Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Latihan Berat... Mungkin?


__ADS_3

Darren berjalan menuju perpustakaan dengan piring di tangannya. Shiro mengikutinya dari belakang membawa segelas air.


Pintu perpustakaan terbuka dan Darren masuk beserta Shiro yang mengikutinya. Ia menaruh makanan dan minum tersebut di sebuah meja.


"Tomatsu. Ini, makanlah dulu," Ucap Darren sambil melihat Tomatsu sedang bersama Tora. Tapi tak ada satupun dari mereka yang menanggapi panggilan Darren.


"Woah! Aku mengerti, Tomatsu-sama!" Tora terlihat antusias dengan buku di tangan, sementara Tomatsu di sampingnya sedang menunjuk ke salah satu bagian buku itu.


"Apa mereka seakrab ini?" Gumam Darren.


"Akhem!" Darren mencoba membuat mereka sadar akan kehadirannya.


Kedua orang itu pun menengok.


"Oh, Esema-kun," Tomatsu segera menghampiri. Ia melihat makanan di meja dan langsung menyantapnya. "Makasih ya makanannya."


Alis Darren terasa berkedut melihat kelakuan Tomatsu yang 'Tidak Terlihat Seperti Seorang Raja Iblis'.


"Jadi, apa latihan hari ini?" Tanya Darren sambil menyilangkan tangan.


"Akwu funya wide," Ucap Tomatsu dengan mulut penuh.


"Hey, hey, telan dulu apa yang ada di mulut mu itu!" Ucap Darren. "Lagipula, apa ide mu?"


Tomatsu menelan makanannya. "Bagaimana kalau kita latihan di luar kali ini?" Ucapnya. "Kau tahu, seperti berkeliling di hutan dan mencari lawan."


"Mencari lawan? Itu lebih kedengaran seperti hobi mu," Ucap Darren sambil sedikit tertawa.


Tapi, tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di kepala Darren. Ia penasaran dengan jawaban dari pertanyaan ini. Di depannya sekarang, ada seorang Raja Iblis. Bahkan dia ini bukan Raja Iblis biasa. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan ini.


"Tomatsu, aku ada satu pertanyaan untukmu," Darren melanturkan pertanyaannya.


Tomatsu menoleh sembari melahap sesuap makanan. Ia menunggu Darren melanjutkan kalimatnya.


"Apakah mungkin bagi ku untuk menjadi Raja Iblis?" Lanjut Darren.


Semua orang disana terkejut. Tora dan Shiro menatap majikannya dengan tatapan tak percaya.


Tomatsu hanya tertawa. "Mana bisa, bodoh," Ucapnya terbahak-bahak. "Manusia mana bisa jadi Raja Iblis."


Darren melirik ke arah Tomatsu. "Lalu, kau..."


"Yah aku kan bukan manusia," Ucap Tomatsu. "Aku ini iblis."


"I-Iblis... ya?" Ucap Darren pelan. "Tapi ia terlihat seperti wanita biasa. Apa memang ras iblis di dunia ini memiliki rupa seperti manusia normal?"


Tomatsu kemudian melanjutkan perkataannya. "Kau pasti mengira kalau aku manusia kan?" Ucapnya dengan nada mengejek.


Kemudian ia menyeka rambutnya dan memperlihatkan ubun kepalanya kepada Darren. Tiba-tiba, sebuah tanduk kecil muncul.


"Aku bisa memanipulasi bentuk tubuhku," Ucap Tomatsu sambil menahan rambutnya. "Sesuai keinginan ku, aku bisa mengubah setiap jengkal badan ku untuk berubah menjadi debu es."

__ADS_1


Darren akhirnya paham. "Pantas saja. Ia pasti menghapus tanduknya agar tidak ada orang yang mengetahui identitas aslinya."


Tomatsu kemudian mengulurkan tangannya dan memotongnya tepat di hadapan Darren. Tangannya terlepas, tapi tak ada darah yang keluar sama sekali.


"Lihat," Ucap Tomatsu. "Bagian tangan yang terpotong sebenarnya berubah menjadi debu es dan sekarang bertebaran di udara."


Darren memperhatikannya dengan kagum. "Jadi, kau itu abadi?"


"Bisa di bilang iya, tapi bisa di bilang juga tidak," Balas Tomatsu, perlahan kembali menyatukan tangannya lagi. "Sebagai seorang Raja Iblis, umur tidak akan berpengaruh lagi pada hidup ku. Tapi, jika aku mati terbunuh, maka aku tak bisa menghindarinya."


"Tapi kau kan bisa berubah jadi debu."


"Aku bisa berubah jadi debu hanya ketika aku menginginkannya. Itu adalah semacam jurus ku," Sambung Tomatsu. "Jika ada orang yang tiba-tiba menikam ku dari belakang secara cepat dan berhasil melukai organ dalam ku, maka aku akan tetap mati."


Darren mengangguk-angguk. Sepertinya pepatah dari dunia asalnya juga berlaku di dunia lain. 'Tidak ada yang abadi di dunia ini,' Bahkan seorang Raja Iblis pun juga hidup di bawah naungan ancaman kematian yang bisa datang kapan saja.


"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi," Ucap Tomatsu menyelesaikan makannya. "Ayo kita langsung saja pergi ke tempat latihan."


Darren merasa Tomatsu sudah merencanakan ini. "Kau bicara seakan sudah tahu kemana tujuan kita," Ucap Darren sambil mengernyitkan dahi.


"Tentu saja," Tomatsu beranjak dari kursi. "Seingatku, di bagian timur kerajaan ku dulu, ada sebuah dungeon. Entah sekarang masih ada atau tidak."


"Dungeon? Ah, aku tahu!" Tora tiba-tiba menyahut. "Itu dungeon yang terkenal di kalangan petualang. Konon katanya, orang-orang yang masuk ke dungeon itu tidak akan keluar hidup-hidup."


Shiro langsung bersembunyi di belakang Darren dengan gemetaran. Ia tahu kalau ia akan ikut juga kesana, tapi tempat semacam itu terlalu menakutkan baginya.


"Itu hanya rumor, kan?" Ucap Darren. "Kita tak boleh percaya rumor-rumor liar begitu saja."


Darren sempat mempercayai hal itu, tapi ia teringat. Ia menoleh ke arah Tomatsu.


"Lagipula, apa yang perlu kita takutkan," Ucap Darren pada Tora. "Lihatlah, kita punya Raja Iblis di sisi kita."


"Maaf ya, tapi aku tidak akan ikut kalian masuk ke dalam dungeon itu," Tomatsu menyahut dengan cepat. "Ini adalah latihan mu, Darren. Aku takkan ikut campur."


Darren menghela nafas seakan ia tahu ini akan terjadi. Tomatsu pasti hanya mencari alasan karena ia terlalu malas untuk mengajar.


"Gak cocok banget jadi guru," Batin Darren.


"Tapi, Dar-- Esema-sama. Bukankah kau seharusnya berada di samping Jenderal hari ini?" Ucap Shiro masih bersembunyi di belakang Darren.


Darren berpikir, "Ah, benar juga. Apa aku harus mengambil cuti, ya?"


.


.


.


"Pergi latihan?" Tanya Schlaff di kantornya.


Darren mengangguk.

__ADS_1


"Ya, aku tidak masalah sih," Sambung Schaff, "Tapi, siapa sebenarnya perempuan ini?" Tanya nya sambil menunjuk Tomatsu.


Tomatsu meringis. Dengan bangga ia menjawab, "Aku Tomatsu. Salah satu dari tujuh Raj--"


Darren langsung membungkam mulutnya dengan tangannya.


"Dia adalah guru ku," Darren memotong sambil tersenyum canggung. "Dialah yang akan mengawasi pelatihan ku."


Schlaff terlihat tidak yakin. Ia menyipitkan matanya dan mulai memperhatikan Tomatsu dengan teliti. Tapi akhirnya ia tidak peduli.


"Hmph, baiklah. Selama Esema-dono mempercayainya, aku juga akan mempercayainya," Ucap Schlaff. "Kau boleh libur hari ini. Pastikan kau berlatih dengan baik ya, Esema-dono."


Darren tersenyum sambil mengangguk. Ia pun membungkuk hormat dan izin untuk menyingkir.


"Kenapa kau menutup mulutku tiba-tiba!?" Protes Tomatsu begitu keluar dari kantor Schlaff. Wajahnya terlihat berubah warna jadi merah padam, seperti orang marah.


"Kau ini bodoh ya?" Balas Darren. "Kalau dia sampai tahu tentang identitas mu sebagai Raja Iblis, maka ia pasti akan menangkap mu."


Tomatsu terus merengut dalam perjalanan keluar dari kastil. Wajahnya yang seperti mbak-mbak malah terlihat lucu dengan ekspresi nya yang sedang ngambek.


Darren bahkan terus berusaha menahan tawa setiap kali melihat wajahnya.


Mereka berempat akhirnya tiba di pintu gerbang keluar kastil. Hal itu membuat Darren bertanya-tanya akan satu hal.


"Hey, Tomatsu," Panggilnya pelan, "Dungeon itu masih jauh, kan?"


Tomatsu menoleh. "Ya," Jawabnya singkat.


"Kau bilang kalau dungeon itu ada di dekat Erfroren, kan?"


"Ya."


Darren menoleh ke sekitarnya. Ia kemudian menarik nafas panjang.


"Lalu, kenapa kita tak gunakan kuda!?" Ucapnya dengan keras.


Tomatsu hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepala. "Anggap saja ini latihan mu," Ucapnya sambil menyeringai aneh. "Kau harus menggunakan kaki mu sendiri untuk sampai disana."


Darren sebenarnya tidak terlalu masalah dengan itu. Ia sudah biasa bolak-balik melewati hutan dan gunung hanya dengan jalan kaki. Tapi permasalahannya adalah waktu.


Berjalan dengan kuda tentu saja membuat waktu tempuh menjadi lebih cepat dan efisien. Lagipula, dia yakin Tora dan Shiro lebih mengharapkan mengendarai kuda daripada jalan kaki.


Darren menghela nafas. "Setidaknya kau juga akan berjalan bersama kami, kan?"


Tomatsu tertawa sambil memeletkan lidah. "Tentu saja tidak," Ucapnya sambil mengubah setengah tubuhnya menjadi debu. "Aku akan berkendara dengan angin."


Darren melihat Tomatsu menghilang terbawa angin yang bertiup dengan wajah kesal.


"Akan ku tunggu kalian di sana. Semangat!" Ucap Tomatsu sembari menghilang.


"OOY!! Jangan seenaknya gitu dong!" Teriak Darren. "Dasar guru kamprett!"

__ADS_1


Tora dan Shiro hanya menepuk jidat melihat kelakuan mereka.


__ADS_2