
Krackk! Rasa perih menembus tulang Serina seraya kristal-kristal dari dalam tanah menusuk kakinya. Tusukannya semakin kuat hingga memaksa Serina untuk mematahkan kakinya sendiri demi keluar dari situasi tersebut.
Darah mengucur dari kaki yang telah terpotong. Serina bernafas dengan beratnya sambil berusaha menahan perih yang luar biasa.
"Mustahil. Makhluk apa itu?" Serina menatap ke arah Akira sembari meregenerasi kakinya yang terpotong.
Suara langkah senyap menggema ke penjuru goa seiring Akira melangkahkan kakinya perlahan mendekati Serina. Matanya yang hijau seolah bercahaya di tengah gelap dan wajahnya tak menunjukkan emosi takut dan resah, selain senyuman sebagai tanda hilangnya kemanusiaannya. Bahkan Serina jadi ragu siapa monster yang sebenarnya di antara mereka.
Serin bisa merasakan aura yang kuat memancar keluar dari tubuh Akira. Ia bisa langsung tahu bahwa aura yang dipancarkan berada dalam kategori tidak normal untuk ukuran seorang manusia.
"Aura yang aneh. Kekuatan yang meningkat. Ekspresi seperti orang sinting. Tidak salah lagi. Ia saat ini sedang lepas kendali," Batin Serina. "Emosi? Trauma? Pasti salah satu dari itu yang menyebabkan kekuatan bakat dalam tubuhnya jadi lepas kendali."
Akira mempercepat langkahnya. Di tangan kanannya, ia menciptakan sebuah pedang hijau dan bersiap menyerang Serina. Namun tepat sebelum serangan itu diluncurkan, Serina berhasil meregenerasi kakinya secara utuh dan melompat ke dalam lubang portal yang ia ciptakan. Lantas tebasan pedang Akira pun meleset.
"Kau hanya bisa lari saja?" Akira berteriak lancang dengan senyuman gila. "Kalau begitu, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia!"
Ketika Akira menyelesaikan kalimatnya, Serina muncul melalui portal yang terbentuk di belakangnya. Dengan tangan yang siap untuk memukul kepala Akira, Serina pun melompat dan menyergapnya.
Buakk! Sebuah pukulan telak berhasil menghantam kepala belakang Akira. Pukulan itu mampu menghancurkan batu raksasa yang sangat keras. Seharusnya cukup hanya untuk menghancurkan tengkorak manusia.
Grabb! Tiba-tiba tanpa diduga, sebuah tangan menarik leher Serina. Lantas Serina terkejut. Namun ia sudah terlebih dahulu dicekik dan membuatnya tak bisa bereaksi dengan gesit.
"A-Apa ini?" Serina melihat lengan Akira mencengkram kuat lehernya. "Kau seharusnya sudah mati."
Akira menyeringai lebar dengan darah yang mengalir dari mata dan mulutnya. Kadang beberapa bagian darah yang mengering nampak berubah jadi hijau dan mengkilap. Hal ini membuat Serina jadi sangat terkejut.
"Jangan-jangan, kepala yang kupukul barusan..." Serina memalingkan matanya dan melihat kepala belakang Akira yang berwarna hijau mengkilap. "K-Kau! Kau membuat lapisan zamrud untuk melindungi kepala mu!"
Akira tidak banyak bicara. Dengan tangan yang berhasil menggenggam titik lemah Serina, ia membanting wajah Serina ke lantai.
"Akh!" Serina merintih seraya Akira mulai menyeret wajahnya di atas permukaan lantai yang berbatu. "Dark Elemental: Non-Eucledian!"
Sebuah portal muncul di bawah mereka. Bersamaan, mereka berdua jatuh dan terlempar ke udara dari sisi portal yang lain. Dengan ini Serina berhasil melepaskan dirinya dari cengkraman Akira.
Saat di tengah udara, Serina melemparkan serangan balasan. Ia memutar tubuhnya dan meluncurkan tendangan memutar. Tendangan tersebut berhasil mengenai Akira dan membuatnya terpental menghantam dinding goa. Walau begitu, ia nampak tidak terluka sedikitpun.
"Sekujur tulangnya seharusnya sudah patah dari tadi. Tapi kenapa ia masih bisa bergerak bebas?" Serina mengelus lehernya yang memerah. "Dilihat dari kemampuannya, ia dapat mengubah darahnya menjadi kristal. Itu tak menutup kemungkinan bahwa ia juga bisa mengubah struktur tulangnya. Tapi..."
Serina menatap Akira sekali lagi. Walau ekspresi wanita itu seperti sudah kehilangan akal, tapi ia menunjukkan sesuatu yang menarik pada wajahnya.
"Wajahnya. Ia menangis." Serina melihat air mata yang bercampur darah mengalir di pipi Akira. "Ia sudah sekarat. Namun masih terus bertarung. Ini adalah tekadnya di titik terakhir. Agar dapat memaksa tubuhnya untuk terus bertarung, ia memperbaiki struktur dalam tubuhnya dengan kristal. Namun hal tersebut menimbulkan rasa sakit yang luar biasa."
Serina menyeringai. "Sungguh hebat sekali."
Akira bangkit dari puing-puing batu yang menimpa dirinya. Nampaknya ia takkan berhenti sampai ia berhasil membunuh lawannya. Serina pun telah menyiapkan sebuah rencana di situasi sengit tersebut.
"Dengan kekuatan seperti itu, ukuran tubuhnya saat ini masih terlalu besar bagiku. Aku tidak bisa melukainya. Kecuali aku berhasil membuatnya menciut menjadi lebih kecil," Batin Serina. "Dengan demikian, menghancurkan perisai zamrudnya tak lebih seperti menghancurkan kulit kacang."
Srinngg! Sebilah pedang hijau muncul di tangan Akira. Ia segera menerjang ke arah Serina dengan pedang yang siap dihunuskan. Serina pun sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
Cklang! Cklang! Mereka saling melemparkan serangan satu sama lain. Walau nampaknya mereka seimbang, Akira jadi lebih agresif daripada sebelumnya.
"Mati... mati..! Mati! MATI!" Ia terus meneriaki kata-kata tersebut di depan wajah Serina.
__ADS_1
"Cukup!" Serina mengarahkan tangannya. "Dark Elemental: Non-Eucledian!"
Ia menciptakan lipatan ruang di belakang Akira. Ia berniat melempar Akira masuk ke dalam portal tersebut dan membuat tubuhnya mengecil.
"Non-Elemental Spell: Power!" Serina merapalkan mantra, menyalurkan sihir ke telapak tangannya.
Akira segera mengantisipasi hal tersebut. Ia menarik tangannya ke depan, membentuk posisi bertahan untuk melindungi dirinya. Tak lupa, Akira juga melapisi lengannya dengan kristal yang tebal.
Crashh! Serpihan zamrud yang hijau bertebaran di udara. Semuanya terjadi tepat ketika kedua tangan mereka saling berhantaman. Serpihan-serpihan pun berceceran ke sekujur goa.
Akira gagal mempertahankan posisinya. Ia terhempas masuk ke dalam portal dan tubuhnya mengecil. Ukurannya kini bahkan lebih kecil dari tubuh Serina.
"Aku berhasil! Dengan begini seharusnya aku tidak akan kesulitan lagi menghancurkannya." Serina menyeringai percaya diri. "Kau telah tamat, Akira. Riwayatmu sebagai Si Hijau Zamrud akan berakhir di sini."
Serina segera memutar tangannya, hendak menutup portal tersebut demi mencegah Akira memasukinya kembali. Namun apa yang akan terjadi selanjutnya benar-benar di luar perkiraannya.
Swuung~ Clebb! Gerakannya terpaku. Kedua tangan dan kakinya tak bisa bergerak sedikitpun. Saat ia menyadarinya, ia melihat sekujur tubuhnya telah ditusuk tombak-tombak zamrud.
"D-Darimana asalnya?" Serina memuntahkan sedikit darah. Kemudian ia melirik ke sumber tombak-tombak itu berasal.
Nampak benda-benda runcing itu mencuat keluar dari serpihan-serpihan zamrud yang berceceran di berbagai tempat.
"Jangan-jangan, ini adalah serpihan zamrud yang melapisi tangannya tadi." Serina menyadari apa yang terjadi. "Ia sengaja menyebarkan pecahan kristalnya ke segala tempat untuk menyerangku secara akurat. Hampir semua serangannya mengenai titik vitalku."
Ketika Serina terpaku tanpa bisa begerak sedikitpun, Akira melesat kembali memasuki portal dan segera meluncurkan serangan bertubi-tubi.
Di dalam ruangan tertutup yang sempit, Akira melompat-lompat dari tembok ke tembok sambil terus menyerang Serina. Perlahan, kulit succubus itu mulai dipenuhi luka dan darah.
"Aghh! Jangan pikir aku akan diam saja!" Dengan sisa kekuatannya, Serina mendobrak pilar-pilar kristal yang mengikat tangannya.
Setelah lepas dari kekangan, Serina langsung mencari kesempatan untuk menyerang Akira. Dengan cermat ia mengamati pergerakan lawannya. Hingga ia akhirnya menemukan titik lemahnya.
"Dark Elemental: Non-Eucledian!" Serina membuka portal untuk memotong pergerakan Akira yang gesit.
Ia pun berpindah tempat dan langsung muncul di dekat Akira. Dengan begitu, ia bisa menyerang secara telak.
Tapi ketika ia berhasil membuka portal. Akira tiba-tiba membalikkan kepalanya dan menoleh tepat ke arah ia muncul. Seolah ia juga sudah bisa membaca pergerakan Serina.
"I-Ini mustahil," Ucap Serina terkejut sambil menatap mata Akira yang tajam.
Sroakk! Sekali lagi, puluhan pilar zamrud menikam Serina dari berbagai arah. Bahkan salah satunya menusuk Serina dari balik portalnya sendiri. Ini mencegahnya untuk kabur menggunakan portal lain.
Tubuhnya sudah lelah. Kemampuan regenerasinya juga sudah habis. Saat ini, ia hanyalah seekor succubus biasa yang tak berdaya.
Serina tergantung dengan pilar zamrud yang mengekangnya dari segala sisi. Ia tak lagi mampu bergerak. Bisa bernafas saja bisa disebut beruntung, mengingat hampir semua organ tubuhnya telah ditikam oleh pilar-pilar itu.
Step... step... step... Akira melangkah mendekat. Suara gesekan yang kasar menggema, seraya mata pedangnya bergesek dengan lantai goa. Matanya pun tak menunjukkan niat mengampuni. Hanya ada hasrat membunuh di sana.
"Ia semakin dekat. Ia akan membunuhku." Akira berusaha bernafas. "Apa misiku berakhir di sini?"
Suara langkah itu berhenti saat Akira menghentikan kakinya di depan Serina. Ia pun mengangkat pedangnya. Siap untuk menebas Serina.
"Jangan kalah, Akira!"
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah suara berdenging di dalam kepala Akira. Saat mendengarnya, Akira langsung memegangi kepalanya dan menghentikan niatnya.
"Jangan kalah dari dirimu sendiri. Kau harus bisa melawannya."
"Jika kau ragu dan tak sanggup. Datanglah padaku. Aku siap membantumu."
.
.
.
"Jangan kalah, Akira!" Schlaff berteriak. Dengan tubuh yang hampir seluruhnya dipenuhi luka, ia mendekap gadis kecil itu dalam pelukannya. "Jangan kalah dari dirimu sendiri!"
Mata hijau itu perlahan kembali tenang dalam pelukan yang hangat. Baru saat itu, Akira tersadar dan mendapatkan kembali kontrol penuh atas tubuhnya.
"Hiks." Air mata kembali menitis di pipinya. Tapi kali ini ia tidak takut untuk menangis.
Tangis adalah hal yang paling ia musuhi selama hidupnya. Ayahnya memanfaatkannya melalui tangis air matanya. Hingga membuat Akira takut untuk menangis, dan mengutuki hal tersebut sepanjang hidupnya. Tapi saat ini, air mata yang mengalir di wajahnya berbeda dengan air mata yang selalu ia benci.
"Hangat."
Tanpa sadar, ia telah menangis kencang di pundak Schlaff. Ia menangis sekeras-kerasnya, seolah ia telah menahannya selama bertahun-tahun.
"Keluarkan semuanya. Tak apa untuk menangis." Schlaff mengelus rambutnya.
.
.
.
Slashh! Dengan dua kali tebasan berturut-turut, Akira memotong kedua kaki dan tangan Serina. Succubus itu pun merintih kesakitan.
"Akhh!"
"Kehilangan kaki dan tangan bukan masalah yang besar bagi mu, kan?" Ucap Akira tiba-tiba, dengan mata yang menatap tajam Serina.
Serina tersentak. Rasa sakitnya memang parah, tapi melihat Akira yang tiba-tiba tersadar membuatnya perhatiannya teralihkan. "K-Kau sudah sadar?"
Akira mengambil nafas yang terengah-engah. "Aku beruntung bisa berhasil mengambil alih lagi di saat-saat terakhir. Kalau tidak, mungkin kita berdua sudah mati," Ucap Akira. "Aku sebenarnya ingin membunuhmu. Tapi takkan ada yang mati hari ini. Kau akan ikut denganku dan mengatakan semua yang kau tahu."
Ia kemudian berjalan mendekati Serina. Lalu dengan tangan yang dilapisi kristal super keras, ia memukul kepala Serina hingga terpingsan.
"Lagipula, Esema-kun akan lebih senang jika aku membawamu hidup-hidup. Jadi, cobalah untuk jadi berguna di ruang interogasi nanti."
Tak lama kemudian, matanya berkunang-kunang. Kepalanya sangat pusing. Tubuhnya jadi hampir sekujurnya mati rasa. Tak lama kemudian, ia tumbang dan ikut pingsan di lantai goa.
.
.
.
__ADS_1