal paling bagus. Kau tahu kan bagaimana rasanya jika luka di tubuhmu disentuh benda keras seperti kayu atau batu?"


Membayangkan hal tersebut, tubuh Darren langsung merinding. Seolah ia bisa merasakan bagaimana perihnya sensasi tersebut. Ia jadi semakin kagum sekaligus sedih dengan bagaimana Akira melawan hal tersebut.


"Lalu, di mana ia sekarang?" Tanya Darren lagi. Kali ini wajahnya jadi semakin serius.


Ravenna mengangkat alisnya. "Bukannya sudah kubilang? Ia ada di rumah sakit."


"Bukan dia." Darren menajamkan matanya.


Mendengar nada bicaranya yang berubah tiba-tiba, Ravenna mulai mengerti siapa yang Darren maksud dengan 'dia.' Tapi ia tak banyak basa-basi dan langsung memberitahu tempat succubus itu berada.


"Ruang bawah tanah. Kami menahannya di sana dengan keamanan tinggi. Kanrei juga mengawasinya di sana," Kata Ravenna. "Rencananya, kami akan menginterogasinya nanti."


"Aku ikut," Sahut Darren yakin. "Akan kubuat ia bicara."

__ADS_1


.


.


.


"Misiku hampir selesai. Hanya perlu sedikit langkah lagi."


Serina menyeringai dibalik pintu yang terkunci. Di dalam ruangan gelap gulita, dengan satu-satunya sumber cahaya berasal dari sela jeruji kecil di bagian atas pintu. Kedua tangan dan kakinya masih dalam proses regenerasi. Tapi nampaknya itu takkan mengubah situasi. Di dekat ujung kaki dan tangannya, terpasang rantai yang siap mengekangnya begitu bagian tubuhnya kembali tumbuh.


Tiba-tiba terdengar suara logam dari balik pintu, yang tak lain adalah suara gembok yang terbuka. Tak lama, pintu bergerak dan seseorang muncul dari baliknya.


"Kau kedatangan tamu," Ucap seorang pria yang tak lain adalah Kanrei.


Kanrei pun menyalakan lentera di dekat situ. Saat cahaya mulai merekah, nampaklah Darren dan Ravenna berdiri berdampingan di depan pintu.


"Hoo, akhirnya kalian datang juga," Serina menyeringai. "Aku sudah lelah menunggu."


Darren dan Ravenna melangkah masuk, sementara Kanrei menyingkir dan berjaga di luar.


Darren menatapnya tajam, lalu melontarkan sebuah pertanyaan, "Kenapa Raja Iblis itu mengirim mu lagi?"


Ia memang baru menyadarinya. Rasanya agak aneh jika Raja Iblis tersebut mengirimkan orang yang sama untuk menangkapnya. Apalagi mengingat orang itu telah gagal sebelumnya.


"Apa-apaan gaya bicaramu yang percaya diri itu," Serina menyahut.


"Cukup jawab saja!"


Serina menyeringai. "Kau tidak tahu cara menginterogasi, ya?" Katanya dengan nada mengejek. "Apa kau pikir, dengan menanyakan pertanyaan secara langsung, kau akan mendapatkan jawaban dari lawanmu?"


Darren membalas senyumannya dengan senyum yang lain. Senyum yang terasa dingin, tapi juga terasa membakar dari dalam.


Tiba-tiba sebuah lipatan ruang tercipta di atas kepala Serina, pelan-pelan menurun dan melahap kepalanya hingga terhenti tepat di tengah-tengah lehernya. Sementara di sisi lipatan ruang yang lain, wajah Serina menonjol keluar dan melihat tubuhnya sendiri berada di ambang gerbang portal.


"K-Kau. Apa yang kau lakukan?" Serina jadi khawatir melihat Darren yang terus-menerus menunjukkan wajah seramnya.


"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran bagaimana jadinya jika aku menutup portal ini ketika tubuhmu berada di tengah-tengahnya," Ucapnya dengan seringai yang makin lebar.


Senyuman itu benar-benar tulus. Tulus untuk membunuh. Tanpa disadari, keringat menitis dari kening Serina. Membuatnya bertanya-tanya, apakah di hadapannya ini adalah pemuda yang sama yang ditemuinya dulu?


Begitu pula Ravenna. Melihat Darren yang seolah berubah, ia juga mempertanyakan hal yang sama. Tapi ia tidak mau memikirkan itu dulu. Lagipula saat ini, sifat Darren yang seperti itu akan berguna dalam sesi interogasi.


"Baiklah, baiklah. Aku akan jawab. Tapi, lepaskan dulu leherku dari portal itu!" Teriak Serina.


Darren tersenyum sambil perlahan mengangkat portal itu dari atas kepala Serina. Akhirnya Serina bernafas lega setelah keluar dari situasi menegangkan itu. Namun ketika ia mengangkat matanya, Darren telah berdiri dan mendekati wajahnya dengan tatapan yang seolah menembus jiwa.


"Sekarang jawab pertanyaanku tadi!" Ucapnya pelan, namun terasa seperti sebuah belati yang menikam jantung.


Serina mendengus. "Aku sebenarnya bukan ditugaskan untuk menangkap mu," Kata Serina. "Tuanku memerintahkanku untuk mengawasi desa ini."


Mendengar jawaban Serina, Darren pun melirik kepada Ravenna. Yang tak lama disusul sebuah anggukan darinya.


"Summon: Thunder Wolf." Tiba-tiba seekor serigala muncul di sisi Ravenna. "Raiko, tolong beritahu aku jika ia berbohong."


Raiko mengendus beberapa kali, kemudian menyimpulkan bahwa Serina masih menyembunyikan sesuatu yang lain.


"Apa yang dikatakannya benar. Tapi aku menemukan sesuatu yang lain darinya," Ujar Raiko. "Sesuatu dengan bau aneh."


Ravenna memalingkan mata pada Serina. Ia sempat kebingungan saat melihat betapa minimnya pakaian yang dikenakan succubus itu.


"Apa kau yakin, Raiko? Kelihatannya ia tak punya tempat untuk menyembunyikan sesuatu," Ujar Ravenna.

__ADS_1


"Hidungku tidak mungkin salah."


Ravenna mulai meraba tubuh Serina. Dari atas sampai bawah ia rogoh. Namun hasilnya nihil, selain sensasi lembut kulit succubus itu setelah menyentuhnya.


"Tidak ada apapun." Ravenna menarik kembali lengannya dan menyatakan bahwa tak mungkin ada sesuatu di balik pakaian minim serba ketat itu.


Wajah Raiko jadi sedikit terperangah, dan Darren melihatnya. Wajah serigalanya tadi sungguh yakin. Tapi saat mendengar bahwa ia salah, dirinya jadi kecewa.


Raiko adalah spirit berwujud serigala. Hidung serigala biasa saja dapat mencium bau dengan tajam, apalagi ia adalah seekor serigala spirit. Pasti ada sesuatu yang memang tersembunyi di sini. Sesuatu yang tak kasat mata.


"Coba kulihat sebentar." Darren maju, menggantikan posisi Ravenna.


Di depan Serina, ia menjulurkan tangannya, lalu merapal mantra. "Cancelling!"


Seketika itu juga, sebuah kalung muncul melingkari leher Serina. Mereka terkejut karena sebelumnya tak ada apa-apa di sana. Tapi Darren segera meraih kalung tersebut dan melepasnya dari leher Serina.


Ia mengamati kalung itu dengan teliti. Bahannya terbuat dari perak, dengan hiasan berbentuk jam pasir mungil sebagai liontinnya. Dilihat dari manapun, ini hanya seperti kalung biasa. Tapi kenapa Serina mengenakannya, apalagi sampai harus menyembunyikannya dengan sihir?


"Kalung apa ini?" Darren memalingkan matanya kembali ke arah Serina.


"Cih. Ketahuan, ya." Serina mendengus. "Tapi, jangan harap aku akan menjawabnya semudah itu--"


Sringg... Sebuah bilah pedang langsung tertodong ke leher Serina. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun setelah merasakan ujung pedang yang tajam menyentuh lembut lehernya.


"Jawab sekarang!" Mata Darren menatapnya tajam. Walau ia hanya seorang manusia, aura yang dipancarkan tatapannya cukup untuk membuat bulu kuduk Serina bergidik.


"Darren..." Ravenna yang menyaksikan saja jadi sedikit khawatir dengan perubahan sifat Darren. Tadi ia sempat tak memikirkannya. Tapi sekarang, entah kenapa ia jadi ikut merinding.


Mata Darren semakin tajam menatap. Tak salah lagi, ini adalah tatapan yang tidak punya ragu. Ia tak segan lagi menggoreskan pedangnya ke leher succubus itu.


"K-Kenapa dengan kau ini? Kau Darren, kan? Aku tidak salah orang, kan?" Serina malah mengungkit hal lain. Dan itu membuat Darren tidak suka.


Srett... Setetes darah mengalir. Perlahan menitis hingga jatuh ke lantai yang kusam. Serina hanya bisa menatap diam sambil merasakan perih yang menggigit di lehernya.


"Gunakan kata-katamu dengan bijak. Jangan sampai itu membuatmu terbunuh," Ucap Darren. Ia semakin menempelkan pedangnya.


Keringat mulai membanjiri Serina. "Ini tidak mungkin," Pikirnya. Pemuda yang naif itu seharusnya masih ada di depannya. Pemuda yang pernah memberinya kesempatan kedua setelah nyaris mati oleh tangan Raja Iblis Es.


Apa mungkin... pemuda itu telah lenyap? Semua perjalanan yang dilaluinya itu, apa mungkin telah mengubahnya hingga sejauh ini?


Darren memberikan sedikit dorongan pada pedangnya. Semakin lama semakin dalam membenam dalam kulit leher Serina. Tetesan darah pun semakin deras.


"Baiklah! Aku akan jujur!" Teriak Serina. "Benda itu dapat mempercepat waktu."


Mendengar hal tersebut, Darren segera menarik kembali pedangnya.


"Mempercepat waktu?" Darren memiringkan alisnya.


Raiko pun mengendus perkataan Serina. "Ia tidak berbohong," Tegasnya.


Darren kembali bertanya. "Apa yang kau maksud dengan mempercepat waktu?"


Serina pun membalas, "Kami menyebutnya: Waktu dalam Botol."


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2