Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tekad untuk Berkorban


__ADS_3

Darren telah bergabung ke dalam pertempuran. Kini di hadapannya terdapat Succubus yang ingin membunuh mereka semua.


"Dia membuat jalan masuknya sendiri?" Gumam Succubus itu setelah melihat cara Darren untuk datang. "Sungguh pemuda yang unik. Mungkin jiwa nya akan terasa enak."


Melihat Succubus itu, pandangan Darren langsung mengarah ke sebuah benda. Matanya terbelalak dan wajah kecewa langsung terpasang di mukanya.


"R-Rata," Ucap Darren setelah melihat dada succubus itu melalui pakaiannya yang minim.


Succubus itu terkejut. Tak disangka ada manusia yang berani berkata semacam itu kepadanya.


"K-Kau bilang apa!?" Teriak Succubus itu marah. Pikirannya untuk melahap jiwa Darren langsung terhimpun nafsu membunuh. "Takkan ku ampuni kau keparat! Berani-beraninya kau mengejek dada ku!"


Darren masih memasang muka bingung. Ia pun menoleh pada dua temannya itu.


"Apa dia benar-benar musuh?" Tanya nya tak yakin.


Tora dan Shiro mengangguk.


"Hati-hati, Esema-sama. Ia bisa memanipulasi ruangan sesuai keinginannya sendiri," Ucap Tora memperingatkan. "Tapi sepertinya, jika ia menggunakannya secara tidak teratur, maka itu akan menyebabkan anomali. Sehingga membuat efeknya pada ruangan tertentu menjadi hilang."


Darren mengelus dagu. "Jadi intinya. Jika ia secara blak-blakan menggunakannya, maka sihirnya akan ter-reset."


Darren paham sisanya. Tentang bagaimana Succubus itu mengirim benda melalu sihir semacam portal yang terpasang pada setiap ruangan.


Ia sendiri bahkan sudah merasakan sihirnya itu. Memang sih sihir itu terdengar tidak cocok untuk bertarung dan lebih cocok untuk menjebak. Tapi dengan penggunaan yang tepat dan kreatif, sihir itu bisa jadi senjata mematikan.


"Kenapa kau menyerang kami!?" Teriak Darren pada Succubus itu.


Succubus itu berhenti sesaat untuk menanggapi pertanyaan Darren. "Kenapa? Kau menanyakan kenapa, padahal kau sendirilah yang masuk ke sini tanpa izin."


"Apa ini rumah mu?" Tanya Darren lagi.


"Bukan. Tapi aku dipercaya untuk menjaganya," Jawab Succubus itu. "Tuan ku tidak suka saat orang-orang masuk ke dalam wilayahnya tanpa izin."


Succubus itu mengangkat tangannya perlahan ke atas.


"Sejujurnya, kau pria yang menarik. Awalnya aku ingin memberikan kematian yang nikmat untukmu. Tapi kau membuatku kesal," Ucapnya. "Sekarang, kau telah kehilangan kesempatan untuk bermain-main dengan tubuhku. Dan kau hanya akan mati dalam penyesalan."


Darren menyeringai. "Mati? Penyesalan? Kau tidak tahu. Aku hidup selama ini dengan bergantung pada dua kata itu," Balas Darren.


Sang Succubus tidak begitu peduli dengan kalimat Darren. Ia hanya mengayunkan tangannya dan melancarkan serangan.


Sweep! Swoott! Tak diduga, Succubus itu ahli dalam bertarung jarak dekat. Ia menyerang dengan setiap anggota tubuhnya dan gerakannya terlihat elegan.


Darren sempat terkejut. Ia mencoba menghindari setiap serangan yang datang kepadanya. Sambil menghindar, Darren juga berusaha membaca pergerakan sang Succubus.


Tapi gerakan Succubus itu semakin lama semakin membabi buta. Gerakan elegannya mulai pudar sementara gerakannya semakin brutal. Walau gerakannya tidak seberapa cepat, tapi di setiap pukulan yang ia lancarkan, Darren dapat merasakan tenaga yang kuat.


Sweepp! Succubus itu mengayunkan kakinya secara horizontal di lantai dan berhasil mengenai kaki Darren. Membuatnya jatuh tergeletak di lantai.


Ia melompat dan berniat menginjak Darren dengan kakinya.


Duarr! Darren berhasil menghindar dan serangan itu berakhir meleset. Tapi, lantai di tempat Darren tergeletak menjadi retak.


Melihat itu saja Darren tahu betapa kuatnya fisik Succubus ini. Walau tubuhnya kecil, tapi terdapat kekuatan terpendam di dalamnya.


"Aku tak boleh menganggapnya enteng," Ucap Darren pelan. "Jika ia berhasil memukul ku di kepala, maka tengkorak ku bisa langsung remuk. Aku harus hati-hati."


Sementara Succubus itu menjadi semakin brutal, Darren mencoba mengatur rencana di situasi sempit itu. Pertarungan jarak dekat, dan di ruangan kecil. Menggunakan pedang mungkin ide bagus, tapi itu malah akan membuat pergerakannya jadi lebih lambat.

__ADS_1


Ia harus berfokus pada menghindar dan tentu saja membalas. Jika saja ia punya cara untuk menghajar Succubus itu. Tapi tak ada celah.


"Celah... Celah!" Darren mendapat ide.


Ia mengeluarkan sihir es yang sama seperti Shiro dan melemparkan jarum-jarum es tepat ke wajahnya.


Seketika Succubus itu langsung mengeluarkan sihirnya. "Dark Elemental: Non-Euclidean!"


Ia membuat anomali ruang di depan wajahnya dan memindahkan jarum-jarum tadi ke tempat lain.


Darren tersenyum yakin. Ia sudah punya rencana begitu melihat Succubus tersebut merapal mantra.


"Aku akan coba menangkapnya. Aku tak ingin membunuhnya karena ia mungkin akan jadi sumber informasi yang bagus," Pikir Darren.


Kali ini Darren segera melepaskan posisi bertahannya. Ia berlari ke arah Succubus itu dengan lurus dari depan. Succubus itu menarik tangannya, siap untuk meluncurkan pukulan langsung ke wajah Darren.


"Dark Elemental: Non-Euclidean!" Darren segera merapal mantra yang sama.


Succubus itu meringis. "Percuma! Manusia biasa seperti mu tidak akan bisa menggunakan sihir kegelapan!"


Darren membalas senyuman tadi. "Kau akan tahu."


Smackk! Tangan Darren berhasil memukul Succubus itu. Bukan dari depan, tapi dari belakang. Darren memanipulasi ruang di depannya tepat sebelum ia memukul dan membuat tangannya berteleportasi membelakangi Succubus tersebut.


Tinjuan itu berhasil membuat Succubus itu terkejut. Kepalanya terpukul dan ia sempat kehilangan keseimbangan. Ia terdorong ke depan, ke arah Darren.


Ini juga sudah Darren rencanakan. Ia segera menarik kembali tangannya dan menangkap tubuh Succubus itu.


Darren memegangnya dengan kedua tangan, menyandung kakinya dan membantingnya ke lantai. Sekarang Succubus itu tak bisa bergerak.


Dikalahkan oleh manusia, dan kalah dalam pertarungan tangan. Succubus itu menjadi sangat kesal sekaligus malu. Ia mencoba memberontak, tapi Darren sudah mengunci pergerakannya.


Succubus itu meronta-ronta. Kekalahan adalah hal yang paling ia benci. Apalagi kalah di tangan manusia rendahan seperti dia.


"Aku tidak boleh kalah. Satu-satunya yang boleh mengalahkan ku hanya Tuan-ku. Aku takkan kalah dari manusia rendahan seperti mu!" Ucapnya dengan lantang sambil terus menggeram. Tapi tetap saja, ia sudah tak bisa bergerak.


"Ya ampun. Kau kerasa kepala juga ya," Ucap Darren. "Aku menghormati semangat tempur mu, tapi aku tak bisa melepaskan mu begitu saja."


"Berisik! Akan ku lepaskan cengkraman mu ini dan akan ku penggal kepala mu!" Balas Succubus itu. "Dengan begitu, aku takkan mengecewakannya. Dan dia akan bangga atas kerja keras ku!"


Darren lama kelamaan menjadi merinding. Semangat yang Succubus itu pancarkan bukanlah semangat biasa. Rasa ingin membuktikan sesuatu, dan rasa hormat. Succubus ini memancarkan kedua perasaan itu dalam semangatnya.


"Dark Elemental: Non-Euclidean!" Tiba-tiba Succubus itu merapalkan mantranya.


Ia mengubah susunan ruang di antara mereka berdua. Membuat sebuah anomali dan menyebabkan bagian depan dan belakang Darren terpisah.


Tapi tidak sampai itu saja. Kini ruangan-ruangan itu mulai menjadi aneh. Sihir kegelepan yang dicampur dengan tekad kuat, membuat susunan realita dalam dungeon itu menjadi bergeser.


Darren sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kenyataan di sekitarnya seaakan sudah rusak. Tembok-tembok pecah seperti kaca dan bagian-bagian lorong seakan berbelok dan menyambung dengan bagian lainnya secara acak.


"Apa ini jurus pamungkasnya?" Gumam Darren sambil gemetar menghadapi kekuatan semacam ini. "Kekuatan semacam ini seharusnya tidak dimiliki oleh monster biasa. Ini sudah setara dengan Raja Iblis."


"Jika bawahannya saja sudah sekuat ini, aku jadi tak bisa membayangkan betapa kuatnya majikannya."


Melihat realita sekitarnya menjadi amburadul, Darren segera mengeratkan cengkramannya pada Succubus itu.


"Apa yang sudah kau lakukan!?" Teriak Darren panik.


Succubus tersebut membalasnya dengan senyuman arogan. "Kau sudah kalah," Jawabnya singkat.

__ADS_1


Saat Darren mendengar hal itu, perhatiannya menjadi lengah. Ia langsung menoleh kesana kemari, dan benar saja. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.


Tora dan Shiro menghilang. Mereka berdua pasti sudah terkirim ke tempat lain.


Succubus tersebut memanfaatkan kesempatan itu. Saat pandangan Darren teralihkan, cengkramannya juga menjadi lebih longgar. Ia segera memutar tubuhnya dan membuat cengkraman Darren terlepas.


"Gawat!" Darren terkejut.


Buuaakk! Succubus tersebut menendang Darren hingga membuatnya terlempar beberapa meter.


Darren segera menyeimbangkan tubuhnya selagi di udara dan mendarat dengan kedua kakinya. Succubus itu tahu pasti apa yang yang harus ia lakukan.


"Mati!" Teriaknya dengan keras.


Ia menghampiri Darren dengan cepat dan mengepalkan tangannya.


Swoop... seett... mereka berdua bertarung dengan tangan kosong.


Darren terus menghindar. Posisinya sangat tersudut. Realita di sekitarnya benar-benar sudah di luar nalar. Kabur bukan pilihan, dan bertarung mungkin hanya pilihan satu-satunya.


Tapi lagi-lagi, ia tak terbiasa bertarung dengan tangan kosong. Terlebih lagi musuh yang ia lawan juga sangat kuat. Ia harus bisa menang atau nyawa adalah taruhannya.


"Aku sebenarnya punya ide," Gumam Darren. "Aku bisa gunakan mantra cancelling ku. Itu cukup untuk menghapus efek dari sihir kegelapan ini."


"Tapi masalahnya. Jika aku menggunakan mantra itu, aku akan kehabisan banyak Mana. Walau berhasil, tapi tak ada jaminan bahwa aku bisa selamat dari situasi ini."


Mata Darren terfokus sejenak. Keselamatannya bukanlah prioritas. Tora dan Shiro mungkin bisa selamat walau nyawanya sendiri adalah konsekuensinya.


"Apapun itu, asalkan mereka berdua selamat."


Darren langsung bergerak cepat menjauh dari jangkauan Succubus itu. Kini ia punya waktu untuk merapal mantranya.


"Non-Elemental Spell: Cancelling!"


Jreett! Terdengar suara keras seraya Darren menyelesaikan mantranya.


Realita mulai kembali bergabung. Tembok-tembok yang sebelumnya terlihat hancur seperti pecahan kaca, mulai kembali menyatu. Kini semuanya kembali seperti normal.


"Berhasil," Ucap Darren dengan lemas. Kini Mana di tubuhnya mulai menipis.


Succubus itu ternganga melihat mantra manipulasi ruang nya lama-lama memudar. Tapi, setelah itu ia seakan tak peduli. Perhatiannya terus berfokus pada Darren.


Ia berlari ke arah Darren dengan tangan yang sudah mengepal. Ia siap untuk menghancurkan kepala Darren.


Sementara Darren sudah tergeletak di lantai karena tubuhnya lemas. Menghapus efek mentra sebesar ini memerlukan banyak sekali Mana, dan itu benar-benar menguras semuanya dari tubuhnya.


Tora dan Shiro yang baru saja kembali muncul, melihat Darren sudah di ambang kematian.


"Darren-sama!" Teriak Shiro.


Mereka berdua sudah tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan Darren. Jarak mereka terlalu jauh, sementara hanya perlu menunggu hitungan detik sebelum kepalan tangan Succubus itu menyentuh kepala Darren.


"Tora! Shiro! Kaburlah!" Teriak Darren.


.


.


.

__ADS_1


"Apa aku akan mati lagi di sini?"


__ADS_2