
Sroakk! Butiran darah bertebaran di udara. Tatapan mata Riana dan Ari mengeras, seraya melihat gumpalan cairan merah mengalir dari sebuah punggung seseorang.
"Rio, kau tidak apa-apa?" Michael tersenyum kecil. Dalam dekapan tangannya, seorang anak kecil dipeluknya.
"Om Ksatyia..." Rio menatap Michael yang telah melindunginya dari tujaman pedang kayu itu. Mengakibatkan punggungnya robek dari pangkal leher hingga ke pinggang.
"Michael-san!" Riana segera berlari menghampiri mereka, diikuti oleh Ari di belakangnya. Mereka benar-benar tak menduga hal ini akan terjadi.
Beberapa menit lalu, Michael dan Ari saling beradu kekuatan. Namun keadaan menjadi di luar kendali, yang mengakibatkan keselamatan Rio jadi taruhannya.
Ketika mereka berdua saling menyerang dengan sihir, tepat sebelum pedang tersebut menghantam lapisan protection Michael. Ia segera menonaktifkan mantranya.
Ia jelas tahu apa yang akan terjadi jika ia mempertahankan mantranya, dan ia tak mau Rio terluka. Sehingga ia memilih untuk melukai dirinya sendiri demi menyelamatkan Rio.
Darah mengalir dari punggung Michael. Tak lama, ia melepaskan dekapannya dan tersungkur jatuh dari kursi rodanya.
Grab! Riana segera menangkap tubuhnya. Ia kemudian meletakkan tangannya di atas luka Michael. "Non-Elemental Spell: Heal!"
Riana memusatkan mana ke ujung telapak tangannya. Perlahan, luka tersebut kembali menutup.
"H-Hey, Michael. Kau tidak apa-apa?" Ari mencoba memastikan keadaan Michael.
Michael mengangguk. "Ya. Tidak ada luka besar."
Ari menghela nafas. Ia lega tidak ada masalah yang serius.
"Syukurlah," Ucapnya, sambil kemudian menggaruk kepalanya. "Anu... aku minta maaf."
Ia melanjutkan. "Aku seharusnya tidak bertindak gegabah hanya karena ego semata. Aku bahkan nyaris melukai anak-anak. Agh, sungguh memalukan," Ucapnya.
"Tidak. Ku rasa aku juga ambil bagian dalam kesalahan ini," Sahut Michael.
Ia kemudian menatapi telapak tangannya yang keras penuh kapalan. Membuktikan kerja kerasnya selama ini dalam kemiliteran, yang ia sendiri tahu takkan mudah untuk membuangnya dari kehidupannya.
"Aku terbawa suasana dan pikiran ku serasa kembali ke masa lalu. Seolah mata ku tertutup dan tak bisa melihat kenyataan yang ku jalani sekarang," Ucapnya.
"Michael-san..." Ucap Riana tertegun.
Setelah luka Michael pulih sepenuhnya, Ari perlahan menggendongnya ke atas kursi roda.
"Om ksatyia, om gapapa?" Rio memeluk pergelangan kakinya. Wajahnya memelas merasa bersalah.
Michael tersenyum. "Tidak apa-apa, Rio. Luka ku sudah sembuh kok," Jawab Michael. "Lain kali lebih hati-hati ya. Jangan masuk ke dalam area pertarungan sembarangan. Nanti bahaya kalau kau terluka karena terkena sihir yang mematikan."
__ADS_1
"Eh, peringatan macam apa itu. Bukannya malah ke arah nakuti-nakutin," Ari menatap Michael.
Rio mengangguk. "Iya, om. Rio minta maap. Rio janji gak bakal uyangin."
"Anak pintar."
Michael merebahkan dirinya ke kursi. Ia menarik nafas panjang seraya melayangkan pandangan ke arah Riana.
"Ngomong-omong, mantra penyembuhan mu hebat juga ya, Riana," Michael meraba punggungnya yang halus seperti tak ada luka sama sekali. "Apa kau diajari seseorang?"
Riana menggeleng. "Tidak. Aku mempelajarinya sendiri."
"Eh, sungguh? Tapi kau sangat hebat. Rasanya luka ku benar-benar pulih, dan seluruh energi ku kembali," Michael meregangkan tangannya ke kiri kanan.
Untuk sesaat Riana terdiam. Ia pun melirik ke arah kakaknya, seakan sedang memberi kode. Namun segera dibalas dengan sebuah anggukan dari Ari.
"Michael, sebenarnya ada yang ingin kami beritahu," Ari tiba-tiba membuka mulutnya. Lantas membuat Michael keheranan.
"Huh?"
Ari meneruskan. "Apa kau pernah mendengar tentang nama Albino?"
Ari berpikir sejenak. "Sepertinya pernah. Nama itu pernah disebut sewaktu diriku di akademi," Sahutnya, "Kalau tidak salah, itu adalah nama Dewa, kan?"
"Tepatnya seorang Dewi," Riana menyahut, "Dan ia dipercaya sebagai nenek moyang kami, para pemilik darah Albino."
"Benar juga. Kalau dilihat-lihat lagi, penampilan kalian sedikit berbeda dengan iblis-iblis lain di desa ini," Ucapnya. "Rambut kalian begitu putih, dan juga kulit kalian sangat cerah. Apa ini ciri-ciri makhluk Albino?"
Ari dan Riana mengangguk serempak.
"Keturunan Albino dianugrahi dengan kemampuan sihir yang spesial. Setiap mantra yang kami lancarkan akan meningkat efeknya," Riana melanjutkan penjelasannya, "Contohnya adalah mantra penyembuh tadi."
Alis Michael terangkat sebelah. "Tapi sepertinya aku jarang sekali melihat mu menggunakan sihir. Apalagi saat kemarin tangan ku terbakar api."
"E-Eh! Terbakar api?" Ari merespon dengan terbelalak. Ia jadi kembali bertanya-tanya. "Sebenarnya apa sih yang kalian lakukan saat kemarin aku tidak ada?"
Riana membalas pertanyaan Michael. "Soal itu..."
"Jadi begini, Michael," Ari memotong. "Karena darah Albino seperti yang ku ceritakan tadi, setiap kali Riana mengeluarkan sihir ia akan mengeluarkannya dalam jumlah besar. Jadi setiap kali ia menggunakan mantra, ia akan kehilangan banyak Mana."
Riana menyambung perkataan kakaknya. "Terlebih saat pertempuran tempo hari, aku sempat menggunakan mantra ku. Jadi aku harus mengisi ulangnya sampai beberapa hari."
Michael mengangguk. "Ah, jadi begitu ya. Kau tak mampu mengendalikan jumlah Mana yang kau keluarkan. Jadi kau hanya menggunakan sihir saat keadaan penting saja, ya."
__ADS_1
"Benar."
Ari langsung memalingkan wajahnya pada Riana. "Tunggu sebentar. Jadi kau bilang kejadian barusan sangat penting? Padahal tinggal dioles pakai salep herbal saja bisa."
"Beda lah kak! Lagian kan, kakak sendiri yang buat situasi jadi ruwet," Riana mengembungkan pipinya.
Ari menghembuskan nafas berat. "B-Baiklah. Kali ini aku takkan membahasnya," Balasnya. Ia kemudian menoreh ke arah Michael. "Michael, walau aku berhasil mengalahkan mu, aku takkan menghitung ini sebagai kemenangan. Namun aku takkan berhenti di sini. Suatu saat, ketika kau sudah pulih, aku akan kembali menantang mu."
Michael sendiri tak tahu bagaimana harus merespon. Namun Riana di sampingnya menunjukkan wajah jengkel terhadap kelakuan kakaknya.
"Kakak! Sudahlah hentikan. Kita kan cuma mau latihan," Riana berteriak pada Ari.
Namun Ari kelihatannya tak begitu mempedulikannya. Ia masih mempertahankan nada bicaranya, sambil pergi dari situ.
"Aku takkan menyerah, Michael. Ingat itu! Sekarang, aku mau pergi dulu. Jadwal patroliku sudah telat lima menit."
Riana menghela nafas. "Duh, dasar."
Matahari pun semakin bersinar terik tepat di atas kepala mereka. Terpaan hawa panas perlahan menyentuh kulit.
Riana menolehkan matanya ke atas. Melihat matahari yang berada di tengah-tengah langit, ia segera mengetahui bahwa ini sudah tengah hari.
"Sudah waktunya makan siang," Ucap Riana. "Rio, ayo kembali dulu. Aku akan memasak makanan."
"Oke mbak Iyana," Sahut Rio sambil mengikuti Riana kembali.
Riana menoleh ke arah Michael. "Michael-san, apa kau tidak ikut?"
"Duluan saja. Aku masih mau mencari udara."
"Baiklah. Jangan terlalu lama, ya. Nanti makanannya keburu dingin."
Setelah Riana dan Rio pergi meninggalkannya sendirian, Michael mengambil pedang kayu yang terkena bercak darah. Ia menatapinya sambil menggenggamnya dengan erat.
"Walau tanpa latihan khusus, namun sihir mereka hampir setara dengan tentara elit kerajaan. Albino... makhluk apa sebenarnya mereka?" Batin Michael. "Tapi, sepertinya ini bukan pertama kalinya aku bertemu mereka."
Tatapan matanya berubah seketika sebuah ingatan terlewat di benaknya. Ingatan akan seseorang yang terus berada di kepalanya.
"Darren-- Tidak, tapi anak buahnya. Wanita yang selalu bersamanya, kemanapun ia pergi. Seingatku ia dari ras manusia hewan dengan rambut putih," Ucapnya lagi. "Apa ia juga albino? Apa Darren juga tahu dengan potensi yang dimiliki wanita itu?"
.
.
__ADS_1
.
To be continued...