Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Proyek Undead


__ADS_3

"Kami menyebutnya: Waktu dalam Botol."


Ravenna mengerutkan alisnya. "Waktu dalam botol? Mempercepat waktu? Apa maksudnya?"


Darren menyambung. "Maksudnya, ini adalah benda yang mampu mengendalikan waktu," Membuatnya terdengar seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.


Di dunia asalnya, hal semacam ini hanyalah sebuah fiksi ilmiah yang hanya muncul du film-film. Di dunia nyata, hal semacam ini tidaklah ada. Bahkan sejauh ini, belum pernah ada pembuktian pasti tentang apa waktu itu sebenarnya. Entah itu sebuah entitas, atau hanyalah ilusi yang meliputi kehidupan manusia.


"Teknologi seperti ini seharusnya mustahil untuk dibuat. Tapi mengingat dunia ini penuh dengan kemungkinan tanpa batas melalui sihir, aku cukup percaya dengan perkataannya." Batin Darren. "Walau begitu, ada baiknya aku memastikannya lebih dalam."


Darren melepas pandangannya dari kalung itu, dan melirik Serina. "Apa kau membuat alat ini sendiri?" Tanya-nya.


Serina menggeleng. "Kekuatanku adalah ruang, bukan waktu."


"Jadi siapa yang membuatnya?"


"Seorang Dewa."


Mendengar itu, Darren dan Ravenna tersentak. Dewa? Bukankah agak aneh jika seorang bawahan Raja Iblis memegang benda ciptaan Dewa? Kecuali jika ternyata Dewa tersebut berhasil dibunuhnya dan menjarah artefak miliknya.


"Raiko?" Ravenna memberi sinyal. Yang disusul sebuah gelengan dari serigala itu.


"Tidak ada kebohongan."


Darren kembali mengamati kalung itu. Di liontinnya, memang terdapat secuil pasir di dalam wadah berbentuk kapsul jam pasir klasik itu. Dan nampaknya, sudah hampir setengahnya terjatuh ke sisi kapsul bawah.


"Apa mungkin ini berarti ia pernah menggunakannya?" Darren bertanya-tanya. "Jika benar begitu, kurasa sekarang semuanya masuk akal. Aku merasa bahwa kota ini berkembang begitu cepat. Terlalu cepat malah. Apa itu karena efek kalung ini?"


"Dari wajahmu, sepertinya kau berhasil menyimpulkan sesuatu," Potong Serina tiba-tiba, seolah ia membaca pikiran Darren. "Memang benar. Aku pernah menggunakan benda itu sebelumnya."


Darren menggertakkan giginya. "Apa yang telah kau lakukan?"


"Bukannya sudah jelas? Untuk mempercepat putaran waktu di kota ini," Jawabnya. "Kalian seharusnya sudah sadar, kan, tentang penyakit terkutuk yang sudah menyebar?"


Darren dan Ravenna tersentak bersamaan. Jadi selama ini mereka sudah jatuh ke dalam rencana Raja Iblis itu.


"T-Tidak mungkin." Ravenna nampak tak percaya dengan kenyataan ini.


Sementara Darren mengepalkan tangannya dengan wajah geram. "Raja Iblis itu-- Dasar keparat. Apa yang ia rencanakan?"


Serina memasang raut acuh tak acuh. "Yah, yang pastinya mengubah seisi kota jadi undead. Tapi entahlah. Ia selalu menyimpan banyak rahasia."


Darren tak menduga sesi interogasi ini akan malah jadi begini. Ia mengharapkan informasi tentang keberadaan Raja Iblis itu atau informasi tentangnya. Namun ia malah ditimpa dengan kenyataan buruk yang bisa membahayakan teman-temannya.


"Sialan. Apa ada cara untuk memutarbalik efeknya?" Teriak Darren pada Serina.


Tapi succubus itu hanya kembali menggeleng. "Benda itu hanya mampu untuk memajukan waktu. Bukan memundurkannua. Tidak ada jalan untuk kembali," Ucapnya.


"Bagaimana ini, Darren-kun?" Ravenna menoleh pada Darren. Menunggu tanggapannya. "Aku harap ini sebuah kebohongan. Tapi Raiko mengatakan yang sebaliknya."


Darren hanya bisa menggeram sambil menggertakkan giginya. Ia kebingungan. Raja Iblis itu lagi-lagi telah satu langkah di depannya. Dan bahayanya, hal ini menyangkut keselamatan semua orang di kota.


Percepatan waktu alat itu memang sudah terhenti. Namun efek dari semua yang telah terjadi takkan hilang. Penyakit-penyakit itu hanya akan terus berkembang. Perlahan tapi pasti. Dan pada akhirnya, kemungkinan terburuk adalah nyawa orang-orang akan terancam.


"Kalau begitu, kita hanya perlu mengobati penyakit itu saja, kan?" Ujar Darren tiba-tiba. Pandangannya terpaku ke bawah, sesaat kemudian terangkat dengan tatapan penuh yakin.


Ravenna menoleh terkejut. "Mungkinkah-- Tidak, Darren-kun. Kau tidak boleh melakukannya!" Ia menghampiri Darren dan menarik pundaknya. "Memaksa dirimu sendiri untuk mengobati semua orang? Kau gila, ya?


"Tapi hanya itu satu-satunya cara. Kalau aku tidak melakukannya, orang-orang bisa mati."


"Demikian juga kau. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan ini. Jadi jangan sampai kau mati bodoh karena perbuatanmu sendiri!"


Ravenna mendekati Darren. Ditaruhnya tangannya ke atas pundak Darren sambil menatapnya dalam-dalam.


"Darren-kun, kau mungkin tidak tahu. Tapi kau sangat berharga bagiku. Kaulah yang memberiku dan adikku kesempatan kedua untuk hidup," Ucapnya. "Aku tahu kau ingin menolong semua orang. Tapi bukan seperti itu caranya. Ayo kita pikirkan ini bersama-sama, dan jangan tergesa-gesa."


Darren hanya terdiam dalam tatapan Ravenna. Perkataannya barusan secara tidak sadar menyentuh hati Darren. Menyadarkannya bahwa ia hampir saja melakukan kesalahan yang sama. Ia harus lebih memikirkan dirinya sendiri juga.


Serina tiba-tiba terkekeh. "Dasar gila. Kenapa kau sampai sejauh itu hingga rela membahayakan nyawamu demi orang lain?" Ucapnya. "Ingin menjadi pahlawan? Ingin menjadi sosok yang dihormati orang-orang? Naif sekali."


Benar juga. Jika dipikirkan secara rasional, ini hanyalah ide bodoh. Ia tahu kalau penyakit ini mustahil untuk dimusnahkan hanya dengan kekuatannya sendiri. Walau jika ia berhasil mengobati semua orang, nyawanya akan terancam. Ketika ia meninggal, apakah ada jaminan bahwa penyakit itu takkan kembali muncul? Sang pencipta penyakit itu, Raja Iblis Kegelapan, masih berkeliaran dan bisa melakukan apapun yang ia mau.


"Hey, Serina. Katakan padaku, apa kau tahu tentang proyek undead Raja Iblis itu?" Tanya Darren tiba-tiba, seolah ia tidak mempedulikan perkataan Serina barusan.

__ADS_1


"Tch, kau tidak mendengarkanku ejekanku tadi ya. Yah, terserahlah. Aku akan mengatakan apa yang kutahu," Balas Serina. "Aku sempat mendengar ini dari perbincangan para jenderal iblis."


"Jenderal Iblis?"


"Ya. Mereka adalah kumpulan-kumpulan makhluk kuat yang bekerja di bawah perintah langsung oleh Raja Iblis Kegelapan. Aku adalah salah satunya lho."


"Lalu apa yang kau dengar?"


"Kalau tidak salah dengar, salah satu dari mereka dipercaya dalam produksi besar-besaran di proyek undead."


"P-Produksi besar-besaran?" Darren tercekam. Ia mengira ancaman di kota ini sudah berbahaya. Tapi ternyata skalanya jauh di atas dugaannya.


Serina mengangguk dengan ekspresi acuh. "Ahh, aku tidak tahu lebih dari itu. Lagipula itu hanya kabar burung dari antara para jenderal."


Darren langsung menarik pedangnya dan mengacungkannya ke arah wajah Serina. Serina langsung terpegun di bawah ancaman pedang tajam itu.


"Katakan semuanya. Jangan sembunyikan satu pun!" Ucap Darren sekali lagi, dengan nada serius.


"I-Iya, iya. Santai sedikit," Ujar Serina. Kemudian melanjutkan, "Raja Iblis sedang bersiap untuk perang. Dari ini saja kau seharusnya sudah mengerti kan, apa tujuan produksi masal itu."


"Menjadikan undead sebagai senjata perang," Ravenna menyimpulkan sambil berdiri tercenung di belakang Darren.


Darren menyodorkan pedangnya semakin jauh. "Katakan, apa kau tahu lokasi produksi itu?"


"Seharusnya, jika tidak salah, ada di Steinfen."


.


.


.


"Aku tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Succubus itu. Tapi jika yang dikatakannya benar, maka kita dalam masalah besar." Ucap Darren sambil duduk melipat tangannya di atas meja. "Apa aku harus pergi mengeceknya sendiri?"


Dari balik rak-rak buku yang menjulang bagaikan dinding, suara Ravenna menyahut sambil diiringi beberapa bunyi kertas yang bergesekan.


"Entahlah. Ini pilihan sulit," Balasnya. "Kalau ini jebakan, maka kedatanganmu ke sana hanya akan membuat rencana mereka semakin lancar. Tapi succubus itu menyangkal tentang tuduhan itu."


"Apa kau pikir ini jebakan?"


"Raiko tak mungkin bisa dibohongi. Jadi, semua yang dikatakannya mungkin bukanlah kebohongan," Balas Ravenna sambil kemudian menarik kursi dan duduk.


Tangannya mulai membuka lembar-lembar koran. Satu per satu halaman ia jelajahi. Hingga beberapa detik kemudian, ia menemukan apa yang ia cari.


"Ini adalah beberapa koran yang dicetak beberapa hari lalu." Ia menyodorkan koran di tangannya sambil menunjukkan halaman yang nampak mencolok. "Coba baca ini."


Darren mengambil koran tersebut, dengan tangan yang lainnya memastikan halamannya tak tertutup. Kemudian matanya mulai bergerak mengikuti kata-kata yang tertera pada bagian atas halaman itu.


"Hantu Penunggu Jalan Tikus," Bacanya.


"Baca yang ini juga." Ravenna menunjuk kalimat lain di bawahnya.


"Jejak Darah Negeri Steinfen."


"Dan yang ini juga."


"Misteri Pos Ronda Angker."


Entah kenapa judul-judul berita ini terdengar seperti judul novel horor buatan anak SMP. Tapi terlepas dari itu, semua ini dimuat oleh sumber koran yang cukup terpercaya. Kalau semuanya memang benar, berarti tak salah lagi, sesuatu memang terjadi di Steinfen.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Ravenna.


Darren meletakkan koran itu kemudian termenung. "Kalau memang kabarnya sudah sebanyak ini, ini bukanlah masalah sepele lagi."


Ravenna menarik korannya dan mulai membaca, namun tidak melepaskan percakapannya dengan Darren. "Kebanyakan sumber dari koran ini berasal dari para petualang. Cukup masuk akal, karena petualang sering menjelajah tempat-tempat berbahaya."


"Petualang, ya. Sebelumnya di rumah sakit, aku sempat mendengar hal yang sama dari grup petualang yang ku obati," Kata Darren. "Salah satu teman mereka terjangkit penyakit kutukan juga. Mereka mengaku baru saja kembali dari Steinfen karena kelulusan."


"Hm, kelulusan? Ah, ternyata akademi itu masih berdiri ya hingga sekarang."


Darren melirik sambil mengangkat alisnya. "Kau tahu tentang akademi petualang?"


Ravenna menurunkan koran dari wajahnya, sehingga kini mata mereka berdua bisa saling bertukar pandang. Kemudian ia mengangguk.

__ADS_1


"Dulu aku sempat menimba ilmu di sana. Tapi itu sudah lama sekali. Karena itu juga aku bisa naik jadi petualang berlian."


"Begitu ya. Kurasa rumor tentang petualang-petualang hebat lulusan akademi itu tidaklah salah."


Ravenna meletakkan korannya. Kemudian kembali menatap Darren.


"Jadi, apa keputusanmu? Apakah kau akan pergi ke Steinfen?" Tanya-nya.


Darren menghembus nafas panjang. Ia sebenarnya takut untuk pergi ke sana. Resikonya belum bisa ia perkirakan. Rasanya ini terlalu mulus. Ia bisa langsung mengetahui lokasi target hanya dengan bertanya. Orang pada umumnya pasti langsung menganggap ini jebakan. Tapi di sisi lain, semua yang dikatakannya adalah kebenaran.


Ia tak punya pilihan. Nasib dunia mungkin bergantung pada keputusannya hari ini.


"Ya. Aku akan pergi, dan akan kumusnahkan apapun yang mereka rencanakan."


.


.


.


[Sebelumnya...]


"Steinfen?" Darren bertanya pada Serina. "Apa ada alasannya?"


Serina menjawab dengan acuh tak acuh. "Mana kutahu. Sudah kubilang kalau itu cuma kabar burung. Lagipula, Raja Iblis itu tidak banyak memberitahuku tentang proyek tersebut."


Darren menatap curiga Serina, seolah secara tak langsung menuduhnya bahwa ia diam-diam menyembunyikan sesuatu. Serina menyadari hal tersebut, dan ia jadi merasa terganggu.


"Tidak ada jebakan. Sumpah," Ucapnya. "Jika memang begitu, untuk apa aku menggiringmu sampai ke Steinfen? Jika diperintahkah, aku bisa saja menghabisimu di sini," Sambungnya dengan nada seolah mengancam.


Raiko nampak mengendus-endusnya, dan lagi-lagi ia menggeleng. "Ia tidak berbohong sama sekali."


Darren menyahut ancaman Serina. "Kau yakin? Padahal kau telah dikalahkan dan ditangkap seperti ini? Mencoba menggertak hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."


Serina tidak begitu mempedulikan omongan Darren. Tapi dengan simpel ia berkata. "Besok pun kau takkan melihatku lagi."


.


.


.


[Beberapa jam kemudian...]


Mentari telah tenggelam. Tapi ruangan bawah tanah tidak begitu berubah. Perasaan gelap memang sudah menyelimuti tempat itu sejak awal. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah deretan lentera yang menggantung di dinding.


Namun terdapat satu ruangan yang nampak lebih gelap dari ruangan lainnya. Sebuah ruangan dimana seorang tahanan berbahaya sedang dirantai. Seorang succubus yang baru saja dikalahkan oleh Si Hijau Zamrud.


"Kenapa ia lama sekali sih," Serina menggerutu di tengah gelapnya ruangan itu. Ia ingin menghentak-hentakkan kakinya untuk mengusir bosan, tapi ia baru ingat kalau kakinya belum kembali tumbuh. Kedua lengannya pun masih buntung. Hampir tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengusir bosan.


Tiba-tiba sesuatu menyentuh pundaknya dari belakang. Sebuah jari besar yang kasar, namun sentuhannya begitu lembut. Sangat berbalik.


Serina hampir berteriak karena terkejut. Tapi cepat-cepat tangan itu membungkam mulutnya hingga tak ada suara sekecil apapun yang keluar.


"Ini aku," Bisik Hioni yang perlahan keluar dari portal di dinding sel.


Serina menyingkap wajahnya, membuang tangan Hioni menjauh dari wajahnya. "Tidak usah main kaget-kagetan segala sih!" Bisiknya pelan. Namun nada kesalnya masih bisa terdengar jelas.


Hioni pun menyentuh rantai-rantai yang mengikat Serina. Kemudian dengan senyap ia mematahkannya seolah merobek kertas.


Sreekk~


"Kemampuan baru?" Ujar Serina ketika melihatnya melakukan aksinya.


"Ya. Tapi hanya sebentar. Sebaiknya kita cepat pergi sekarang."


Tanpa ada suara sedikitpun, tanpa ada siapapun yang menyadarinya, Serina dan Hioni berhasil kabur. Meninggalkan rantai-rantai yang terobek di lantai sel. Dan hanya perlu menunggu waktu sampai seseorang menemukannya lalu kebingungan.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2