Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tekad Besi Berkarat


__ADS_3

Terdengar keributan kecil dari kamar dimana Akira dirawat. Seperti suara gaduh orang-orang yang beradu mulut. Tapi herannya, kegaduhan itu tidak terdengar seperti hal yang buruk. Malahan, rasanya seperti diliputi perasaan hangat.


Tok... tok... tok... Darren mengetuk pelan pintu kamar. Sebisa mungkin ia membuka telinganya lebar-lebar, berusaha mendengar apa yang ada di dalam. Beberapa detik kemudian, seseorang membukakan pintu.


"Oh, bukankah ini Esema-dono." Fak muncul dari balik pintu, menyambut Darren yang baru saja menarik telinganya.


"Oh! Fak-san. Apa utusan dari Friedlich yang dimaksud itu adalah kau?" Tebaknya. Ia bahkan sempat melepas lega terlepas dari bising dari dalam kamar. "Syukurlah kalau memang benar. Karena tadi aku sudah ketakutan saat mendengar kalau utusan yang datang adalah orang yang menyeramkan."


Fak tertawa. "Haha, berarti aku tidak menakutkan ya," Balasnya bergurau. "Lagipula, aku memang tidak sendiri. Seharusnya aku sendirian. Tapi seseorang memaksa untuk ikut."


"Seseorang?"


Fak menarik nafas panjang sambil disusul senyuman kecil. "Masuklah. Lebih baik kau bertemu dengannya langsung."


Fak menyampingkan badannya, membiarkan Darren melangkah masuk. Kamar itu memang cukup besar. Tapi ada sesuatu yang lain yang juga besar bentuknya menarik perhatian Darren.


"Ara~ Siapakah ini?" Terdengar sebuah suara yang lembut dan penuh bobot seorang Onee-san.


Wanita itu berpakaian megah. Gaun yang mengkilap dengan berbagai hiasan permata di setiap sisinya. Biasanya Darren menganggap gaun sejenis itu dengan kesan norak. Tapi herannya pakaian itu sangat indah. Apa mungkin karena dikenakan oleh orang yang cocok?


Bicara soal itu, wanita tersebut nampak dewasa. Tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Parasnya elegan dengan mata yang agak sipit seolah selalu menatap penuh ketenangan. Bibirnya yang merah nampak merona. Rambutnya diikat ala-ala bangsawan dengan sebuah jepit rambut panjang menyerupai bilah sumpit yang menopangnya.


Dan satu hal lagi yang secara spontan menarik tatapan Darren secara langsung.


"G-Gede!" Matanya menatap sepasang melon yang menggantung dibalik gaun perak tersebut.


"Hey, matamu melihat ke mana?" Seru Akira tiba-tiba.


Sadar dengan apa yang dilakukannya, Darren segera memalingkan wajahnya dan kemudian meminta maaf. Namun perempuan itu tidak nampak terganggu. Malah ia tersenyum seolah hal ini sudah biasa terjadi.


"Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Darren Aswan. Aku adalah... Yah, bisa dibilang pemimpin negeri ini." Darren membungkuk dan memperkenalkan dirinya.


"Ara~ Jadi ini kah Darren-kun yang sering diceritakan Akira-chan," Sahut wanita itu. Kemudian ia berdiri, mengangkat kedua sisi gaunnya dengan jari layaknya etika seorang bangsawan. "Namaku Alicia, Alicia Friedlich. Aku adalah... yah, kau bisa memanggilku: Ibunya Akira."


Ibu? Tunggu, ibu sungguhan? Darren tak pernah mendengar tentang itu sebelumnya. Akira memang jarang membicarakan tentang keluarganya. Apa karena memang ada suatu alasan khusus?


"Alicia-san?!" Akira terbelalak. Wajahnya memerah. Kemudian ia segera berpaling menatap Darren. "Tidak, jangan hiraukan perkataannya barusan!"


Darren hanya mengangguk canggung seraya dalam hati bertanya-tanya sebenarnya apa hubungan mereka berdua.


"Ara~ Akira-chan, kukira kau sudah menganggapku ibumu," Sambung Alicia.


"Berhentilah mengatakan hal yang memalukan!" Balas Akira. "Walau kau adalah istrinya Schlaff, bukan berarti aku akan menganggapmu ibuku. Lagipula, aku tidak pernah menganggap Schlaff sebagai ayahku sejak awal. Bagiku ia hanyalah seorang kakak."


"Fufu... lihatlah wajah memerahmu itu. Kau sangat imut." Alicia semakin menggoda Akira.


Darren mengerutkan keningnya. "Istri? Schlaff? Jangan-jangan... kau adalah putri dari raja Friedlich?"


Alicia tertawa kecil. Kelihatan jelas dalam singgungan bibirnya kalau ia menunggu Darren menyadarinya sedari tadi.


Darren jadi merasa gugup. Ia memang pernah mendengar dari Akira sebelumnya, bahwa putri raja Friedlich menikah dengan jenderalnya. Kalau ia tahu sejak awal, ia seharusnya bisa memberikan sambutan yang lebih layak.


"Kenapa aku bisa tidak menyadarinya? Padahal jelas-jelas ia mengenakan pakaian super mewah. Seharusnya terlintas sedikit di kepalaku kalau ia bukan orang biasa. Apalagi Ravenna telah memperingatkanku sebelum ke sini."


Alicia akhirnya melepas tawanya. Ia tak kuasa menahan wajahnya setelah melihat muka Darren yang nampak panik.


"Kau pemuda yang menarik, ya, Darren-kun. Pantas Akira-chan begitu kagum padamu," Ucap Alicia. Dari nada bicaranya, ia sengaja membuat Akira merasa terganggu.

__ADS_1


"Jangan membuatnya terdengar aneh, Alicia-san!" Akira berteriak. Wajahnya makin merah dari sebelumnya. "Aku memang mengagumi Esema-kun, tapi secara hormat. Ia adalah prajurit yang hebat. Seorang petarung yang handal dan kuat, namun tidak menginjak-injak yang lemah. Sifatnya itulah yang membuatku mengaguminya."


"Ehh... tinggal bilang kau suka, kan."


"Bukan!"


Alicia nampak puas setelah menggoda Akira habis-habisan. Melihat interaksi mereka berdua, lantas membuat Darren jadi makin penasaran sebenarnya apa yang telah mereka berdua lalui.


"Tunggu sebentar. Sebenarnya apa hubungan kalian?" Potong Darren. "Apakah Schlaff adalah kakak Akira? Lalu kenapa Alicia-san bisa jadi ibunya?"


Akira menyahut dengan nada cetus. "Sudah kubilang, jangan dengarkan perkataannya--"


"Benar, aku adalah ibu Akira-chan," Alicia memotong. "Tapi hubungan kami agak sulit dijelaskan. Akira-chan dan Schlaff adalah saudara angkat. Jadi, ketika aku menikah dengan Schlaff, secara tidak langsung Akira-chan juga jadi adikku."


Alicia menghampiri Darren. Satu tangannya menangkap kepala Darren dan memeluknya hingga cukup dekat. Sementara tangannya yang lain menunjuk ke arah Akira, seolah menyuruh Darren melihat ke arahnya.


"Lihatlah wajahnya itu. Ia sangat imut, bukan? Aku jadi tak tahan ingin menjadi ibunya," Ucapnya dengan antusias.


Darren hanya tersenyum canggung sambil mengikuti alur yang diberikan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa di tengah-tengah situasi seperti ini.


"Hentikan, Alicia-san!" Wajah Akira memerah seperti tomat. Sepertinya ia berada di puncak rasa malunya.


Akira mengambil kotak tisu di samping ranjangnya dan melemparnya ke arah Alicia. Tapi hal tersebut tidak dipandang serius olehnya. Ia langsung kabur bersama Fak pergi meninggalkan ruangan itu. Tentunya dengan tawa yang membuat Akira semakin jengkel.


"Dasar," Gerutunya.


Darren terkekeh, kemudian menghampirinya. "Kalian berdua nampak akrab."


Akira hanya menyahut dengan sebuah helaan berat. Rasa jengkelnya perlahan mereda, seraya dirinya berusaha menenangkan diri di tengah sunyinya kamar perawatan itu. Darren pun juga menyadarinya. Begitu Alicia pergi, ruangan ini jadi jauh lebih senyap.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Darren sambil menarik sebuah kursi dan duduk.


Darren melepas lega. "Syukurlah. Aku sangat khawatir ketika mendengar dirimu bertarung sendirian melawan succubus itu," Katanya. "Apalagi saat mendengar kabar bahwa bakatmu hampir lepas kendali."


Akira terkekeh kecil. Namun senyum di wajahnya segera memudar, tergantikan oleh raut muram di wajah yang perlahan menunduk.


"Jadi kau sudah tahu, ya," Ucapnya. "Bukannya bermaksud menyembunyikan ini darimu. Kekuatan bakatku adalah kekuatan yang mudah lepas kendali. Terlebih ketika diriku sedang dilahap oleh emosi."


Dari raut wajahnya, Darren bisa menebak bahwa hal ini bukanlah yang pertama kalinya.


"Apa dulu pernah terjadi sesuatu yang buruk?"


Akira terdiam sejenak. Semua kenangan itu kembali terurai dalam kepalanya. Mengingatkannya akan kejadian 'itu'.


"Aku pernah membunuh seseorang dengan bakat ini."


Akira pun mulai membuka mulut, menceritakan tentang masa lalunya pada Darren. Bagaimana ayahnya memanfaatkan bakatnya dengan membuatnya menangis setiap hari. Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan dirinya dengan Schlaff.


Namun nada bicaranyalah yang menarik perhatian Darren. Ia menceritakan semua itu bukan untuk membuktikan sesuatu. Bukan dengan nada seolah mengadu nasib. Melainkan untuk melepas semua beban yang selama ini mengganjal di hatinya. Terdengar jelas dari suaranya bahwa ia telah menahan semuanya sejak lama. Bisa melepaskannya hari ini benar-benar membuat hatinya merasa lebih segar.


"Pada akhirnya, aku diadopsi oleh Schlaff menjadi adik angkatnya. Kami tinggal bersama cukup lama. Berkatnya, aku bisa merasakan hidup yang lebih berarti dari sekedar alat penghasil uang," Ujar Akira.


Darren terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Masa lalu Akira ternyata lebih kelam dari yang ia bayangkan. Melihatnya yang sekarang membuatnya kagum pada kegigihan hatinya.


Walau trauma terus menggerogoti mentalnya, tapi ia tetap berusaha yang terbaik untuk mencegah orang-orang mengalami hal yang serupa dengannya. Bahkan sampai rela membuat dirinya sendiri dalam bahaya demi menyelamatkan Darren seorang.


"Kami punya tekad yang serupa. Berusaha melindungi orang-orang di sekitar kami. Tapi..." Darren merenung. "Apa aku layak membandingkan diriku dengannya? Aku hanya sebuah kegagalan. Semakin aku berusaha melindungi seseorang, semakin banyak jiwa yang menjadi korbannya. Apakah... tekadku ini sudah benar?"

__ADS_1


Melihat Darren termenung diam, Akira mengira dirinya sudah bercerita terlalu banyak dan membuat suasana menjadi berat.


"Sepertinya ceritaku barusan merusak suasana, ya. Tapi... terimakasih sudah mendengarkan. Sekarang beban di dadaku rasanya sudah lepas." Akira tersenyum kecil dengan tatapan sayup.


Darren masih menatapnya dengan tatapan yang sama. "Kau sungguh tidak apa menceritakan semuanya itu padaku?"


Akira menggeleng. "Tidak. Malah aku merasa senang. Lagipula, aku juga telah mendengar tentang masa lalumu. Anggap saja kita impas sekarang."


Darren tersenyum. Ia sejujurnya agak terkejut bisa melihat sisi Akira yang seperti ini. Biasanya, yang ada dikepalanya hanyalah impresi dirinya sebagai seorang petarung. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, Darren semakin yakin kalau orang di depannya ini adalah seorang wanita tulen.


Penampilannya yang selalu mengenakan topeng pun bukan tanpa alasan. Selain untuk menutupi identitasnya agar tidak mencolok, alasan utama ia menutupi wajahnya tak lain untuk menyembunyikan ekspresinya.


Menurutnya, dalam pertarungan, emosi adalah salah satu celah paling fatal yang bisa dimanfaatkan musuh. Hanya dari raut wajah dan ekspresi tubuh, lawan bisa memanfaatkan kondisi psikologis untuk membuat kita tertekan. Hingga akhirnya mental bisa rusak dan performa fisik pun jadi terpengaruh.


Semuanya itu memang benar. Tapi Darren yakin bahwa alasan Akira lebih dari hanya sekedar pertarungan. 'Menutup emosi' katanya. Emosi apa lebih tepatnya? Darren mengetahuinya setelah melihat sisi lemahnya saat ini.


Ia hanyalah seorang manusia, terlepas dari kekuatan mengerikan dan kemampuan super yang dimilikinya. Dengan tekad untuk melindungi orang-orang, tentunya ia tak ingin orang-orang yang ditolongnya melihat sisi lemahnya. Tidak secara fisik. Tapi emosi. Dan emosi selalu terpancar dalam ekspresi wajah.


"Memang benar rupanya. Dibandingkan dengan tekad emasnya, tekadku hanya seperti besi berkarat yang rapuh. Bukan hanya mudah remuk, namun juga beresiko melukai orang-orang yang menyentuhnya," Batin Darren.


Kebimbangan, kekhawatiran, ketakutan, dan rasa bersalah. Semuanya tiba-tiba menusuk hati Darren di saat bersamaan. Selama ini ia percaya apa yang dilakukannya dapat mewujudkan keadilan. Tapi sekarang, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia mulai ragu apakah keadilan yang ia cita-citakan akan terwujud tanpa sebuah konsekuensi.


Bahkan untuk melakukan hal benar pun terkadang dibutuhkan sebuah pengorbanan. Darren tidak masalah jika pengorbanan itu hanya menyangkut dirinya saja. Tapi ia tak bisa memaafkan dirinya lagi setelah banyaknya jiwa yang gugur karena impian egois yang dimilikinya.


"Esema-kun?" Akira tiba-tiba menyentuh pundak Darren yang menatap jauh ke dalam kekosongan. Bahkan untuk sejenak, ia tidak bisa melihat tatapan 'hidup' dalam pandangan mata Darren.


"Apa kau tidak apa-apa?" Sambungnya dengan nada khawatir.


Darren terbangun dari lamunannya. Ia bahkan hampir jatuh dari kursi. Ia jatuh terlalu jauh ke dalam pikirannya, hingga ia kesulitan untuk kembali ke dalam realita.


"A-Ah, iya. Aku baik-baik saja."


"Kau tidak terlihat begitu. Apa luka kemarin membuat pikiranmu kacau?"


"M-Mungkin." Darren berbohong.


Akira langsung menjulurkan tangannya dan menyentuh dahi Darren secara mendadak. Cletakk! Tiba-tiba sebuah sentilan mendarat padanya.


"Kau berbohong, kan?" Ucap Akira lagi. "Apa kau lupa, kalau aku bisa mendeteksi kebohongan melalui aliran Mana?"


Darren hanya terdiam sambil memegangi keningnya.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Tanya Akira. "Apa cerita masa laluku membuat mood-mu jelek?"


Darren spontan menggeleng. "Tidak, bukan itu!" Ujarnya. Perlahan, wajahnya mulai menunduk. "Aku hanya terpikirkan sesuatu. Tapi itu tidak penting. Jadi, lupakan saja."


"Kau bilang tidak penting. Tapi ekspresimu mengatakan yang sebaliknya."


Akira menarik nafas panjang. "Aku bisa mendeteksi tekanan batin seseorang melalui Mana. Orang yang berbohong biasanya memancarkan tekanan yang lebih kuat dari biasanya. Tapi itu bukan berarti aku bisa membaca pikiranmu," Ucapnya.


Kemudian ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak Darren. "Lihat aku!" Ia mengangkat wajah Darren dan menatapnya dalam-dalam. "Aku tak tahu apa yang mengganggu pikiranmu. Atau apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi pengalamanku dalam memahami psikologi manusia sudah terbukti dalam pertarungan. Wajahmu menunjukkan kau sedang kesusahan. Dan tatapan matamu mengatakan bahwa kau memendam semuanya sendiri."


Akira mencengkram pundak Darren semakin kuat. Tatapan matanya terasa semakin jauh masuk ke dalam pikiran Darren. Seolah ia berhasil menyentuh lubuk pikiran Darren yang paling dalam.


Akira meneruskan, "Apapun masalahmu, aku hanya ingin mengatakan ini padamu: Bagian tersulit dalam menjadi pahlawan ialah kau tak bisa menyelamatkan semua orang. Itu adalah fakta yang tak bisa dibantah," Ucapnya, "Tapi, kau juga harus mengingat betapa banyak orang yang terselamatkan karenamu. Kehilangan adalah hal yang tak bisa terelakkan. Namun setiap pengorbanan pasti memiliki peranan besar dalam mengukir takdir."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2