Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Clara Versus Darren


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Walau tak segenting dulu, namun keadaan di antara pasukan pemberontak masih tegang dan membuat kepercayaan sesama semakin meregang.


Batu sihir sudah diamankan dan dijaga ketat oleh orang-orang yang dipercaya Simson. Hain adalah salah satunya.


Di sisi lain, orang-orang mulai mengawasi Darren dan teman-temannya. Mereka bertiga bisa jadi sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam. Namun Simson tetap percaya pada mereka.


"Huwaahh..." Darren bangkit dari tidurnya dan meregangkan seluruh badannya.


Ia menoleh ke sana ke sini dan hanya melihat Shiro masih tertidur pulas di sampingnya. Sementara Tora tidak terlihat ada di kamar.


"Ah iya, Tora kan sedang menjaga brankas bersama Hain. Ia diminta untuk membantunya."


Darren perlahan beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar.


"Aku ingin melihat keadaan Tora ah," Pikir Darren sambil mulai berjalan.


Dalam perjalanannya ke brankas, Darren terus memikirkan hal tentang Bagus yang terus membuatnya penasaran selama seminggu terakhir.


Ia sangat ingin menyelidikinya, namun Simson terus memberinya anjuran untuk tidak bergerak sesuka hati di sini. Atau orang-orang akan semakin mencurigainya.


"Namanya seperti nama lokal di Indonesia. Wajahnya juga punya postur seperti orang-orang Jawa. Kalau ia benar orang dari dunia lain, setidaknya aku bisa bertanya bagaimana ceritanya ia terkirim ke sini," Darren berjalan sambil melamun.


"Apa ia mati dan terkirim ke sini, ya? Sama seperti ku. Agh, aku benar-benar penasaran."


"Woah, Esema-kun!" Seseorang tiba-tiba memanggil Darren dan menghampirinya.


Darren segera melepas lamunannya. "Ah, Clara-san," Balas Darren.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," Ucap Clara dengan nada ceria, seperti biasa.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menyapa," Sambung Clara. "Ngomong-ngomong, apa kau sedang nganggur?"


"Ya."


"Pas sekali! Apa kau mau menemani ku?"


"Kemana?"


"Latihan. Aku perlu seseorang sebagai lawan latihan ku," Clara terlihat antusias.


"E-Eh, apa aku akan jadi samsak tinju?" Ucap Darren sedikit ketakutan.


"Tentu saja tidak. Aku takkan seserius seperti saat aku melawan Dyland," Balas Clara.


Darren menghela nafas. "Lah, memangnya Dyland-san kemana?"

__ADS_1


"Dia tak mau menemani ku. Dari kemarin ia terus sibuk menyelidiki batu sihir itu. Emangnya seheboh itu kah? Hmph..."


Darren tersenyum canggung. "Baiklah kalau begitu. Aku ikut," Ucap Darren. "Aku mungkin bisa memenangkan kepercayaan Clara dengan menemaninya latihan. Lagian juga, aku bisa menemui Tora lain kali."


Darren mengikuti Clara berjalan keluar dari markas. Clara biasanya berlatih di hutan karena akan berbahaya jika salah satu jurusnya menimbulkan kerusakan di ruang bawah tanah itu.


"Sebelum kita latihan, aku ingin mengukur kemampuan mu dulu. Jadi aku bisa mengimbanginya," Ucap Clara. "Kita mulai dengan kemampuan fisik mu."


Clara mengambil sebuah ranting pohon yang tebal dan menyerahkannya pada Darren.


"Berat sekali," Tanggapan Darren begitu mengangkat ranting itu.


"Coba ayunkan semampu mu. Aku akan coba menghitungnya," Ucap Clara.


Darren mencoba mengayunkannya. Tapi hanya dalam delapan kali ayunan, lengan Darren langsung mati rasa. Ia menjatuhkan ranting itu dan mulai mengistirahatkan kedua tangannya.


"Ehh, ternyata manusia tak sekuat itu, ya," Ucap Clara sambil cekikikan. Ia kemudian mengambil ranting itu dan mengangkatnya dengan satu tangan. "Kalau begini, aku akan kesulitan menahan diri. Biasanya aku harus mengerahkan seluruh kemampuan ku untuk bertanding dengan Dyland."


"Kau percaya diri sekali ya, Clara-san," Ucap Darren sambil menyeringai kecil. "Bagaimana kalau kita coba pertarungan sihir? Aku cukup ahli dalam bidang tersebut."


Clara menyahut dengan tetapan tajam. "Kau serius?" Ucapnya.


Darren mengangkat alisnya. "Kenapa kau terlihat cemas?"


"Ah, bukan apa-apa. Lupakanlah," Balas Clara menggeleng. "Kalau begitu, sekarang tunjukan salah satu sihir mu dulu. Aku perlu mengukurnya."


"Kurasa tidak perlu," Ucap Darren.


"Jika kau menahan diri, itu namanya bukan latihan. Kita kan latihan untuk melampaui diri kita sebelumnya," Sambung Darren. "Gunakanlah aku sebagai samsak tinju mu. Aku akan bertahan sekuat mungkin."


"K-Kau serius?" Clara terlihat khawatir.


Darren mengangguk. "Kita tak perlu saling bertukar informasi tentang kekuatan kita masing-masing. Anggap saja kita sedang benar-benar bertarung."


Clara menyeringai sambil mengepalkan tangan. "Baiklah! Jangan sampai mati, oke!"


Pertama-tama, Darren dan Clara saling mengambil posisi bertarung. Mereka berdiri sambil saling menghadap dari jarak beberapa meter.


"Aku duluan!" Clara tiba-tiba berteriak.


Tanpa ada tanda-tanda apapun, tiba-tiba tanah di bawah Darren menjadi sangat panas.


"A-Apa ini!?" Darren terkejut.


Ia langsung menghindar dari situ dan melihat sebuah semburan api muncul dari bawah.


"Aku tidak mendengar suaranya sama sekali. Apa ia bisa menggunakan sihir tanpa rapalan?"

__ADS_1


Darren segera memadamkan kobaran api itu dengan sihir air.


"Oh, jadi kau bisa sihir air, ya?" Ucap Clara. "Walau api lemah terhadap air, namun jangan lupa kalau api bisa membuat air menjadi uap!"


Bola api muncul dan menerjang ke arah Darren.


"Water Shot!" Darren mencoba menahan serangan tersebut dengan mantra airnya.


Seketika area itu pun mulai dipenuhi asap dan uap. Membuat pandangan menjadi beberapa meter lebih dekat.


"Aku kehilangan jejaknya. Ia pasti akan meluncurkan serangan tiba-tiba," Darren merobek kepulan asap.


"Kejutan!" Clara tiba-tiba muncul dari belakang dan mengayunkan ranting kayu besar yang terbakar.


"Wind Elemental: Wind Control!" Darren menghembuskan angin yang kuat dan mendorong dirinya sendiri menjauh dari situ. Ia pun berhasil menghindari serangan Clara.


"Sihir angin? Ah, jadi kau manusia yang bisa menggunakan dua elemen, ya? Menarik," Ucap Clara sambil membuang ranting kayu-nya. "Ini membuat ku jadi semakin bersemangat."


Clara meluncurkan serangan lagi. Kali ini, ia mengeluarkan rantai-rantai api dari telapak tangannya dan meluncurkannya ke arah Darren.


"Ia pasti ingin menangkap ku dengan rantai api itu. Aku harus menghindarinya sekuat mungkin!" Darren terus menatap dan membaca pergerakan lawan.


Seutt... Setiap rantai yang menerjang ke arahnya di hindari dengan mudah oleh Darren. Rantai-rantai itu bahkan tak menyentuhnya dan hanya pergi melewatinya.


"Kau pikir serangan itu akan mengenai ku begitu saja?" Ucap Darren.


"Lihat dengan jelas," Balas Clara.


Darren terkejut saat tiba-tiba rantai itu menegang dan menarik beberapa pepohonan yang terbakar ke arah Darren.


"Jadi ia mengincar pohon-pohon di belakang ku? Aku harus menghindar, kalau tidak aku akan terluka parah!"


"Stone Wall!" Darren menciptakan tembok batu besar dan menghalangi pepohonan itu dari menghantamnya.


Clara begitu terkejut melihat Darren menciptakan tembok batu itu. "E-Elemen tanah... juga?" Ucapnya sambil menatap tak percaya. "Sangat hebat. Tapi aku yakin tiga elemen adalah batas mu. Sekarang, rasakan ini!"


Clara berlari menerjang ke arah Darren dengan kepalan tangan yang berapi-api.


"Pukulan ini bahkan bisa membuat Dyland terpingsan. Kau takkan bisa menangkisnya-- tidak, bahkan mustahil bagi mu untuk menghindarinya."


Saat pukulan tersebut nyaris menyentuh Darren, Darren segera mengkomat-kamitkan bibirnya dengan cepat.


"Cover me in thunder!" Ucap Darren.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2