
Hampir satu bulan Bagas tidak pulang ke rumah kami. Dia menghilang seperti ditelan bumi, tapi menghilang hanya untukku, karena dia terus menghubungi Arkana dan beberapa bawahannya di kantor. Hanya aku yang tidak dihubunginya. Kwalitas hubungan kami menurun drastis. Aku tenggelam dalam pekerjaanku. Sesekali menginap di rumah Orang tuaku, meskipun dengan pengawalan ketat. Arkana memberikan aku pengawal wanita sampai tiga orang kalau kebetulan dia tidak bisa mengawalku.
Aku masuk ke kamarku tanpa tahu di sana ada Bagas. Dia datang setelah lebih dari satu bulan menghilang. Rasa marah luar biasa membuatku justru tak bisa berkata apa pun. Dia diam terlebih aku. Rasa muak mengalahkan rasa cintaku. Teringat bagaimana dia mengabaikan aku saat nyawa dan kehormatanku terancam.
Kami tidur satu kamar tapi tidak saling menyapa. Terkadang dia sengaja pulang setelah aku sudah terlelap dan pergi ketika aku belum terjaga. Tak tersisa sedikit pun kemesraan yang pernah kami miliki. Aku ingin menyapa, namun wajah batu es itu terlalu dingin dan tak ada ekspresi.
Kami kembali kepada kehidupan awal pernikahan dulu. Saling diam dan tak perduli satu sama lain.
Aku merasa Bagas mendekatiku beberapa bulan ini mungkin hanya ingin mengakhiri keperjakaanya. Setelah semua rasa penasaran itu terjawab, dia mulai mencari alasan untuk kembali membeku.
"Nona, ada telepon dari Nyoya, beliau berbicara di telepon rumah."
Aku tercenung menatap Miss. Bianca. Dia memahami kebingunganku.
"Ibu kandungnya Tuan Bagas yang menelepon Non." Miss. Bianca menutup horn telepon dengan telapak tangannya. Aku menjulurkan tanganku dengan ragu. untuk menerima panggilan itu. Akibat dari memperdulikan Ibu kandungnya Bagas sangat fatal bagi hubungan aku dengan Bagas.
"Bagaimana Non mau diterima atau ditutup aja?" tanya Miss. Bianca tak sabar melihat keraguanku.
"Sini Miss, saya terima saja."
Saat ku sapa Halo, di seberang sana terdengar sapaan lembut dari Ibunya Bagas.
"Kamu istrinya Bagas?"
"Iya Bu, saya Zara Septia."
"Bagaimana keadaan Bagas akhir-akhir ini Zara? dulu dia selalu mengigau dan berteriak ditengah malam, apa masih seperti itu?"
Aku mulai merasa nyaman berbicara dengan ibunya Bagas.
"Tidak lagi Bu, alhamdulilah dia baik-baik saja."
__ADS_1
Samar terdengar beliau menghela nafas.
"Ra, boleh ngga Ibu ketemu sama kamu? ada hal penting yang ingin Ibu katakan." tanya Ibu mertuaku.
"Tapi Zara selalu diikuti pengawal Bu, cuma saat di rumah ini saja Zara tidak ditemani pengawal di dekat Zara, mereka hanya berjaga di sekitar rumah."
Sejenak ibu terdiam, kemudian beliau kembali mengatakan sesuatu yang membuat aku berpikir sebenarnya beliau Ibu yang baik.
"Jangan pernah meninggalkan Bagas ya Nak, cukup Ibu saja yang meninggalkan luka di hatinya, eum tentang permintaan uang 2M yang sempat Ibu katakan di chat itu, lupakan saja Ra. Jaga suami kamu bukan hanya demi cinta kalian, tapi juga demi Ibu, siapa tahu Ibu ngga sempat bertemu kalian nanti."
"Maksud Ibu? kenapa ngga bisa ketemu lagi Bu? Ibu sakit?"
Aku langsung menebak ke arah sana, karena sejak awal berbicara denganku, beliau terdengar tidak sedang baik-baik saja,
"Ngga Ra, Ibu ngga sakit, hanya saja kita ngga akan pernah tahu kan kapan usia kita berakhir?"
Pembicaraan kami berakhir beberapa saat kemudian. Aku merasa ada sesuatu yang salah antara Bagas dan Ibunya, entah itu apa.Suamiku memiliki begitu banyak lapisan untuk di buka, kehidupannya terbungkus sangat rapi, bagai lapisan bawang yang saling tindih menindih. Hingga kini, aku masih berada di luar lapisan itu. Mungkin membutuhkan begitu banyak air mata untuk membuka lapisan demi lapisan itu.
Tiba-tiba kepalaku sangat pusing, ku kembalikan telepon rumah ke tempatnya. Sudah beberapa hari ini aku merasakan perutku mual dan kepalaku pusing.Muncul rasa curiga kalau saat ini aku berbadan dua. Rasanya persis sama dengan saat mengandung Panji dulu. Tak ingin membiarkan diri ini penasaran berkepanjangan. segera kuambil test pack yang ku beli dari apotik tadi siang.
Gemetar aku membuka test pack yang kuletakkan terbalik di hadapanku. Aku bersila di atas ranjang besar kami. Air mata merembes ketika ku dapati garis dua di test pack yang ku pegang, aku hamil. Hamil di saat kondisi hubungan kami tidak baik-baik saja.
Cekrek ....
pintu kamar terbuka tepat saat aku sudah menyimpan test pack di kantong piyamaku.
Bagas masuk dan membanting pintu kamar sekuatnya. Entah apalagi kini yang membuat dia sangat marah
"Jangan melakukan kekerasan fisik padaku sayang, please, kamu boleh marah dan meneriaki aku, tapi jangan gunakan kekerasan fisik." Bagas menghentikan langkahnya dan tangan nya yang terkepal perlahan mulai melemah.
"Kamu sangat bodoh Zara, kenapa tidak meminta pengawalan dari pihak hotel hingga sampai Bandara. Kamu itu bukan istri lelaki sembarangan, kamu tidak bisa pergi kemana pun tanpa pengamanan."
__ADS_1
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kamu yang bodoh, seenaknya pergi begitu saja dengan hanya meninggalkan notes, sebesar apa pun kekhilafan istrimu, rasanya terlalu berlebihan kamu meninggalkan aku sendirian di Negeri tempat musuh kamu berada."
"Jadi itu alasan kamu bersedia menerima Bos Mafia, si Jeidan kepar** itu? kamu rela tidur dengan dia untuk membalas rasa sakit hati kamu terhadapku?"
Tuduhan Bagas membuat hati ini terluka.
"Luar biasa Tuan Rainhard, imajinasi kamu terlampau liar."
"Ini bukan imajinasi, tapi fakta."
Dia menyodorkan ponselnya kepadaku, foto-fotoku dengan Bos Mafia diambil dari sisi dan angel yang sangat diperhitungkan, sehingga saat aku ditarik dan terjerambab ke pelukan lelaki itu terlihat aku memegang dada lelaki itu dan menciumnya. Beberapa foto lagi terlihat seolah aku memeluk mesra Bos Mafia itu.
"Kamu yang bersalah sayang, andai kamu ngga meninggalkan aku sendirian! aku ngga mungkin disekap dan hampir diperkosa oleh Bos Mafia kejam dan arogan itu."
Bagas menatap mataku sangat tajam, kilat netra itu laksana pisau yang melayang membelah sukmaku.
"Hampir diperkosa? tapi yang kulihat di foto ini kamu sangat menyukainya Zara Septia. Istri Bagas Rainhard berselingkuh dengan bos mafia. Apa kurangnya aku Zara, apa? kepribadianku memang begini, aku tidak bisa lembut dan halus, tapi apakah pantas kamu ...."
"Aku tidak pernah berselingkuh Sayang, dan aku pastikan tidak akan pernah!"
"Kamu pembohong Zara, kamu ...."
"Kamu lebih dari tahu sayang, bagaimana mengambil foto agar terlihat seolah-olah sedang melakukan sesuatu, ini hanya salah satu trik dalam fotografi, itu ngga seperti yang kamu pikir!"
Bagas melengos, aku yakin dia akan melunak. Teringat kata-kata Ibu mertua membuatku menanggalkan jauh-jauh semua egoku.
"Sayang, kamu kenapa ..." aku menangkap Bagas yang tiba-tiba oleng. Badannya juga terasa panas. Ku papah dia untuk duduk di kursi sofa. Bagas berkeringat dan suhu badannya panas.
Ketika tanpa sengaja tanganku memegang bahu kirinya, dia meringis. Aku megerutkan kening.
__ADS_1
Bersambung guys ...
Yang suka banget cerita ini plese komen dan likenya guys