ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 53 Amarah dan Rindu


__ADS_3

Tak satu pun dari kami yang berani bergerak, rasanya hanya untuk bernafas saja sangat takut. Bagas menatap tajam kepada kami satu persatu sembari mengeraskan rahangnya.


"Kalian memilih untuk bungkam? baiklah, akan aku lacak sendiri, dan jangan salahkan, kalau setelah menemukan salah satu dari kalian adalah penyusup, kalian akan kuseret ke penjara!"


Tak ada yang berani mengangkat wajah untuk sekedar bersitatap dengan lelaki gagah namun menakutkan itu. Saat amarahnya membuncah, kucingpun akan menghindar dari mendekatinya. Beberapa saat kemudian ponsel Bagas berdering, dia berjalan menjauh lalu kemudian mengangkat ponselnya, mengarahkan ke indra pendengarannya.


Tak begitu lama dia berbicara kepada si penelepon, netra itu kembali menatap tajam kepada kami. Dia menutup sambungan telepon itu dan kembali berjalan ke arah kami.


Kemudian Bagas meminta kami semua bubar. Para pelayan yang ketakutan saling berbisik satu sama lain,  saat aku berjalan melewatinya dia masih mendelik ke arahku, seakan tatapan itu mengenaliku, namun aku sudah mampu bersikap cuek karena sangat yakin bahwa  penyamaranku sangat sempurna, jadi  tak perlu membuatku gugup dan khawatir berlebihan, karena justru akan membuat Bagas curiga.


Bagas terdengar meminta kepala pengawalnya, Reno untuk segera menjemput keluargaku.


"Jemput kedua orang tua Zara istriku, dan juga kedua adiknya, bawa mereka ke rumah ini, saya mau mereka menggantikan pengasuh yang saya pecat, sangat bagus keluarga mertua saya di sini, agar istri saya tak berani berbuat macam-macam!"

__ADS_1


  "Siap Tuan," sahut Reno.


Reno segera mengajak beberapa anggota timnya untuk segera menjemput keluargaku. Mendapati kenyataan itu tak membuat aku sakit hati dan sedih. Justru sebaliknya, aku tahu pasti bahwa Bagas mempercayai keluargaku untuk menjaga kedua jagoannya. mungkin kejadian pengkhianatan pengasuh Dafa membuat dia sangat berhati-hati untuk percaya kepada orang lain, kalau keluargaku sangat tak mungkin melakuakan hal buruk pada kedua cucu mereka sendiri. Saat ini tak ada yang Bagas percayai selain keluargaku. Setidaknya itulah yang kuyakini saat ini. Aku mengenal Bagas dan tahu persis wataknya. Dia bahkan lebih mempercayai aku dan keluargaku dari pada keluarganya sendiri. Hanya saja saat ini dia sedang sangat terluka oleh kenyataan aku menutupi  kalau Arkana adalah adik kandungnya. Sehinigga dia mengira aku, Arkana dan Ibu mertuaku bersekongkol hendak menikam dia dari belakang. Semarah-marahnya Bagas kepadaku, aku tahu dia sangat merindukanku, terkadang dia membuka dompetnya hanya sekedar melihat foto pernikahan kami, atau berlama-lama melihat layar ponselnya yang terpampang foto kami ber empat. Aku tahu, Bagas sangat terpukul dan kesepian. Setelah aku berhasil membantu Bagas menangkap wanita yang pernah menyiksa masa kecilnya, aku akan membuka penyamaran ini. Rasanya hati ini tak kuasa melihat dia terluka dan kecewa pada satu-satunya wanita yang dicintainya, yaitu aku, Zara Septia.


Bagas dikelilingi orang-orang yang sangat munafik di sekelilingnya hanya karena dia memiliki segalanya. Banyak orang yang hanya mengincar harta dan kekuasaannya. Bagas yang sukses di usia relatif sangat muda, memancing orang-orang serakah untuk mengelabuinya. Aku sungguh tak merasa sakit hati atas perlakuannya kepadaku. Dia berhak marah karena rasa percayanya yang luar biasa kepadaku seharusnya aku pun tak menyimpan sedikit pun rahasia darinya. 


Setelah menghubungi banyak klien penting dan anak buahnya di kantor, Bagas memilih tetap di rumah dan bermain bersama kedua buah hatinya, Dafa dan Bara. Sesekali dia duduk menyendiri di tepi taman yang indah dan luas di samping rumah. Dia termangu dan tampak sangat sedih. Tanpa kusadari air mata merembes di pipi ini, karena aku melihat Bagas memeluk Bara dan menciuminya sambil bergumam lirih:


"Papa sangat merindukan Mama kalian, apakah dia bisa merasakan apa yang Papa rasakan? tapi andai dia merasakannya, pasti dia akan datang dan bersimpuh di hadapan Papa dan meminta maaf, bukannya menghilang dan tak bisa Papa temukan dimana pun," desis Bagas. Bara kembali berlari mengejar Dafa dengan langkah kecilnya, Bagas bersandar di dinding bebatuan ukir di sisi taman memandang kedua buah hatinya yang ceria. Aku sesekali menangkap Bara yang hampir terjatuh dengan langkah kecilnya. Bara sudah belajar berlari sekarang. 


"Bagaimana? apakah sudah ada titik terang dimana istri saya?"


"Ada Tuan, terakhir dia terlihat di sebuah komplek elite Jakarta Pusat, ada yang melihat dia bertemu seorang pemilik perusahaan besar?"

__ADS_1


"Saingan bisnisku?" tanya Bagas. Nada suaranya terdengar naik satu oktaf.


"Bukan Tuan, tampaknya Nona Zara memiliki teman baik dari kalangan atas. Hanya saja kami belum tahu persis. Terakhir kami menemui Tuan Bramasta dan Nyonya Cyntia, namun mereka tak mengetahui siapa yang menjadi sahabat Nona Zara di dalam keluarga mereka, bisa jadi Nona Zara bersahabat dengan Tuan Richard?"


Rahang Bagas mengeras, wajahnya tampak memerah. Kalau sudah begitu, aku tahu dia sedag menahan kecemburuan tak terperi.


"Jangan berani-beraninya kamu mengatakan  istriku berselingkuh, aku tak akan pernah percaya itu, dia wanita terhormat yang tak akan merendahkan dirinya karena lelaki, aku tak akan percaya sebelum melihat dengan mata kepalaku sendiri perselingkuhan itu, cepat cari dia dan bawa ke hadapanku, pastikan dia baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun atau aku akan bubarkan tim kalian, saya beri waktu satu minggu!"


"Siap Tuan, kami akan lebih mengerahkan seluruh personil untuk melacak keberadaan Nona Zara." sahut ketua Black Shadow.


"Sebaiknya kalian tingkatkan kemampuan, masa hanya mencari satu wanita lemah kalian tak mampu!" ejek Bagas. Ketua tim BS meminta maaf berkali-kali.


Mungkin seandainya Rich dan Niken tidak terlibat dalam penyamaranku, sudah sejak lama aku tertangkap oleh anak buah Bagas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2