
Beberapa pasangan turun di lantai Dansa. Untung aku sudah diajari berdansa oleh kepala pelayan di rumah Bagas, dia khawatir aku tiba-tiba tercebur di situasi tiba-tiba harus melebur ke dalam pesta dansa. Miss Bianca, wanita keturunan Sunda-Belanda berwajah masam itu selalu mengajarkan hal-hal penting untukku, walaupun Bagas tidak menerintahkan dia memberiku pelajaran Dansa atau pun memasak makanan kesukaan Bagas namun dia mengajarkanku di sela waktu luangnya.
Bagas seakan sangat ragu menarikku ke lantai dansa, namun aku tersenyum dan dengan percaya diri berjalan duluan ketengah lantai Dansa.
Bagas mengikutiku dan berbisik sangat pelan.
"Kamu yakin bisa? jangan sampai membuatku malu."
Aku tersenyum penuh arti dan mulai melangkah mengikuti alunan merdu musik yang mengalun.
Bagas kembali berbisik.
"Kapan kamu mulai belajar?"
"Satu bulan setelah kita menikah." ucapku pelan.
Bagas tersenyum puas melihat aku mampu mengimbangi gerakan romantisnya. Posisi kami yang sangat dekat membuatku merinding. Hembusan nafasnya menyentuh pipiku, telapak tangannya menempel di bahuku yang terbuka.
"Dekatkan wajah mu Ra, jangan terlalu jauh." titahnya pelan tapi tegas.
Aku mendekatkan wajah kami, hingga pipi saling menempel. Hingga usai berdansa kami menjadi pusat perhatian semua orang. Tepuk tangan membahana, saat dansa telah selesai.
Pesta masih berlangsung tapi Bagas menarikku untuk segera keluar dari ruang pesta. Rahangnya mengeras, matanya serupa mata naga yang marah dan siap menyemburkan api dari bola mata itu, tapi sorot mata membara itu bukan untuk aku melainkan untuk seseorang yang tiba-tiba berjalan ke arah kami.
Wanita cantik dengan tubuh tinggi dan memiliki leher jenjang yang indah bergegas memotong langkah kami saat di parkiran.
"Bagas, kamu menikah, atau ini cuma bagian dari sebuah sandiwara palsu yang sedang kamu mainkan?"
Wanita itu meringsek maju mendekati kami Bagas menggenggam erat jemariku.
"Aku mencintai istriku, dia adalah hidup aku saat ini dan untuk selamanya, kenapa? kamu pikir aku tak akan pernah bangkit dari rasa patah hati? kamu salah Grizella Indira."
Bagas menarik tanganku dan berjalan melewati wanita berambut hitam panjang dengan wajah teramat mempesona. Dia menggunakan gaun putih dengan corak kembang tulip, terlihat sangat anggun dan berkelas, serasi dengan kulit mulus bagai pualam. Senyumnya pun terlihat sangat luar biasa. Tampilan sebuah sketsa kesempurnaan wanita.
VISUAL GRIZELLA INDIRA
...
__ADS_1
...
Aku sadar, sangat tak sebanding dengan wanita itu. Tapi itu semua tak harus menggangguku, karena aku hanya istri bayaran yang tak boleh melibatkan hati untuk setiap sentuhan dan kemesraan palsu di depan khalayak ramai.
Saat di dalam mobil, wajah Bagas terlihat pias. Dia sangat terganggu dengan kehadiran mantan kekasihnya, seorang pianis handal yang ternyata mengiringi saat kami di lantai dansa.
"Boleh tahu dia siapa dan seberapa penting dia buat kamu."
Bagas melirik sekilas kepadaku dan tersenyum dingin.
"Kamu tidak perlu tahu!"
Aku menggeleng dan menatap wajah lelaki arogan di sampingku.
"Siapa bilang ngga perlu, apa yang akan ku katakan andai wartawan bertanya keberadaan dia di masa lalu kamu."
Bagas terdiam, sepertinya ada luka yang menganga di hatinya.
"Dia orang yang tak ingin aku ingat meskipun punya kesempatan untuk mengingatnya lagi. Jadi kamu ngga perlu tahu apa pun tentang dia."
Saat tiba kembali dirumah Bagas yang megah, dia terkejut melihat
Arkana yang berusaha mencegah kenekatan Giandra masuk ke rumah Bagas.
Tampaknya Giandra sedang mabuk berat. Bagas menghampiri Arkana dan membisikkan sesuatu. Arkana mengangguk.
"Hai sepupu, aku masuk ya, sangat rindu sama kamu, sudah lama kita ngga bareng-bareng."
Hoeks ... hoeks ...
Giandra muntah di depan rumah, setelah Arkana menghubungi anak buahnya, mereka membawa Giandra yang mabuk berat pergi dengan mobil meninggalkan rumah Bagas.
Tanganku ditarik oleh Bagas untuk masuk. Miss Bianca menyambut kedatangan kami. Dia bertanya apa yang kami perlukan. Bagas mengatakan untuk menyiapkan makan malam, setelah mandi kami akan ke ruang makan. Meskipum habis datang dari pesta, kami memang hanya meneguk sedikit minum dan beberapa potong kue.
Cekrek ....
Bagas membuka pintu kamar kami dan menarikku ke dalam kamarnya. Dia tetap memegangi tanganku dan mendorong pintu kamar dengan kakinya.
"Pasal pertama harus dirubah, karena aku butuh membuktikan bahwa aku bisa menghamili kamu."
__ADS_1
Bagas menarikku mendekat. Dada berototnya menyentuh dadaku.
"Jangan Gila kamu, aku ngga mau menghadirkan bayi yang akan lahir dari hubungan tanpa cinta namun hanya karena sebuah perjanjian."
"Aku akan semakin gila kalau kamu berani menolak apa pun yang aku mau!"
Bagas menarikku dan mencengkram bahuku, lalu wajah tampannya yang dingin mendekat ke wajahku, dengkusan nafas kesalnya menyapu wajahku hingga aku menahan nafas.
"Tidak ada satu pasal pun yang mengatur kalau kamu boleh memaksaku berhubungan intim untuk menghasilkan keturunan. Ini di luar ...!"
"Ingat pasal enam? di situ tercantum kalimat kalau pihak pertama berhak mengubah pasal di dalam perjanjian sesuai kondisi yang terjadi! kamu tidak membaca? atau kamu terlalu gembira menerima bayarannya sehingga lupa membaca secara rinci isi perjanjian itu!"
Aku terpaku bisu di hadapan lelaki dingin dan tak punya perasaan itu. Rasanya aku tak akan pernah mampu berperan menjadi istri yang bahkan harus mengandung untuknya.
Aku menggeleng dan mendorong dia sekuat tenaga, mamun dia bergeming, doronganku tak mengubah posisinya sedikitpun, dia teramat kokoh.
"Aku menolak." ucapku datar.
"Dan kamu tidak punya hak menolak apa pun!" ucapnya sinis.
"Baca dengan seksama sebelum kamu menanda tangani apa pun Zara, kamu bukan wanita bodoh!"
Ya, aku memang bukan wanita bodoh, untuk ilmu pasti dan semua yang bisa dipelajari dengan otakku, tapi tidak dengan segala sesuatu yang dipelajari dengan hati apalagi ini tentang laki-laki. Aku pernah salah menilai Genta. Dan kini aku salah mempercayai lelaki muka es batu di hadapanku ini.
"Cepat bersiap untuk makan malam, aku mau mandi, silahkan kalau mau mandi bersamaku."
Aku memalingkan wajah dari lelaki macho di hadapanku yang membuka pakaiannya satu persatu hingga tersisa selembar ****** ***** yang menutup kejantanannya. Tubuh dengan dada berotot dan perut six pack itu terlihat sangat seksi di mataku. Tubuhku berkeringat dingin melihat lelaki itu menjauh meninggalkan aku yang terpaku bisu.
Selesai dia mandi aku yang bergantian mandi. Dia berjalan di dalam kamar tanpa sehelai benang pun, aku menutup mataku dan berlari menuju kamar mandi.
Saat tiba di dalam kamar mandi ku kunci pintu kamar mandi. Aku merasa terancam dengan kegilaan pria yang sepertinya menjadi salah urat saraf karena bertemu dengan mantannya.
Keluar dari kamar mandi aku memakai piyama mandi. Dia terlihat sudah memakai kaos santai dan celana pendek yang meskipun hanya pakaian rumah namun branded.
"Aku tunggu di ruang makan, setelah makan kita akan bahas perubahan pasal satu. Cepat keluar dari kamar ini, aku tidak suka menunggu lama."
Dia berlalu meninggalkanku sendirian yang tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini dan menyelamatkan diri dari menerima perubahan pasal satu. Semburat sesal menyeruak di benakku, kenapa aku tidak membaca tuntas perjanjian itu dengan teliti.
BERSAMBUNG
__ADS_1
apa yang akan dilakukan Zara dan Bagas di atas kertas kontrak mereka.
Apa yang membuat Bagas sangat terguncang dengan kehadiran Grizella Indira sehingga menginginkan anak dari Zara? luka seperti apa di hati lelaki dingin yang kaya raya itu?