Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tiga dan Tiga


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


"Eh, aku?" Darren terkejut saat mendengar bahwa Clara dan Bagus mengajaknya dalam sebuah misi.


Clara mengangguk dengan antusias. "Ya. Kau, Esema-kun," Ucapnya. "Anggap saja ini misi pertama mu di organisasi. Kau beruntung bisa ditemani oleh ku."


"Eh... bukannya kau yang minta ditemani Esema," Sahut Bagus sambil cekikikan.


"Berisik," Clara mendengus.


Darren menarik nafas dengan wajah ragu. "Tapi, kenapa aku? Bukannya terlalu beresiko bila menyerahkan misi sepenting ini pada orang baru seperti ku?" Ucap Darren. "Apalagi setelah melihat reaksi orang-orang terhadap ku."


"Tenang saja. Aku percaya pada mu kok. Dan soal pendapat orang-orang, aku yakin mereka akan tahu kalau kau itu baik," Sahut Clara. Ia kemudian menoleh pada Bagus. "Benar kan, Bagus?"


Bagus hanya mengangguk-angguk setuju.


Darren berpikir sejenak. Sebenarnya, di dalam benaknya, ia merasa sedikit khawatir. Memang ia percaya pada Simson dan para bawahannya, termasuk Clara dan Bagus.


Namun para bawahan yang lain, seperti Marvin dan Rosemary, mungkin tidak begitu menyukai Darren. Jika Darren gagal menyelesaikan misi ini, maka ini akan menjadi kesempatan yang bagus bagi mereka untuk merendahkan Darren.


"Hm... Baiklah, aku ikut," Ucap Darren sambil mendesah. Ia ikut bukan berarti ia mau.


"Horee," Clara bertepuk tangan riang.


Shiro dan Tora yang ada di situ langsung menghampiri Darren.


"Jadi, kapan kita berangkat?" Tanya Shiro.


Clara langsung menjawab. "Maaf, Shiro-chan. Tapi kami hanya mengajak Esema," Ucap Clara.


Tora dan Shiro terkejut.


"Maaf ya. Kami tidak bilang-bilang dulu kalau mau pinjam bawahan mu," Sambung Bagus. "Tapi kami pasti akan menjaganya."


Shiro melirik ke arah Darren sedikit. Darren pun melihat matanya dan kemudian membalas dengan mengangguk pelan tanpa disadari yang lainnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mempercayakan Esema-kun pada kalian," Ucap Shiro sambil bersikap tenang. "Ku mohon kerjasamanya."


"Ya. Terimakasih, Shiro-chan," Balas Clara. "Yosh. Ini sudah hampir gelap. Sebaiknya kita berangkat sekarang"


"Eh? Kita berangkat sekarang?" Ucap Darren sambil beranjak berdiri.


"Ya. Sebentar lagi malam akan tiba. Ini waktu yang tepat untuk berangkat. Kita bisa menggunakan gelapnya malam untuk menyelinap dari patroli tentara kerajaan dengan mudah," Balas Clara.


"Oh, baiklah," Darren menjawab. "Kalau begitu. Kalian duluan saja. Aku akan mengemasi barang-barang yang perlu ku bawa."


"Kami akan menunggu mu di luar markas," Sahut Bagus.


Clara dan Bagus pun pergi dari situ.


Setelah yakin kalau kedua orang tadi sudah pergi, Darren segera berpaling pada Tora dan Shiro.


"Tora, Shiro. Aku ingin kalian melakukan sesuatu untuk ku," Ucap Darren.


Tora dan Shiro membalas dengan tatapan serius.


"Selama aku pergi, aku ingin kalian mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan yang terjadi di sini," Sambung Darren.


"Baik, Darren-sama. Tapi, aku ingin memberitahu mu sesuatu juga," Tora menyambung.


"Apa?"


"Ini berkaitan dengan kejadian tempo hari lalu. Waktu penyerangan di brankas," Ucap Tora. "Kemarin, Hain memberitahu ku sesuatu yang menurutku agak janggal."


Darren mendengarkan dengan serius.


"Seperti yang kita tahu, pintu masuk brankas seharusnya dikunci oleh Spirit milik Hain. Seharusnya tidak ada yang bisa membukanya tanpa seizinnya. Cara satu-satunya bagi pelaku adalah merusak pintu itu," Tora meneruskan. "Tapi sekarang aku heran. Bagaimana pintu itu bisa terbuka tanpa ada kerusakan sedikitpun? Seakan, pintu itu memang dibuka tanpa paksaan."


Darren terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


"Tora, apa kau masih ingat jelas bagaimana pertempuran itu terjadi?" Tanya Darren.


"Ya, walau tidak semua," Jawab Tora. "Waktu itu kami sedang berjaga. Aku, Hain, dan enam orang lainnya. Pokoknya pintu brankas itu dijaga dengan sangat ketat."


Tora meneruskan. "Namun, untuk sesaat, tiba-tiba aku merasa mual dan pusing. Sebelum kusadari apa yang terjadi, sebuah asap sudah muncul dihadap kami. Dari asap itu muncul seseorang dan langsung menghajar kami dengan mudah."

__ADS_1


Darren merengut sedikit. "Itu saja?"


Tora hanya membalas dengan mengangguk.


Sesuatu seperti ada yang mengganjal di benak Darren. Ia terus merengut dengan wajah serius.


"Mungkinkah, penyusup itu adalah salah satu penjaga brankas itu?" Batin Darren. "Eh, tapi sepertinya gak mungkin. Jika delapan orang menjaga brankas, enam diantaranya mati, maka hanya tersisa dua kandidat."


"Tora dan Hain. Tapi, aku yakin Tora tidak akan melakukan hal-hal semacam itu lagi. Ia sudah berada di bawah perintah Shiro dengan ketat. Lalu... Hain? Aku tidak begitu berpikir ia pelakunya sih."


"Tapi, dari bukti yang ada, pintu itu memang disegel oleh teknik spirit milik Hain. Jadi, yang bisa membukanya hanya Hain. Namun, sekarang pintu itu sudah terbuka."


"Hain akan menjadi tersangka nomor satu. Tapi, aku jadi ragu karena ia memberitahu ini semua pada Tora. Apa ia juga hanyalah korban?"


"Kemungkinannya kecil. Tapi aku yakin kalau Hain bukanlah pelakunya. Bisa saja orang lain. Dan sekarang, aku hanya butuh penjelasan kenapa Hain dan Tora dibiarkan hidup."


Darren menghembuskan nafas berat.


"Baiklah. Itu saja. Aku akan pikirkan setelah aku pulang nanti," Darren beranjak dan mengambil beberapa barangnya di ujung ruangan. Ia kemudian memasukkannya satu persatu ke sebuah tas kecil.


"Kau mau pergi sekarang, Darren-sama?" Ucap Shiro.


"Ya. Aku tak boleh membiarkan Clara dan Bagus menunggu. Ku percayakan tugas ini pada kalian, oke?" Darren berjalan keluar.


"Baik, Darren-sama," Sahut Tora dan Shiro kompak.


Sesegera mungkin Darren berlari keluar menemui Bagus dan Clara.


Clara langsung tersenyum saat melihat Darren tiba. Ia melambaikan tangannya sambil memanggilnya pelan.


"Esema-kun, di sini!"


Darren menghampirinya. Tapi ia tak melihat Bagus bersamanya.


"Dimana Bagus-san?" Darren melihat ke sekitaran.


"Oh, Bagus. Dia sedang mengambil sesuatu di dalam. Ia bilang barangnya ada yang ketinggalan," Balas Clara sambil mengambil sesuatu dari dalam tas-nya. "Ini, ambillah."


Ia melemparkan sebuah roti pada Darren.


"Makanlah dulu sebelum pergi. Jangan sampai perut mu kosong," Clara mulai memakan rotinya sendiri.


Makan roti sambil menunggu Bagus kembali, tiba-tiba terpikirkan oleh Darren untuk bertanya pada Clara. Tentang Raja Iblis.


"Clara-san, seperti apa Raja Iblis yang menguasai daerah ini?" Tanya Darren sambil mengunyah makanannya.


"Um... aku tidak tahu jelas sih. Tapi pokoknya, ia kejam," Jawab Clara.


"Itu saja?"


"Ya. Dia membuat rakyat sengsara, dan negara pun perlahan hancur. Tidak ada kata yang lebih bagus dari 'Kejam' untuk menggambarkan dirinya."


Darren lanjut bertanya. "Lalu, apa kau tahu namanya?"


"Tentu saja aku tahu. Keterlaluan sekali kalau warganegara tidak tahu nama pemimpinnya sendiri," Balas Clara. "Namanya adalah Ryan. Ia menjadi Raja Iblis sekitar dua bulan yang lalu."


"Sebenarnya, siapa yang memberikan gelar Raja Iblis kepada seseorang?"


"Orang-orang. Ketika orang-orang mengakui bahwa kekuatan mu luar biasa dan berada di atas rata-rata makhluk hidup pada umumnya, maka gelar itu secara tidak langsung akan menempel pada mu," Jelas Clara.


"Ah, begitu. Ternyata kau tahu banyak juga ya," Ucap Darren mengangguk-angguk. "Lalu, bagaimana dengan Raja Iblis Sejati?"


"Raja Iblis Sejati? Yah, mungkin sama. Tapi entahlah," Clara menelan habis rotinya. "Tapi aku jarang sekali mendengar nama itu keluar dari mulut manusia. Darimana kau mendengarnya?"


"Eh, yah. Aku punya seorang teman Lizardmen. Ia menceritakan kisah itu padaku," Jawab Darren.


"Wih. Ternyata temanmu bukan manusia saja ya. Jarang loh aku bertemu manusia seperti mu," Sambung Clara lagi. "Apalagi yang sanggup bertarung melawan ku."


Tak lama setelah mereka berbincang, Bagus akhirnya tiba.


Clara langsung melambaikan tangan, sementara Darren baru saja menghabiskan rotinya. Begitu ia sampai, Bagus langsung memberikan mereka berdua sebuah kertas bening.


"Apa ini?" Darren melihat menembus kertas itu.


Saat ia menoleh ke yang lain, mereka terlihat sedang meletakkan kertas itu di lidah mereka dan menelannya.

__ADS_1


"C-Clara-san? B-Bagus-san?"


Bagus melirik ke arahnya. "Ada apa? Cepat makan kertas itu."


"Eh? Apa makan kertas semacam tradisi pembawa keberuntungan di sini?"


Darren sebenarnya merasa aneh saat melihat mereka menelan kertas itu. Ia tak tahu alasannya. Tapi jika Bagus yang merupakan orang bumi bisa, maka seharusnya Darren juga bisa.


"Cukup ditelan saja kan? Hal buruk apa yang mungkin terjadi..." Ucap Darren pada dirinya seraya melakukan hal yang sama seperti yang lain.


Gulp-- Darren menelan kertas itu. Awalnya semua terasa biasa saja. Tapi, tiba-tiba kertas yang ia telan tersangkut di tenggorokannya.


"Uhuk! Uhuk!" Darren berusaha mengeluarkannya dengan batuk, tapi kertas itu seakan menempel di dinding tenggorokannya. "Tolong, air minum-- Uhuk!"


"Esema, apa ini pertama kalinya kau menggunakan kertas ini?" Bagus berbicara, tapi mulutnya tidak terbuka. Ia hanya berkomat-kamit kecil.


"Eh?! Apa yang terjadi dengan suara mu?" Darren kaget. "Mulutmu tidak mengeluarkan suara, tapi aku bisa mendengar mu."


Clara tertawa terbahak-bahak sementara Bagus menjelaskan semuanya pada Darren.


"Kertas ini adalah kertas penyalur suara. Hanya dengan mengeluarkan suara kecil melalui tenggorokanmu, kertas ini akan mengirim suara itu pada orang lain yang terhubung dengan kertas ini. Seperti telepati, tapi versi murahnya."


Clara langsung menyahut dengan tawa yang masih ada di wajahnya. "Bwahaha, kau ketinggalan jaman sekali, Esema-kun."


"Ya bukan salah ku kalau aku tidak tahu. Aku baru di sini," Balas Darren dengan wajah kesal.


"Baru di sini? Tapi setahuku, kertas ini juga diproduksi di benua manusia," Ucap Bagus menyambung.


"Eh, yah... aku kan seorang budak di sana. Jadi aku jarang melihat hal-hal keren seperti ini," Darren menggaruk rambutnya sambil cengar-cengir.


Clara melihat ke langit. "Hey, ini sudah gelap. Kita berangkat sekarang yuk."


Perjalanan Darren ke kota pun dimulai, dengan misi untuk menemukan siapa penjual botol ramuan yang pecah ini.


Tujuan mereka adalah kota terdekat, yaitu Fueno. Kota yang cukup ramai dan dekat dengan pelabuhan. Walau dekat sekalipun, perlu waktu empat hari untuk tiba disana dengan berjalan kaki.


Dalam perjalanan, kelompok Darren tak jarang berpapasan dengan beberapa tentara kerajaan yang berpatroli. Tapi, berkat kertas suara itu, mereka jadi lebih mudah untuk berkomunikasi tanpa terdeteksi.


Biasanya, Darren dan teman-temannya lebih memilih untuk bergerak di malam hari. Karena selain lebih mudah untuk menghindari patroli, malam hari juga memberikan suasana berbeda dalam perjalanan.


Darren tidak paham betul apa maksud 'Suasana' itu. Setiap ia bertanya pada Clara, ia hanya menjawab, "Aku suka bintang."


Tiga hari perjalanan telah berlalu. Darren dan kelompoknya akhirnya tiba di pinggiran kota Fueno dengan selamat.


Mereka tiba saat malam hari. Dari kejauhan, lampu-lampu kota sudah bisa terlihat berkilauan hingga menghiasi langit malam.


Sebelum berjalan lebih jauh, Clara memberikan mereka sebuah selendang panjang. Ia menyuruh mereka untuk menggunakannya sebagai penyamaran. Supaya polisi kota tidak mengenali mereka.


Saat masuk ke dalam kota, Darren bisa merasakan perasaan yang sama seperti di Veronheim. Keramaian kota seakan membuatnya merasa terganggu, namun juga memberi rasa nostalgia yang unik.


"Lalu, sekarang kita harus kemana?" Bagus berhenti berjalan dan membuka selendang yang menutupi wajahnya sedikit.


Clara menyahut. "Setahu ku, ada tiga toko obat terkenal di sini. Kita bisa mengecek ketiganya."


"Apa kita akan berpencar?" Tanya Bagus lagi.


"Berpencar memang ide bagus, tapi aku rasa Esema-kun tidak hafal kota ini," Balas Clara.


"Lalu, kita harus bagaimana? Kita akan terus bersama?"


"Ya. Walau akan memakan waktu lebih lama, tapi setidaknya kita bisa saling menjaga satu sama lain."


"Baiklah. Ide yang tidak terlalu buruk."


Ini sudah larut malam. Sebelum melanjutkan misi mereka, Clara pun memutuskan untuk beristirahat. Mereka menyewa sebuah penginapan dan bermalam di sana sampai pagi.


Besok mereka akan langsung mengecek toko-toko obat tersebut dan mencari kebenarannya.


.


.


.


__ADS_1


~Ilustrasi Clara~


(Sorry klo gambarnya aneh. Saya nggak jago gambar)


__ADS_2