Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Permata yang Retak


__ADS_3

Seorang gadis kecil duduk di tepi sungai seraya menatap matahari yang terbenam di depan wajahnya. Dengan kaki telanjang, ia mencelupkan kakinya ke dalam air sungai hingga menyentuh lututnya.


Diterpa cahaya mentari yang kemerah-merahan, mata hijaunya seolah-olah bercahaya bagai permata zamrud yang elegan. Rambut hijaunya yang panjang melambai-lambai di tengah angin sore yang sepoi-sepoi, bagai benang sutra yang telah dicelupkan ke dalam pewarna hijau yang mahal. Di atas telinganya, sebuah jepit berbentuk bunga menempel di rambutnya.


"Aku tidak mau pulang..." Gadis itu bergumam pelan, berbicara pada dirinya sendiri.


"Kenapa?" Tiba-tiba seorang pria berdiri di sampingnya.


Gadis itu terkejut, namun hanya menatapnya tanpa banyak bereaksi. Berbalik dari cahaya mentari, tatapan matanya berubah dari terang hingga gelap tanpa cahaya, bagai tanpa harapan.


"Bukan apa-apa," Jawabnya.


Pria itu mengenakan seragam berwarna abu-abu hitam. Sepertinya ia adalah polisi yang sedang berpatroli di sekitar sini.


"Ini sudah hampir gelap. Kau harus pulang," Ucap pria itu sambil berjongkok di sampingnya. "Bagaimana jika orang tuamu mencarimu? Kau tidak mau membuat mereka khawatir, kan?"


Gadis itu terus menatapnya, sebelum ia menjawab, "Aku tidak mau."


"Eh, kenapa?"


Ia memalingkan pandangannya. "Tidak mau," Tegasnya lagi.


Polisi itu hanya diam meliriknya dengan canggung. Ia memang tidak begitu mengerti sifat anak-anak. Tapi setidaknya ia tahu cara berinteraksi dengan baik.


Ia pun merebahkan tubuhnya dan duduk di sisi gadis kecil itu. Gadis itu sempat heran dengan kelakuannya, tapi akhirnya kembali meneruskan memandangi mentari.


"Kau masih ingin melihat matahari, kan?" Pria itu tersenyum padanya.


"Ya," Jawab gadis itu singkat.


"Baiklah. Aku akan menemanimu sampai mataharinya hilang."


Waktu berlalu begitu saja. Tanpa terasa, matahari telah terbenam seutuhnya dan bulan mulai bangkit. Bintang-bintang mulai berkilau di tengah langit biru yang gelap. Semuanya itu terjadi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka masing-masing.


Gadis itu tiba-tiba berdiri, membersihkan rok kecilnya, dan melangkah pergi. Pria itu hanya menatapnya melangkah pergi sambil masih duduk di rumput.


"Langsung pulang ya. Jangan main ke mana-mana malam-malam!" Pria itu masih sempat-sempatnya menasehati gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan pria itu sendirian di tepi sungai.


"Orang aneh."


.


.


.


Keesokan harinya...


Gadis kecil itu duduk di tepi sungai seraya menatap matahari yang terbenam di depan wajahnya. Di atas rumput yang lembut, ia meringkuk sambil membenamkan wajah di antara lututnya.


Hamparan awan memenuhi langit. Cukup untuk merusak pemandangan matahari terbenam sore itu. Rambut hijaunya nampak lebih pendek dari sebelumnya. Tiupan angin yang cukup ganas meniup helaian rambutnya hingga melambai bagai bendera yang kusam. Jepit motif bunganya pun masih menempel di rambutnya.


"Kau masih ke sini juga?" Pria kemarin muncul lagi.


Gadis kecil itu hanya meliriknya sedikit, kemudian kembali memalingkan matanya ke arah hamparan awan yang kemerah-merahan. Pria itu pun mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Sayang sekali hari ini pemandangannya kurang bagus," Sambung pria itu. "Ngomong-ngomong, apa kau habis potong rambut?"


"Kau sedang tidak enak badan?" Tanya pria itu. "Apa ada hubungannya dengan rambutmu itu?"


Gadis itu sedikit tersentak. Ia tak menduga orang yang baru ditemuinya kemarin akan memperhatikan hal tersebut.


"T-Tidak," Jawabnya pelan.


Pria itu mendekatkan wajahnya, tapi tetap menjaga jarak dari gadis kecil itu. Ia mencoba mengamati ekspresinya sambil berusaha tidak mengusiknya. Semakin teliti ia memperhatikan, ia merasa ada yang tidak beres dengan anak ini.


Tiba-tiba gadis itu beranjak dan segera berbalik. "A-Aku mau pulang dulu," Ucapnya dengan isakan kecil.


"H-Hey tunggu--"


Ia tak dapat menghentikannya. Gadis itu langsung pergi terburu-buru, seolah ia merasa terancam. Tapi tanpa disadarinya, ia telah menjatuhkan jepit rambut bunganya. Pria itu beranjak dan memungutnya, sambil berandai apa yang sebenarnya sedang dialami anak itu.


.

__ADS_1


.


.


Krekk... Pintu kayu terbuka pelan, seolah memang sengaja begitu agar tak menimbulkan suara. Gadis berambut hijau itu perlahan melangkahkan kakinya masuk sambil mengendap-endap.


"Akira, kau baru pulang?" Tanpa disadarinya, ayahnya telah menunggu sambil berdiri di belakang pintu.


Akira kecil terkejut. Sebelum ia sempat menutup pintu, ayahnya langsung mendorong pintu kayu itu dengan kakinya hingga tertutup dengan suara kencang. Suara sekeras itu membuat Akira ketakutan. Tak selesai di situ, ayahnya langsung menarik telinganya dan menggeretnya ke sebuah ruangan kecil.


"Ini sudah kedua kalinya kamu menyelinap keluar. Apa kau tahu kalau itu berbahaya?!" Teriak ayahnya.


Akira didorong hingga jatuh ke lantai. Gadis itu mulai terisak. Ia ingin menangis, tapi dirinya berusaha menahan air mata yang keluar.


"M-Maafkan aku, Ayah," Akira berbicara pelan, namun ayahnya nampak tak mendengarkan.


Malahan, pria tua itu mengambil ikat pinggang dan menyabet Akira. Gadis itu mencoba mempertahankan diri. Namun apa yang mampu dilakukan seorang anak kecil? Yang bisa ia lakukan hanya menutupi wajahnya dari pecutan ikat pinggang dengan tangannya. Sekujur lengannya pun mulai dipenuhi bercak kebiruan.


"Dasar anak gak tahu diri. Kau ini sumber uangku. Kalau kau sampai kenapa-napa, aku yang merugi!" Teriak ayahnya. "Ibumu telah melakukan tugasnya dengan baik sebagai penghasil uang. Kau harus meneruskan pekerjaannya!"


"T-Tapi, Ayah. Aku hanya melihat pemandangan-- Akh!"


Akira terus menerima pecutan itu hingga beberapa lama. Bagi anak-anak biasanya, mereka pasti sudah menangis tak karuan. Akira juga begitu. Ia merasa kesakitan dan ingin menangis. Tapi hingga kini, ia masih menahan air matanya.


"Kenapa kau tidak menangis? Cepatlah menangis!" Pria tua itu terus melemparkan kekerasan fisik.


Hingga setengah jam, percikan darah mulai menitis dari pergelangan tangan Akira. Gadis kecil itu hampir pingsan, atau malah hampir mati. Tapi tetap, ia tak menitiskan setetes pun air mata. Pria itu akhirnya sadar, tak peduli betapa banyak ia menghajarnya, anaknya takkan menangis.


"Cih, masih tidak mau menangis juga. Sudahlah, lebih baik aku membuang-buang tenagaku pada hal lain," Pria itu melipat ikat pinggangnya dan pergi.


Akira terkapar di lantai dengan tangan yang bengkak. Wajahnya penuh dengan kesedihan dan rasa sakit. Ia ingin menangis dan mengeluarkan semuanya, tapi ia terus menolak. Ia tidak boleh menangis. Jika ia menangis, pria tua itu yang akan menang.


"Ibu..." Perlahan matanya terlelap dalam keputusasaan.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2