Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Permata yang Retak pt.2


__ADS_3

Akira duduk di tepi sungai seraya menatap matahari yang terbenam di depan wajahnya. Hari ini ia mengenakan pakaian lengan panjang, dengan harapan luka di tangannya takkan kelihatan.


Angin sepoi-sepoi meniup rambutnya yang kusut. Terkadang beberapa helai rambut tak sengaja masuk ke dalam matanya. Saat itu ia baru tersadar bahwa jepit rambutnya telah hilang.


Ia hanya membenamkan wajahnya di antara lututnya dengan mata yang memandang ke kejauhan di seberang sungai. Rumput-rumput hijau menari di bawah terpaan cahaya mentari yang kemerah-merahan.


"Oh, akhirnya aku menemukan mu," Sebuah suara mengejutkan gadis itu.


Ia menoleh dan melihat pria polisi itu berdiri di belakangnya. Sambil tersenyum pria itu melambai padanya.


"Menikmati sore lagi, ya?" Tanya-nya sambil duduk di samping Akira. "Harus kuakui, aku jadi mulai suka ke sini gara-gara kamu. Tapi kurasa itu hal bagus."


Akira mengangkat wajahnya. "Karena aku?"


Pria itu awalnya agak terkejut gadis kecil itu akhirnya membalas kata-katanya. Tapi ia hanya tersenyum sambil meneruskan pembicaraan.


"Ya. Terlepas dari kekhawatiranku pada mu, pemandangan di sini benar-benar memanjakan mataku. Kurasa kau punya selera bagus dalam memilih tempat nongkrong," Sahutnya. "Melepas penat di depan matahari sore memang sangat mantap. Ah, mungkin kau belum merasakannya. Tapi saat kau besar nanti, kau akan sangat jarang dapat kesempatan seperti ini."


"Hm... begitukah..." Akira kembali membenamkan wajahnya.


Tiba-tiba sesuatu terlewat di wajah pria itu. Ia seperti teringat akan sesuatu yang penting. Ia segera menarik tas pinggang ala-ala polisinya dan mulai merogoh sesuatu di dalamnya. Tak lama kemudian, nampak ia mengeluarkan sesuatu.


"Oh iya. Aku baru teringat ingin memberikanmu ini," Ucap pria itu sambil menunjukkan sebuah boneka beruang seukuran telapak tangan. Tak sampai di situ. Sebuah jepit rambut bermotif bunga nampak terjepit di telinga kirinya.


Mata Akira langsung bercahaya, seolah cahaya sore itu masuk mengisi tatapannya dengan kebahagiaan.


"Ini..." Akira terkesiap. "Jepit rambutku juga."


"Iya, kemarin aku menemukannya terjatuh. Jadi kupikir untuk mengembalikannya padamu," Sambung pria itu. "Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kenapa tidak sekalian ku kasih boneka saja."


Perlahan jemari Akira menggenggam boneka itu dari tangan si polisi. Ia hampir menangis dibuatnya. Bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan.


"Terimakasih banyak!" Untuk pertama kalinya, Akira berbicara dengan lantang. Hal ini membuat pria itu semakin tersenyum lebar.


"Oh iya. Padahal aku sudah sering bertemu denganmu. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" Tanya pria itu.


"Namaku Akira--" Akira hampir menghentikan ucapannya karena sadar mungkin ayahnya akan memarahinya.


Namun sepertinya pria itu tak menyadarinya, malahan ia ikut memperkenalkan diri. "Aku Schlaff. Mungkin kau sudah tahu kalau aku ini polisi," Ucapnya.


"Paman Schlaff!" Mata Akira berbinar.


Schlaff malah jadi malu-malu saat dipanggil demikian. "Eh, jangan panggil aku paman. Aku belum menikah. Lagipula aku gak setua itu."


"Hm? Emang paman umur berapa?"


"Sudah dibilang jangan panggil paman. Umurku baru sembilan belas tahun."


"Ooh. Kalau aku sepuluh tahun!" Akira menyahut dengan antusias. "Tapi, sembilan belas tahun belum tua sekali kan? Emangnya bisa jadi polisi?"


Schlaff terkekeh. "Aku dapat beasiswa masuk kemiliteran. Walau ujung-ujungnya sekolahku gagal dan malah berakhir jadi polisi. Mana kerjaannya cuma patroli doang lagi."


"Woah, keren!"


Schlaff tersentak kecil. "...Keren? Apa menurutmu jadi polisi patroli keren?"


Akira mengangguk. "Kalau aku sudah besar nanti, aku juga mau jadi polisi kayak Om!"

__ADS_1


"Eh, lagi-lagi manggil aku Om. Gimana kalau kamu panggil aku pakai nama saja?"


"E-Eh, tapi bukannya tidak sopan?"


"Tak apa, aku gak keberatan kok. Lagipula, aku tidak mau kau menganggapku seperti seseorang yang harus dihormati," Sambung Schlaff. "Yah sebenarnya aku hanya ingin ia lebih santai denganku."


Sambil mengelus-elus boneka di pangkuannya, Akira mulai tertawa. Kemudian dengan kencang ia memanggil Schlaff.


"Schlaff, terimakasih!" Ucapnya.


Melihat Akira tersenyum seperti ini, rasanya hati Schlaff diisi dengan kehangatan. Entah kenapa, ia seolah menganggap Akira sudah seperti adiknya sendiri. Padahal ia baru bertemu dengannya hanya beberapa kali.


Akira pun nampak begitu bahagia. Untuk sesaat akhirnya ia bisa melupakan semua yang telah terjadi pada dirinya. Setelah sekian banyaknya kekerasan yang ia terima, ia masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Ia adalah anak yang tegar. Dan mungkin, kini takdir memang sengaja mempertemukan mereka berdua untuk sebuah petualangan yang tak terduga.


"Kau senang, Akira?" Tanya Schlaff.


Akira mengangguk-angguk sambil mulai mengajak bonekanya menari-nari di atas rumput. Tangannya melambai-lambai di udara dengan wajah yang berseri-seri. Sore itu adalah sore terbaik yang pernah Akira rasakan.


Mereka berdua pun mulai semakin dekat. Schlaff juga mencoba mengajak Akira mengobrol. Ia tak menduga kalau ternyata Akira cukup pandai bergaul. Ketika Schlaff membahas tentang sesuatu, gadis itu bisa dengan cepat memahaminya.


Obrolan demi obrolan, tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat. Mentari telah terbenam seutuhnya. Langit yang merah pun beralih menjadi biru keunguan.


"Huh, sudah gelap. Sebaiknya kau cepat pulang, Akira," Schlaff beranjak dari atas rumput. "Apa perlu aku antar?"


Akira langsung menggeleng dengan cepat. Wajahnya langsung panik saat mendengar Schlaff menawarkan hal tersebut.


"Tidak... tidak perlu. Rumahku tidak jauh kok," Jawabnya sambil menggenggam erat boneka di tangannya.


"Hm... baiklah. Hati-hati di jalan. Aku akan lanjut berpatroli."


Mereka berdua pun berpisah setelah saling melontarkan acungan jempol pada satu sama lain. Akira melangkah dengan langkah lebar, namun perlahan langkahnya mengecil. Semakin pelan, sangat pelan, hingga akhirnya berhenti di tengah jalan.


Matahari telah terbenam. Begitu juga dengan kebahagiaannya hari ini. Ketika itu, ia sadar bahwa semuanya akan kembali seperti biasa lagi.


.


.


.


Kreekk...


"Akira!"


Bahkan ketika baru membuka pintu, Akira langsung dipenuhi rasa takut saat mendengar teriakan ayahnya. Ia terdiam di depan pintu sambil terus mencengkram erat boneka beruangnya.


Gubrakk! Ayahnya langsung menutup pintu dengan keras. Ia tidak mau ada tetangga yang melihatnya ataupun mengenal anaknya.


"Dasar anak tolol! Sudah berapa kali ayah bilang. Jangan keluar rumah!" Pria tua itu langsung melakukan hal yang sama pada Akira. Menarik telinganya dan menggeretnya ke sebuah ruangan kecil, lalu melemparnya ke lantai bagai hewan.


Akira berteriak kesakitan. Tapi walau demikian, ia tak melepaskan cengkramannya dari boneka beruang itu.


"Ayah, aku cuma mau main-- Akh!" Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, pria tua itu menampar wajahnya.


"Dasar kamu ini. Ditinggal di rumah sebentar aja langsung hilang. Kalau sampai ada yang tau tentang kamu gimana?!" Ayahnya meneriakinya. "Awas saja. Kalau sampai kamu mengadu ke orang, ayah gak akan segan buat bikin kamu menangis. Tapi, ngomong-ngomong soal nangis..."


Mata Akira langsung dipenuhi ketakutan luar biasa saat ayahnya mengambil sebuah tongkat kayu dari sudut ruangan. Tongkat itu nampak kasar, dengan tekstur yang tak terasah. Runcing dan bergerigi.

__ADS_1


"Ayah, ampun--" Akira memohon.


Tapi sia-sia. Ayahnya sudah berniat untuk membuat Akira menangis malam ini.


Buakk! Bukk! Akira dipukuli dengan tongkat tanpa ampun. Ia mencoba berteriak minta tolong, tapi tenaganya telah habis untuk menahan tangisnya.


"Ibu..." Ia menerima setiap pukulan sambil menyebut nama ibunya.


"Ibumu sudah mati!" Ayahnya berteriak. "Ia mati karena tidak bisa mengumpulkan uang lagi. Andai ia punya bakat seperti mu. Permata itu bisa membuat kita kaya raya!"


Ah, benar. Selama ini ayahnya hanya memanfaatkannya demi mendapat permata yang mahal. Sejak kapan ia mengalami rutinitas ini? Dipukul, disiksa, dihajar hingga menangis. Dan setiap air mata yang menitis, membuatnya merasakan derita yang tak tertahankan. Lalu ia akan mengulanginya lagi setiap hari.


"Ibu... Schlaff..." Tanpa sadar Akira menyebut nama itu, sambil memeluk erat boneka di tangannya.


Seketika, ayahnya menghentikan pukulannya. "Schlaff? Siapa Schlaff?!" Ia berteriak. "Apa kau mengadu pada seseorang?!"


Akira menggeleng. "Tidak, ayah. Aku tidak mengatakan apa-apa--"


Dengan satu rendangan, pria tua itu membuat Akira tak bisa berbicara. "Berisik! Kamu benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi."


Akira menjerit ketika ayahnya merebut boneka itu dari tangannya.


"Ini hukumanmu!"


Wrreekk! Busa-busa kapas berterbangan, menyebar ke setiap pojok ruangan. Kedua telapak tangan pria itu masing-masing memegang separuh dari tubuh boneka itu yang telah robek menjadi dua.


Perlahan Akira menatap boneka itu jatuh ke lantai. Penuh debu dan darah. Satu-satunya benda yang membuatnya bahagia sekali lagi hancur. Apa ia akan selamanya menderita seperti ini?


Air mata menitis perlahan, mengalir ke ujung dagu Akira. Ia tak mampu menahannya lagi. Tis... Klutak! Air mata yang menitis berubah menjadi permata hijau di tengah udara, kemudian terjatuh hingga menimbulkan suara ketukan kecil.


"Ha, akhirnya menangis juga," Pria itu mulai memunguti permata yang berceceran di tanah. "Menangislah terus. Semakin banyak kau menangis, semakin banyak uang yang bisa kau hasilkan."


Air mata mulai bercampur dengan darah. Matanya perlahan terluka karena air mata yang dikeluarkannya mulai mengeras. Itulah kenapa Akira berusaha sekuat mungkin menahan tangisnya.


Ketika ia menangis, ia akan mengeluarkan permata dari matanya. Tapi, permata yang keluar mampu melukai bola matanya. Terkadang matanya bisa tergores dan membuatnya merasakan luka yang sangat menyakitkan.


"Hwaa!" Akira menangis semakin keras. Butiran permata berjatuhan makin deras. Di dalam penderitanya, ayahnya tersenyum dan tertawa akan kekayaan yang ia dapat.


"Aku kaya! Aku kaya! Aku--"


Clebb! Sebuah kristal mencuat dari lantai rumah. Sang ayah terdiam seraya perlahan memalingkan pandangannya ke arah dadanya yang telah robek ditembus sesuatu berwarna hijau mengkilap.


"Ini... apa?" Iya merabanya. "Ini kan permata?"


Sebelum ia bisa mengerti apa yang terjadi, perlahan tubuhnya berubah menjadi batu. Batu mulia yang mengkilap dan keras.


"A-Akira..." Ia melirik anaknya yang tengah berdiri tanpa kata menatapnya. Tatapannya sangat mengerikan. Seolah sudah tidak ada manusia di dalamnya.


Beberapa detik kemudian, pria itu berubah menjadi patung zamrud. Ekspresi terakhirnya adalah sedang membuka mulutnya. Berharap untuk berteriak namun tak ada satupun teriakannya yang pernah terdengar. Di ujung hidupnya, ia mati sebagai ayah yang brengsek. Dan untuk pertama kalinya, Akira membunuh seseorang.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2