ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 4 Mengejutkan


__ADS_3

"Kak masuk gih, Aryo yang temenin Mas Genta di sini, atau Mas Genta pengen ketemu anaknya ya, ku ambil dulu ya Mas, sebentar."


Genta terperanjat, tanpa mengatakan apa pun dia menstater motornya dan pergi tanpa sepatah kata pun.


"Adiknya kakak pintar banget ya." bisikku di telinga Aryo.


"Mas Genta kan takut ketemu Panji." Aryo menautkan keningnya.


aku membusai rambut adikku, meskipun dia adik bungsu tapi dia seperti melindungi kakak-kakaknya. Tubuhnya tinggi tegap meskipun baru kelas 3 smp.


Aku berjalan gontai memasuki kamarku. Terasa sangat menyakitkan melihat barang-barang panji, entah apa yang terjadi padanya. Dia menghilang tak tahu rimbanya. Tak ada jejaknya dimana pun. Air mataku meleleh lagi. Rasa sakit itu sempurna saat kembali melihat lelaki jahat itu. Ayahnya panji. Untuk apa sekarang dia berkeliaran di sekitarku. Menambah rasa perih ini semakin menyiksaku.


"Kak, ada Mas Rio di depan." Ratih menghampiriku yang sedang menangis terisak di bawah bantal. Ratih menepuk bahuku.


"Kak yang kuat ya, kita berdo'a saja agar Panji dirawat oleh orang yang baik. Yang bisa menyayangi Panji meskipun dia tak sempurna."


Aku duduk dan menyeka sisa air mata di pipi.


"Siapa di depan Tih?"


"Mas Rio Kak, buruan gih kasian ntar jamuran nungguin dari tadi." Ratih membuatku tertawa. Aku segera mencuci muka dan membersihkan sisa air mata.


"Hai, gadis jelek dan cengeng, ngapain kok lama banget, dandan juga ngga deh kayak nya."


Aku tertawa terkekeh.


"Julid banget sih yo, ada apa tumben nyamperin aku, singa betinamu ngga cemburu?" sahutku sambil mempersilahkan Rio untuk duduk di teras.


"Ku kandangin dulu Ra, biar ngga mencakar kamu! rese lu ah!"


Rio memang bertampang sangat biasa, kulitnya sawo matang tapi justru karena kulitnya itu banyak penumpang perempuan yang fall in love kepadanya. Terlebih senyumnya juga kebangetan manisnya. Salah satunya si singa betina itu, kata Rio cewek itu maksa untuk dipacari. Aku ngakak sendiri mendengar ceritanya. Dahulu Genta pun sering cemburu bila aku nongkrong bareng Rio sehabis narik ojol, yang paling bikin Genta sewot adalah selalu keduluan Rio yang berada di sampingku saat motorku mogok entah kehabisan bensin atau tiba-tiba pengapiannya macet.


"Ra, aku bawa berita separo bagus separo ngga sih sebenarnya, tapi janji jangan histeris ya."


"Apaan Rio." tanyaku penasaran.


"Janji ngga berteriak ya."


Aku mengangguk dan meyakinkan Rio dengan janji jari kelingking.


"Panji, ada yang liat dia di buang oleh dua orang di pembuangan sampah!"


Aku histeris dan menangis. Ayah, ibu dan kedua adikku berlari ke teras.


"Tuh kan histeris, bikin gempar Ra." Aku mengguncang bahu Rio.


"Ayo kita kesana Rio, dia masih hidup kan?"


Ayah dan Ibu serta kedua adikku ikut penasaran.

__ADS_1


"Katanya sempat dirawat warga miskin di sana, kebetulan saat itu ada pemuda kaya yang sedang mengantar sembako untuk orang-orang di sana, mendengar nasib Panji yang dibuang di tempat sampah dia sangat murka, lalu dia meminta untuk merawat bayimu Ra, tapi tidak satu pun dari warga yang tahu tentang dia. Dia pergi membawa Panji."


Aku hanya bisa bersyukur kalau Panji masih hidup dan dipungut oleh orang baik atau setidaknya di masukkan panti asuhan.


"Dimana perkampungan itu Rio, temani aku ya, aku ingin tahu ciri dan mobil atau apa pun itu dari lelaki itu."


"Besok aku temani Ra, tapi sia-sia sih, mereka lupa juga mobil lelaki itu katanya mobilnya selalu ganti-ganti. Dan dia memakai masker. Jarang lepas maskernya. Mereka hanya bilang lelaki itu selalu memakai jas hitam dan tubuhnya tinggi tegap."


"Sudah lah Ra, syukuri saja Panji ada yang merawat." bujuk Ibu sembari mengelus lembut bahuku.


"Kalau memang gusti Allah berkenan kamu pasti akan dipertemukan kembali." Ayah ikut mengelus bahuku.


"Iya Ra, yang penting sekarang kita tahu Panji masih hidup." Rio ikut menghibur.


Pagi sekali ketika hendak berangkat ke kantor diantar motor butut ayah yang biasa digunakan untuk belanja keperluan jualan sayur kelilingnya. Sebuah mobil Audi A8L, mobil yang hanya bisa ku lihat di layar televisi belaka, aku tahu ini seri terbaru, berhenti di depan rumahku. Aryo dan Ratih yang bersiap berangkat sekolah terpana melihat mobil mewah itu. Aku lebih terkesima lagi karena yang turun dari mobil dan berjalan ke arahku adalah si gunung es itu.


Dia mengangguk hormat kepada Ayah dan Ibuku.


"Ra, aku jemput kamu karena motor kamu mogok, ini tolong kamu yang bawa ya, saya mau periksa email di jalan." pak Bagas memberikan kunci mobilnya kepadaku. Kedua adikku ternganga.


"Kakak bisa?" Aryo bertanya tanpa suara hanya mulutnya yang komat kamit. Aku hanya mengangkat bahu dan pamit pada kedua orang tuaku dan segera menyusul bos besar yang sudah duduk manis di kursi penumpang.


Dia mengajariku sebentar cara menggunakan mobil super kerennya, aku menyimak dengan seksama bahkan sampai cara memainkan musik dan radio atau hal lainnya. Detail dan cepat tapi alhamdulillah aku cepat belajar. Sebenarnya buat aku yang kampungan yang tahunya cuma motor matic dan mobil sederhana milik Rio ini adalah pengalaman luar biasa. Kini aku berada di belakang setir sebagai pemantau saja, karena mobil ini autonomous.


Bos pelit bicara itu memperhatikan layar ponselnya dan merespon beberapa email yang masuk. Hingga sampai di parkiran VVIP kantor dia masih tenggelam di dalam aktivitasnya.


Aku memberikan kepadanya dan kami turun bersamaan. Dia berbicara kepada security dan menunjukku dengan dagunya kemudian memberikan kunci motorku kepada security. Aku faham sekarang, dia meminta security membawa motorku ke bengkel.


Setelah satu bulan tak pernah bertemu lagi, tiba-tiba saja sekretarisnya yang bernama Reynald, memintaku datang ke ruangan bos irit bicara itu.


Aku masuk ke dalam ruangan megah itu lagi. Menunggunya dengan perasaan tak nyaman, aku khawatir tidak membuat dia puas dengan kinerjaku. Meskipun aku merasa telah menggunakan seluruh kemampuanku untuk meningkatkan performa program yang ku kerjakan. Dari klien juga tidak ada komplain.


Sejenak kemudian dia masuk membawa selembar amplop coklat. kemudian meletakkan di depanku.


"Baca dan nanti akan aku jelaskan alasannya."


Dia berdiri di sampingku menyandarkan bokongnya pada meja sambil kedua tangannya dilipat di dada. Netra tajam itu bagai laser menusuk jantungku.


Aku mebuka amplop itu dan menarik lembaran kertas di dalamnya ada 3 lembar. Aku tertegun membaca judul documen itu.


Perjanjian Nikah


Wajahku bersemu merah, nafasku seperti tertahan di kerongkongan. Tertulis sebagai pihak pertama nama dia dan aku sebagai pihak kedua, ada beberapa pasal yang mengatur di dalamnya. Dan aku sungguh tak mengerti.


Pasal 1


Tidak boleh melibatkan perasaan. Harus menjaga jarak dan tidak boleh saling menyentuh secara intim kecuali diperlukan saat ada orang lain.


Pasal 2

__ADS_1


Tidak saling mewarisi harta masing-masing


Pasal 3


Tidak boleh melarang pasangan nikah kontrak untuk mencintai dan bersama orang lain


Ada beberapa pasal lagi tapi hanya ku baca sekilas. Aku mengangkat wajahku menghadap lelaki dingin itu.


Apa maksudnya, kenapa tiba-tiba Pak Bagas memberikan saya ini.


"Aku tahu kamu adik tingkatku sejak awal kamu masuk, aku juga tahu kamu berstatus janda, dan laki-laki yang bertengkar denganmu di kantor rekan bisnisku adalah mantan suamimu. Kamu menikah sangat singkat hanya 6 bulan. Ayah dan ibu kamu pedagang sayur keliling dan ..."


Aku berdiri dan kini netra kami berhadapan. Aku tergolong wanita berkaki jenjang dan indah sehingga aku hanya setelinga laki-laki bertubuh tinggi tegap berotot ini.


"Apa hak kamu menguntitku! aku punya privacy meskipun aku anak buahmu." ucapku kaku. Rasa takutku pada lelaki gunung es itu sirna seketika.


"Aku menawarkan sebuah rumah dan toko untuk berjualan di pasar sayur yang bersih dan berkelas, uang tunai 1 Milyard dan mobil Audi A8L yang kamu pakai bulan lalu sebagai tambahannya. Pikirkan, aku hanya butuh status dan kerahasiaan bahwa kita nikah dengan kesepakatan. Kuberi kamu waktu 3 hari untuk menjawab dan menanda tangani ini."


"Apa alasan pernikahan ini." tanyaku mencoba memberanikan diri.


"Aku dituduh H*m* oleh keluarga dan rekan bisnisku." ucapnya singkat. Aku ternganga mendengar ucapannya. Cukup sudah aku terjebak pernikahan menyakitkan dengan Genta, aku tak akan mengulangi pernikahan ajaib ini.


Aku menggeleng kemudian meninggalkannya.


"Aku harus bekerja lagi, maaf aku tidak tertarik kaya mendadak dengan menutupi aib kamu. Cari orang lain saja."


Lelaki itu berjalan mendahului ku dan berdiri tegak di hadapanku.


"Aku bukan g*y, aku hanya tidak ingin terlibat dengan wanita."


Aku tidak menggubris. Aku lewati sosok tinggi tegap itu. Perasaanku tiba-tiba tak nyaman saat melihatnya, apa mungkin dia benar-benar g*y? mengingat sikap dinginnya kepada wanita.


"Aku tidak percaya orang lain Ra, aku memintamu karena aku yakin kamu bisa dipercaya." ucapnya.


Aku berbalik menghadap ke arahnya.


"Aku ngga berani bermain-main dengan pernikahan Pak. Maaf."


Aku membuka pintu ruangannya, tapi tangan kokohnya menahan pintu itu.


"Jangan menjawab sekarang, kalau kamu berubah pikiran datang ke ruanganku. Waktumu 3 hari." dia berbisik di telingaku.


Aku pergi meninggalkan ruangan itu dan merasa bisa kembali bernafas lega. Perasaanku masih sedikit terguncang oleh tawaran gila itu.


Dua hari berlalu, aku tetap bekerja seperti biasa ketika ponselku berdering, dari Ratih adikku.


"Kak, ayah kecelakaan Kak sekarang dibawa ke Rumah Sakit, kami tunggu ya Kak." Ratih memberi tahuku nama Rumah Sakitnya. Tubuhku terasa lunglai, namun harus segera bergerak untuk ke Rumah Sakit. Aku berlari meninggalkan ruangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2