ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 22 Disekap 2


__ADS_3

Waktu terasa berjalan begitu lambat, berada di sebuah ruangan menakutkan, terancam, sendirian dan tak ada kepastian, membuat kewarasan sedikit bergeser.


Aku mencoba menghubungi Bagas kembali, tapi ternyata nomerku masih di blokir lelaki itu. Saat hendak menghubungi Arkana, sebuah tangan mencengkram rambutku, merebut ponsel dan membantingnya hingga remuk di lantai. Mataku nanar menatap wanita tomboy bernama Michele itu.


"Aku sudah ingatkan untuk jangan macam-macam! tapi kamu bandel!"


Tangannya yang memegang pistol terayun ke atas hendak memukulku dengan gagang pistol itu, tapi suara berat dan berwibawa milik pemimpinnya menahan Michele.


"Hentikan Michele, minggir, aku akan membuat suaminya gelap mata terlebih dahulu!"


Lelaki berpenampilan ala Mafia Yakuza Jepang itu menitahkan seluruh anak buahnya meninggalkan kami berdua, kecuali Frank, lelaki yang selalu di sampingnya.


"Ambil Foto dan kirim kepada si sombong itu, aku ingin tahu apakah dia akan tetap bergeming dengan kebodohannya atau menyerah dan menandatangani kesepakatan untuk membantu jaringan organisasi kita di bidang IT di Indonesia."


Lelaki tampan berwajah innocent namun sangat menakutkan itu membuka kemejanya. Tatto bergambar khas kelompok Mafia terbesar di seantero Asia terlukis di dada dan punggungnya.


Dia meringsek ke arahku. Aku mundur dan terasa seluruh tubuh ini gemetar ketakutan. Dia menarik paksa kemejaku dan memaksa mencium leher dan pipiku, namun sekuat tenaga aku berusaha memberontak.Ku rasakan kilatan kamera mengambil tepat ketika aku hampir terbanting namun di peluk mesra lelaki bos Mafia itu. Tatapan mata kami saling beradu. Tiba-tiba dia terlihat tersenyum tipis. Wajah kami sangat dekat.


"Kalau kamu mau Zara, tinggalkan Bagas, jadi pendamping seorang sepertiku jauh lebih tepat untuk wanita secantik kamu." bisiknya di telingaku.


"Aku mencintai suamiku, jangan coba-coba merusak segalanya dengan foto dan vidio yang kamu buat." pekikku kalap.


"Aku berubah pikiran sayangku, saat ini yang aku mau adalah mencicipi istrinya Bagas, aku akan membuat kamu jatuh kedalam pelukanku! bukan sekedar sandiwara! aku akan mengirimkan vidio syur kita berdua sayang!" desisnya kalap. Aku mengambil taplak meja untuk menutup sebagian pakaianku yang sobek.


Dia tertawa menggema di ruangan kecil ini. Aku semakin ketakutan, hanya keajaiban dari yang maha segalanya yang bisa menyelamatkan diri dan kehormatanku saat ini.


"Jangan mendekat! akan sangat memalukan kalau diketahui saingan bisnismu bahwa Mafia seterhormat kamu mencoba menggagahi wanita tahanan yang merupakan istri lelaki terhormat!"

__ADS_1


Aku berusaha membuat dia merasa tak pantas berbuat rendahan.


Frank tiba-tiba memberikan ponsel kepada Bos Mafia itu. Setelah beberapa saat kemudian dia menggeram marah, matanya memerah menatapku. Aku bergidik.


"Aku tidak perduli sayang, akan aku buat Bagas Rainhard menangis darah karena baru saja menolak kerja sama meskipun tahu istrinya kami sekap berhari-hari di sini."


Dia terkekeh. Dengan santai dia melepaskan ikat pinggang dan hendak melepaskan celana panjangnya, namun Frank, lelaki berwajah indo jepang itu kembali, berbisik kepada lelaki itu.


"Bangs**! penghianat itu merusak rencana kita! cepat kembali ke markas sebelum mereka datang."


Bos Mafia yang aku tak tahu namanya itu memasang kembali semua pakaiannya.


"Bagaimana perempuan ini Bos? apakah saya tembak saja di kepalanya? sudah tidak berguna lagi kan?" Frank mengarahkan moncong senjata apinya tepat ke pelipisku.


"Jangan Frank, bawa dia, aku akan menembak kepalanya setelah puas bermain dengannya, seret dia, bawa ke markas, aku ingin menuntaskan yang tertunda!" ucapnya sinis. Mata itu menatap penuh amarah kepadaku.


Bos Mafia itu pergi lebih dahulu meninggalkan aku dan Frank, sementara di luar ruangan terdengar baku tembak hebat disertai suara khas sirine polisi. Frank menyeretku sambil menodongkan pistol ke belakang kepalaku.


Beberapa polisi Jepang meringsek mengejar aku dan Frank. Tapi mereka tidak berani mengambil resiko, hingga seseorang dengan penutup muka menerjang, merebutku dari sekapan tangan Frank. Satu orang lagi memukul tengkuk Frank. Namun dari arah berlawanan Michele menembakkan pistol hingga mengenai bahu atau lengan atas lelaki dengan penutup wajah itu. Pria bertopeng itu kemudian memelukku yang hampir pingsan karena ketakutan. Terdengar letusan dua kali, ku lihat Frank dan Michele terkapar bersimbah dar** di lantai. Setelah itu aku kehilangan kesadaranku. Samar aku melihat lelaki dengan penutup wajah mendekat ke arahku, mereka ternyata berdua. Tanpa bisa dicegah lagi, segalanya menjadi gelap.


*******%%%%%%********


Setelah dua hari di rawat di Rumah Sakit di Jepang, akhirnya aku kembali ke Indonesia. Tak terlihat sosok Bagas Rainhard. Hanya Arkana yang menemaniku hingga pulih dari trauma fisik dan psikis. Beberapa pengawal Bagas yang terbaik mengawalku pulang, hingga sampai di depan pintu rumah megah kami. Perasaan sakit karena di abaikan saat hampir saja kehilangan nyawa dan kehormatan, membuat aku bertekad, setelah bertemu Bagas, aku akan meminta dia melepaskan aku dari pernikahan ini.


"Nona, kami akan kawal Nona Zara secara ketat untuk beberapa bulan ke depan. Tuan berpesan untuk Nona agar tidak bekerja dahulu, sampai benar-benar kondusif."


"Dia dimana saat ini?" tanyaku lemah dan seakan kehilangan kekuatan.

__ADS_1


"Tuan melakukan perjalanan bisnis Non, ke Eropa dan ...."


"Sendirian? tanpa ...."


"Jangan khawatir Non, Tuan dikawal beberapa pengawal pilihan."


"Bukan itu maksudku, tapi ...."


Aku menghentikan ucapan, aku tak ingin Arkana tahu kami berdua sedang tidak baik-baik saja.


Aku menoleh ke arah Arkana, aku teringat dia mengatakan hanya sendirian bersama polisi Jepang dan beberapa Polisi dari Indonesia. Aku tergelitik untuk 'memukul lengan kiri Arkana, Karena seingatku lelaki dengan penutup kepala hingga wajah ala ninja itu tertembak di lengan atas kiri, atau bahu kiri, aku tidak begitu jelas, hanya darah merembes di sela pakaian itu ketika tertembak.


Arkana meringis ketika ku pukul lengan kirinya.


"Sakit Non." Arkana meringis sembari memegangi lengannya.


Aku sangat kecewa, aku pikir Bagas yang rela mengorbankan nyawanya untuk menolong dan melindungiku. Tapi ternyata Arkana, kepala pengawal yang memang kukirimi email posisi penyekapanku, Sementara lelaki itu dengan ke egoannya memilih untuk tak menampakkan batang hidungnya hingga saat ini. Telepon pun tidak. Dia hanya berkomunikasi dengan Arkana.


Perasaanku terkoyak, bodohnya aku bisa jatuh cinta akut kepada keluguan palsunya.


Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku tak akan membiarkan perasaanku ikut bermain di dalam pernikahan ini. Tapi aku sadar, semua sudah terlambat. Perasaan patah hati dan kecewa ini begitu kuat mencengkramku.


Apalah arti aku bagi seorang Bagas Rainhard? hanya wanita yang membantunya menjawab rasa keingin tahuannya tentang wanita. Aku merasa sangat tak berharga.


Gontai aku memasuki kamar kami, menutupnya kembali, dan bersandar pada daun pintu. Terisak perih dan perlahan tubuhku melorot ke lantai. Aku terisak sembari memeluk erat kedua lututku. Meletakkan kepala di atas lutut. Hening, hanya ada aku dan kesepian di sekelilingku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2