Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Amarah Sang Raja Iblis Sejati


__ADS_3

Nafas Darren menjadi semakin berat. Berlari sembari menggunakan mantra Speed membuatnya lelah. Terlebih lagi Shiro juga menggunakan mantranya.


"Aku harus bertahan," Darren menyemangati dirinya sendiri. "Aku harus sampai disana!"


Shiro memperhatikannya dengan khawatir. "Apa dia akan baik-baik saja?"


Setelah lari agak lama, Darren dan Shiro tiba di reruntuhan tembok. Tak jauh dari sana terlihat beberapa kepulan asap yang tebal. Sepertinya di situlah Akira berada.


"Shiro, tetaplah di belakang ku. Kita akan ke sana," Ucap Darren.


Kepulan asap sangat tebal. Penglihatan jadi semakin sulit, ditambah lagi asap itu membuat nafas jadi sesak. Jarak pandang menjadi pendek. Darren akan dirugikan dalam kondisi seperti ini.


"Non-elemental Spell: Thermography," Darren mengaktifkan mantra pada matanya dan juga mata Shiro.


"Esema-sama," Panggil Shiro dengan wajah muram. "Sebaiknya kau berhenti begitu. Mana mu akan habis."


Darren menggeleng. "Tidak apa. Aku masih kuat."


Shiro menjadi semakin khawatir tapi Darren kekeh tetap menolak.


Tiba-tiba saat Shiro hendak berpaling, ia tak sengaja melihat sesuatu dengan penglihatan Thermography-nya.


"Esema-sama, aku melihat sesuatu," Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Darren.


"Dimana?"


"Di sana," Shiro menunjuk jauh ke balik asap.


Darren menyipitkan matanya dan benar saja. "Iya, benar! Ada dua orang di sana."


Mereka langsung pergi menghampirinya.


.


.


.


Akira merintih kesakitan. Beberapa tulang nya telah remuk, khususnya di bagian lengan kiri.


"D-Dia terlalu kuat," Akira terus merintih tapi masih tetap berdiri dengan pedang di tangan kanannya. "Tapi ia tak boleh masuk ke kota. Aku harus mengalahkannya di sini."


Tomatsu berjalan perlahan dari balik asap. Dengan aura yang mengintimidasi, ia membuat Akira merasa mual.


"Aura ini sangat menekan," Ucap Akira dalam hati sambil memegangi perutnya. "Kalau manusia biasa pasti sudah pingsan."


Berdiri di hadapan Akira, Tomatsu merendahkan badannya dan menyentuh dagu Akira dengan tajam. Akira terus merintih tapi tenaganya sudah hampir habis.

__ADS_1


"Kau... bukanlah orang yang ku cari," Ucapnya dengan nada gelap, seakan ia bisa membunuh Akira kapan saja. Tapi ia melempar Akira hingga menghantam tanah dan meninggalkannya begitu saja.


"Agghh!" Rusuk Akira mulai retak. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai hancur. "A-Aku harus bertahan."


Ia kembali bangkit berdiri dengan sempoyongan sambil bertumpu dengan pedangnya. Ia menatap Tomatsu yang berjalan menjauh darinya.


"Takkan ku biarkan makhluk seperti mu menghancurkan Friedlich!" Teriak Akira sambil mengulurkan tangan kirinya yang lemas. "Emerald Bullet!"


Peluru-peluru hijau muncul dan menyerang Tomatsu dari belakang tanpa diketahuinya. Akira menyeringai dengan percaya diri, tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan.


"Kau lengah," Ucapnya pelan.


Seett... Tomatsu menghindar tanpa menoleh sedikit pun. Tubuhnya seakan meregang dan lentur. Peluru-peluru itu meleset tanpa menyentuhnya.


"A-Apa!?" Akira terkejut melihat itu.


Tomatsu tak berpaling. Ia terus lurus berjalan menuju kota tanpa memedulikan Akira lagi.


"Kau!" Akira menjadi kesal. "Setidaknya hargailah musuh yang sedang kau lawan!"


Tomatsu tetap tidak menoleh. Ia hanya mengibaskan rambut panjangnya dengan arogan dan terus berjalan.


"K-Keparat!" Akira merapal mantra lagi. "Emerald Touch!"


Kristal-kristal hijau mulai menusuk bagian tubuh Tomatsu. Tapi lagi-lagi, kejadian yang sama seperti sebelumnya terulang kembali.


Setiap bagian tubuhnya yang mengkristal dipotongnya tanpa berpikir dan langsung tumbuh dengan seketika.


Akira melotot dengan ekspresi keras. "S-Sebenarnya Raja Iblis macam apa kau ini?"


Tomatsu menjawab sambil menyeringai. "Aku, Tomatsu. Satu dari tujuh Raja Iblis sejati."


Ekspresi Akira semakin keras. "R-Raja Iblis sejati-- Tidak mungkin! Semua Raja Iblis sejati telah mati!"


"Kebohongan apa lagi yang mereka ajarkan hah?"


Tomatsu kembali berjalan meninggalkan Akira.


"Oy!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari balik asap. "Tomatsu, ku tantang kau untuk bertarung."


Tomatsu menoleh.


"Siapa kau?" Tanya-nya.


"Mokal yen sampeyan ora ngerti," Balas suara itu.


Seketika Tomatsu langsung sadar. Yang ia ajak bicara adalah Darren. Ya, ia telah tiba, dengan Shiro di sampingnya.

__ADS_1


"Kau-- Pemuda waktu itu," Ucap Tomatsu dengan nada geram. "Jadi kau bersama dengan mereka."


Darren tak mengerti, tapi ia tetap meladeninya.


"Jadi, apa yang kau mau?" Tanya Darren dengan nada serius.


Berbeda dengan sebelumnya bersama Akira, kali ini Tomatsu berpaling. Ia berdiri menghadap Darren dan mereka berdua saling bertukar pandang.


"Sebenarnya, Tomatsu ini cantik juga sih. Kalau di lihat dari penampilannya, dia mungkin termasuk tipe Mbak-mbak Onee-san."


"Kehancuran," Jawaban dari Tomatsu membuat semua orang terkejut.


"K-Kehancuran?" Darren mengulangi dengan terbata-bata. "A-Apa maksud mu?"


"Kalian para manusia, berani-beraninya menantang kerajaan Erfroren. Sekarang, kalian akan menerima ganjarannya," Tomatsu membalas dengan keras.


"Ke-Kerajaan Erfroren?" Darren kemu merengutkan dagu. "Benar sih. Waktu itu, ia mengaku kalau ia adalah penguasa mutlak Kerajaan Erfroren. Tapi setahu ku, tidak ada kerajaan yang pernah berdiri di Erfroren karena suhu disana yang ekstrem."


"Sekarang, akan ku hancurkan kerajaan ini hingga tak tersisa!" Tomatsu langsung menyerang Darren. "Pertama, aku harus membasmi mu dulu!"


Darren langsung siaga. Ia mengeluarkan pedang zamrud dari tangannya dan mengambil kuda-kuda.


"Matilah!" Tomatsu meluncurkan serangan pertamanya.


Tiba-tiba sebuah duri es yang tajam muncul dari dalam tanah dan meluncur tepat ke dada Darren.


"A-Apa!? Dia mengeluarkan sihir tanpa merapalnya!?' Darren terkejut. Ia langsung melompat ke belakang dan menjaga jaraknya.


"Esema-kun, hati-hati! Dia bisa menyerang tanpa merapal," Teriak Akira memperingati. "Jika ia memang Raja Iblis sejati, maka sebaiknya kau waspada. Ia pasti punya serangan rahasia yang belum ia tunjukkan."


Darren menggenggam kuat pedangnya.


"Raja Iblis... Sejati?" Gumamnya dalam hati. "Aku pernah baca di perpustakaan. Raja Iblis Sejati adalah nenek moyang dari para Raja Iblis di zaman sekarang. Mereka semua telah di kalahkan oleh Manusia dan berhasil di segel."


"Tunggu-- Tidak, sepertinya aku agak salah. Di buku tertulis bahwa ke tujuh Raja Iblis telah dikalahkan dan dibunuh. Lalu, darimana aku tahu tentang penyegelan Raja Iblis itu, ya?"


Darren kembali mengambil posisi sigap. Kali ini ia harus serius, atau taruhannya adalah kerajaan ini.


"Majulah, Tomatsu," Ucap Darren dengan percaya diri.


"Kau percaya diri juga," Balas Tomatsu sambil menyeringai. "Akan kupastikan semangat tempur mu akan selalu diingat oleh sejarah."


"Terimakasih, tapi akulah yang akan memberitahu sejarah itu secara langsung," Ucap Darren sambil tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


Darren dan Tomatsu akan berduel. Dengan Friedlich sebagai taruhannya, Darren berjuang mati-matian melawan Tomatsu Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apa Darren akan berhasil memukul mundur Tomatsu, atau apa malah akan ada pengorbanan dari seseorang lagi? Di tunggu ya di episode selanjutnya.


__ADS_2