Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Perasaan Serupa


__ADS_3

"Penyusup itu tahu betul apa yang ia lakukan," Gerutu Dyland sembari menyisir setiap sudut di tempat kejadian. "Hampir tak ada bukti. Semua terlihat baik-baik saja. Pintu brankas tidak dirusak, dan tidak harta yang hilang selain batu itu. Yang kami temukan hanya empat mayat pasukan yang tergeletak di depan pintu."


Dyland masih menyelidiki kejadian itu. Walau pelaku tidak meninggalkan bukti yang benar-benar meyakinkan, namun ini memunculkan spekulasi lain di benak Dyland.


"Pintu yang tidak tergores, dan tidak ada apapun yang mencurigakan. Hanya ada empat mayat, dan dua orang yang selamat. Penyusup itu pikir jika ia tak meninggalkan bukti, itu akan menutupi jejaknya. Namun ia malah menunjukkan caranya sendiri," Dyland memegangi dagunya. "Pintu brankas itu seharusnya dikunci oleh Hain menggunakan teknik spiritnya. Takkan mudah untuk membukanya tanpa seizinnya."


Dyland mengerutkan keningnya.


"Sihir spirit adalah sihir yang rumit. Butuh waktu untuk membongkarnya. Aku cukup yakin kalau Hain dan yang lain takkan tinggal diam saat menyadari ada orang yang berusaha membobol sihir itu."


"Pada akhirnya, Hain dan yang lain pasti akan menangkap pelaku. Pelaku pun tidak akan membiarkannya dan melawan. Tapi anehnya, semua terlihat baik-baik saja."


"Sesuai saksi Hain, pelaku sangatlah kuat. Ia berhasil mengalahkan para penjaga tanpa kesulitan. Tapi, jika ia memang sekuat itu, kenapa ia menyisakan Hain dan Tora?"


"Anehnya lagi, teknik spirit Hain takkan bisa diterobos begitu saja. Spirit milik Hain sangatlah loyal pada dirinya. Jika Hain memerintahkannya untuk mengunci pintu brankas, maka Ia akan melindunginya walaupun harus mati sekalipun. Kecuali suatu alasan tertentu."


"Ada yang aneh disini. Dan aku harus menemukannya."


Dyland hendak kembali menemui Simson dan melaporkan penemuannya. Namun saat ia hendak pergi, seorang dari tim penyelidik menghampirinya.


"Dyland-san," Panggilnya dengan hormat.


"Ada apa?" Dyland menghentikan langkahnya.


Orang itu pun menunjukkan sesuatu. "Ini," Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.


"Ini..." Dyland menatap benda itu. Sebuah pecahan kaca halus. Bentuknya sudah benar-benar remuk, namun Dyland yakin kalau itu bukan kaca biasa. "Berikan pada ku."


Orang itu menyerahkan serpihan kaca itu. Ia kemudian pergi setelah diperintahkan Dyland untuk melanjutkan investigasi.


Dyland menggenggam pecahan kaca itu. Ia meletakkannya di telapak tangannya dan mulai meremasnya hingga tangannya sendiri terluka. Darah perlahan mulai menetes dari telapak tangannya.


"Gh-- Perasaan ini--" Dyland menggerutu dengan wajah sebal. "Sama persis..."


.


.


.


Masa kecil Dyland tidak berbeda jauh seperti anak-anak pada umumnya. Ia adalah anak yang periang dan punya rasa ingin tahu yang tinggi.


Dyland tinggal di kota Fueno, salah satu kota besar di Avon. Letaknya paling dekat dengan pelabuhan dibandingkan kota-kota lain.


Dyland punya sebuah hobi. Hobi yang ia dapat karena mengidolakan ayahnya sendiri. Hobinya adalah berpedang.


Ayahnya adalah seorang tentara dan bekerja di bawah perintah langsung dari raja. Karena itu, ayahnya jarang sekali pulang ke rumah.


Karena ia jarang bertemu ayahnya, Dyland terkadang merasa kesepian. Dari situlah ia mulai berpikir untuk berlatih pedang. Ia bercita-cita untuk menjadi tentara kerajaan, sehingga ia bisa bertemu dengan ayahnya setiap hari.


Ia mulai berlatih dengan mandiri. Dengan pedang kayu buatannya sendiri, Dyland berlatih dengan mengayun-ayunkan pedangnya setiap hari secara rutin.


Semisal hari ini ia berhasil mengayun sepuluh kali tanpa henti, maka esoknya ia akan menambah jumlah ayunannya menjadi lima belas. Begitu setiap hari.


Lama kelamaan, latihannya membuahkan hasil. Ia berhasil mengayun pedangnya seratus kali tanpa henti di saat umur sebelas tahun.


Dan pada umur yang sama, Dyland berhasil membunuh seekor laba-laba raksasa hanya dengan pedang kayunya. Kabar itu pun dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru kota Fueno.


Pada umur empat belas, lembaga kepolisian Fueno mengundang Dyland untuk bergabung. Mereka melihat kemampuan Dyland yang luar biasa dan yakin kalau Dyland punya potensi lebih jauh untuk digali.


Akhirnya Dyland bergabung. Perasaan awalnya adalah rasa bangga dan senang, karena ia tahu sebentar lagi ia bisa menyusul ayahnya.


Pada umur lima belas tahun, Dyland sudah memiliki tim kepolisian sendiri dan menjadikan dirinya sebagai kapten. Ia memimpin tim tersebut untuk mengatasi investigasi atas ancaman-ancaman yang kemungkinan bisa membahayakan Avon.


Suatu hari, muncul kabar burung bahwa Gereja Suci Timur menyusup ke wilayah Avon. Para polisi curiga kalau mereka akan menciptakan keributan di Avon untuk keuntungan mereka sendiri, walau belum jelas apa alasannya.


Tim Dyland dikirim untuk penyelidikan. Mereka diperintahkan untuk mencari kebenaran atas kabar burung itu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Tapi, mereka tidak boleh ketahuan.


Investigasi berjalan mulus pada awalnya. Mereka berhasil kembali ke markas dengan hasil memuaskan. Kabar tersebut pun telah dipastikan benar.


Beberapa orang dari kelompok Gereja Suci memang terlihat berkeliaran di wilayah dekat Fueno. Waktu itu, alasan mereka berkeliaran masih belum dipastikan.


Namun setelah kembali diselidiki dengan seksama, mereka menemukan fakta lain. Mereka berencana untuk mencari Raja Iblis Sejati yang diasumsikan tinggal di Avon.


Para penduduk Avon tahu betul tentang cerita Raja Iblis Sejati. Bagi mereka, para Raja Iblis kuno itu sudah seperti Tuhan mereka.


Dongeng-dongeng dan legenda secara turun temurun diwariskan. Menceritakan tentang tujuh Raja Iblis Sejati yang bertempur melawan para dewa.


Namun mereka tahu kalau sekarang itu tidak lebih dari hanya sekedar dongeng. Para Raja Iblis Sejati telah mati beribu-ribu tahun lalu.


Raja Iblis yang mendirikan dan memimpin Avon telah wafat, dan digantikan oleh Raja Iblis yang lebih kecil. Hal itu masih berlangsung hingga sekarang.


Tapi setelah mengetahui tujuan dari Gereja Suci, pihak kepolisian pun mulai gelisah dan takut. Di benak mereka, ini seperti omong kosong yang nyata.


Kekuatan Gereja Suci memang tidak bisa diremehkan. Apalagi karena mereka memuja Dewa Cahaya dan kepercayaan mereka sangat kuat, sehingga membuat kekuatan sihir mereka juga meningkat.


Pihak kepolisian tahu betul tentang hal ini dan berpikir akan berbahaya jika mereka tetap ingin meneruskan untuk menangkap mereka.


Mereka hendak menutup kasus ini, namun Dyland memberikan usul. Ia mengusulkan untuk meminta bantuan dari pihak militer pemerintah. Menurutnya itu adalah hal yang lebih baik.


Beberapa orang menyetujui pendapat Dyland, namun tidak sedikit juga yang menolaknya mentah-mentah.


Mereka mengatakan bahwa lebih baik membiarkan para orang Gereja untuk berbuat sesuka mereka. Lagipula, mereka takkan mungkin bisa membunuh Raja Iblis Sejati. Itupun kalau Raja Iblis yang mereka incar memang masih hidup.


"Nanging kepiye yen dudu tujuan utama dheweke? (Tapi bagaimana kalau itu bukanlah tujuan utama mereka?)" Ucap Dyland. "Iki bisa dadi wiwitan babagan sing luwih ala. (Ini bisa jadi awalan dari sesuatu yang jauh lebih buruk.)"


Dyland melanjutkan, "Kita ngadhepi rong kasunyatan. (Kita menghadapi dua fakta.)" Ucapnya. "Kasunyatan manawa Raja Iblis sejati isih urip. Lan kasunyatan manawa manungsa wani nglawan Raja Iblis sejati. (Fakta bahwa Raja Iblis sejati masih hidup. Dan fakta bahwa para manusia berani melawannya.)"


"Ana sebab kenapa kabeh kedadeyan. Lan iku ora bisa dingerteni dening kita (Ada alasan dibalik ini semua. Dab itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh kita.)"


Semua orang sempat berpikir kembali setelah mendengar ucapan Dyland. Walau usianya yang masih menyentuh lima belas tahun, namun ia bisa berpikir lebih jauh ke depan dibandingkan orang dewasa. Itulah yang membuat semua orang menghargainya.


Tanpa ada protes dari pihak manapun, para polisi pun setuju dengan usulan Dyland. Mereka kemudian menghubungi pihak militer pemerintah dan melaporkan tentang Gereja Suci yang masuk diam-diam ke wilayah Fueno.


Dalam beberapa hari, sepasukan tentara kerajaan dikirim ke Fueno. Seiring dengan datangnya para tentara, Dyland ditunjuk oleh para polisi untuk menjadi pemimpin pasukan.


Dyland awalnya menolak dengan alasan ia masih belum bisa memimpin komando dengan tepat. Namun, sesuatu mengubah pikirannya.


Di antara para pasukan tentara itu, nampak seorang pria yang sangat familiar di benak Dyland. Ya, itu adalah ayahnya. Sekejap, Dyland langsung menyanggupi jabatan yang diberikan kepadanya.


Tapi, ia tak menunjukan dirinya pada ayahnya. Ia berencana membuat kejutan setelah semua ini selesai.


Beberapa hari sebelum kedatangan para tentara, pihak kepolisian sudah berhasil menemukan lokasi dimana para anggota Gereja Suci bersembunyi. Sekarang, mereka hanya perlu menyerbu ke tempat itu secara langsung.


Mereka bersembunyi di sebuah gedung terbengkalai di pinggir kota. Menurut laporan tim pengintai, terdapat dua pintu masuk di gedung itu. Pintu depan dan pintu belakang.


Penyerbuan pun dimulai. Para tentara bergerak menuju lokasi. Saat hampir tiba di tempat tujuan, para tentara membangun kemah tak jauh dari situ.


Dyland menyarankan untuk tidak tergesa-gesa untuk menyerang. Lebih baik mereka menunggu sebentar sembari memastikan pergerakan musuh. Mereka pun memutuskan untuk bermalam di situ.


Dua hari kemudian, para tentara sudah bersiap untuk bertempur.


Setelah memastikan tak adanya pergerakan mencurigakan dari pihak lawan, mereka menunggu hari menjadi gelap sebelum meluncurkan serangan. Setelah malam tiba, mereka segera bergerak bersama-sama dengan formasi satu pasukan besar.


Saat mereka tiba di lokasi, mereka segera membagi pasukan menjadi dua. Satu ditugaskan untuk menyerbu dari di pintu depan dan satu menunggu di pintu belakang.


Ditengah gelapnya malam, hanya ada cahaya rembulan menyinari mereka. Dyland menatap ke langit sambil membayangkan bagaimana ekspresi ayahnya saat tahu kalau kapten yang memimpin penyerbuan ini adalah anaknya sendiri.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama, pasukan depan segera mendobrak pintu, dipimpin oleh Dyland di barisan terdepan.


Sontak, dihadapan mereka, hanya terlihat seorang manusia berdiri di tengah-tengah ruangan. Ia menatap ke arah Dyland yang berdiri dengan pedang di tangan.


Pakaiannya putih, wajahnya tidak terlihat jelas karena tidak ada cahaya sama sekali di ruangan itu. Yang terlihat hanyalah matanya yang seakan menyala sembari menatap Dyland.


Dyland menelan ludah sembari memerintahkan para pasukannya untuk melawan. Serentak para tentara pun maju mengepungnya.


Manusia itu segera kabur menuju arah berlawanan. Namun Dyland tidak merasa cemas, karena ia tahu pintu belakang sudah di jaga oleh pasukan lain. Tidak ada jalan kabur bagi manusia itu.


Tapi Dyland tetap memerintahkan pasukannya untuk bergerak mengejar manusia itu.


Para pasukan bergerak dengan sorak percaya diri. Mereka yakin kalau penangkapan ini akan segera selesai.


Namun, mereka seketika terdiam saat mendengar suara bising dari arah manusia itu kabur. Suara hentakan kaki yang bergerak serempak, diiringi oleh sorak perang yang berdentum.


Walau mereka sedang berada di dalam ruangan, namun mereka seakan merasa sedang berada di lapangan luas. Dimana tentara musuh sudah menunggu mereka di sisi lain perbatasan.


Keadaan sangat gelap, hingga membuat semua orang kesulitan melihat sekitar. Saat mereka menyalakan obor, mereka tersadar kalau mereka sudah dikepung dari segala arah.


Disetiap sudut ruangan, pasukan musuh sudah menunggu mereka. Seakan sudah tahu kalau mereka akan menyerang tempat ini.


Dyland kepanikan. Ia tak bisa melihat sesuatu dengan jelas karena cahaya obor tidak sampai ke setiap sudut. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengeluarkan pedangnya.


Para pasukan musuh mengeluarkan senjata mereka, seiringan dengan tentara Dyland. Tak lama kemudian, pertempuran dalam ruangan terjadi.


Ditemani oleh cahaya obor yang redup, Dyland mengayunkan pedangnya dengan hati-hati. Ia tidak mau melukai rekannya.


Namun tanpa disadarinya, banyak darah telah bercipratan kemana-mana karena pedangnya.


Pertempuran terjadi semalaman. Saat kedua belah pihak telah kelelahan, kebanyakan dari mereka tumbang karena pingsan. Sisanya tumbang karena kehilangan nyawa.


Cahaya matahari perlahan mulai naik dan masuk melalui sela-sela retakan di dinding. Untuk pertama kalinya setelah pertempuran keras itu, Dyland berhasil melihat sekitarnya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat mayat-mayat yang terbaring di lantai. Hampir semuanya mengenakan pakaian yang sama.


Ia buru-buru segera mencari ayahnya di pasukan yang menjaga pintu belakang. Namun, ia tak menemukan seorang pun dari pasukan itu.


Melainkan, ia malah menemukan mayat mereka di tempat yang sama saat mereka sedang bertempur tadi malam.


Darah memenuhi tempat itu. Dinding-dinding berlumuran darah, dan beberapa kepala telah terpisah dari tubuh orang-orang.


Pikiran Dyland langsung kacau. Bukan karena ia frustasi karena gagal menangkap manusia tadi, tapi karena ia menyadari kalau ternyata selama ini pasukan musuh yang mereka lawan adalah tim yang menjaga pintu belakang.


Karena kondisi gelap tadi malam, semua orang bertarung tanpa memperhatikan musuh mereka. Mereka pun tak menyadari kalau tim lain juga memasuki area pertempuran.


Setelah mencari dengan putus asa, Dyland menemukan mayat ayahnya yang telah terbelah dua di bagian perut. Tidak heran jika ia mati, karena ayah Dyland berada di barisan depan untuk memimpin tim kedua.


Dyland memeluk mayat Ayahnya yang berlumur darah dengan erat. Perlahan, air mata menitis dari pipinya dan terjatuh di kening ayahnya.


Tak lama kemudian, badannya terasa lemas. Ia menjatuhkan tubuh ayahnya ke lantai, dan ia meringkuk sambil memendamkan wajahnya ke antara lengannya.


Saking lemasnya, Dyland mulai menjatuhkan badannya sendiri ke lantai. Dengan posisi masih meringkuk, Dyland menghentak-hentakkan kepalanya ke lantai. Ia sangat depresi.


"Ora ono gunane maneh (Tidak ada gunanya lagi)," Dyland berbicara pada dirinya sendiri. "Kabeh muspra. (Semua sia-sia.)"


.


.


.


Keesokannya, kota digemparkan oleh berita tentang pembantaian sebuah pasukan tentara yang terjadi di gedung tua. Menurut kabar itu, para tentara dijebak dan ditangkap, lalu dibunuh satu-persatu.


Sembari berjalan menuju kantor polisi, Dyland melihat ke sekeliling kota. Hampir di mana-mana semua orang membicarakan berita itu.


Namun ia tahu bahwa ini adalah cara kepolisian. Mereka membuat berita palsu agar tak seorangpun tahu kebenarannya.


Dyland menghela nafas dengan berat. Ia berjalan sempoyongan ke kantor polisi. Semangatnya seakan sudah punah dan ia berjalan bagaikan mayat hidup.


Sesampainya di kantor, ia langsung mengajukan surat pengunduran diri. Namun sebelum ia pergi, salah satu temannya di kepolisian memanggilnya.


"Deloken (Lihatlah)," Temannya menunjukkan sebuah botol kaca di tangannya.


"Gendul (Botol)?" Dyland menyahut lesu.


Temannya mengangguk. "Iki ditemokake ing salah sawijining tendha tentara (Ini ditemukan di salah satu tenda tentara)," Ucap temannya.


Mata Dyland langsung kembali menyala. Ia segera mengambil botol itu dan pergi.


Ia cepat-cepat lari keluar, dan hal pertama yang muncul di kepalanya adalah toko ramuan di kota. Dengan segera pergi ke sana.


Gubrakk! Ia membuka pintu toko tersebut dan masuk tanpa peringatan. Semua orang di sana terkejut dan terdiam.


Dyland menghampiri kasir dan menunjukkan botol itu. "Kandhani, sapa sing tuku ramuan iki? (Katakan pada ku, siapa yang membeli ramuan ini?)" Ucap Dyland sambil menyerahkan botol itu.


Sang kasir menggeleng dengan wajah ketakutan. Ia memang mengaku kalau ia yang membuat ramuan ini. Ini adalah ramuan tidur. Namun, ia tidak ingat kepada siapa ia menjualnya.


Dyland menggenggam botol itu dengan keras. Wajahnya semakin frustasi. Padahal ia hampir bisa menemukan petunjuk, namun semua kembali sia-sia.


Saking kesalnya ia, ia meremas botol itu semakin kuat. Sangat kuat hingga botol itu pecah dan melukai tangannya sendiri.


"Jancok, jancok, jancok, JANCOK!" Dyland berteriak kesal. Ini sudah terlambat baginya.


.


.


.


Setelah berusia tujuh belas tahun, Dyland hidup di sebuah desa kecil bersama ibunya. Pindah jauh dari keramaian kota dan hidup tenang. Bagi Dyland, ini juga bagaikan sebuah terapi.


Rutinitas Dyland selama dua tahun terakhir di desa adalah mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya. Ini memang lebih berat dan penghasilannya juga lebih kecil, namun Dyland menikmati hidup tenang ini.


Saat sore, ia akan pulang ke rumah dan disambut oleh ibunya. Ia akan memberikan uang didapatnya dan tidak menyisakan untuk dirinya sepeser pun. Ibunya kadang merasa tidak enak, namun Dyland bersikeras.


Suatu hari, Dyland sedang mengumpulkan kayu di hutan. Tak terasa hari sudah hampir malam dan Dyland berencana pulang lebih cepat. Dengan setumpuk kayu di pundaknya, ia pun berjalan kembali.


Namun, tiba-tiba ia melihat seorang perempuan yang terluka sedang terbaring di tanah. Dilihat sekilas saja, Dyland tahu kalau ia habis diserang oleh sesuatu.


"Sampeyan ora apa-apa? (Kau baik-baik saja?)" Tanya Dyland dengan wajah datar. "Sampeyan cilaka cukup parah. Apa sampeyan nembe diserang mergo? (Kamu terluka cukup parah. Apa kau baru saja diserang sesuatu?)"


Perempuan itu menyahut. "Ya, dening bear (Ya, oleh beruang)." Perempuan itu kemudian merintih kesakitan. Lukanya sangat lebar.


Dyland langsung membuang kayu-kayunya. Ia menghampiri perempuan itu dan menggendongnya dengan punggungnya.


Perempuan itu sempat terkejut. "Oy oy!"


Dyland mulai berjalan. "Sampeyan babras. Alas iki mbebayani. sampeyan bisa mati yen tetep ing kene (Kamu terluka. Hutan ini berbahaya. Kau bisa mati jika tetap di sini)."


Perempuan itu terdiam. Pelan-pelan, ia mulai membiarkan Dyland membawanya.


"Jenengmu sopo? (Namamu siapa?)" Tanya perempuan itu.


"Dyland," Jawab Dyland singkat. Ia bahkan tak berniat bertanya balik.


Perempuan itu melanjutkan. "Matur nuwun, Dyland. Aku bakal kelingan kabecikan iki (Terimakasih, Dyland. Aku akan mengingat kebaikan ini)."

__ADS_1


Perempuan itu pun dibawa oleh Dyland ke rumahnya. Ibunya sempat kaget saat melihat anaknya membawa seorang perempuan. Namun Dyland menjelaskan semuanya.


Setelah itu, ibu Dyland segera menyiapkan obat dan makanan untuk perempuan itu. Awalnya perempuan itu sempat menolak. Ia bilang bahwa ia baik-baik saja, namun ibu Dyland terus memaksanya.


Akhirnya perempuan itu pun menerima kebaikan keluarga Dyland. Ia makan dan minum obat, dan ia juga bermalam di sana.


Selama beberapa hari, perempuan itu tinggal di rumah Dyland. Karena itu, ia juga jadi sering melihat Dyland melakukan aktivitasnya.


Mulai dari mengumpulkan kayu bakar, hingga berlatih pedang. Perempuan itu memperhatikan semuanya.


Ia jadi penasaran dan akhirnya menghampiri Dyland saat ia latihan.


"Wah, Mas Dyland pancen trampil main pedhang (Wah, kak Dyland jago sekali bermain pedang)," Ucapnya sambil menghampiri Dyland.


Dyland awalnya tidak menghiraukan dan terus mengayunkan pedang kayunya. Namun ia mendengar sesuatu. "Mas... Dyland? (Kak Dyland?)" Ucapnya sambil melirik sedikit.


Perempuan itu menutup mulutnya sendiri. Eh, nuwun sewu. Aku ora sopan (Eh, maaf. Aku tidak sopan)."


"Ora apa-apa. Celuk kaya sing disenengi (Tidak apa-apa. Panggil sesukamu)." Dyland kembali mengayunkan pedangnya. "Nanging, aku uga durung ngerti jenengmu. (Tapi, aku juga belum tahu namamu.)"


Perempuan itu terdiam sebentar.


"Ora apa-apa yen sampeyan ora pengin ngandhani (Tidak apa jika kau tidak mau memberitahu ku)," Sambung Dyland tanpa menoleh.


Namun, perempuan itu langsung menjawab. "Clara," Ucapnya singkat.


Dyland terus mengayunkan pedangnya. "Oke, Clara. Muga-muga sampeyan ora kabotan yen diarani kaya ngono (Baiklah, Clara. Semoga kau tidak keberatan dipanggil begitu)."


Setelah perkenalan singkat itu, Clara terus tinggal di rumah Dyland hingga beberapa minggu ke depan. Awalnya keadaan terasa canggung dengan kehadirannya Clara di keluarga itu, namun lama kelamaan semua mulai normal.


Setengah tahun kemudian, Clara pun diadopsi oleh ibu Dyland, karena Clara mengaku bahwa ia tak punya siapa-siapa lagi.


Saat Dyland mengetahui hal itu, ia tidak begitu peduli dan hanya menanggapi dengan wajah datarnya. Tapi, ia tak keberatan tentang itu.


Semenjak menjadi adik Dyland, Clara mulai sering bergabung dengannya latihan pedang.


Dyland cukup terkejut saat ia tahu bahwa Clara punya teknik bertarung yang hebat. Lebih mengejutkannya lagi, ternyata Clara mahir dalam penggunaan sihir api.


Dari situ juga, Clara mengajarkan Dyland cara menggunakan sihir api. Namun alhasil, Dyland ternyata malah bisa menggunakan sihir air.


Kehidupan baru Dyland di desa kembali berlangsung tenang. Kehadiran Clara di keluarganya pun membuat hidupnya perlahan berubah.


Sifat Clara yang selalu ceria dan positif, perlahan membuat hati dan pikiran Dyland menjadi lebih tenang. Namun, kadang Clara sering ceroboh dan pecicilan, itu juga membuat Dyland sering khawatir dan terus mengawasinya.


Setahun kemudian, muncul keributan besar di seluruh wilayah kerajaan. Sebuah peraturan baru ditetapkan oleh sang Raja Iblis yang memimpin Avon.


Setiap warga harus membayar pajak sepuluh kali lipat dari biasanya. Jika ada warga yang tidak bisa membayar ataupun melawan perintah tersebut, maka mereka akan dikirim ke tambang dan dipekerjakan di sana tanpa digaji.


Malangnya, keluarga Dyland tidak dapat membayar pajak tersebut. Walau Dyland sudah berusaha keras menjual kayu bakar lebih banyak, namun uang mereka tetap tidak cukup.


Hingga pada akhirnya, tentara kerajaan menghampiri kediaman keluarga Dyland dan hendak menangkap mereka semua.


Dyland tidak terima saat melihat para tentara menangkap ibunya, jadi ia melawan. Sempat terjadi pertarungan kecil antara kedua belah pihak.


Namun, Dyland tak mampu menyelamatkan ibunya. Ibunya ditangkap dan dijebloskan ke sebuah kurungan.


Awalnya, Dyland hampir ikut tertangkap, namun Clara segera menarik lengan Dyland dan kabur bersama.


"Ora ana gunane nglawan. Sampeyan mung bakal kalah lan kejiret (Tidak ada gunanya melawan. Kau hanya akan kalah dan tertangkap.)" Ucap Clara sambil menarik Dyland kabur dari para petugas.


"Nanging, ibu ku-- (Tapi, ibu ku)" Dyland ragu.


"Ayo mlayu dhisik (Ayo kabur dulu.)" Clara terus menarik Dyland.


Dyland dan Clara berhasil luput dari para tentara. Tapi, Dyland terus murung. Ia takut kejadian yang sama pada ayahnya akan terulang kembali.


Tapi Clara meyakinkan bahwa ia akan membantu Dyland untuk menyelamatkan ibunya kembali.


Beberapa minggu setelah penetapan peraturan baru itu, sebuah organisasi yang dibangun atas harapan dari para rakyat pun bangkit.


Sebuah organisasi yang berisi orang-orang yang menentang penaikan pajak tersebut. Karena bagi mereka, itu sama saja menyiksa rakyat sendiri.


Mereka adalah organisasi pemberontak. Didirikan dan dipimpin oleh seorang iblis bernama Simson.


Dyland dan Clara pun bergabung dengan organisasi itu dengan harapan untuk bisa menghapus kekejian di negara ini, dan menyelamatkan ibu mereka.


.


.


.


Present Day...


Dyland cepat-cepat berjalan ke kantor Simson. Ia membuka pintu dan melihat Hain, Bagus, dan Clara sedang berdiri di sana, beserta Simson yang duduk di kursinya.


"Simson, lihat ini," Ucap Dyland sambil menyerahkan pecahan kaca di tangannya.


Simson merengut kebingungan. "Apa ini?"


"Ini adalah pecahan botol kaca-- Tidak, ini adalah botol ramuan," Sambung Dyland.


Semua orang di sana terkejut.


"Botol ramuan?" Clara menyahut.


"Ya. Ada yang tidak beres dengan penyerangan itu. Semua seakan terjadi benar-benar mulus," Ucap Dyland. "Aku yakin dengan pecahan kaca ini, kita bisa mencari petunjuk yang lebih kuat."


Simson melipat tangannya sambil mengangguk paham. "Aku mengerti," Ucapnya. "Kau meminta ku untuk pergi ke kota dan menanyakan siapa yang menjual botol ini, kan?"


Dyland mengangguk.


"Baiklah," Simson menoleh kepada Clara dan Bagus. "Clara, Bagus. Aku ingin kalian berdua pergi ke kota dan cari toko yang menjual ramuan-ramuan."


Bagus dan Clara mengangguk bersamaan.


"Dan kau, Dyland," Simson menyambung. "Aku ingin kau melanjutkan investigasi. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang lain."


"Baiklah. Aku paham," Sahut Dyland.


Clara tiba-tiba mengangkat tangannya dan berbicara. "Aku punya permintaan!"


Simson menoleh padanya. "Apa?"


"Aku ingin mengajak Esema," Balas Clara.


"Esema? Kenapa kau mau ia ikut denganmu?"


"Yah, tidak ada alasan khusus. Tapi ia kan juga anggota kita. Bukankah sebaiknya kita mengajaknya juga."


Simson tersenyum kecil. "Baiklah. Aku izinkan. Kau boleh mengajaknya," Ucapnya.


Clara berteriak gembira. "Yeee! Mantap!"


Simson pun beranjak dari kursinya dan menghentakkan tangannya di atas meja. "Penyusup itu takkan menduga ini."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2