Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Jenderal Rumah Tangga


__ADS_3

"Michael-san!" Riana segera berlari ke dapur.


Mendengar teriakan tersebut, Michael menoleh dengan wajah kaget.


"Ada apa teriak-teriak begitu?" Ucap Michael.


Riana terdiam. Ia melihat salah satu tangan Michael memegang pisau daging yang hampir keseluruhannya dilapisi bercak merah. Di depannya, meja batu yang digunakan sebagai alas juga nampak hancur setengahnya.


"Eh, jangan-jangan..." Riana mulai menyadari apa yang terjadi.


Tanpa basa-basi, Michael tiba-tiba menyodorkan sebaskom daging yang isinya sudah dicincang.


"Ini daging yang kau suruh potong tadi," Ucap Michael sambil menyodorkannya. Wajahnya kelihatan begitu santai terlepas dari semua kekacauan ini.


"I-Iya, terimakasih," Riana menerima baskom tersebut. "Tapi bagaimana bisa sampai begini?"


Michael menjawab dengan wajah datar. "Pisaunya tumpul. Tidak cukup kuat untuk memotong daging. Jadi ku beri sedikit tenaga waktu memotongnya."


"Tenaga seperti ini kau bilang sedikit?" Batin Riana. "Y-Yah, yang penting dagingnya sudah jadi kan. Sekarang tinggal masak saja."


Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepala Riana. Ia melirik sedikit ke arah Michael sambil memastikan ia tak melihatnya.


"Sepertinya Michael-san tidak cocok dengan pekerjaan-pekerjaan ringan seperti ini. Pengalaman yang ia miliki membuatnya selalu bereaksi berlebihan dengan tugas yang ia hadapi," Pikir Riana. "Apapun yang ia kerjakan pasti berantakan. Aku tidak mau ia melukai dirinya sendiri karena perilakunya itu."


"Aku harus menjauhkannya saat proses memasak. Demi mencegah hal buruk yang mungkin terjadi!"


Riana pun menghampiri Michael. "Michael-san, maaf menyuruh mu tiba-tiba," Ucap Riana.


"Huh, ada apa? Apa aku akan membantu mu memasak juga?"


Riana menggelengkan kepalanya. "Tidak kok. Hanya saja ada masalah mendadak," Balas Riana. "Sepertinya rempah-rempah untuk bumbu masakan sudah habis. Aku takut kita tidak bisa membuat makan malam yang enak dengan bumbu-bumbu sisa ini."


"Maaf Michael-san, aku berbohong. Sebenarnya kita tidak butuh bumbu. Aku hanya ingin kau aman."


Michael menyahut. "Begitu ya. Aku mengerti. Aku hanya perlu mencari bahan-bahan di sekitar hutan, kan?"


Riana tersenyum. "Ya benar. Kalau tidak salah, ada beberapa tanaman rempah di pinggiran hutan. Tidak terlalu jauh dari sini kok."


"Baiklah, aku akan segera kembali."


Michael kemudian pergi dengan mendorong kursi rodanya sendiri. Kesempatan ini pun langsung dimanfaatkan oleh Riana. Ia harus memasak makanan sebelum Michael datang.


Ia segera kembali ke pekarangan. Di sana, ia menyusun kayu bakar dan meletakkan sepasang kayu agak panjang di kedua sisinya.


Setelah perlengkapan memasak siap, ia menusuk daging-daging yang telah dipotong dengan tusukan kayu, hingga berbentuk seperti sate. Kemudian ia meletakkannya di atas kedua kayu panjang sebagai penyangganya.


"Tinggal membuat api."


Riana mengambil dua buah batu, yang memang selama ini ia selalu gunakan untuk membuat api, dan mulai menghantamkannya satu sama lain.


Beberapa percikan api mulai menyala. Tak lama kemudian, kayu bakar tersebut sudah dilahap api. Proses memasak telah mulai.


"Aku hanya perlu memastikan dagingnya terbakar secara merata. Tidak terlalu gosong di satu sisi, dan tidak terlalu mentah di sisi yang lain," Ucap Riana pada dirinya sendiri, seraya membolak-balikan masakannya di atas api.


Tangannya bekerja dengan lihai. Dilihat sekilas saja, bisa ketahuan kalau Riana memang sudah terbiasa melakukan ini selama bertahun-tahun. Tekniknya dalam membolak-balikan daging benar-benar terlihat begitu profesional.

__ADS_1


Tiba-tiba tangannya berhenti bergerak. Matanya menatap ke kekosongan. Dalam hatinya ia berkata, "Apa yang aku lakukan ini salah?" Batinnya. "Aku meragukan Michael-san. Seharusnya aku tidak membohonginya seperti itu. Aku bisa suruh dia duduk diam sambil menyaksikan caranya."


Riana membenamkan wajahnya ke lututnya. "Aku ini jahat ya."


Saat ia diam merenung, tak disadari sebuah bau gosong tercium melewati hidungnya. Riana langsung menegakkan wajahnya dan melihat daging di hadapannya menghitam.


"G-Gawat, aku jadi lupa membaliknya," Ucapnya panik. Ia segera menggerakkan tangannya untuk memegang ujung kayu sate tersebut.


Namun tiba-tiba angin bertiup kencang. Cahaya matahari kembali meredup, diiringi awan yang mulai menutupi langit.


Langitnya..." Batin Riana sambil menengadah ke langit. "Apa mungkin efek mantra Michael-san mulai hilang?"


Tanpa disadari, tiupan angin semakin mengganas. Dedaunan berterbangan, menunjukkan perubahan cuaca yang signifikan.


"Sepertinya aku harus menunda makan malam hari ini," Batin Riana.


Namun tiba-tiba tanpa disadari, tiang jemuran yang berdiri di belakangnya lepas dari tanah. Menyebabkan pakaian yang terjemur terbang ke arah Riana.


Riana terkejut. Pakaian itu langsung menabrak wajahnya dan membuatnya kehilangan kendali atas pijakannya. Ia berusaha mengendalikan diri, namun sadar bahwa sesuatu mengekang tubuhnya. Ia akhirnya jatuh tersungkur ke tanah.


Ia menyingkirkan baju yang menutupi wajahnya, hanya untuk kemudian melihat bahwa sekujur tubuhnya telah dililit oleh tali jemuran.


"Aku tidak bisa bergerak," Ia berusaha menggerakkan badannya, namun sia-sia.


Ketika ia berpikir bahwa keadaan benar-benar kacau, ternyata hal yang lebih buruk lagi terjadi di belakangnya. Sebuah bau gosong-- tidak, tapi lebih tepatnya bau sesuatu yang terbakar, lewat di hidungnya.


Mencium bau tersebut, Riana segera menorehkan wajahnya. Di depan matanya, ia melihat api mulai menyulut ujung tiang kayu yang masih terhubung dengan tali jemuran.


Wajah Riana langsung memucat. Ia tahu betul apa yang sedang terjadi, dan memikirkannya membuat ia panik bukan kepalang.


Ia terus mencoba merobek ikatan tali tersebut, namun hasilnya nihil. Yang ada ia malah membuat kulitnya terluka karena gesekan.


Suhu di sekitar berubah. Lama kelamaan, panas mulai merambat menyentuh kulit Riana. Ia hanya bisa terus mencoba melepaskan diri, walau tahu itu sia-sia.


"Tolong!" Ia berteriak. Seraya asap mulai mengepul di tengah angin yang berkecamuk.


Tiba-tiba, terdengar suara yang datang dari kejauhan. Suara seperti roda yang dengan agresif bergesekan dengan tanah.


"Riana!" Michael muncul seperti seorang pahlawan. Tangannya dengan gesit memutar roda kursinya dengan kecepatan penuh.


"Michael-san," Riana menatap Michael dengan penuh rasa lega.


Michael melihat kayu dan tali yang melilit Riana, sudah terbakar separuhnya. Jika dibiarkan, maka api itu akan mencapai Riana dalam beberapa detik.


Awalnya Michael berpikir untuk mengambil air, namun itu akan memakan waktu. "Agh! Andaikan aku bisa menggunakan sihir air," Gerutunya. "Tidak ada cara lain."


Michael mengulurkan tangannya. Dengan tangan kosong, ia menggenggam kayu yang terbakar dan memutuskan tali yang terhubung dengan Riana.


"Michael-san!" Riana melihat Michael yang nekat membakar tangannya. Ia tak mengira Michael akan melakukan hal semacam itu.


Michael segera membuang kayu yang terbakar dan berbalik menatap Riana.


"Apa kau terluka?" Tanya-nya.


Riana melepaskan diri dari lilitan tali itu. "Tidak. Aku baik-baik saja," Ia kemudian melirik ke tangan Michael yang merah padam. "Michael-san, tangan mu. Kau tadi memegang bagian yang terbakar, ya."

__ADS_1


"Ah, iya. Nampaknya begitu."


Riana langsung mendorong kursi roda Michael dan masuk ke rumah. Di sana ia segera memberi Michael pertolongan pertama.


Ia membasuh lengan Michael dengan air mengalir selama kurang lebih 20 menit. Hal ini bermanfaat untuk mendinginkan luka dan mengurangi nyeri. Selain itu, ini juga mampu mencegah pembengkakan.


Setelah membasuh lukanya, Riana segera mencari obat oleh untuk luka tersebut. Namun kemanapun ia mencari, ia tak menemukan apapun yang berguna.


"Gawat, biasanya ada stok tanaman herbal. Tapi kok tidak ada, ya," Riana mengobrak-abrik seisi lemari.


"Riana," Panggil Michael. Ia kemudian menunjukkan sesuatu di tangannya. Seikat tanaman aneh berwarna hijau dengan permukaan yang dipenuhi duri-duri tumpul menyerupai sisik. "Mungkin kita bisa gunakan ini."


Riana langsung mengenali tanaman itu. "Ah! Lidah buaya!"


Ia segera mengambilnya. Tanaman itu ia potongan-potong hingga bagian dagingnya muncul. Dari bagian daging itu, ia mendapatkan semacam gel yang dimana dapat digunakan sebagai obat oles.


Riana mengoleskan gel itu ke luka Michael secara perlahan. Ia memastikan Michael tidak kesakitan, walau sebenarnya Michael tidak merasakan apa-apa berkat latihan fisiknya selama ini.


"Michael-san, maaf ya," Ucap Riana. "Aku malah membuat mu terluka. Padahal seharusnya aku yang melindungi mu."


Michael memandang wajah Riana yang begitu dipenuhi rasa bersalah. Ia tak henti-hentinya meminta maaf dengan nada menyesal.


"Hey, apa maksud mu melindungi ku?" Balas Michael. "Aku ini tidak lemah. Aku cuma dihalang oleh kaki ini saja."


"Karena itu, aku tidak boleh melepaskan mu begitu saja. Katherine-san bilang kalau aku harus jadi pelindung mu," Sahut Riana.


"Wanita itu ya. Kau masih memikirkan kata-katanya?"


Riana mengangguk. "Habis, kalau bukan aku siapa yang akan melindungi mu? Jika kau jatuh dari kursi roda, siapa yang akan membantu mu berdiri? Jika kau kesulitan mengambil sesuatu di tempat tinggi, siapa yang akan mengambilkannya untuk mu?"


Michael terdiam tanpa kata. Kata-kata yang barusan diucapkan Riana, seakan masuk jauh ke dalam hatinya. Bagai air yang mengalir, memberikan kesuburan di tanah yang sudah lama gersang.


"Dia begitu pedulinya dengan ku?" Batin Michael.


Ia tertawa kecil, dengan wajah agak tersipu. "Terimakasih, Riana. A-Aku tak menduga kau akan sekhawatir itu," Ucapnya.


Riana mengangkat wajahnya, menatap Michael dengan mata yang bersinar. "Tentu saja aku khawatir. Aku tidak akan membiarkan orang yang telah menolong desa ini kesulitan," Ucapnya. "Terlebih jika itu kau."


Michael sedikit terkejut, namun ia segera mengganti topik. "Ngomong-ngomong, bagaimana hasil kerja ku hari ini? Aku ingin meminta penilaian jujur dari mu," Ucapnya dengan wajah yang memerah.


Riana menggaruk kepalanya. "K-Kau mau minta penilaian jujur, ya?" Ucapnya. "Baiklah, aku akan jujur. Penilaian ku adalah... C!"


"Ehh! C!?" Michael terbelalak. "Bukankah aku sudah melakukan semuanya dengan benar?"


"Hasilnya memang benar, tapi cara mu berlebihan. Untuk menjemur pakaian saja kau harus menggunakan sihir gila itu. Dan untuk memotong daging, kau sampai menghancurkan meja alas-nya."


"Yah... soal itu," Michael membuang tatapan matanya. Ia tak mau melihat tatapan serius Riana. "Huff, mungkin aku memang butuh latihan lagi. Tapi setidaknya daging untuk makan malam aman, kan?"


"Tentu saj-- Eh, tunggu. Seperti aku teringat sesuatu."


Mereka berdua segera pergi ke pekarangan, hanya untuk melihat daging yang Riana bakar gosong hingga menghitam. Pada akhirnya, daging tersebut tidak dapat terselamatkan.


"Sepertinya kita tidak akan makan malam hari ini."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2