ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 16 Membuka Hati


__ADS_3

Aku agak khawatir kalau Bagas lari dalam keadaan bugil tanpa sadar dari kamar mandi karena takut, tapi syukurlah ternyata acara mandinya aman. Dia langsung berpakaian di dalam kamar sendirian. Aku masuk dan membantunya memilihkan dasi dan kemeja. Aku sangat suka sekali dada bidang suamiku. Terlihat sangat sexi dan menawan. Saat memasangkan kemejanya dia mendekatkan wajahnya kepadaku.


"Sayang, aku memang merasa takut dengan tiga binatang menjijikkan itu, nanti kalau kamu digangguin penjahat, mafia atau preman aku lindungi kamu ya sayang, tapi tolong dong selama di rumah ini kamu yang lindungin aku ya? please ...." Bagas mengerjapkan matanya membuatku tertawa geli. Seperti bukan Bagas yang ku kenal selama ini.


"Ya, tolong ya sayang, sumpah aku lihat cacing dua meter jaraknya dari kakiku saja udah takut, apalagi kalau harus ketemu di kamar mandi, kecoak juga, dia lebih menyeramkan, bisa terbang."


Bagas mendekatkan wajahnya sangat dekat sehingga nafasnya bisa kurasakan di pipiku.


"Iya, aku lindungi kamu ya, sebelum kamu mandi akan aku pastikan dulu dua hewan itu tidak bermain-main di sana. Sebelum kamu masuk kamar ku usir dulu cicaknya ya." Bagas mengangguk senang.


"Tumben istriku pintar nih. Biasanya lemot dan bikin emosi." Aku megerucutkan bibirku pura-pura ngambek.


Bagas menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya.


"Tapi kenapa ya sayang, dirumah ini aku merasa sangat nyaman. Sempit sih tapi berasa banget kalian saling perhatian, saling bercanda, saling menyayangi dengan tulus. Aku suka sekali dengan keluarga kamu."


Aku tersenyum sangat bahagia mendengar ucapan suamiku. Dia juga tidak mudah terpancing amarah di rumah ini terhadapku, bahkan aku merasa dia cendrung sangat manja, dan dia juga bisa tersenyum di rumah ini. Terlebih terhadap kedua orang tuaku, dia sangat hormat dan sopan.


Aku mengancingkan kemejanya satu persatu. Dia menangkap tanganku, kami saling menatap satu sama lain.


"Sayang, aku ngerasa semakin nyaman dengan kamu, aku ngga pernah merasa senyaman ini dengan wanita mana pun." bisiknya pelan. Aku terseyum sambil melanjutkan kembali mengancingkan kemejanya.


"Dengan Grizzela gimana?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.


"Aku bahkan belum pernah berciuman dengannya, kecuali kemarin pas dia cium aku di depan gerbang."


"Masa sih sayang? kamu ngga lagi bohong kan? dia cantik banget lo." ekspresiku seakan menujukkan rasa tak percaya.


"Tapi kamu pacarannya lama sama dia kan?"


"Heum, tapi aku ngga menemukan perasaan nyaman seperti saat di samping kamu. Sikap dinginku membuat Grizella bertanya pada sepupuku Giandra, dia mengatakan mungkin aku ngga suka wanita. Grizella bahkan menuduhku pacaran dengan Rhenald sekretarisku, dia juga cemburu pada Arkana," tuturnya.


Mendengar penuturanya pagi ini ritme jantungku teramat sangat berbeda, terasa lebih cepat dari biasanya. Berdiri berhadapan dengan lelaki yang membuat banyak wanita tergila-gila degan pesona fisik dan wajah tampannya, membuatku merasa istimewa, karena dia dengan gamblang mengatakan merasa nyaman.


"Sayang, kita pacaran ya, saling mencoba untuk mendekat dan merasakan getaran perasaan, kamu mau ngga? aku mau surat perjanjian itu kita musnahkan saja."


Aku tercenung mendengar ucapannya. Pagi yang penuh kejutan.


Aku tidak mau berdusta dengan hatiku, segera ku anggukkan kepalaku.


"Aku tidak tahu Ra, apakah aku jatuh cinta atau cuma merasa nyaman, kita cari tahu sama-sama ya Ra."

__ADS_1


Aku kembali mengangguk. Dia menarikku lebih dekat, meletakkan tanganku di dadanya.


"Aku berdebar saat intim begini, aku belum pernah merasakan ini Ra, sungguh, ini perasaan pertama yang ku alami. Kamu bagaimana Ra."


"Eum, aku, aku juga gemetar Gas, entah yang kita rasakan cinta atau hanya nafsu dua orang dewasa yang sudah sah secara agama dan negara, kita cari tahu bersama ya."


Bagas mengangguk, dia menunduk dan menciumku mesra, aku membalas tidak kalah mesra, ciuman kami semakin intens dan lama. Tubuhku gemetar, rasanya ingin mengakhiri keraguan ini dengan sempurna, tapi kami harus pelan-pelan mengenali dulu perasaan kami.


"Bagas, Zara, ayo sarapan bareng mumpung Ayah dan Ibu belum berangkat, adik-adikmu juga." panggil Ibu dari luar kamar. Bagas melepaskan ciumannya wajahnya bersemu merah dan aku seperti biasa terkulai lemas di bahunya. Lelaki ini benar-benar luar biasa. Pesonanya sanggup merontokkan jantungku.


**********//////**********


Bagas sudah rapi duduk di sampingku untuk sarapan bersama keluargaku. Dia tertegun melihat makanan kampung yang tersaji di atas meja.


"Sayang mau makan apa? nasi uduk atau nasi ulam?"


Dia diam sejenak.


"Uduk aja."


Aku mengambilkan nasi uduk untuknya.


"Lauknya?"


"Itu apa sayang, kok kayak daging ayam dipotong bulat-bulat gitu, enak kali ya."


Aryo ketawa ngakak mendengar iparnya mengira semur jengkol seperti daging ayam.


"Mas belum pernah ngeliat jengkol?" tanya Ratih heran. Bagas menggeleng.


"Enak ngga?" tanyanya polos.


"Enak sih sayang, tapi hari ini kamu meeting dengan klien luar negeri, nanti mereka bingung bau nafas kamu."


"Sedikit saja sayang, pengen nyoba."


Ayah tertawa senang melihat menantunya.


"Kasih satu Ra, siapa tau suka." kelakar ayah. Aku ikut tertawa.


"Nanti sore aja ya, sekarang makan sambal goreng ati aja, tuh ada ayam goreng juga kesukaan kamu."

__ADS_1


Bagas mengangguk.


Ibu dan ayah saling tatap.


"Kamu laki-laki hebat nak, tapi ngga sombong dan ngga pilih-pilih makanan. Ibu sangat terharu melihat kamu begitu sayang sama putri kami, sampai rela tinggal di tempat seperti ini."


Aku saling tatap dengan Bagas.


"Dia imut, lucu dan menggemaskan Bu, kadang juga sedikit oon." sahut Bagas ngasal. Aku memukul lengannya pelan. Dia tertawa sambil membusai rambutku.


Kedua adikku terlihat ikut tertawa.


"Mas, nanti malam main gaple sama Aryo ya, eum sama kita semua, yang kalah wajahnya di coret sama lipstik."


"Oke, siapa takut." jawabnya santai sambil menyuap makanannya.


"Emang kamu tahu cara mainnya?" aku penasaran. Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Bisa dipelajari di internet." aku tertawa sambil menutup mulutku.


Sarapan pagi kami begitu berbeda. Dimeja yang kecil dan dengan hidangan tidak terlalu banyak tapi dengan suasana penuh syukur dan senyum bahagia. Aku melihat Bagas sangat berbeda dari saat di rumah keluarganya. Di sana dia seolah menjaga jarak aman bahkan tak pernah sekali pun dia bercanda dengan keluarganya. Tapi bersama kami orang-orang yang sangat sederhana dalam menjalani hidup, yang tetap berpijak di bumi meskipun saat ini telah hidup jauh lebih baik dari sebelumnya


Bagas lebih melebur dan terlihat bahagia, keajaiban yang tak pernah akan ku lupakan adalah, dia begitu ringan ikut tertawa. Senyum langkanya kini bertebaran begitu mudah. Senyum tulus dan tidak dipaksakan.


Setelah selesai pekerjaan kami, Bagas menemuiku di ruangan.


"Ayo sayang kita pulang, aku ngga sabar pengen makan semur jengkol buatan Ibu."


"Ya ampuun sayang, cuma mau nyicip jengkol saja sampai segitu semangatnya kamu," selorohku sembari membereskan dan mematikan PC di mejaku.


"Iya dong, pengalaman pertama pasti menyenangkan, eum kita masih pacaran ya sayang tapi kalau kebablasan kamu ngga marah kan?" tanyanya sambil menatapku lembut.


"Kita jalani saja ya sayang, mengalir seperti air. Kamu juga harus yakinkan diri kamu terlebih dahulu, apakah benar akan perasaan kamu atau tidak." Bagas mengagguk.


"Ra, kamu membuatku merasa hidup di dunia yang baru, terima kasih ya sayang, sudah membawaku ke rumah kamu yang lama, mengajari aku bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu tentang harta dan kekayaan," bisiknya lirih.


"Iya sayang, aku juga berterima kasih kamu mau menghargai dan menghormati orang tuaku yang sangat sederhana." sahutku lembut sembari menggenggam jemarinya.


"Sayang, nanti saat kita kembali ke rumah kita, aku akan menceritakan seluruh kisah hidupku. Cuma kamu yang bisa ku percaya untuk mengetahui masa laluku yang pahit."


Bagas membuka kedua tangannya, aku tersenyum dan masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2