
Para perampok itu kesulitan menyeimbangkan kaki mereka. Mereka kesulitan bergerak dan bahkan beberapa dari mereka selalu terpeleset dan berakhir jatuh di tanah.
"Ini adalah trik yang sama saat aku melawan Taiji. Jika Taiji saja kesulitan, maka seharusnya mereka tak punya kesempatan," Ucap Darren dalam hati.
"Sial! Kita takkan bisa berdiri diatas es ini. Ditambah lagi hujan deras memadamkan semua obor kami," Gerutu pemimpin perampok berikat kepala.
"Semuanya! Tembakkan panah kalian! Hujani dia dengan anak panah!" Sambung pemimpin perampok dengan keras.
Anak panah berterbangan di udara. Tapi banyak dari mereka yang melenceng dan berakhir jatuh sebelum sampai kepada Darren.
"Kampret. Air hujan membuat anak panahnya menjadi berat. Dari jarak segini kita takkan bisa menyentuhnya," Gerutu mereka.
Darren tertawa. "Apa kalian sudah selesai?" Ucapnya. "Sekarang giliran ku!"
Darren memejamkan matanya. Ia menengadah ke langit dan merapal sebuah mantra.
"Ice Elemental: Froze!"
Sebuah hawa beku yang sangat dingin mengalir keluar dari tubuh Darren. Hawa itu membekukan semua air hujan yang jatuh hingga membuatnya beku di udara.
Air-air itu pun berubah menjadi jarum-jarum es kecil yang tajam. Benda itu bisa melukai seseorang dengan memberikannya rasa sakit yang tak tertahan, tapi tidak mematikan.
Jeritan rasa sakit terdengar hingga ke telinga Darren. Hal itu cukup membuatnya puas.
"Bagaimana? Apa kalian mau menyerah?" Ucap Darren.
Sebelum seorang pun dari para perampok itu sempat menjawab, seseorang dengan topeng tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
Darren bahkan tak sempat menyadari kedatangannya.
"Siapa dia? Darimana dia datang?"
"Dia muncul begitu saja. Aku tak merasakan kedatangannya."
"Cancelling!" Ucap orang bertopeng itu.
Seketika semua sihir Darren dihentikannya. Hujan mereda, dan es-es meleleh.
Semua orang disana tertegun, termasuk Darren. Tapi ia tetap bersiaga dengan meletakkan tangannya diatas pedangnya.
"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi di sini?" Sambung orang itu.
Orang itu mengenakan pakaian yang cukup nyentrik dan memakai topeng yang menutupi wajahnya. Tubuhnya berlapis zirah berwarna hijau mengkilap dan memiliki rambut hijau gelap.
"Apa dia seorang petualang? Sepertinya bukan. Ia memiliki sebuah lencana di ikat pinggangnya."
"Siapa kau?" Tanya Darren.
"Oh, aku? Aku hanya polisi yang berpatroli dan kebetulan melihat keributan ini. Jadi kuputuskan untuk melihatnya," Jawabnya. "Aku telah menjawab pertanyaan mu. Sekarang, bisa tolong jawab milikku?"
"Baiklah," Ucap Darren. "Para perampok itu, mencuri manusia hewan ini dari pemiliknya."
"Eh... benarkah?" Balas Orang itu. "Apa yang ia katakan benar?" Tanyanya sambil menghadap ke arah para perampok.
"Tidak! Dia berbohong!" Balas mereka.
"Baiklah, kalau begitu," Ucap orang itu sambil menghela nafas. "Kalian ku tangkap," Katanya pada para perampok.
"Eh?" Darren terkejut. "Apa kau akan mempercayai perkataan ku begitu saja?"
"Aku punya bakat untuk melihat aliran Mana seseorang," Balas orang itu. "Saat mereka berbicara, aku merasakan adanya aliran kebohongan pada diri mereka."
__ADS_1
"Ah, jadi orang ini punya bakat yang sama seperti Rolf."
"Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh pada mu," Orang itu meneruskan, "Aliran Mana mu sepertinya unik."
"Apa benar begitu?" Ucap Darren sambil menggaruk kepalanya.
"Tapi sudahlah. Aku punya pekerjaan. Jika kau punya keluhan atau semacamnya, kau bisa melaporkannya di kantor polisi di dalam kota," Ucap orang itu sambil meninggalkan Darren.
"Dan ngomong-ngomong," Tiba-tiba sambungnya, "Sihir mu tadi hebat. Sebaiknya kau tidak menyalah gunakannya."
Orang itu pun pergi setelah memborgol komplotan perampok itu.
Darren hanya berdiri di situ tanpa berkata apa-apa.
"Orang itu... mengerikan." Hanya kata itu yang membekas di kepalanya.
Ia kemudian kembali kepada para manusia hewan tersebut. Tapi setelah melihat jumlah mereka, ia menjadi bingung harus melakukan apa.
"Aku tidak mungkin melepas mereka begitu saja. Bisa-bisa mereka malah akan ditangkap lagi."
"Manusia hewan sangat rentan dijadikan budak. Apalagi kalau mereka ketahuan tidak bertuan."
Melihat mereka yang rapuh dan kelaparan, Darren tak tega membiarkan mereka begitu saja. Ia pun berpikir untuk menjadi tuan mereka sampai mereka sanggup hidup sendiri.
"Kalian!" Ucapnya dengan tegas, berharap mereka mau mendengarkannya. "Mulai sekarang, aku adalah tuan kalian!"
"Oh tidak, apa aku berbicara terlalu keras? Bisa-bisa aku malah menakuti mereka."
Para manusia hewan itu pun langsung bersujud di hadapan Darren. Tanda mereka mulai menuruti Darren.
"Aku tidak ingin mereka mengikuti ku dengan rasa takut. Setidaknya aku harus membuat mereka mempercayai ku," Gumam Darren. "Tapi aku harus bersikap seperti majikan mereka, agar tak ada orang yang curiga."
"Apa kalian lapar?" Tanya Darren sambil tersenyum.
"Ayo kita berburu di hutan!" Ucap Darren.
Semua manusia hewan itu pun bersemangat. Sepertinya mereka sudah tidak makan cukup lama.
Lokasi Darren sekarang masih cukup jauh dari kota, jadi lingkungan alam masih terdapat cukup luas di daerah situ.
"Berburu kelinci salju sepertinya adalah pilihan bagus, mengingat banyaknya populasinya di sini," Gumam Darren.
.
.
.
Tak lama kemudian, Darren berhasil mengumpulkan banyak daging kelinci. Ia membuat beberapa api unggun dan membakar daging di atasnya secara bersamaan.
"Tuan sangat hebat," Ucap manusia hewan perempuan tadi.
"Ah, biasa saja," Balas Darren. "Panggil saja aku Darren."
"Baik, Darren-sama."
Setelah daging-daging itu matang, Darren pun memberi makan semua manusia hewan disana. Mereka semua makan sampai kenyang dan tenaga mereka pulih.
"Terimakasih banyak, Darren-sama!" Ucap mereka serentak.
"Ya, sama-sama," Ucap Darren sambil tersenyum.
__ADS_1
Melihat tawa para manusia hewan itu, membuat Darren puas. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia membuat seseorang tersenyum.
"Seandainya aku sempat membuat Yuzuna-san tersenyum."
Setelah makan, Darren pun membereskan peralatan-peralatannya. Ia mencuci peralatan masaknya, dan membersihkan api unggun yang sudah ia pakai.
"Water Elemental: Water Clod," Darren mengalirkan air menggunakan sihirnya.
Semua manusia binatang tertakjub melihatnya.
Darren yang melihat mereka semua terpukau pun berpikir bahwa akan bagus jika mengajari mereka sihir. Terlebih lagi mereka akan hidup sendiri, jadi setidaknya mereka harus bisa melindungi diri.
"Kemarilah kalian," Panggil Darren. "Sekarang kalian akan belajar menggunakan sihir!"
Mereka pun terkejut. Tapi mereka tetap menurut dengan perintah Darren.
Setelah melatih mereka semalaman, Darren mendapati bahwa manusia hewan sangat handal dalam menguasai sihir.
Padahal ini adalah pertama kalinya mereka menggunakan sihir, tapi banyak dari mereka berhasil menguasainya dengan baik. Walau ada juga yang tidak berhasil.
Dari tiga puluh lima orang, dua puluh dari mereka berhasil menguasai sihir.
Tapi ekspresi mereka setelah berhasil menguasai sihir terlihat murung. Darren kebingungan dengan apa yang terjadi.
Saat ia sedang duduk sendiri dibawah pohon, manusia hewan perempuan tadi menghampirinya. Ia terlihat khawatir dan gelisah.
"Ada apa?" Tanya Darren.
"Maaf jika aku lancang, tapi sebenarnya apa tujuan Darren-sama mengajari kami sihir?" Tanya-nya. "Apa kami akan dijadikan pasukan tempur?"
Darren teringat bahwa beberapa manusia hewan juga dijadikan budak tempur. Mereka dipaksa ikut bertempur dalam suatu perang tanpa diberi upah. Mereka mengorbankan nyawa mereka demi perang yang diciptakan manusia.
"Tentu saja tidak," Jawab Darren lembut. "Aku mengajari kalian agar kalian bisa melindungi diri kalian sendiri."
Perempuan itu terperanjat.
"Sebenarnya aku ingin kalian hidup bebas, tanpa terikat perbudakan. Hidup normal layaknya manusia, mengejar impian kalian, dan hidup sesuai keinginan kalian," Tambah Darren.
Perempuan itu pun terharu. "Darren-sama, kenapa kau sangat baik?" Ucapnya sambil berlinang air mata. "Aku tak tahu dengan apa aku harus membalas kebaikan mu, Darren-sama."
"Aku tidak mengincar imbalan. Itu semua hanyalah impianku untuk membuat semua makhluk hidup sama rata," Sambung Darren.
"Ngomong-ngomong, kau itu baik, ya," Sambung Darren. "Aku melihat mu begitu peduli dengan anak kecil itu. Padahal aku yakin bahwa kau tak punya hubungan apa-apa dengannya."
"Ah, itu..." Ucap perempuan itu, "Aku pernah merasakan bagaimana rasanya tidak makan berhari-hari. Dulu, aku seringkali berpindah-pindah tempat karena diperjualbelikan. Aku selalu berganti majikan dan tak ada satupun dari mereka yang pernah memberikan ku makanan. Mereka hanya memberikan ku sampah dan sisa-sisa makanan ternak untuk makan ku."
Darren menatap wajahnya yang muram. Sepertinya masa lalunya sangat berat.
"Lalu, apa kau punya nama?" Tanya Darren.
"Tidak. Aku belum cukup kuat untuk itu," Jawab perempuan itu.
"Eh? Aku tanya nama loh," Ucap Darren.
"I-iya, aku tidak punya nama," Balas perempuan itu. "Dulu di desa ku, ada adat-istiadat yang melarang orang-orangnya untuk memiliki nama sebelum mereka berhasil menguasai sihir."
"Sementara aku pergi dari desa ku sejak tiga tahun lalu. Waktu itu aku belum punya kekuatan sama sekali, jadi aku mengembara tanpa nama," Sambung perempuan itu.
Darren terkejut.
"T-tunggu, apa kau dari suku Serigala Putih?" Tanya Darren sambil menatapnya.
__ADS_1
"Eh, darimana anda tahu?" Balas perempuan itu.
"Perempuan ini... Adik Hayate!?"