
"B-Bagaimana bisa?" Mata Darren terpelotot lebar.
Di depan matanya, desa yang dulu kecil dan hanya diisi rumah-rumah dari jerami, kini sudah menjadi kota yang besar dan ramai.
"Ini masih desa yang sama, kan?!" Teriak Darren lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia terus memejamkan mata dan membukanya, namun apa yang dilihatnya adalah kenyataan.
"Aku juga awalnya berpikir begitu. Sulit dipercaya," Sahut Akira.
Darren berbalik pada Ravenna. "Ravenna, apa kau yang membangun ini semua?"
"Tentu saja tidak," Balas Ravenna. "Para warga yang lainnya juga membantu ku. Ini semua juga berkat semangat yang kau tinggalkan di tanah ini."
"Eh, aku?"
"Ya. Semangat untuk menyatukan manusia dan monster. Dan di titik ini, ambisi mu itu akan dimulai. Aku yakin suatu saat nanti kita bisa mewujudkan dunia yang kau cita-citakan itu," Ucap Ravenna sambil tersenyum lebar.
"Aku senang mendengarnya. Sejujurnya, aku sangat takjub dengan semua ini. Tapi, ada yang ingin ku tanyakan sedari tadi," Balas Darren.
"Silahkan, tanya saja."
"Siapa pria di samping mu itu?" Darren menunjuk pria berbadan tinggi dengan tombak di tangannya. Beberapa bagian di kulitnya terlihat kasar seperti sisik.
Pria itu menyahut dengan wajah terkejut. "Darren-sama, kau lupa dengan ku?!"
"Eh, emangnya kita pernah bertemu?"
Ravenna tertawa terbahak-bahak, sementara pria itu memasang wajah memelas yang kocak.
"Dia itu Kanrei loh," Ucap Ravenna.
"Kanrei? Eh!? Kanrei si lizardmen itu?!" Darren juga ikut terkejut. "Apa yang terjadi dengan penampilan mu yang dulu?"
Tora muncul dari balik kerumunan. "Lizardmen, ya. Ku rasa aku tahu," Ucapnya. Perhatian semua orang langsung tertuju padanya.
Tora meneruskan. "Mereka memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi. Desa ini dulunya hanya diisi oleh lizardmen. Namun seiring berkembangnya keadaan, semakin banyak manusia yang singgah di sini, perlahan mengubah cara hidup mereka untuk menyesuaikan lingkungan mereka. Lantas, hal itu ikut mempengaruhi penampilan fisik mereka."
Darren mengangguk-angguk. "Ahh, mimikri ya. Aku paham sih, karena pada dasarnya mereka itu semacam kadal."
"Lalu Darren, apa mereka teman-teman seperjalanan mu?" Ravenna menoleh ke arah Tora, Shiro, dan Hain.
Tora membungkukkan badan. "Izin memperkenalkan diri, nama ku Tora. Aku bertemu Darren-sama di Friedlich. Aku yakin Akira-sama juga mengenal ku."
Akira mengangguk. "Ah, iya. Aku ingat kau dan manusia hewan itu. Tapi sepertinya Tomatsu tidak ikut kalian lagi ya."
"Yah, ada sedikit masalah di perjalanan. Tapi semuanya baik-baik saja," Potong Darren.
Kemudian Shiro melangkah maju. "Perkenalkan, namaku Shiro. Aku diselamatkan Darren-sama dari bandit-bandit. Jika tidak ada dirinya, aku mungkin masih mendekam di balik jeruji perbudakan."
__ADS_1
Ravenna menyahut. "Oh, kau. Aku pernah mendengar tentang mu dari para manusia hewan yang datang waktu itu," Katanya. Ia kemudian menoleh ke arah Hain. "Lalu, kau?"
"Aku Hain, seorang iblis. Aku bertemu Darren di Avon," Ucap Hain.
"A-Avon?!" Akira dan Ravenna berteriak serempak. "Cukup jauh juga ya. Bagaimana kalian bisa bertemu?"
Hain tersenyum. "Yah, pertemuan kami waktu itu bisa dibilang di kondisi yang tidak bersahabat," Balasnya.
"Eh, tidak bersahabat?"
"Ya. Waktu itu sedang perang..."
Ravenna langsung meluncurkan lengannya ke kerah Darren dan menariknya.
"Darren, sebenarnya apa saja yang sudah kau lalui?"
Darren hanya terkekeh canggung, sambil berusaha menahan tawa melihat reaksi Ravenna yang begitu lucu.
"Seingat ku, Avon seharusnya sedang ditutup, kan? Kalau tidak salah, ada sedikit masalah yang terjadi di pemerintahannya," Sahut Akira sambil mengelus dagu.
Hain mengangguk. "Benar. Sejujurnya, negara kami sedang dalam krisis besar. Terjadi perang saudara karena adu domba dari pihak Gereja Suci Timur. Aku adalah salah satu anggota dari kubu pemberontak melawan pemerintah. Dan Darren juga ikut bergabung saat di sana."
Akira menoleh pada Darren. "Tapi, Darren, sebenarnya apa alasan mu pergi ke benua iblis? Dari dulu aku selalu memikirkan ini. Terlebih Tomatsu yang seharusnya membawa mu, sekarang malah pergi. Dan juga, tentang Raja Iblis yang mengejar mu..."
Ravenna menoleh tersentak. "Raja Iblis?! S-Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Tawa di wajah Darren perlahan memudar. Ia tahu, begitu mendengar pertanyaan tersebut, ini adalah saatnya untuk serius. Karena dari awal, ia memang berencana untuk menjelaskan semuanya kepada mereka.
"Pas sekali. Kami hendak mengadakan jamuan untuk kedatangan Akira di sini. Mungkin kita bisa mendiskusikan semuanya di sana."
.
.
.
Piring-piring berjejer di sisi meja pangjang yang membentang di tengah-tengah ruangan. Lengkap dengan kursi kayu yang mewah, dengan bantalan empuk di bagian punggung dan bokong.
"Ku dengar ada tamu dari Friedlich yang akan datang," Ucap seorang perempuan dengan pakaian maid, yang juga memiliki kulit yang bersisik di beberapa bagian.
"Sepertinya iya. Waktu di jalan aku melihat Ravenna-sama berjalan dengan seseorang bertopeng. Ku rasa kita pernah menemuinya beberapa bulan lalu," Seorang goblin dengan seragam pelayan menyahut. "Sepertinya akan ada perbincangan serius ya."
"Huff, ku harap kedatangannya membawa kabar baik. Tapi, aku lebih berharap Darren-sama segera pulang."
Goblin itu merangkul lengan perempuan itu. "Jangan khawatir, Riuku. Aku yakin Darren-sama pasti takkan melupakan kita."
"Ya, semoga begitu. Terimakasih, Garu."
__ADS_1
Setelah menyusun gelas dan piring dengan rapih, mereka berdua dikejutkan oleh suara gerombolan orang yang berjalan masuk.
"Selamat datang," Riuku dan Garu membungkuk hormat, menyambut mereka yang tiba.
Seorang goblin raksasa dengan kulit hijau nan keras, memasuki ruangan, disusul oleh beberapa orang lainnya. Seperti seorang Lizardmen putih dan seorang manusia hewan. Mereka bertiga, adalah kepala masing-masing suku di kota tengah hutan ini.
"Garu, kau kelihatan cocok dengan seragam mu itu," Puji sang goblin raksasa, atau dikenal sebagai Tugo si Raja Goblin.
"Terimakasih, Tugo-san."
"Tidak, maksudku kau sangat cocok kalau jadi pelayan, ha ha ha..."
"Eh!--"
"Tugo, dasar kau ini. Padahal dia adalah bawahan mu sendiri," Tegur Kaido, si Lizardmen putih. Seperti biasa, penampilannya seperti seorang petapa yang sedang turun dari puncak bukit.
"Tapi sepertinya Ravenna masih belum datang. Begitu juga utusan dari Friedlich itu. Mungkin lebih baik kita duduk terlebih dahulu dan menunggu," Sahut si ketua suku manusia hewan.
"Santailah, Nigel. Aku tahu kok," Balas Tugo, seraya mereka bertiga duduk ke kursi masing-masing.
Beberapa menit kemudian, pintu dari sisi lain juga terbuka. Semua pandangan segera tertuju ke arah pintu itu.
"Mereka sudah tiba."
Ravenna berjalan masuk dengan langkah yang menggelegar, disusul oleh Akira di belakangnya yang dipandu oleh beberapa tentara.
Namun, sesosok di barisan paling belakang lah yang terus menarik perhatian mereka.
"Halo, semuanya. Lama tak jumpa," Darren melambaikan tangan. Seketika semua orang berdiri dengan wajah tercengang.
"D-Darren-sama?!" Teriak mereka serempak.
"Semuanya, cepat duduk kembali di tempat masing-masing. Darren-sama ingin membicarakan sesuatu yang penting," Ravenna mencoba meredam keramaian.
Ravenna dan Akira berjalan menuju tempat duduk mereka, sementara Darren berdiri di depan meja bersama Shiro dan yang lainnya.
Untuk sekilas, ia merasa begitu bernostalgia bisa bertemu teman-teman lamanya. Wajah-wajah yang begitu familiar, dan perasaan yang seolah terhubung, membuat ia hampir menitiskan air mata. Namun kondisi yang ingin ia bicarakan lebih penting.
"Pertama-tama, aku sangat senang bisa bertemu kalian lagi," Darren membuka pembicaraannya. "Bagiku, kalian adalah teman-teman yang berharga. Namun, sampai saat ini, aku masih menyembunyikan satu rahasia yang sangat penting dari kalian."
Semua orang tertegun melihat wajah Darren, menunggu ia mengucapkan kalimat selanjutnya.
Darren perlahan menarik nafas. "Aku..," Ucapnya, seraya menatap mereka dalam-dalam, "Datang dari dunia lain."
.
.
__ADS_1
.
To be continued...