
Bagas meletakkan kertas kontrak pernikahan kami di atas meja ruang kerjanya. Ketika aku masuk dia menutup pintu rapat agar tak satu pun orang bisa mendengar. Ruangan ini pun kedap suara seperti di kamar tidur kami.
"Aku mau kamu hamil keturunanku Ra. Setelah kamu melahirkan aku tak akan ..."
Aku membanting amplop coklat itu di meja kerjanya. Sepertinya lelaki ini mulai melewati batas. Aku tidak mau di rendahkan hingga diinjaknya seperti sandal. Apa aku juga merangkap menjadi ibu bayaran bagi anaknya?
"Kamu ngga bisa seenaknya merevisi kontrak ini, aku tidak bersedia tidur sama kamu!"
Dia menatapku tajam, membuat bulu kuduk merinding.
"Kenapa? kamu takut tubuh kamu rusak setelah melahirkan?"
"Kamu tahu bukan itu alasan aku! kita tidak bisa menghadirkan manusia di muka bumi ini berdasarkan kontrak."
Dia meringsek maju mendekatiku.
"Kamu tahu kan konsekwensi menolak perintahku!"
"Aku ngga perduli!"
"Oke, kalau begitu tunggu kabar dari adik-adik kamu."
"Kamu kriminal? kenapa selalu menggunakan ancaman! ini ngga fair buat pihak aku, ini perjanjian yang pincang sebelah!"
Bagas meraih amplop itu dan menyimpannya di dalam brankas di sudut ruangan.
"Tiga bulan dari sekarang, hitung waktumu, kalau tidak ku terima jawaban di hari terakhir tenggang waktu itu. Kamu akan menyesal pernah menikah denganku!"
Lelaki super arogan dan berhati bengis itu berjalan di sampingku dan bahunya menabrak bahuku sehingga aku terjajar kesamping.
Aku melangkah gontai meninggalkan ruangan itu. Aku tidak gentar kalau ancaman itu tentang aku, tapi dia sangat pintar mengeksploitasi kelemahanku, yaitu keluarga yang ku cintai lebih dari aku mencintai diri ku sendiri.
Miss Bianca menegurku yang duduk termenung sendirian di taman rumah megah milik suami kejamku.
__ADS_1
"Teh panas kesukaan mu, semoga bisa mengurangi sedikit kegundahan."
Dia meletakkan gelas teh di atas meja taman, lalu berjalan meninggalkan aku.
"Miss Bi .... boleh ngga saya nanya sesuatu?"
Miss Bianca menghentikan langkahnya, kemudian dia kembali menghampiriku.
"Ada apa nona?" dia berdiri menjulang tepat di hadapanku.
"Kenapa Bagas membenci Grizella Indira, mantan kekasihnya." tanyaku sembari menyandarkan punggungku di kursi.
"Hemz, nona sudah bertemu gadis penyihir itu?"
Aku mengerutkan keningku mendengar deskripsi Miss Bianca tentang Grizella.
"Duduk Miss Bi."
Wanita berwajah masam namun terlihat baik hati itu duduk di depanku.
Miss Bianca diam sejenak. Kemudian dengan sedikit emosi dia berujar.
"Tapi dia penyebar rumor kalau Tuan Bagas berorientasi se* menyimpang, dia yang mengatakan kalau Tuan Bagas Ga*, entah mengapa dan apa permasalahannya, tapi semua orang percaya karena yang menyebarkan adalah kekasih Tuan Bagas sendiri. Bahkan pihak keluarga yang tidak menyukai Tuan juga ikut menyebar gosip murahan itu. Dan anehnya banyak yang percaya."
Rasanya benang merah persoalan ini semakin jelas. Pantas saja Bagas memintaku hamil ketika Grizella muncul. Dia ingin membuktikan pada mantan yang masih dicintainya bahwa dia pria tulen. Tapi untuk semua pembuktian itu dia mengambil terlalu banyak dariku.
Teh panas yang kusuka sudah berubah hangat. Aku hanya menyeruput seteguk karena aku lebih menyukai teh panas.
Tiba-tiba Miss Bianca dihubungi Oleh Bagas melalui alat komunikasi di telinganya.
"Ya Tuan. Saya akan bawa nona ke kamar segera."
"Tuan minta nona segera masuk, sudah malam. Besok nona akan melakukan perjalanan bisnis ke San Fransisco bersama Tuan."
__ADS_1
Aku melongo, untuk urusan sepenting ini dia tidak membicarakan terlebih dahulu kepadaku. Dasar diktator kelas kakap.
Aku berjalan di samping Miss Bianca, dia mengantarku sampai pintu kamar, lalu pamit padaku.
Lelaki itu duduk di sofa dalam kamar dengan posisi bersedekap sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, sementara kaki panjang dan berototnya menyilang. Tampak dia sangat mengantuk sehingga saat aku masuk dia sangat terkejut.
"Mulai malam ini, biasakan dirimu tidur di sampingku. Jangan tidur di sofa lagi."
Aku menggeleng dan mengambil selimut serta bantalku dan segera kubawa ke sofa pojok kamar.
Tapi dengan santainya dia menarikku kembali ke tempat tidur, dia menghempaskan tubuhku di atas ranjang empuknya yang luas. Aku berteriak kaget.
Bukannya merasa iba dengan ketakutanku, dia malah menindihku. Aku memalingkan wajahku ke samping.
"Aku tidak akan meniduri kamu hari ini, kecuali kamu mau sebelum waktu tiga bulan itu habis. Tapi untuk proses itu aku mau kita membiasakan diri tidur satu tempat tidur." ucapnya begitu santai. Aku bergidik dengan sikap agresifnya.
Aku membuka mataku, dan mata kami saling beradu, dia masih menindihku. Aku mendorongnya sekuat tenaga.
Dia tak bergerak sedikit pun dari atas tubuhku. Lelaki ini terlalu kokoh.
"Jangan membantahku, tidurlah di sini. awas!" dia menggulingkan tubuhnya sendiri tanpa dipaksa. Lelaki itu tidur di sampingku. Aku beralih tidur di atas bantal dan memunggunginya.
Pagi ketika terbangun seluruh keperluanku telah disiapkan. Aku mandi dan duduk di sampingnya untuk sarapan di meja makan.
"Perjalanan bisnis kita akan panjang. Arkana akan ikut bersama kita untuk memastikan kamu tidak membuat masalah di negeri orang."
Aku diam dan bergeming.
"Arkana dan siapa pun tidak tahu masalah kita, tentang isi amplop rahasia kita, jangan coba-coba bercerita kepada siapa pun. Ingat itu, kalau sampai bocor ke publik orang yang akan kuhancurkan adalah kamu dan keluargamu. camkan itu!"
Memang lelaki itu berbisik di telingaku, tapi aku mendengarnya laksana petir menggelegar membuat pekak indra pendengaran.
"Aku bosan mendengar ancamanmu. Membuat selera makanku hilang." rutukku kesal.
__ADS_1
Bersambung