
Setelah pertemuan singkat itu, Darren diundang untuk datang ke kastil. Mereka bilang ada yang harus didiskusikan.
Awalnya Darren menolak karena curiga kalau ini adalah jebakan lain, namun mereka berjanji kalau mereka hanya ingin menanyakan Darren sesuatu. Tidak ada tipu muslihat dan tidak ada penangkapan.
Darren akhirnya mau menerima undangan tersebut saat Sella, Selly, Robert, dan Mia maju meyakinkan Darren. Tapi ia memutuskan untuk tetap berjaga-jaga.
Setelah tiba di kastil, Darren segera dipandu menuju ruangan khusus pertemuan. Sesaat setelah memasuki ruangan itu, Darren terpukau dengan betapa megahnya tempat itu. Hampir seperempat dindingnya terbuat dari emas, dan terpajang banyak artefak-artefak milik kerajaan.
Disamping Darren terdapat Shiro, Tora, Sella, Selly, Robert, dan Mia. Mereka diminta oleh Darren untuk menemaninya.
Para tentara berjaga di depan, dan tak ada satupun yang berada di dalam ruangan. Sepertinya perempuan itu ingin membicarakan sesuatu yang rahasia. Bahkan sampai tak boleh diketahui orang-orang di Kerajaan sekalipun.
Perempuan tadi sudah menunggunya sambil duduk di depan meja panjang yang mengkilap. Begitu Darren memasuki ruangan itu, ia segera berdiri dan mempersilahkan Darren untuk duduk.
Disampingnya berdiri Rendi yang telah membaik dari luka sebelumnya.
"Rendi? Kau sudah baikan?" Tanya Darren sembari duduk di atas kursi. Sementara Shiro dan yang lainnya berdiri di belakangnya.
Rendi mengangguk sambil membungkukkan badan. "Seperti yang kau lihat, Darren-sama. Lionna-sama telah merawat luka-luka ku dengan baik."
"Lionna? Oh, jangan-jangan--" Darren menatap perempuan itu.
Perempuan itu pun membungkukkan badan. Ia kemudian memperkenalkan dirinya. "Nama ku Lionna. Putri dari Raja Vertrag, Lionne. Namun karena ayah ku telah tiada, aku sekarang menjadi ahli waris kerajaannya." Ia kemudian kembali duduk dan menyuruh Rendi menghidangkan secangkir teh untuk mereka berdua.
"Rendi, kau kenal perempuan ini?" Tanya Darren saat Rendi mendekat untuk menaruh teh.
Rendi menjawab. "Ya. Dia dulunya adalah majikan ku. Aku dulu bekerja di sini."
Darren sekarang paham bagaimana Rendi mempunyai tata krama yang sangat baik. Ia memang sudah berpengalaman dalam menjaga sikap.
Darren menerima teh itu, namun ia tak meminumnya sama sekali. Anggap saja ini sebagai bentuk kewaspadaannya.
Di sisi lain, Lionna mulai menyeruput teh nya dengan anggun. Layaknya seorang putri, ia meminum teh itu dengan etiket kerajaan.
"Jadi, bagaimana keadaan yang lain?" Darren kembali melontarkan pertanyaannya. Ini menyangkut keadaan Katherine dan juga Tomatsu.
"Teman-teman mu baik-baik saja. Mereka sudah bangun dan luka mereka telah sembuh," Jawab Lionna.
Darren bernafas lega. "Syukurlah," Ucapnya. "Lalu, di mana mereka sekarang?"
"Mereka masih berada di ruang perawatan. Rendi ikut kemari karena ia yang memintanya," Jawab Lionna. "Tapi, salah satu teman mu yang bernama Tomatsu, nampaknya sedikit murung. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Mungkin sebaiknya kau menjenguknya nanti."
Darren mengangguk paham. Tomatsu pasti masih merasa syok karena pertarungan melawan Raja Iblis tadi. Bisa di lihat dari ekspresi wajahnya waktu itu.
"Lalu, Darren-dono. Apa benar kau berhasil memukul mundur Raja Iblis itu?" Lionna segera menuju ke topik utama.
__ADS_1
Darren menjawab. "Aku sendiri tidak yakin," Jawabnya. "Raja Iblis itu kabur begitu selesai membunuh salah satu teman ku."
Lionna mendengarkan dengan serius.
Darren melanjutkan. "Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya kemari. Apakah ia hanya memang berencana membunuh teman ku, atau ada hal lain lagi," Ucapnya. Ia kemudian mengepalkan tangannya. "Yang pastinya, aku akan mengejar Raja Iblis itu dan membalaskan kematian teman ku."
Lionna menatap ekspresi Darren yang semakin mengeras. Pertarungan itu tentunya telah melukainya, baik fisik maupun mental. Melihat wajahnya saja, Lionna tahu kalau ini bukan yang pertama kalinya bagi Darren.
"Pokoknya, aku ingin mengucapkan terimakasih pada mu, Darren-dono," Ucap Lionna. "Berkat mu, Raja Iblis itu berhasil dipukul mundur. Jika tidak, maka kemungkinan kerugian yang kami terima akan jauh lebih besar."
Darren mengangkat wajahnya. "Kau berterimakasih pada ku? Aku ini kriminal loh. Orang yang telah membunuh banyak nyawa manusia."
"Itu yang mereka pikirkan, bukan?" Sahut Lionna. "Raja Erobernesia pastinya sangat marah dengan hilangnya banyak pasukan mereka. Apalagi saat ia tahu kalau kerugian itu disebabkan oleh pemuda yang membela hak manusia hewan."
Lionna menyilangkan tangannya di atas meja. "Tapi itu urusan mereka. Bagiku, kau tidaklah berbeda dengan orang-orang biasa. Apalagi setelah menyelamatkan kerajaan ini," Ucapnya. "Lagipula aku sudah diberi tahu kalau utusan itulah yang telah membunuh ayah ku. Jadi, aku sudah tidak berpihak lagi kepada Erobernesia."
"Lalu, apa aku akan dapat penghargaan atau hadiah?" Tanya Darren.
"Jika kau mau, aku bisa memberikannya," Balas Lionna. "Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal lagi."
Darren menyenderkan punggungnya di kursi. "Apa itu?"
"Kau sudah berhadapan dengan Raja Iblis itu. Bisa selamat saja sudah merupakan keajaiban. Jadi, sebenarnya makhluk apa kau ini?" Tanya Lionna. "Tolong jawab dengan jujur. Karena aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda di jiwa mu."
Darren terdiam.
Darren menggeleng. "Aku hanya manusia biasa. Siswa SMA yang menghabiskan seperempat hidupnya untuk nolep, dan apes karena tertabrak kereta."
Lionna menunjukkan ekspresi heran. "Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Namun seperti kau berkata benar. Sihir cahaya ku tak mendeteksi kebohongan."
"Rasanya kok agak nusuk, ya?" Darren kemudian melanjutkan. "Ngomong-ngomong, tadi kau bilang sihir cahaya?"
"Ya, benar. Kenapa?"
"Uh, tidak apa-apa. Lupakan," Ucap Darren. "Mungkin lebih baik aku bertanya langsung pada Tomatsu."
Lionna melanjutkan perbincangan. "Jadi, karena kau telah menyelamatkan kerajaan ini. Kau bebas meminta apa saja."
Darren langsung menjawab. "Tolong beritahu aku tentang benua iblis."
Semua orang disana terkejut. Lionna tersentak, namun ia kembali tenang. "Baiklah, kalau itu mau mu."
Lionna berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menghampiri Darren. Saat ia dihadapannya, Lionna mulai mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Darren.
Untuk sesaat, Darren merasakan sesuatu memasuki dirinya. Saat sadar, ia langsung melempar tangan Lionna lepas dari dirinya.
__ADS_1
"Apa-apaan itu tadi?" Ucap Darren sambil beranjak bersiaga.
Lionna kembali ke kursinya dan duduk. "Aku telah membagi sebagian pengetahuan ku pada mu."
Darren agak kebingungan saat mendengar itu. Lionna pun tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Apa nama kerajaan iblis di bagian barat laut benua iblis?" Tanya-nya.
Darren dengan cepat menjawab, "Avon." Setelah menjawab itu, Darren baru tersadar sesuatu telah terjadi padanya. "T-Tunggu, bagaimana aku bisa tahu hal ini?"
Lionna meneruskan. "Seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Aku telah membagi pengetahuan ku pada mu," Ucapnya. "Dengan sihir cahaya, aku bisa mengirimkan ingatan ku kepada orang lain. Tapi ingatan itu takkan mempengaruhi ingatan orang tersebut. Melainkan hanya akan menjadi sekedar hal biasa untuk diingat."
Darren duduk di kursinya. "Apa sihir cahaya memang sehebat ini?" Gumamnya.
"Apa ada permintaan lain?" Sambung Lionna. "Kau tentunya meminta informasi tentang benua iblis bukan tanpa alasan kan?"
Darren meletakkan tangannya di atas meja. "Kalau boleh..." Ucap Darren. "Apa kau bisa membantu ku pergi ke benua iblis juga?"
Lionna menarik nafas. "Sudah ku duga," Ucapnya. "Aku takkan menanyakan apa tujuan mu ke sana. Tapi aku ingin memperingati mu satu hal."
Lionna melanjutkan. "Jika kau berencana masuk ke wilayah iblis melalui Noordoos, maka kau mungkin akan menemukan sedikit masalah," Ucapnya. "Kerajaan iblis terdekat dari sana adalah Avon. Namun sedang terjadi konflik internal di sana. Jadi, mau masuk ke sana mungkin akan sedikit sulit."
"Lalu, apa yang harus ku lakukan?"
"Orang-orang biasa umumnya tidak akan diizinkan masuk. Karena mereka akan curiga kalau kau adalah mata-mata dari negara lain," Sambung Lionna. "Tapi, jika kau menyamar sebagai anggota guild petualang, maka masih ada kemungkinan akan berhasil."
"Guild petualang? Apa kau serius?" Ucap Darren.
"Sebenarnya, kerajaan iblis tidaklah berbeda jauh dengan kerajaan manusia pada umumnya. Mereka tidak melarang petualang untuk bereksplorasi," Lionna menjelaskan. "Guild petualang adalah organisasi yang tidak dipegang oleh pemerintah manapun. Jadi bisa dibilang, guild petualang bersifat netral."
"Tapi, begitu kau memasuki wilayah iblis, maka aturan manusia yang kau percaya selama ini mungkin takkan berlaku di sana," Sambung Lionna. "Banyak para petualang manusia di sana menghilang. Selain karena lingkungan di sana yang berbahaya, para iblis di sana juga menganggap manusia sebagai makhluk rendah yang tidak berbeda jauh dari hewan."
Darren mengangguk paham. "Jadi, intinya. Begitu aku masuk ke sana, tidak ada yang bisa melindungi ku lagi. Aku mungkin akan berakhir menjadi budak di tangan monster-monster di sana." Batin Darren. "Kalau begitu, sebenarnya baik manusia ataupun monster, mereka bukanlah makhluk yang jauh berbeda."
Lionna kembali berbicara. "Apa kau yakin akan pergi ke sana?"
Darren mengangguk. "Ya. Keputusan ku sudah bulat," Jawabnya.
"Kalau memang begitu, aku akan membantu mu," Ucap Lionna. "Besok, temui aku di guild petualang. Aku akan membantu mu pergi ke sana."
Setelah itu, pertemuan itu pun selesai. Darren menyewa penginapan untuk dirinya, Shiro, Tora, dan juga teman-temannya. Sementara Tomatsu dan Katherine masih berada di ruang perawatan di kastil.
Sekali lagi, Darren akan mengembara. Tapi kali ini, rintangannya mungkin akan jauh lebih sulit.
.
__ADS_1
.
.