Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Sebuah Tindakan Gegabah?


__ADS_3

"Bagus adalah pengkhianat," Ucap Clara dengan wajah serius.


Dyland, Hain, Tora, dan Shiro langsung syok terkejut. Awalnya mereka mengira kalau Clara salah bicara, namun wajah serius Clara membuat mereka jadi yakin.


"S-Sebenarnya, apa yang terjadi di sini?" Ucap Hain yang nampak tak percaya mendengarnya.


Clara menjelaskan semuanya. Bagaimana mereka telah terpengaruh sihir ingatan itu, dan Darren yang berhasil membongkarnya.


Namun ketika mereka tersadar, mereka telah terkepung oleh pasukan kerajaan yang menunggu mereka di sela-sela hutan.


Karena anomali elemen di hutan itu, tak banya yang bisa mereka lakukan sebagai tindakan perlawanan. Pada akhirnya, Darren ditangkap dan Clara terpaksa kabur.


Setelah mendengar cerita itu, semuanya menjadi sadar betapa hebatnya musuh telah mempermainkan mereka.


Tapi, yang paling merasa terpukul adalah Shiro dan Tora. Mereka berdua tak pernah mengira Tuan mereka bisa jatuh ke tangan musuh semudah ini.


Tora melirik ke arah Shiro dan melihat perempuan itu sedang murung. Ia menghampirinya dan mencoba membuatnya merasa lebih baik.


"Shiro-sama, aku yakin Esema-sama baik-baik saja," Bisiknya pelan. "Esema-sama bukanlah orang lemah."


"Ya, aku tahu. Tapi walaupun begitu, aku tak bisa diam saja saat ia membutuhkan pertolongan seperti ini," Balas Shiro berbisik.


Dyland juga nampak terpukul. Ia tak pernah mengira salah satu teman kepercayaannya adalah musuh yang mereka cari selama ini.


"Kita harus melaporkan ini pada Simson dan membicarakan ini dengan semua orang," Ujar Dyland.


Mereka segera berlari ke kantor Simson dan melaporkan hal tersebut.


Setelah mendengar semuanya, Simson segera menyelenggarakan rapat dadakan. Semua anggota pun diminta berkumpul di sebuah ruangan besar untuk membicarakan hal tersebut.


Di tengah ruangan, terletak sebuah meja bundar yang sangat lebar. Dan di sekeliling meja itu, para petinggi organisasi duduk saling bertatap-tatapan.


Di belakang mereka, seluruh anggota organisasi berdiri menunggu keputusan yang akan diberikan para petinggi. Tora, Shiro, dan Hain pun berdiri di tengah kerumunan itu.


"Jadi semuanya, ada hal penting yang harus kalian dengar," Ucap Simson sambil melipat tangannya di atas meja. "Kita telah berhasil membongkar identitas penyusup itu."


Mendengar itu membuat semua orang di sana tersenyum senang.


"Benarkah? Siapa?" Tanya salah satu petinggi.


Simson segera memanggil Clara. Ia meminta Clara untuk memberitahu semuanya pada seluruh orang.


"Bagus. Pemuda itu adalah pengkhianat," Ucap Clara yang sontak disusul ekspresi kaget oleh semua orang.


Semua orang saling menatap satu-sama lain. Beberapa dari mereka juga saling bertanya-tanya.


"Bagus? Si pemuda manusia itu?" Ucap petinggi yang lain. "Jadi selama ini ia memperdaya kita semua dengan sihir ingatannya?"


"Ya. Dan nampaknya rencananya itu telah terwujud," Sambung Clara. "Tapi kita masih belum tahu apa tujuan sebenarnya. Tapi aku merasa ia bekerja untuk pihak yang lebih besar."


"Pihak yang lebih besar? Apa ia bekerja untuk Raja Iblis Ryan?"


"Nampaknya bukan. Ryan bukanlah tipe iblis yang mau meminta bantuan seorang manusia," Balas Clara.


"Lalu, siapa? Apa kalian ada tebakan?"


Clara menarik nafas agak panjang. "Menurut ku, kemungkinan ia bekerja untuk Gereja Suci Timur."


Mendengar ucapan Clara membuat seisi reuangan kaget sekaligus panik. Kegaduhan langsung terjadi.


"G-Gereja Suci!? Gereja Suci yang suka membunuh ras monster itu?" Ucap para petinggi.


Simson segera berdiri dan menenangkan keadaan. "Semuanya, mohon tenang! Kita harus dengarkan Clara terlebih dahulu."


Seketika keributan itu reda. Pandangan mereka kembali tertuju pada Clara dan menunggu kalimat selanjutnya.


Simson menoleh pada Clara. "Apa yang membuatmu berpikir begitu? Apa itu hanya sekedar tebakan?"


Clara menggeleng. "Aku merasakannya. Pendeta Suci itu ada di tanah ini."


Dyland menyambung. "Berarti, jika Bagus bekerja untuk orang tersebut, maka ada kemungkinan kalau lokasi kita sudah ketahuan," Ucapnya. "Ini bisa bahaya. Jika mereka menganggap kita sebagai ancaman, maka kita bisa habis."


Kerumunan langsung kembali rusuh. Beberapa dari mereka mulai panik.

__ADS_1


Sebagai ras monster, mereka tahu betul apa yang akan terjadi jika Pendeta Suci itu datang ke tanah mereka. Bagi mereka, ini adalah berita buruk yang pernah mereka denga.


"Semuanya, kembali tenang!" Simson menggebrak meja. Ia ingin semua orang tetap tenang dan dapat berpikir dingin. Walau terlihat jelas di wajahnya sendiri kalau ia juga gemetar.


"Kita semua tahu kalau Pendeta Suci itu sangat berbahaya. Tapi bukan berarti kita hanya bisa diam saja dan menerima apa yang mereka lakukan pada kita," Ucap Simson lagi. "Jika kita menyatukan kekuatan, kita pasti bisa memukulnya untuk angkat kaki dari tanah kita."


Dalam sekejap, kerusuhan itu reda. Namun, muncul keraguan yang besar di antara para anggota. Mereka masihlah takut dan tak ingin berurusan dengan Pendeta Suci itu.


"Jadi maksud mu, kita akan menyerang mereka?" Tanya salah satu petinggi. "Kau berniat menyatukan kekuatan semua orang untuk berpartisipasi melawan manusia terkuat yang memiliki ambisi untuk menghapus keberadaan kita?"


Simson terdiam. "T-Tidak, bukan itu maksud ku."


Orang itu melanjutkan. "Kita masih tidak tahu apakah Gereja Suci memang mengincar organisasi ini atau mengincar hal lain," Ucapnya. "Tapi, lebih baik kita mengevakuasi semua orang dan pergi dari sini. Diam berlama-lama di sini bisa membuat keberadaan kita semakin terancam."


"Tapi, kita harus menyelamatkan Esema," Hain tiba-tiba maju ke depan.


"Esema? Maksudmu si manusia itu?" Ucap petinggi. "Mengorbankan satu orang bukanlah masalah besar. Kita bisa tinggalkan dia."


"Tidak, aku cukup yakin kalau Esema-sama adalah kunci untuk kemenangan kita," Tora tiba-tiba ikut maju, diikuti oleh Shiro dibelakangnya.


"Kau manusia, diam saja. Urus saja urusan mu sendiri," Ucap petinggi seolah tak peduli.


"Ini adalah urusan ku. Tuan ku sedang dalam bahaya dan aku harus menolongnya," Sambung Tora. Ia sudah merencanakan ini semua.


"Tuan? Apa kau salah sebut? Bukankah majikan mu adalah si manusia hewan itu?"


Shiro langsung menyahut. "Tidak. Ini hanyalah penyamaran kami," Ucapnya.


"Penyamaran? Apa maksud kalian?"


Para kerumunan langsung berbisik ke satu sama lain. Mereka menatap Shiro dan Tora dengan penuh heran.


"Bisa tolong dijelaskan?" Ucap Simson dengan tenang.


Shiro mulai menjelaskan. "Esema adalah tuan kami. Kami hanyalah bawahannya. Kami sedang dalam perjalanan jauh dan seringkali dihadapkan dengan pertarungan sulit," Jelas Shiro. "Dengan pengalaman kami selama ini, maka kami yakin bisa membantu. Tapi kita harus menyelamatkan Esema-sama terlebih dahulu."


"Kenapa kau berpikir kita harus menyelamatkannya?" Tanya Simson. "Esema mungkin hanya orang biasa. Sedangkan lawan kita bisa membabat habis satu negara dengan mudah."


"Kau salah. Esema-sama sangatlah kuat," Balas Tora. "Aku dengan bangga akan mengatakan ini: Esema-sama pernah berhadapan dengan Raja Iblis kegelapan."


Clara langsung menyahut. "Raja Iblis Sejati? Kau bercanda, kan?"


Tora menggeleng. "Tidak. Aku serius," Ucapnya. "Ia bertarung melawannya, dan berhasil memukulnya mundur."


"T-Tidak bisa dipercaya," Ucap orang-orang.


Tora melanjutkan. "Aku yakin bila kita menggabungkan kekuatan kita dengan kekuatan Esema-sama, maka kita pasti bisa mengusir Pendeta Suci itu."


"Kita pasti bisa melakukannya!" Ucap Shiro.


Hain nampak terkejut awalnya, namun kemudian ia ikut maju dan berdiri di samping Tora dan Shiro.


"Ketua, menurut ku ini adalah kesempatan yang patut di coba," Ucap Hain.


Para petinggi saling menoleh satu sama lain. Mereka bingung harus memutuskan apa.


"Tidak, menurut ku kita biarkan saja," Clara tiba-tiba menyahut. "Kita tidak perlu mempertaruhkan nyawa kita untuk sesuatu yang belum pasti. Lagipula, pengorbanan terkadang harus dilakukan."


"Clara-san, kenapa kau bicara seperti itu?" Hain menyahut. "Bukankah Esema juga salah satu teman kita?"


"Ya, dulu. Tapi sekarang keadaannya berubah," Balas Clara. "Bukannya aku tak ingin membantu, tapi musuh yang kita lawan ini bukan orang biasa. Kita tidak bisa mempertaruhkan segalanya hanya dengan berdasarkan kepercayaan."


"Omong kosong. Biasanya kau selalu berani untuk menerjang segala tantangan!" Balas Hain kesal. Ia kemudian memberi jeda panjang dan kemudian menambahkan, "Bilang saja kau takut, kan?"


"Ya. Aku memang takut," Ucapan Clara membuat semua orang terdiam.


"Oleh karena itu, aku tak berani mengambil resiko yang bisa membahayakan semua orang. Aku pun harus berpikir tenang dan meminimalisir kerugian yang ada," Sambungnya.


Keadaan di sana menjadi hening, sampai Simson kembali membuka mulut.


"Sepertinya, rencana selanjutnya sudah ditentukan," Ucap Simson sambil menoleh kepada para petinggi. "Kita akan meninggalkan Esema dan melakukan evakuasi."


Ia kemudian menoleh pada Shiro dan Tora. "Aku tidak bermaksud ingin meninggalkan teman kalian. Tapi, aku sendiri tidak bisa bergerak semau ku. Orang-orang di sini butuh perlindungan dan aku tak bisa membiarkan mereka bergerak tanpa pemimpin. Dan jika kalian mau, kalian bisa ikut dengan kami."

__ADS_1


Setelah itu, rapat dibubarkan. Semua orang pergi untuk mempersiapkan evakuasi. Shiro dan Tora tak mengikuti mereka, dan Hain hanya berdiri diam tanpa bergerak.


"Jadi, bagaimana ini, Shiro-sama?" Tanya Tora tak tahu apa yang harus mereka lakukan. "Kita gagal meyakinkan mereka."


Shiro mengepalkan tangannya dan mengangkat wajahnya dengan serius.


"Ayo pergi," Ucapnya sambil berjalan berbalik menuju jalan keluar.


"Kemana?" Tanya Tora.


"Menyelamatkan Esema-sama. Kita tidak boleh membiarkannya menunggu lama."


Wajah Tora langsung terpaku, kemudian tersenyum. Ia merasakan tekat yang sangat kuat pada Shiro.


"Baiklah. Ayo kita selamatkan Esema-sama!" Ucap Tora seraya berjalan dibelakang Shiro.


"Shiro, Tora," Panggil Hain pelan.


Shiro dan Tora menoleh.


"Aku memang bukan siapa-siapa. Aku pun bukan orang yang kuat. Oleh karena itu, aku tak ingin kekurangan ku menuntun ku ke jalan yang salah," Ucap Hain sambil mengepalkan tangannya. "Aku ingin melindungi orang-orang di sini. Bukan dengan cara yang pengecut, tapi dengan cara sebagaimana seorang ksatria bertindak."


Shiro dan Tora hanya menatapnya.


"Pasukan pemberontak dibangun untuk melawan kekuasaan diktator Raja Iblis Ryan. Kami melakukan ini bukan untuk kepentingan kami, tapi untuk kepentingan rakyat yang sedang menderita," Sambung Hain. "Jika satu ancaman lagi datang ke tanah ini, dan mengancam rakyat yang tinggal di dalamnya. Maka aku tak bisa tinggal diam."


Shiro dan Tora mulai paham kemana pembicaraan ini akan tertuju.


"Hain, kau tak perlu melakukan ini," Ucap Tora.


"Tidak. Keputusan ku sudah bulat. Aku akan membantu kalian menolong Esema," Ucap Hain. "Jika ia memang sekuat yang kalian katakan. Maka, ia adalah kunci untuk keselamatan negara ini."


Hain menambahkan. "Aku tak peduli jika penyelamat negeri ini bukan datang dari ras iblis itu sendiri, melainkan datang dari ras manusia. Yang terpenting, orang-orang bisa selamat. Ku mohon, izinkan aku bergabung!"


Shiro dan Tora menoleh ke satu sama lain. Mereka kemudian saling menganggukan kepala dan menyentuh pundak Hain.


"Baiklah. Selamat datang di tim," Ucap Tora menyentuh pundak Hain.


"Terimakasih," Balas Hain. "Sekarang, ayo ikuti aku. Aku tahu jalan keluar rahasia yang hanya aku dan Simson tahu. Kita menyelinap lewat sana."


"Baiklah. Kami akan mengikuti mu."


Pada hari itu juga, mereka bertiga memutuskan untuk kabur. Mereka bergerak secara diam-diam dan segera pergi menuju ke Fueno secepatnya.


"Apakah ini termasuk berkhianat pada organisasi pemberontak?" Tanya Tora di tengah-tengah perjalanan.


"Sepertinya iya. Tapi siapa peduli," Balas Hain dengan wajah tersenyum. "Selama kita melakukannya untuk kepentingan semua orang."


"Aku suka cara berpikir mu, Hain," Sahut Shiro. "Tapi dengan prinsip itu, kau mungkin akan mempersulit hidup mu sendiri."


Hain tertawa kecil. "Ya, benar. Tapi aku tidak mempedulikannya. Selama aku bisa membuat orang lain tersenyum, aku tak keberatan bila harus mengemban beban berat," Balas Hain. "Tapi, kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?"


Shiro membuang mukanya. "Entahlah. Ku rasa kau hanya mengingatkan ku pada seseorang."


Setelah perjalanan agak lama, mereka akhirnya tiba di Fueno. Perjalanan mereka kira-kira memakan waktu sekitar tiga hari.


Setibanya di sana, mereka mengira mereka sudah terlambat. Mereka sempat kebingungan harus mencari Darren dimana.


Namun tiba-tiba, sebuah ultimatum diumumkan ke seluruh penjuru kota. Yaitu sebuah ultimatum yang diumumkan oleh Raja Iblis Ryan sendiri.


"Itu suara Raja Ryan!" Hain langsung mengenalinya.


Ryan menyampaikan beritanya melalui suara lantang yang berasal dari sebuah sihir.


"Kami di sini telah menangkap seorang anggota dari pasukan pemberontak. Di depan takhta, kami akan menginterogasinya dan mengeksekusinya bila perlu," Ucap Raja Iblis Ryan. "Diharapkan seluruh orang untuk menonton pertunjukan ini dan menikmati keseruannya."


Shiro langsung menggertakkan giginya dengan wajah geram. "Itu pasti Esema-sama. Sekarang kita tahu dimana lokasinya."


Mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju kastil.


.


.

__ADS_1


.


"Esema-sama, ku mohon. Bertahanlah!"


__ADS_2