Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Memori sebuah Foto


__ADS_3

Tok, tok, tok...


"Silahkan masuk," sahut seorang pria.


Pintu terbuka. Seorang wanita pun masuk sambil membungkukkan badannya. Ia adalah Ravenna.


"Lama tak jumpa," ucap Ravenna pada pria di depannya yang nampak masih sibuk dengan peralatan kimianya.


Mendengar suara yang familiar di telinganya, pria itu berbalik. Matanya langsung menangkap tatapan Ravenna. Walau mereka adalah teman lama, ia tak menunjukan wajah senang apapun ketika melihatnya. Hanya tatapan datar yang dingin. Tatapan seperti orang mati.


"Apa maumu?" Tanyanya singkat sebelum kembali berbalik ke peralatannya.


"Kau masih sama seperti dulu, ya. Apa kau tidak mau sedikit bernostalgia tentang hari-hari kita dulu?"


"Aku bahkan tak pernah bicara kepadamu. Dan kau tahu-tahu datang dengan sok akrab," sahutnya tanpa menoleh.


"Setidaknya kita pernah bertemu sekali di perayaan kelulusan."


"Ya. Saat aku duduk sendirian di sudut ruangan, ketika kalian minum bersama di bawah lampu yang terang bagai kepribadian kalian." Nada bicaranya semakin menunjukkan nada terusik. "Sudahlah. Langsung ke intinya saja."


"Aku membutuhkan bantuanmu," sahut Ravenna. Nada bicaranya yang tadi terdengar seperti gurauan, langsung berubah jadi serius.


Pria itu tak banyak bicara. Sekilas ia nampak tak tertarik dengan pembicaraan Ravenna. Tapi sebenarnya ia mendengarkan dari balik hening.

__ADS_1


Ravenna yang sudah tahu betul sifatnya, melanjutkan perkataannya. "Tolong bantulah kami membuat penawar untuk penyakit terkutuk!"


Ketika mendengar itu, kali ini ia benar-benar diam. Tangannya yang masih memegang gelas kimia pun berhenti. Ia terdiam seperti batu. Saat itu Ravenna bisa langsung tahu kalau ia sudah tak mendengarkan permintaannya lagi.


"Aku tidak bisa. Enyahlah," jawabnya singkat.


"Kenapa?" balas Ravenna.


"Aku tidak mau berurusan dengan hal itu lagi." Ia lanjut bekerja pada peralatan kimianya.


Ravenna mendekatinya. "Kumohon. Ini menyangkut keselamatan satu negara— tidak. Ini menyangkut keselamatan dunia."


"Lalu aku harus apa?" balas pria itu cetus. "Mustahil untuk menciptakan penawarnya. Penyakit itu adalah bentuk evolusi mutakhir senjata penghapus umat manusia."


Crashh! Dengan satu sibakan, pria itu mendorong semua peralatannya di atas meja hingga jatuh ke lantai. Cairan-cairan kimia berceceran dan pecahan kaca memenuhi karpet.


Lantas hal itu membuat Ravenna terkejut. Ia hanya terdiam di sana menyaksikan teman lamanya bernafas terengah-engah dengan ekspresi trauma memenuhj wajahnya.


"I-Iwan..." Ravenna menyebut namanya dengan cemas.


"Enyahlah..." ucap Iwan dengan nada lemah. Kalimat kecil seperti itu pun akan memiliki dampak besar apabila diucapkan setelah apa yang dilakukannya.


Ravenna bergeming menatap ekspresi serius sekaligus dingin wajah Iwan. Ia tak bisa terus memaksanya. Itu hanya akan membuatnya semakin menjauhinya.

__ADS_1


Ravenna terdiam sejenak, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun ketika hendak berbalik, ia tiba-tiba melihat sesuatu di atas meja Iwan. Satu benda yang bahkan tidak ikut dihempaskannya ketika dimakan amarah.


Sebuah foto anak laki-laki yang mengenakan pakaian aneh. Pakaian yang tidak pernah Ravenna lihat sebelumnya. Atau tidak demikian.


"Pakaian itu..." Ravenna mendekat ke foto itu, mengabaikan Iwan yang masih terdiam dalam hening.


Ia mengangkat foto tersebut dan memandanginya dengan teliti. Baru waktu itulah ia menyadari sesuatu. Sebuah pakaian dengan lengan panjang dan celana panjang. Seperti pakaian olahraga yang tertutup. Pakaian yang hanya pernah ia lihat sekali di dunia ini.


"Pakaian aneh ini... mirip pakaiannya—" Ketika ia sadar dengan apa yang dilihatnya, ia segera berbalik menatap Iwan. "Iwan, dari mana kau mendapat foto ini?"


Iwan mengangkat wajahnya, kemudian memandang foto yang Ravenna pegang.


"Itu fotoku. Sewaktu aku kecil."


Sontak, hanya satu hal yang tiba-tiba terlintas di benak Ravenna. Entah apa yang dipikirkannya waktu itu, ia spontan mengeluarkan apa yang di kepalanya.


"Apa kau datang dari dunia lain?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2