Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kebangkitan Hati Nurani


__ADS_3

Wanita itu membuka penutup kepalanya. Nampak sepasang tanduk kecil teracung diantara rambut coklat yang mengilap.


"Izinkan aku memperkenalkan diri. Nama ku Katherine, seorang pengembara," Ucapnya.


Katherine pun melirik ke arah Michael. "Kau manusia, ya? Itu menjelaskan bagaimana sihir cahaya sekuat tadi bisa muncul."


Ari berdiri sambil sedikit sempoyongan. "Terimakasih sudah menolong kami. Sejujurnya, jika kau tidak datang mungkin desa ini sudah lenyap."


"Tidak perlu berterima kasih begitu. Sebenarnya aku yang harus minta maaf," Balas Katherine. "Karena aku bertarung dengan elder lich tadi, kalian jadi kena imbasnya juga. Sekarang sebaiknya kita bereskan kekacauan di sini terlebih dahulu."


Katherine pun membantu mereka berdua berdiri dan berjalan kembali ke pusat desa. Para warga pun mulai keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyambut mereka bertiga dengan sorak.


Namun tetap saja, sorak kemenangan tidak dapat menutupi duka atas orang-orang yang telah pergi dalam insiden ini. Mayat-mayat yang bergelimpangan pun dikubur.


Selain sebagai tanda penghormatan, hal ini juga dilakukan untuk mencegah menyebarnya penyakit berbahaya yang disebarkan oleh para undead.


"Katherine-san, kenapa kau bersikeras untuk mengubur mayat-mayat ini?" Tanya Ari seraya tangannya sibuk menimbun mayat di tanah dengan sekop.


"Apa kalian pernah mendengar tentang penyakit terkutuk?" Balas Katherine.


Michael menyahut sambil mengangguk. "Penyakit yang menyerupai efek Wither. Namun berkali-kali lebih mematikan. Merusak tubuh dari dalam. Menghancurkan organ internal hingga menimbulkan kerusakan yang berujung pada kematian."


"Kau hampir sepenuhnya benar," Sambung Katherine. "Nyatanya, penyakit itu tidak hanya sebatas berujung kematian."


"Apa maksud mu?" Michael mengernyitkan alis sambil keheranan.


Katherine berjalan mendekati mayat undead yang setengah bagiannya telah Ari kubur. Ia pun menatap mayat itu, yang tak lain mayat Yanu.


"Kalau tidak salah dengar, undead itu tadinya salah satu teman mu, kan?" Tanya Katherine pada Ari.


Ari mengangguk pelan. "Ya, benar."


Katherine memperhatikan beberapa bagian tubuh mayat itu yang nampak membusuk dengan beberapa gelembung-gelembung kecil yang lengket.


"Begitu ya, akhir-akhir ini penyakitnya telah menjadi lebih kuat," Kata Katherine dengan wajah serius.


Michael menyahut. "Sebenarnya ada apa? Apa yang kau bicarakan?"


Katherine menoleh padanya. "Biar ku jelaskan. Singkatnya, penyakit itu memiliki efek selain kematian. Setelah mayat dari inangnya mati, maka penyakit itu akan mengendalikan fisik mayat tersebut."


Bulu kuduk Ari langsung berdiri mendengarnya, sementara Michael nampak mengelus dagunya.


"Jadi selama ini. Undead yang kita lawan adalah hasil dari penyakit terkutuk?"


"Benar," Sahut Katherine.


"Tapi, bagaimana penyakit semematikan ini bisa muncul? Apa ada sumber wabahnya?"


Katherine menatap Michael tajam-tajam. "Aku baru menyadari sesuatu," Ucapnya. "Kau manusia. Aku tidak bisa memberitahu semua rencana ku pada mu."


Michael tersentak. "Kenapa tidak? Bukankah sebaiknya semua orang tahu tentang ini?"


"Aku sudah tahu bagaimana sikap manusia. Mereka memanfaatkan semua hal yang mereka tahu untuk menguasai berbagai hal," Sambung Katherine. "Saat mereka berhasil mencapai sesuatu, mereka tidak merasa puas. Mereka akan mencari lebih, walau itu harus merugikan pihak lain. Dan siapa tahu, kau akan memanfaatkan informasi penting ini untuk kepentingan pribadi mu sendiri."


Michael merasa jengkel. "Tidak akan. Aku... hanya ingin membantu," Ucapnya. "Aku tidak akan memanfaatkannya untuk melawan kalian."


"Oh benarkah!? Bagus dong," Balas Katherine dengan nada sarkas. "Kalau begitu jelaskan padaku tentang sihir cahaya mu tadi. Sihi cahaya sekuat itu pasti hanya bisa digunakan oleh orang-orang terlatih. Seperti tentara kerajaan. Dan aku tahu betul, kalian tentara kerajaan sangat membenci kami para iblis."


"Aku memang membenci iblis, dulunya. Tapi sekarang keadaan telah berubah. Kau harus percaya pada ku. Aku berpihak pada desa."


"Siapa tahu? Mungkin saja kau hanya memanfaatkan mereka," Ucap Katherine. Bibirnya semakin tajam. "Jika kau ingin memenangkan kepercayaan ku, maka buktikanlah! Aku tahu kalian para tentara kerajaan memiliki harga diri tinggi."


Michael nampak jengkel mendengar ucapan Katherine. Namun harus bagaimana lagi? Ia tak punya pilihan selain membuktikan dirinya, demi mendapatkan informasi berharga itu.


"Tapi aku harus melakukan apa?" Michael nampak berpikir.


Namun semakin ia berpikir keras, ia semakin merasa Katherine menatapinya dengan tatapan penuh curiga.


Tiba-tiba Riana muncul. Ia membawa piring dengan beberapa cangkir gelas di atasnya. Ia sepertinya hendak membawakan minuman pada kakaknya dan lainnya yang bekerja mengubur mayat.


"Riana, bisa kemari sebentar?" Panggil Michael.


Riana menghampirinya dengan wajah polos. Ia mengira Michael ingin meminta minum.


"Ada apa Michael-san?" Tanya-nya.


Michael duduk di tanah dan meletakkan tongkatnya. Riana pun ikut duduk sambil meletakkan piring itu di atas tanah.


"Bisa tolong minum ini sedikit?" Ucap Michael sambil mengambil secangkir minuman dan menyodorkannya pada Riana.


Riana yang kebingungan pun mengambilnya tanpa curiga sedikitpun. Ia mengangkat cangkir itu ke dekat hidungnya, hingga ia bisa mencium wangi teh yang ia buat sendiri. Tak lama kemudian, ia pun meneguknya.


Ia meneguknya hingga habis setengahnya. Setelah minum, ia pun menarik bibirnya hingga kelihatan seuntai benang saliva membentang diantara bibir dan mulut cangkir itu.


"Sudah," Ucapnya. "Sebenarnya untuk apa, Michael-san?"


Michael langsung mengambil cangkir itu dari tangan Riana. Tanpa ragu, ia langsung menempelkan mulutnya ke cangkir yang sama dan meminum tehnya.


Ia meneguknya hingga habis. Ari dan Riana terkejut saat melihatnya.


"Michael-san!" Wajah Riana terbelalak, sementara Ari diam terpelongo di sampingnya.


Katherine menyeringai, walau ia awalnya tak menyangka hal ini. "Woah, ternyata kau sudah membuang harga dirimu sebagai prajurit ya," Ucap Katherine. "Sungguh tak ku duga. Padahal minum dari gelas yang sama dengan monster merupakan suatu perbuatan rendah bagi kalian para manusia."


Michael meletakkan cangkirnya. "Kau percaya sekarang?"


Katherine tersenyum. "Ya. Itu cukup bagi ku. Karena aku pernah bertemu seseorang yang memiliki hubungan mendalam dengan monster sebelumnya."


"Langsung saja. Beritahu aku tentang penyakit itu."


"Hoh, tanpa basa-basi ya," Katherine menarik nafas. "Sebulan lalu, aku melakukan sebuah penyelidikan. Aku mengikuti jejak Raja Iblis Kegelapan."

__ADS_1


"Raja Iblis kegelapan!?" Michael terkejut.


"Benar. Ia dan anak buahnya sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang besar," Sambung Katherine, seraya mengambil teh dari piringan yang Riana bawa.


"Rencana?"


Katherine meneguk tehnya perlahan. Kemudian menatap Michael. "Rencana untuk memulai perang," Ucapnya.


Michael langsung tanggap dengan pembicaraan Katherine. Ia langsung melirik ke arah mayat undead di seberang.


"Jangan-jangan, ia menciptakan penyakit ini sebagai senjata perang," Tebak Michael. Masih sulit dipercaya baginya hal semengerikan benar-benar terjadi.


Katherine hanya mengangguk. "Sejauh ini hanya informasi itu yang ku dapat. Aku mencoba mendapatkan informasi lain dari elder lich tadi, namun ia sangat setia pada Tuannya dan tak mau membuka mulut."


"Kenapa kau sampai melakukan hingga sejauh ini?" Tanya Michael tiba-tiba. "Benar apa kata elder lich tadi. Jika Raja Iblis Kegelapan menang, bukankah kalian para iblis juga yang akan mendapat keuntungan?"


Katherine menunduk muram. "Ceritanya agak panjang. Salah satu teman terdekat ku dibunuh olehnya. Padahal ia hanya iblis biasa yang mencoba berbuat benar."


"Iblis membunuh iblis? Ternyata tidak hanya manusia saja ya," Sambung Michael.


"Dunia ini kejam, Mas Ksatria. Apa yang berdiri di sisi kita, bisa berpindah ke depan dan menghalangi kita. Ujung-ujungnya, bukan ras yang menentukan baik dan benar. Namun jiwa kita masing-masing."


Michael terdiam dengan wajah merenung.


.


.


.


Hari telah semakin gelap. Hampir sepenuhnya sisa-sisa kekacauan telah dibereskan. Mayat-mayat undead pun dikubur agak jauh dari desa untuk memperkecil kemungkinan menyebarnya wabah.


Warga desa pun menyambut kedatangan Katherine sebagai penyelamat desa. Ia diundang untuk makan malam bersama para penduduk dan berpesta hingga tengah malam.


Sementara Michael hanya duduk di luar, memandangi bulan yang bersinar diantara bintang-bintang yang gemerlap. Ia sendirian, sambil merenung ditemani kedua tongkatnya di sampingnya.


Saat ia memandangi bintang, tiba-tiba Riana datang dengan sepiring makanan.


"Michael-san," Panggilnya. Ia kemudian memberikan makanan itu. "Makan dulu, sudah malam."


"Ah iya. Terimakasih," Michael menerima piring itu.


"Apa kau tidak mau ikut?" Tanya Riana sambil menunjuk tempat pesta berada.


"Duluan saja. Aku masih ingin mencari udara."


Riana merebahkan badan di samping Michael. Ia duduk bersamanya dan memandang kepada bulan yang sama.


"Bulannya indah, ya," Ucap Riana.


"Ya," Balas Michael singkat. Ia kemudian kembali melayangkan pandangan ke langit.


Rasanya aneh duduk bersama seorang iblis. Ini adalah pertama kalinya ia bisa sesantai ini di samping makhluk yang ia anggap musuh.


"Riana, terimakasih ya," Ucap Michael tiba-tiba.


"Eh?" Riana menoleh terkejut. "Ada apa tiba-tiba begini?"


"Aku hanya merasa, kau benar-benar mirip dengan mendiang ibu ku," Sambung Michael. "Kau dan dirinya punya banyak kemiripan."


Riana tersenyum riang. "Begitu ya. Aku lega mendengarnya."


Michael menatap kedua kakinya yang lumpuh. Wajahnya berubah jadi sedikit muram. "Mungkin aku memang terlalu mengedepankan ego ku di masa lalu. Sekarang aku mendapatkan ganjarannya."


Riana meletakkan tangannya di atas kaki Michael. "Mungkin semua ini memang sudah diatur," Ucapnya sambil tersenyum. "Takdir sengaja mempertemukan kita. Jika kau tidak terluka dan tidak datang ke sini, mungkin desa ini juga sudah hancur."


"Terimakasih, Michael-san," Sambung Riana dengan nada lembut.


Angin bertiup sepoi-sepoi. Rambut perak Riana yang mengkilap berkibar dengan bermandian cahaya bulan yang indah.


Mata Michael sekali lagi tertuju pada muka Riana yang semakin lama ditatap semakin cantik.


"Cantik," Michael tertegun hingga keceplosan.


Riana langsung menoleh dengan wajah yang memerah. "E-Eh!?"


Michael langsung menutup mulutnya. Mukanya mulai panik. "S-Sial, kenapa aku bisa keceplosan." Pipinya juga ikut memerah.


Riana memalingkan wajahnya. Ia mulai menggerak-gerakkan tangannya dengan canggung. Walau rautnya tidak kelihatan, namun ia jelas masih tersipu memerah.


"T-Terimakasih," Balas Riana kecil.


Michael kaget, namun segera membalasnya, "I-Iya, sama-sama."


Keheningan sempat memenuhi suasana diantara mereka. Michael masih tidak percaya apa yang barusan ia katakan. Sementara Riana masih tersipu dengan pipi yang merah merona.


"M-Mau makan?" Ujar Michael dengan wajah merah.


Riana melirik. "B-Boleh."


Michael dan Riana pun berjalan menuju tempat dimana pesta diselenggarakan.


Michael sebenarnya tidak mengharapkan banyak di pesta itu. Ia hanya ingin menghargai para warga karena telah menyelenggarakan pesta tersebut dan menyediakan banyak makanan, walau mereka sebenarnya sedang berduka.


Ia memasuki pesta dan disambut oleh seseorang yang ia pernah lihat sebelumnya.


"Om ksatyia!" Rio, si bocah iblis itu muncul.


Seketika itu juga, para warga langsung menoleh dan menatap Michael. Michael terdiam. Ia sudah menebak pasti kehadirannya akan merusak suasana.


"Dia akhirnya muncul ya," Ucap salah seorang warga.

__ADS_1


Michael menundukkan wajahnya. Ia perlahan berkata, "Maaf, aku hanya ingin mengambil maka--"


Namun ucapannya terpotong. Para warga langsung datang menyerbunya. Michael tak menduga ini. Ia langsung mempersiapkan posisinya untuk menerima serangan para warga.


Grabb! Sebuah tangan menyambar salah satu lengan Michael. Michael terkejut. Ia mencoba mempertahankan pertahanan, namun tangannya tidak begitu kuat. Ia kalah dan salah satu tongkatnya jatuh.


"Sial, aku akan jatuh."


Grabb! Tiba-tiba sesuatu menahan punggungnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat beberapa warga menopangnya dari belakang, hingga mencegahnya terjatuh.


"Michael-san, terimakasih telah membantu kami," Tiba-tiba seorang iblis tua menjabat tangannya. Nampaknya semua ini hanya salah sangka.


Wajah Michael berkeringat. Dikerumuni oleh para iblis, membuatnya sekilas mengingat masa-masa militernya saat perang melawan monster.


Ia mengatur nafasnya. Kemudian ia melihat wajah para warga.


"Mereka..."


Senyuman lebar dengan wajah penuh rasa bersyukur. Mereka tidak main-main. Mereka benar-benar berterimakasih dan tidak berniat menyerang dirinya.


Sebuah pemandangan yang berbanding terbalik dengan di medan perang. Di sana ia dikelilingi oleh iblis yang berlumur darah dan wajah yang saling benci. Namun di sini, semuanya begitu hangat. Untuk sesaat, Michael lupa bahwa yang di depannya adalah iblis.


"Om ksatyia," Rio berlari menuju Michael. Ia kemudian memeluk kakinya erat.


Entah kenapa tubuh Michael seakan tidak menolak badan bocah itu. Ia melepaskan jabatan tangannya dan merendahkan badan untuk membalas pelukan bocah itu.


Nampak air mata mengalir di pipi Rio. Ia pasti sedih karena kehilangan ibu-nya.


"Om ksatyia, m-mama..." Tangisnya penuh isak.


"Cup cup, jangan menangis lagi," Michael mengelus rambutnya. "Laki-laki harus kuat. Walau ibu mu tiada, ia pasti tetap ingin melihatmu tersenyum."


Rio menyeka air matanya. "Mikel-san, aku rindu ibu."


"Ibu mu pasti akan selalu ada di sampingmu. Hanya saja kau tidak bisa melihatnya," Ucap Michael lembut.


"Benarkah?"


Michael mengangguk. "Aku serius. Makanya, jangan menangis lagi. Ibu mu pasti sedih kalau melihat mu."


Michael kemudian mengelap air mata bocah itu. Tanpa disadarinya, ia mulai berpikir. Sejak kapan ia jadi peduli dengan para monster itu?


Katherine tiba-tiba muncul dari antara kerumunan. Melihat Michael, membuatnya tersenyum lebar.


"Jadi bagaimana menurut mu?" Tanya Katherine. "Mereka semua tersenyum, berkat mu."


"Aku... tidak tahu bagaimana mengatakannya," Balas Michael.


Katherine tersenyum. "Melihat mu sekarang, membuatku teringat akan seseorang. Ia juga seorang manusia, namun mencintai kami para monster."


"Mencintai?"


"Bukan dalam arti senonoh," Katherine membalas. "Ia orang yang hebat. Ia pernah menyelamatkan ku sekali dari penyakit terkutuk itu. Jika tidak ada dia, aku mungkin takkan berdiri di tempat ini."


"Dia... terdengar seperti orang hebat. Ku harap aku bisa bertemu dengannya kapan-kapan."


Tak lama kemudian, Ari dan Riana muncul dengan membawa sesuatu. Sebuah kursi kayu dengan roda di kedua sisinya.


"Michael-san, aku dan kakak membuat ini untuk mu!" Ucap Riana.


Michael terpana. "Untuk ku?"


Ari mulai memperkenalkan alat buatannya. "Kursi roda kayu model terkini. Punya roda yang dapat berputar halus. Ditambah dengan tempat duduk yang sudah ku modifikasi, walau cuma dikasih bantal doang. Dan juga, pegangan di belakangnya sebagai dorangan. Jadi jika kau lelah mendorong dirimu sendiri, kau bisa minta tolong seseorang untuk mendorong mu dari belakang."


"Aku mau mendorong Michael-san!" Ucap Riana tiba-tiba.


Ari langsung mengeluh. "Seharusnya aku gak usah masang pegangan itu."


Para warga tertawa melihat kelakuan kakak beradik albino itu. Namun mereka langsung teralihkan oleh sesuatu yang lain.


"Ha ha ha," Tanpa disadari, Michael mulai tertawa. Wajahnya begitu gembira dengan ekspresi tulus tanpa paksaan.


Wajah Riana berseri-seri. "Michael-san... tertawa."


Beberapa linang air mata mencuat karena tawanya. Michael pun menyekanya dan tersenyum lebar. Ini pertama kalinya sejak terakhir kali ia tersenyum ceria seperti itu.


"Kapan terakhir kali aku tertawa tulus seperti ini? Ah aku ingat... waktu saat bersama ibu ku. Semenjak ia pergi, banyak hal telah berubah pada ku."


Michael memandang orang-orang di depannya. Riana, Ari, Rio, para warga, dan juga Katherine.


"Terimakasih, semuanya," Ucap Michael.


Semua orang disana terpana pada Michael. Mereka tak mengira akan mendengar Michael mengucapkan terimakasih selembut itu.


Michael kemudian menoleh pada Riana. "Riana, terimakasih banyak."


Riana tersipu. Ia mulai menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah.


Michael melanjutkan perkataannya. "Semuanya, jika kalian tidak keberatan. Apa aku boleh tinggal di sini lebih lama?"


Ari langsung menyahut. "Tentu saja boleh. Siapa yang akan melarang," Ucapnya. "Asal kau jangan aneh-aneh dengan adikku."


Sekali lagi suasana diisi gelak tawa. Para warga pun menyambut Michael sebagai warga baru di desa tersebut. Sementara Katherine hanya terus tersenyum memandangi pemandangan indah di depan matanya.


Michael tertawa bahagia sekali lagi. Ia sangat senang.


"Darren, apa ini yang selama ini kau perjuangkan?"


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2