Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Di Antara Kita


__ADS_3


Ilustrasi Dyland...


.


.


.


"Dyland, kau harus percaya pada ku!" Teriak Marvin sambil terus mengacungkan jarinya pada Rosemary. "Dia lah si penyusup itu. Jika kau melepaskannya sekarang, maka kita takkan punya kesempatan lagi untuk menangkapnya."


Di sisi lain, Rosemary membalas dengan tegas. "Cih, dasar ogre busuk. Bisa-bisanya kau menuduh ku dengan tuduhan palsu itu," Ucapnya sambil membuang ludah. "Pasti kau pelakunya. Dan kau terus menuduhku agar kau tidak ketahuan!"


Dyland termenung diam sambil menundukkan wajahnya. Ia kebingungan dan frustasi. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


"Teman-teman, coba kita bicarakan dulu ini baik-baik," Ucap Dyland dengan nada pelan.


Tapi Marvin langsung membalas ucapan Dyland. "Tidak bisa! Untuk apa kita bicarakan ini lagi? Sudah jelas-jelas pelakunya ada di hadapan kita."


"Sekarang pertanyaan ku, apa kau punya bukti kalau Rosemary adalah pelakunya?" Sambung Dyland. "Ia sudah berada di sini sejak awal berdirinya organisasi pemberontakan. Dan ia selalu membantu kita."


Dyland kemudian menatap Marvin, lalu melanjutkan kalimatnya. "Kau juga, Marvin. Kau sudah ada di sini sejak lama. Kau sudah membantu banyak dan menganggap semua orang di sini sebagai teman dekat mu. Walau kau seorang yang pemarah, tapi kau selalu memikirkan segala hal dua kali. Aku percaya kau bukan pelakunya."


Marvin langsung menyeringai. "Benar, kan? Kalau aku bukan pelakunya, maka wanita itulah pelakunya."


"Tidak. Aku juga percaya Rosemary bukanlah penyusup itu," Sambung Dyland.


Sekejap, wajah Marvin langsung terlihat kecewa setelah mendengar perkataan Dyland. Ia menatapnya dan memasang tampang kesal.


"Dyland, aku sudah menganggap mu seperti saudara ku sendiri," Ucap Marvin sambil berjalan mendekat. "Tapi jika kau menghalangi jalan ku, maka aku tak ragu untuk mengangkat senjata ku."


"Marvin--" Ucap Dyland pelan, lalu dipotong oleh Rosemary yang berdiri di belakangnya.


"Dyland, menyingkirlah dari jalanku," Ucap Rosemary sambil bangkit dengan kakinya yang patah. "Jika kau sampai menghalangi ku, aku juga takkan ragu untuk melukaimu."


Rosemary dan Marvin saling menghampiri, sementara Dyland berdiri di tengah-tengah mereka.


"Sial, ini takkan terhindarkan," Ucap Dyland dalam hati. "Harus kuhentikan sekarang atau semua akan kacau."


Marvin meletakkan tangan kanannya ke lantai. Dari lantai itu, ia membentuk sebuah kapak batu yang besar dan menggunakannya.


Rosemary berjalan dengan perlahan. Dengan tangan kirinya, ia mengobati kakinya yang patah. Sementara tangan yang lain membentuk sebuah aliran angin yang terkonsentrasi ditelapaknya.


"Ini semakin menjadi-jadi," Kata Shiro, di antara keramaian. "Jika pertarungan ini meledak, seisi kafetaria bisa hancur."


Di saat-saat seperti ini, ia sering membayangkan Darren ada di sisinya. Biasanya jika ada hal buruk terjadi, Darren pasti akan mengatasinya dengan mudah. Tapi nyatanya, Darren tidak ada, dan Shiro harus memikirkan segalanya sendirian.


Di tengah-tengah kafetaria, Dyland terlihat menunjukkan wajah pening. "Nampaknya tidak ada jalan lain," Ucapnya sambil menarik nafas. Ia kemudian mengeluarkan pedang besarnya dan mengambil kuda-kuda bertarung.


Marvin segera memalingkan pandangannya dari Dyland dan langsung menerjang ke arah Rosemary. Ia sudah dibutakan oleh amarah dan tak ada yang bisa menghentikannya.


Jebrett! Serangan kapak Marvin hampir membelah wajah Rosemary, namun segera diblokir oleh Dyland menggunakan pedang besarnya.


Di saat momen menegangkan itu, Rosemary mengambil kesempatan di saat Marvin lengah dan merapal mantra anginnya.


Namun Dyland melihatnya dan segera menendang wajah Rosemary hingga membuatnya terjatuh dan gagal merapal mantranya.


"Kalian berdua, tenanglah!" Dyland berusaha menjauhkan mereka.


Tapi Marvin dan Dyland tidak mempedulikannya. Keadaan malah jadi semakin ganas saat Marvin mulai menunjukkan aura membunuhnya kepada Dyland.


"Minggirlah!" Marvin kembali mengayunkan kapaknya secara horizontal.


Dyland menghindarinya dan memberi serangan balik berupa pukulan kuat menggunakan bagian tumpul pedangnya. Pukulan itu mengenai wajah Marvin dan membuatnya hampir terhempas.


"Dapat kau," Marvin tiba-tiba menatap Dyland dengan tajam.


Sebelum Dyland menyadarinya, tangan kiri Marvin sudah melayang ke perutnya dengan kecepatan tinggi. Dyland hendak menghindar, namun terlambat.


Gubrakk! Dyland terlempar dan menghantam tembok kafetaria yang keras. Kini jarak antara dia dengan mereka berdua sudah terlalu jauh, dan Marvin terlihat menghampiri Rosemary yang masih terluka.


Orang-orang mulai berteriak riuh. Antara mereka kebingungan disertai rasa takut, atau bersorak pada Dyland untuk kembali berdiri.


"Aku harus kembali berdiri," Dyland mencoba bangkit, namun ia menyadari kalau pukulan tadi membuat tubuhnya terluka. "Agh-- Kerusakan di tulang rusuk. Terlalu banyak bergerak dan tulang yang patah akan menusuk paru-paru ku. Aku kesulitan bernafas, dan aku tak bisa menggunakan mantra penyembuh."


Nafas Dyland yang mulai terengah-engah menjadi semakin kencang saat melihat Marvin mengangkat kapaknya dan bersiap memenggal kepala Rosemary.


"Sial-- Uhuk," Dyland mulai mengeluarkan darah dari mulutnya. "Aku harus bergerak--"


Swoosh! Tiba-tiba seseorang bergerak dengan cepat. Orang tersebut langsung berlari ke arah Marvin dan menggagalkan ayunan kapaknya.


Sebelum sempat melihat, Dyland sudah dikejutkan dengan kehadiran orang lain di sampingnya.


"Dyland-san, tolong jangan banyak bergerak," Ternyata itu Tora. Ia pun merapalkan mantra penyembuhan kepada Dyland.


"Tora-- Berarti, yang di sana..." Dyland menunjuk ke arah pertarungan.


"Ya. Shiro-sama akan mengurus mereka," Sambung Tora sambil memfokuskan aliran sihir ke tubuh Dyland.


Wajah Dyland langsung mengeras saat mendengarnya. "Apa kalian bodoh?" Ucapnya dengan nada khawatir. "Kekuatan Marvin berada di level yang berbeda dengan Shiro. Ia akan terluka!"


Tora memalingkan wajahnya dan memandang Shiro yang terus-terusan menangkis serangan Marvin. Ia pun tersenyum kecil.


"Ya. Marvin-san mungkin unggul dalam kekuatan. Namun, Shiro-sama unggul dalam kecepatan dan kegesitan. Belum lagi, ia juga punya pemikiran yang cukup jauh. Ia pasti bisa mengungguli Marvin-san," Ucap Tora. Ia menoleh kembali kepada Dyland. "Kau tidak perlu khawatir, Dyland-san. Shiro-sama punya tekad yang kuat. Ia pasti bisa."


Dyland masih terlihat tidak yakin. Luka di tulangnya mulai pulih, namun ia kehabisan beberapa Mana.


"Dyland-san istirahat saja. Aku dan Shiro-sama akan menghentikan mereka," Ucap Tora sembari berjalan menjauh.


Tora segera menghampiri Shiro yang berhasil memukul mundur Marvin.


"Bagaimana keadaan Dyland-san?" Tanya Shiro, dengan tatapan masih terfokus kepada Marvin.


"Ia sudah baik-baik saja. Hanya kehabisan Mana karena efek sihir penyembuh itu," Jawab Tora. Tatapannya pun mengarah kepada Marvin. "Shiro-sama, apa menurut mu kita bisa mengalahkan Ogre itu?"


Shiro menjawab dengan senyuman di wajahnya. "Tentu bisa. Kita harus mewujudkan perintah Darren-sama untuk mengawasi apapun yang terjadi di markas."


"Tapi, apa ini termasuk mengawasi?"


"Tidak. Tapi aku cukup yakin ini akan membantu pengamatan Darren-sama," Balas Shiro. "Salah satu dari mereka mungkin penyusup sebenarnya. Tapi kita masih tidak tahu."

__ADS_1


Tora menatap ke arah Shiro untuk beberapa saat, "Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuceritakan-- Ah, tidak. Kita bicarakan nanti saja."


Shiro membalas tatapan Tora sekilas dengan wajah sedikit heran. "Baiklah. Kita juga harus fokus kepada si Ogre itu dulu."


Marvin terlihat geram sambil terus menghembuskan nafas berat dari hidungnya.


"Kau lumayan juga, serigala kecil. Tapi sayangnya, kekuatan sebagus itu akan sia-sia kalau digunakan untuk hal yang salah," Puji Marvin.


"Terimakasih pujiannya," Balas Shiro. "Tapi, aku cukup yakin kalau yang aku lakukan ini benar."


Marvin menajamkan matanya. Wajahnya jadi semakin serius. "Kalau begitu, akan ku buat kau sadar," Ucapnya. "Dengan mencabut gigi mu!"


Marvin melompat dengan kapak yang terangkat ke atas. Ia bersiap menebas kapaknya secara vertikal seraya membiarkan tubuhnya terjatuh ke bawah.


Dengan tenaga yang sudah terkumpul di kedua lengan, ditambah gaya gravitasi yang mempekuat momentum. Kedua kombinasi ini bisa menghasilkan daya hancur yang luar biasa.


"Ice Elemental: Icicle Darts!" Shiro melemparkan puluhan jarum es ke arah Marvin yang mendekat.


"Ha! Jarum-jarum tumpul itu takkan bisa menyentuh ku!" Marvin berkata dengan arogan. Ia pun bergerak memutar di udara seakan menghindari semua serangan Shiro.


Ia pun mengayunkan kapaknya dan menghantamnya ke arah Shiro. Namun, Shiro segera melompat menghindar


Bruaak! Banyak bagian lantai yang hancur berkeping-keping. Kini ruangan itu dipenuhi puing-puing dan menjadi porak poranda.


Suasana semakin riuh di antara para kerumunan. Nampaknya kerusakan kafetaria tidak dapat dihindari, dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang, serigala kecil?" Ucap Marvin sambil menyeringai.


"Kau salah sobat," Tora menyahut dari belakang. "Sebaiknya kau selalu melihat apa yang ada di atas mu."


Marvin menoleh ke atas dan melihat jarum-jarum es tadi berjatuhan.


"Heh, aku bisa menghindarinya dengan mudah," Ucap Marvin penuh percaya diri. Ia pun berpindah posisi beberapa meter dengan maksud menghindari jarum-jarum itu.


"Wind Elemental: Wind Control!" Tora merapal mantranya. Dengan sihir angin, ia menggerakkan jarum-jarum tersebut seakan mengubahnya menjadi rudal pengincar.


Cruat! Cruat! Banyak darah bercucuran dari tubuh Marvin. Ia tak menyangka kalau jarum-jarum es itu akan mengenainya.


"Sial. Jadi begitu cara kerja kalian," Marvin menggerutu kecil.


Sementara Dyland menyaksikan aksi mereka dengan tatapan lebar. Matanya seakan terbelalak kaget karena ia tak menyangka Shiro dan Tora dapat mengimbangi Marvin.


"Mereka hebat," Ucap Dyland pelan. "Sinkronisasi mereka, dan cara mereka memanfaatkan kekuatan mereka secara terpadu. Mereka seakan sudah terlatih dalam hal ini."


Disaat Marvin mencabut jarum-jarum es dari tubuhnya, Shiro langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang. Ia berlari dengan cepat dan bersiap menebaskan tombaknya.


Marvin cepat-cepat mengambil kapaknya dan bersiap untuk bertahan. Ia segera memegang kapaknya dengan kedua tangan dan membuat posisi memblokir.


Kruakk! Tebasan tombak es Shiro menebas hancur kapak batu Marvin. Ini membuat Marvin semakin terkejut.


"M-Mustahil. Kapak batu ku..." Marvin melotot terkejut, melihat ujung kapaknya sudah hilang dari gagangnya. "Bagaimana bisa!? Batu seharusnya lebih kuat dari es."


Shiro menatap sekilas wajah Marvin yang penuh keterkejutan. "Seorang iblis es mengajarkannya pada ku. Benda yang lemah pun bisa menjadi kuat asalkan kau memancarkan tekad mu."


Setelah berhasil menghancurkan senjata Marvin, Shiro segera menendangkan kakinya ke perut ogre tersebut. Tendangan dadakan ini membuat Marvin terhempas tak terlalu jauh, tapi cukup sebagai peringatan.


"Marvin-san, menyerahlah," Ucap Shiro sambil menegakkan tombaknya di atas lantai yang rusak.


Rosemary terlihat mengulurkan tangannya sekali lagi, dan mengincar kepala Marvin untuk ditebas dengan pisau anginnya.


Tapi Tora muncul di sampingnya dan menginjak tangannya.


"Rosemary-san, apa kau pengkhianatnya?" Tanya Tora sambil menatapnya tajam.


Rosemary menjawab pelan. "Bukan. Bukan aku," Ucapnya dengan putus asa.


Tora tersenyum kecil. "Ya. Aku percaya padamu," Ucapnya. "Kau bukan pelakunya. Tapi Marvin-san juga bukan pelakunya."


"Apa maksud mu?" Rosemary menatap Tora.


"Kalian berdua mungkin juga korban atas sihir ini. Sama seperti ku dan Hain," Sambung Tora.


"Sihir? Sihir apa?" Dyland tiba-tiba datang sambil berjalan sempoyongan.


Tora menoleh kepadanya. "Dyland-san, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku ceritakan," Tora meneruskan. "Sebenarnya, setelah penyerangan brankas itu, Hain memberitahu ku sebuah fakta yang mengejutkan."


Tora menambahkan, sementara Dyland dan Rosemary mendengarkan dengan seksama. "Hain punya Spirit yang tetap aktif walau ia tertidur maupun pingsan. Dan berkat itu, trik kotor penyusup itu bisa terbongkar," Ucapnya. "Apa Dyland-san sudah mendengar kesaksian Hain?"


Dyland mengangguk. "Ya. Aku mendengarnya dari Simson. Sejujurnya aku merasa ada yang janggal dari kesaksian itu."


"Benar sekali," Sahut Tora. "Kesaksian itu palsu."


Dyland dan Rosemary terkejut saat mendengar itu.


"Jadi maksud mu, Hain adalah pembohongnya?" Rosemary memotong.


"Tidak Rosemary. Ku rasa maksud Tora bukanlah itu," Dyland menghentikan kesalahpahaman Rosemary. "Di lihat dari kondisi mu dan Marvin, ku rasa aku mulai mengerti keadaannya."


Dyland menambahkan. "Kalau aku tidak salah, apa ini berarti kalian semua menerima suatu ingatan palsu dibawah kendali sihir tertentu?"


Tora mengangguk. "Ya, benar sekali. Dan aku bisa menyadarinya berkat Hain," Katanya. "Beberapa hari lalu, Hain menceritakan sesuatu. Ini tentang bagaimana Spiritnya melihat kejadian yang sebenarnya."


Tora meneruskan. "Kami berpikir kalau kami bertarung melawan penyusup itu, dan enam dari kami terbunuh. Namun nyatanya, kami tak melawan sama sekali. Begitu penyerangan di mulai, kami langsung jatuh pingsan dan penyusup itu membunuh ke-enam orang yang lain kecuali kami."


Dyland menyahut cerita Tora. "Jika penyusup itu memang salah satu dari kita, mungkin memang sangat beralasan membiarkan kalian berdua hidup," Ucapnya. "Ia membiarkan kalian berdua hidup sebagai saksi palsu."


"Ya, kurasa itu benar. Namun, penyusup itu tidak menyangka kalau membiarkan kami berdua hidup malah akan membuat triknya terbongkar."


Dyland memegangi dagunya. "Jadi, bagaimana kronologi kejadiannya? Apa spirit Hain menceritakannya lebih rinci?"


Tora mulai menceritakan semuanya. "Semua dimulai di brankas. Kami sedang berjaga dan tiba-tiba sebuah botol dilempar ke arah kami. Asap pun muncul dan seketika kami langsung jatuh pingsan," Kata Tora. "Penyusup itu segera membunuh enam orang lain dan mendekati kami berdua yang sedang pingsan. Ia pun mengulurkan tangannya ke atas kepala kami dan merapal beberapa mantra. Setelah ia selesai dengan kami, ia segera memasuki brankas yang sudah terbuka lebar."


"Tunggu, bagaimana brankas itu bisa terbuka?"


"Ini semua karena Spirit Hain. Ia sudah melihat banyak dalam kejadian itu, dan akan sangat bagus jika bisa menggunakannya untuk membongkar identitasnya," Balas Tora. "Jadi demi membuat penyusup tak merasa curiga, ia berpura-pura pingsan dan membiarkan pintu brankas terbuka sebagai tanda bahwa semua orang telah pingsan."


Dyland mengangguk paham. Tak diduga olehnya kalau Hain yang biasanya penuh canda dan tawaan adalah orang yang membongkar semuanya.


"Baiklah. Aku sudah mengerti. Kita hanya perlu mendiskusikan ini pada Sim--" Sebelum Dyland menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba hentakan kuat terdengar dari arah Shiro dan Marvin.


"Shiro-sama!" Tora berteriak saat melihat Shiro terlempar menghantam dinding.

__ADS_1


Marvin berjalan mendekat ke arah kumpulan Tora. Ia nampak sudah bersiap membunuh Rosemary.


Tora segera lari ke arah Shiro, sementara Dyland mengambil posisi bersiap dan mengacungkan senjatanya pada Marvin.


"Kalian semua membuatku muak," Ucap Marvin sambil menunjukkan kepalan tangannya yang keras. "Asal kau tahu saja. Telapak tangan ku ini lebih keras dari batu. Satu pukulannya cukup untuk membuat tengkorak kalian retak."


Dyland menatap Marvin dengan ragu. "Sial, aku sudah kehabisan Mana. Pertarungan ini takkan seimbang." Tapi ia tetap berdiri untuk melindungi Rosemary.


"Jadi kau tidak mau mundur, ya?" Ucap Marvin lagi. "Kalau bagitu, mati lah bersama pengkhianat itu!" Marvin meluncurkan pukulan kuat ke arah Dyland.


Dyland mengeluarkan pedangnya untuk menahan pukulan itu.


Swoshh! Pukulan tersebut hampir mengenai Dyland. Tapi, Dyland tidak bergerak sama sekali. Bagaimana pukulan itu bisa tidak mengenainya.


"Sial, ada apa ini?" Marvin terlihat menggerus. Ia mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa. "Apa-apaan ini, kaki ku tidak bisa bergerak."


"Benar, kaki mu telah ku sambung dengan lantai," Ucap seseorang dengan lantang dari balik kerumunan.


Dari antara kerumunan, munculah dua orang yang membuat keramaian di seisi ruangan.


"Hain... dan ketua!" Teriak semua orang.


Dyland menatap ke orang itu. "Simson, Hain, kalian terlambat," Ucapnya.


Simson berjalan mendekat, sementara Hain terus mempertahankan mantranya. "Ya, maap-maap. Tadi aku sedang pergi keluar. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?" Sahut Simson.


Simson pun memandang sekeliling yang sudah porak-poranda. Banyak puing-puing berserakan, tembok yang rusak, dan fasilitas yang rusak.


Belum lagi, ia melihat Rosemary dan Dyland yang sudah babak belur, juga Marvin yang terlihat emosi di wajahnya.


"Hain, lepaskan aku. Aku hampir menangkap penyusup itu!" Ucap Marvin.


Marvin menggeleng. "Itu namanya bukan hampir menagkap, tapi hampir membunuh," Ucapnya. Ia pun menoleh ke arah lain. "Tora, Shiro!" Ia segera menghampiri mereka.


Tora terlihat sedang mengobati perut Shiro yang terluka karena pukulan Marvin tadi. Tapi, itu tak lebih dari luka ringan.


"Hain, kau melewatkan semua keseruannya," Ucap Tora sambil meringis sedikit.


Hain awalnya khawatir, tapi setelah melihat cara bicara Tora, ia tahu kalau semua baik-baik saja.


"Kau tidak apa-apa, Shiro-san?" Tanya Hain sambil mengulurkan tangannya.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit luka memar di perut ku," Balas Shiro.


Hain pun membantu proses pemulihan dengan mengulurkan tangannya di atas tangan Tora. Shiro pun pulih dengan cepat dan keadaannya kembali seperti semula.


"Terimakasih, Hain," Ucap Shiro.


"Tidak masalah."


Sementara itu, Simson memanggil anggota yang lain untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka.


"Hain, bagaimana kau bisa menggunakan sihir penyembuh dan sihir tanah disaat yang bersamaan?" Tanya Shiro, setelah melihat kaki Marvin terkunci di lantai.


"Oh, itu. Itu sebenarnya bukan sihir tanah. Tapi kemampuan spirit ku," Jawab Hain. "Kemampuan spirit ku adalah menyatukan dua material hingga menempel layaknya satu benda. Benda itu takkan terpisah hingga kehendak spirit ku sendiri atau tenaganya habis."


"Jadi, kau menyatukan lantai dengan kaki Marvin?" Sahut Tora, disusul dengan anggukan oleh Hain.


"Pantas saja kau dipilih untuk menjaga brankas. Brankas akan jadi sangat aman kalau begitu," Sambung Shiro.


Simson tiba-tiba menghampiri mereka bertiga.


Hain dan Tora segera berdiri, sementara Shiro masih tergeletak kelelahan.


"Kalian melakukan kerja bagus sebagai anggota baru," Ucap Simson kepada Shiro dan Tora. "Seandainya kalian tak membantu Dyland, mungkin sudah ada korban melayang sekarang."


Shiro san Tora tersenyum bangga. Tapi, Tora segera menghampiri Simson untuk menceritakan sesuatu.


"Ketua, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," Ucap Tora.


"Tentang Rosemary dan Marvin? Aku sudah dengar dari Dyland. Kau sangat hebat bisa menyadari semuanya secepat itu," Potong Simson. "Lalu, apa ada lagi yang kau rasa janggal?"


"Sejujurnya, aku merasa kalau penyusup itu sudah tak ada di sini," Ucap Tora.


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


Tora mulai menjelaskan pendapatnya. Shiro dan Hain pun juga mendengarnya. "Awalnya, penyusup menggunakan Aku dan Hain sebagai saksi palsu. Yaitu untuk membuat orang-orang bingung. Dan sekarang, ia menggunakan Marvin dan Rosemary untuk saling membunuh dengan maksud membuat fitnah di antara anggota," Jelas Tora.


"Ia jelas-jelas punya rencana lebih jauh untuk meruntuhkan organisasi pemberontak dari dalam. Dan karena kedua rencana telah terjalani, ia tak perlu terjun langsung ke lapangan lagi. Ia hanya perlu menyaksikan dari jauh."


"Teori ini juga didukung karena ia telah mendapatkan batu sihir tersebut. Walau aku tidak tahu apa tujuannya menggunakan batu sihir itu, tapi aku yakin kalau semua tujuannya disini telah tercapai."


Simson menyahut. "Jadi, itu alasannya ia pergi?" Ucapnya. "Masuk akal juga."


Simson menambahkan. "Tapi, walau itu benar, itu tak menutup kemungkinan bahaya telah hilang. Bisa saja ia sudah memasang ingatan palsu pada orang lain untuk menciptakan keributan lagi."


"Ya, itu ada benarnya," Balas Tora.


Simson tiba-tiba menyentuh pundak Tora, dan tatapannya seakan menajam. "Tora, apa menurut mu ada alasan lain penyusup itu pergi?"


Tora sempat diam sejenak. Ia mencoba berpikir keras.


Simson tiba-tiba melanjutkan. "Tiga orang itu. Esema, Clara, dan Bagus."


Mata Tora langsung melotot kaget saat mendengar itu. "Jangan-jangan, ia tahu kalau kita sedang melacak keberadaannya!" Ucap Tora panik. "Gawat, kita harus melakukan sesuatu."


"Tenang saja. Aku akan memberitahu Clara tentang hal ini," Ucap Simson.


"Tapi bagaimana?"


Hain menyahut, "Hanya sedikit orang yang tahu tentang ini, tapi sebenarnya Ketua menguasai sihir kegelapan."


"Tunggu, sungguhan?" Balas Tora.


Simson mulai memegangi kepalanya. "Tidak semua. Aku hanya mengerti beberapa mantra. Salah satunya adalah telepati," Ucapnya. "Aku akan memberitahu Clara untuk berhati-hati. Dan kalau bisa, mereka harus mempercepat ekspedisi mereka untuk menemukan identitas sebenarnya penyusup itu."


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2