Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Dojo Belakang Kastil


__ADS_3

Keesokan harinya, keadaan di Kerajaan sudah sedikit lebih tenang. Akira dan Darren melaporkan kepada Schaff bahwa ancaman sudah diredam dan pelakunya sudah dipukul mundur.


"Baguslah kalau begitu," Schaff bernafas lega. "Tapi aku masih penasaran, siapa yang sanggup merobohkan tembok seperti itu."


Walau sedikit merasa tak enak hati telah berbohong, tapi itu merupakan keputusan yang tepat. Jikalau Schaff tahu tentang Raja Iblis, maka ia bisa-bisa mengambil jalan yang tergesa-gesa dan malah menimbulkan masalah.


Darren hanya bekerja sebagai penasihatnya. Tapi jika Schaff menjadi keras kepala, Darren tak bisa melawannya. Ia hanya bisa diam menyaksikan.


"Tak bisa dipercaya. Aku baru saja berbohong pada Jenderal," Bisik Akira pelan.


"Yah, mau gimana lagi. Dia itu tipe orang yang sembrono. Malah bahaya jika ia tahu hal ini," Balas Darren sambil meregangkan tangan.


Darren dan Akira berjalan bersama menuju perpustakaan, dimana Tora, Shiro, dan Tomatsu berada.


"Aku kembali," Ucap Darren sembari membuka pintu, disusul Akira yang mengikutinya dari belakang.


"Esema-sama, selamat datang," Sambut Shiro dengan wajah cerah.


Sementara Tora dan Tomatsu sedang sibuk melihat-lihat buku di rak. Entah apa yang telah mereka berdua lalui, tapi sekarang mereka terlihat akrab.


"Kau sedang cari apa, Tora?" Tanya Darren sambil menghampiri.


"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya meneliti tentang sejarah yang sebenarnya dari para Raja Iblis," Jawab Tora dengan salah satu tangannya mengambil buku dari rak. "Tomatsu-sama juga membantu ku."


"Ah, begitu," Darren mengintip judul buku yang Tora pegang.


"Benua Iblis?" Bacanya. "Apa ada benua lain selain yang kita tinggali sekarang?"


"Tentu saja ada," Balas Tomatsu. "Letaknya di sebelah timur laut benua Menschheit, benua kita ini."


Darren merasa tercerahkan. "Woah... ternyata dunia ini luas juga ya."


"Hmph... ku kira kau orang yang berwawasan luas, ternyata kau malah tak tahu tentang hal itu," Ucap Akira sambil menyilangkan tangan. "Apalagi dengan kekuatan sehebat itu."


"Ya... soal itu. Aku ini cuma anak rumahan sih," Jawab Darren.


Tomatsu tiba-tiba menepuk tangan. "Oh iya! Hari ini seharusnya menjadi jatah ku mengajari mu, Esema-kun."


"Iya, benar juga!" Balas Darren dengan antusias.


"Kalau mau latihan, aku ada tempat bagus," Akira tiba-tiba menyambar. "Ada bangunan tak terpakai di bagian belakang kastil. Itu seperti tempat latihan, tapi tak pernah digunakan lagi sejak Schaff menjadi jenderal."


"Mantap. Kalau begitu, tolong tunjukkan jalannya, Akira," Balas Darren.


Tiba-tiba Shiro menghampirinya dan menarik lengan bajunya. Wajahnya memelas tanpa alasan.


Tapi Darren membalasnya dengan senyuman.


"Iya-iya, kau boleh ikut," Ucap Darren seakan mengerti maksudnya.


Shiro langsung tersenyum gembira. "Terimakasih, Esema-sama."


Akira pun menuntun mereka ke bangunan itu. Melewati lorong kastil yang luas dan megah, Darren dan teman-temannya berjalan keluar melalui pintu belakang.


Ternyata di belakang kastil ada halaman yang sangat luas. Tempat itu sangat sejuk dengan beberapa pohon rindang yang tumbuh. Bunga-bunga juga banyak berjejer di pinggiran dengan warna yang beragam.


"Di situ," Akira menunjukan jarinya ke sebuah bangunan yang terbuat dari kayu.


Darren mengenali bentuk bangunan itu.


"Ah, itu dojo!"


Saat masuk disana, tempat itu sangat berdebu. Tembok-temboknya sudah kusam dan sarang laba-laba memenuhi langit-langit. Sepertinya memang benar kalau tempat itu sudah lama tidak dipakai.


"Sejak kapan tempat ini ditelantarkan?" Tanya Darren sambil menggores jarinya ke tumpukan debu.


"Mungkin sekitar lima tahun lalu," Jawab Akira. "Semenjak putri raja menikah dengan Schaff, ia tidak pernah mengunjungi tempat ini lagi."


Pandangan Darren langsung terarah kepada Akira. "Putri Raja?" Ucapnya. "Maksud mu, Putri Raja dulunya adalah seorang petarung?"


"Benar," Jawab Akira sembari meniup beberapa debu dari sebuah kursi dan duduk di situ. "Ia adalah salah satu ahli pedang Friedlich. Ia telah banyak menciptakan gaya seni berpedang."


"Woah, aku tak tahu tentang itu," Balas Darren.


"Tidak heran. Sejak menikah dengan Schaff, ia mulai jarang terlihat. Ia banyak menghabiskan waktu di ruangannya."


"Eeh... aku jadi ingin coba bertemu dengannya," Ucap Darren.

__ADS_1


"Aku yakin Schaff pasti akan memperkenalkannya kepada mu suatu saat nanti," Balas Akira. "Kau hanya perlu mendapatkan kepercayaannya saja."


Akira mengenakan kembali topengnya dan beranjak dari kursi. Ia berjalan menuju pintu dan melambaikan tangan.


"Baiklah kalau begitu. Kalian bisa lanjutkan latihan kalian. Aku yakin Schaff tidak masalah dengan ini," Ucapnya sembari melangkahkan kaki keluar dari dojo. "Aku akan kembali bekerja."


Darren membalasnya dengan lambaian tangan.


"Hm..." Tomatsu terlihat tidak senang.


"Ada apa?" Tanya Darren sembari menoleh.


"Tempat ini terlalu kotor untuk dipakai," Balas Tomatsu sambil menatap ke segala arah. "Temboknya kusam, dan lantainya kotor. Jika kita latihan di tempat seperti ini, maka kita tidak akan bisa mencapai hasil maksimal."


Darren mengangguk setuju. "Benar juga. Tak ku sangka ternyata Raja Iblis punya pemikiran seperti itu."


"Kalau begitu, ayo kita bersihkan tempat ini dulu," Usul Tora.


"Ku rasa itu ide bagus," Sambung Shiro. "Aku akan ikut membantu."


Tomatsu mengangguk sambil melipat tangan. "Ha, ha, kurasa ini akan jadi latihan pertama yang bagus."


Akhirnya, mereka berempat mulai membersihkan tempat itu.


Shiro dan Tora sibuk menyapu lantai, sementara Darren menghapus kotoran-kotoran yang menempel dengan sihir air-nya.


Tomatsu hanya beridiri disana tanpa melakukan apapun. Ia tersenyum lebar sambil menatap mereka bekerja.


"Tomatsu, apa kau tidak ada pekerjaan?" Ucap Darren dengan nada jengkel. "Kalau tidak ada, bantulah kami."


Tomatsu malah semakin menyeringai. "He, he, anggap saja ini salah satu bentuk latihan mu," Ucapnya. "Aku akan berdiri disini mengawasi kalian sebagai pelatih."


"Huff, baiklah. Dasar mageran."


Saat Tora membersihkan sebuah lemari, ia tak sengaja menemukan sesuatu saat membukanya.


"Esema-sama, lihatlah," Panggilnya.


Saat dilihat, ternyata lemari itu penuh dengan pedang dan senjata-senjata lainnya.


"Woah, pedang!" Ucap Darren. "Tapi sepertinya ini adalah senjata-senjata lama. Ditambah lagi, kualitasnya sangat rendah."


Darren pun mengeluarkan semua senjata itu dari lemari. Beberapa bagiannya sudah ada yang rusak. Sebagian kepala logamnya juga sudah berkarat.


"Ada tombak, ada pedang, ada kapak," Darren mengeluarkannya satu persatu. "Lengkap juga. Ini akan berguna untuk latihan."


Setelah agak lama, dojo itu pun telah terlihat menjadi lebih bersih. Tembok-tembok telah dibersihkan dengan mantra air, dan lantai-lantai yang rusak telah ditambal dengan beberapa sihir tanah.


"Sihir air dan tanah. Ternyata kau bisa menguasai dua sihir itu ya," Tomatsu ternyata memperhatikan Darren.


Darren menoleh. "Ah iya. Soal itu, sebenarnya ada yang ingin ku tunjukkan."


Darren kemudian mengepalkan kedua tangannya dan mulai berkonsentrasi. Dari tangan kanannya, keluar sebuah kobaran api kecil. Dan dari tangan kirinya, keluar sebuah aliran listrik dengan tegangan rendah.


"K-Kau bisa menguasai api dan petir!?" Tomatsu terkejut. "Ternyata memang benar. Ada sesuatu yang aneh dengan mu-- Tidak, lebih tepatnya unik."


Saat Tomatsu mengatakan itu, terlintas di benak Darren untuk mengatakan asal usulnya. Tapi, lagi-lagi ia merasa ragu dan memutuskan untuk tidak mengatakannya.


"Sebenarnya manusia macam apa kau ini?" Tomatsu terkagum-kagum. "Belum pernah ku lihat manusia dengan bakat semacam ini."


"Esema-sama keren!" Wajah Shiro malah bercahaya.


"Ha, bahkan Raja Iblis pun terkagum melihatnya," Tora malah terlihat bangga kepada Tuan-nya.


Darren pun menarik kembali sihir dari tangannya. Ia kemudian mengambil sebilah pedang dan memberikannya pada Tomatsu.


"Aku hanya manusia biasa," Ucap Darren sembari menyodorkan tangan. "Oleh karena itu, aku ingin menjadi lebih kuat."


Sebuah senyuman bersemangat terlukis di wajah Tomatsu. Parasnya semakin anggun dengan senyuman semacam itu.


"Baiklah. Akan ku latih kau beberapa teknik," Ucapnya sambil mengambil pedang dari tangan Darren. "Tapi sebelum itu, aku perlu mempelajari gaya bertarung mu dulu."


Darreh paham dengan maksud Tomatsu. Ia segera mundur beberapa langkah dari hadapan Tomatsu dan mengambil pedang lain. Ia mengacungkannya dan bersiap untuk bertarung.


"Kau peka juga," Ucap Tomatsu. "Baiklah. Sekarang, serang aku dengan kekuatan penuh mu. Dan, jangan gunakan sihir!"


Darren menguatkan kepalan tangannya. Jari-jari yang melingkar di gagang pedang, mulai memerah. Ia menarik nafas panjang dan mulai mengambil posisi kuda-kuda.

__ADS_1


"Bersiaplah, Tomatsu-sensei!" Teriak Darren sembari melangkahkan kaki dengan cepat.


Ia berlari lurus dengan cepat sambil mengayunkan pedang dari kanan.


Tomatsu sedikit terperanjat. "Dia tidak memikirkan strategi. Dia hanya mengandalkan kemampuan. Tapi, dia cepat."


Tomatsu hanya dengan santai memiringkan tubuhnya dan tebasan Darren berhasil ia hindari.


"Caramu menyerang terlalu simpel," Ucap Tomatsu. "Apa kau belum pernah bertarung tanpa menggunakan sihir?"


Tomatsu menghantamkan pedangnya ke pedang Darren, membuatnya terhempas beberapa meter.


"Di pertarungan kita sebelumnya, kau terlihat hebat dengan strategi mu. Tapi dojo ini, kau tidak mempunyai banyak benda yang bisa kau manfaatkan," Tomatsu mengacungkan pedangnya. "Sekarang, coba kau hindari serangan ini!"


Tomatsu menarik pedangnya hingga membelakangi punggungnya sendiri, dan mulai meluncurkan tusukan beruntun dengan cepat.


Darren panik. Teknik berpedang Tomatsu benar-benar sama seperti saat ia menggunakan tombak. Ia lebih berfokus pada serangan menusuk daripada serangan menebas.


"Serangan seperti ini sangat sulit untuk ditangkis," Ucap Darren dalam hati. "Lebih baik kalau aku menghindar."


Darren melompat menuju tembok di sebelah kiri dan langsung berencana menyerang balik.


"Saat ini adalah saat yang tepat untuk menyerang balik. Dia takkan sempat menarik pedangnya dan mengubah arah serangannya secara tiba-tiba."


Darren menghempaskan dirinya sendiri dengan tembok sebagai tumpuannya. Dengan cepat, ia memposisikan pedangnya dan bersiap menebas.


Tapi tiba-tiba...


Gubrakk! Tomatsu menangkapnya dan membanting Darren ke lantai.


"Esema-sama!" Teriak Tora dan Shiro bersamaan.


Kepala Darren di tahan oleh telapak tangan Tomatsu yang keras. Ia tak bisa bergerak karena tangannya telah dikunci dengan kuat.


"Aku sudah menduga itu," Ucap Tomatsu. "Aku sengaja membuatmu berpikir bahwa serangan ku tak bisa di tangkis dan memaksa mu untuk menghindar."


Darren akhirnya melemaskan tubuhnya, tanda ia sudah menyerah. Tomatsu melepasnya dan Darren bangkit berdiri.


"Duh... duh... sakit," Darren memegangi kepalanya. "Walau kau perempuan tapi kau benar-benar kuat."


"Itu masih belum seberapa. Andaikan jika aku menggunakan kekuatan yang sama seperti saat aku menghancurkan tembok," Balas Tomatsu.


"Wah, jangan. Aku bisa mati."


Shiro langsung menghampiri Darren. Ia terlihat khawatir, dan tatapan matanya benar-benar memberi hawa yang berbeda.


"Esema-sama, apa kau baik-baik saja?" Tanya-nya sambil secara tak sadar menggenggam telapak tangan Darren.


"Ya, aku tidak apa. Hanya sedikit..." Darren kemudian menatap tangannya sendiri yangs sedang bergenggaman. "Uhh... anu, Shiro."


Shiro langsung tersadar dan melepaskan tangannya. Wajahnya seketika langsung memerah karena malu atas perbuatannya.


"Maafkan aku, Esema-sama. Aku tidak bermaksud begitu," Ucapnya sambil membungkuk.


"Eh, i-iya. Itu bukan masalah besar. Lupakan saja," Balas Darren.


Tomatsu memperhatikan mereka berdua. "Apa kalian berdua..."


"Tidak. Kami hanya teman," Ucap Darren memotong.


Shiro langsung tersipu malu. Wajahnya semakin memerah. "Esema-sama menganggap ku teman. Betapa beruntungnya aku."


Darren memalingkan wajahnya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kau mau kemana, Esema-sama?" Tanya Tora.


"Aku akan mencari udara segar," Jawab Darren sambil berjalan.


Saat di luar dojo, Darren merasakan angin semilir yang sejuk menyentuh kulitnya. Rasanya sangat nyaman. Bahkan rasa sakitnya tadi langsung hilang terbawa suasana.


Sebuah angin sepoi-sepoi, tiba-tiba bertiup lembut. Membawa daun-daun bersamanya. Dan sebuah bunga, mendarat tepat di atas kepala Darren.


Bunga itu berwarna merah menyala. Sangat indah dan anggun. Mengingatkan Darren akan seseorang.


"Y-Yuzuna-san..." Nama itu tiba-tiba terlintas di kepala Darren.


Darren menatap bunga merah itu, seakan ia menatap teman lamanya. Tak sadar, beberapa butir air mata menetes di pipinya.

__ADS_1


"Yuzuna-san, terimakasih telah mengingatkan ku," Ucap Darren pelan. "Aku tidak akan lupa dengan dendam itu."


__ADS_2