
Ayah dan Ibu mertuaku masih bergeming di depanku. Mereka terlihat sangat enggan beranjak, mungkin merasa sangat terhina oleh perintah Bagas kepada anak buahnya untuk menggiring mereka meninggalkan rumah Bagas.
"Anak di dalam kandungan kamu saja yang membuat kamu menang dibanding Griz, kamu tak ada seujung kukunya dibandingkan dia!"
Ibu mertua sambungku masih berupaya menjatuhkan mentalku. Tapi aku tidak lagi menyahut. Mereka termasuk Giandra digiring keluar dari hadapanku oleh para pengawal. Mrs. Bianca mengelus bahuku.
"Jangan dibawa ke hati Non, Ibu sambung Tuan memang begitu. Tuan jarang sekali mau mendekat ke keluarganya. Mereka seperti berbeda karakter dengan Tuan." ucap Mrs. Bianca.
Aku tahu suamiku memang pemarah dan terkadang egois, tapi dia berhati lembut dan sangat menghargai orang lain. Dia hanya marah saat memang ada sesuatu yang membuat dia marah. Bagas tergolong pengusaha dan milyoner yang sangat dermawan. Tapi dia sangat penyendiri dan jarang mau bergaul meskipun dengan kalangan atas. Dia hanya bergaul untuk keperluan pekerjaan. Hampir dipastikan dia sangat jarang mendatangi pesta kecuali klien penting.
Aku sedang membacakan Deva cerita di kamarnya ketika Bagas masuk. Dia berjalan perlahan, seolah takut membuat Deva terkejut. Deva memejamkan mata dan perlahan tertidur. Bagas membenahi selimut Deva dan mengecup kening putra sambungnya.
"Sayang, aku mau bicara sama kamu tapi jangan di sini." bisik Bagas di teingaku sembari mengangkatku seolah aku seringan bulu angsa. Ketika keluar dari kamar Deva dia menurunkanku perlahan. Kemudian dia memelukku erat.
"Aku sudah dengar dari Mrs. Bi, semua yang ibuku katakan kepada kamu Zara, jangan dibawa ke hati ya, mereka sudah mendapatkan balasan dariku." ucap Bagas sembari mengecup keningku.
"Balasan? maksud kamu? jangan terlalu kasar kepada mereka sayang, mereka keluarga kamu." sahutku dengan perasaan tak karuan. Aku takut Bagas melakukan hal yang buruk.
"Bukan seperti yang kamu bayangkan sayang, aku hanya menarik semua sahamku dari perusahaan ayah. Mereka pasti goyah tanpa dukunganku. Giandra bisa apa? dia cuma benalu di keluarga itu."
"Oh, aku pikir." Aku merasa sedikit lega.
"Suami kamu ini bukan preman jalanan sayangku, ayo sayang kita makan, kamu mau makan apa?" tanyanya lembut.
"Makan di rumah saja ya sayang, pelayan sudah siapin makan malam buat kita. Kasian mereka." usulku.
__ADS_1
"Oke tuan putri, titah dilaksanakan ayo kita makan di dapur kita yang menunya tak kalah dari restoran bintang 5,"
Bagas kembali membopongku, aku merangkul lehernya sembari tertawa, rasa malu terhadap pelayan sudah hilang. Mereka pun sudah terbiasa melihat keromantisan tuan besarnya. Kami makan sambil saling menyuapi. Sungguh aku merasa sangat ajaib hidup ini. Terlampau luar biasa rasanya augerah yang dititipkan di hidup ini. Seorang Bagas yang menakutkan bagi semua orang, begitu lembut terhadap anak dan istrinya.
Beberapa saat setelah selesai makan, ponselku berbunyi, pelayan mengambilkan ponselku dari ruang tengah. Bagas masih menyuapi potongan buah segar ke mulutku. Aku tertegun melihat layar ponselku.
"Sayang, ini dari Ibu mertuaku, aku harus mengangkatnya," bisikku pelan.
"Aku yang angkat, dia mau menyumpahi kamu apa lagi kali ini,"
"Bukan sayang, bukan ibu sambung kamu, tapi mertua asliku, ibu kandung kamu, maaf sayang." aku memasang tampang memelas. Rahang Bagas mengeras. Tapi dia tidak semarah dulu lagi. Wajahnya memang memerah menandakan dia sedang mencoba mengendalikan amarahnya. Mungkin dia mulai sedikit menerima penjelasanku beberapa waktu lalu tentang masa lalu ibunya. Selama ini dia hanya mendengar dari versi ayahnya.
"Aku izinkan karena aku ngga mau kamu sedih lagi ngga baik untuk kesehatan kamu dan utun kita, tapi ngomongnya di loudspeaker, awas kalau ngomongin keburukanku," ucapnya ketus. Mendengar titahnya, aku merasa sedikit lega. Tak ada rahasia bagi kami yang harus disembunyikan dari Bagas. Aku segera mengangkat telepon Ibu Mertuaku.
"Assalamualaikum nak, apa khabar kandungan kamu sayang, ibu khawatir sekali kamu banyak beban pikiran karena rumor kurang baik di luaran, ibu minta kamu jaga kestabilan mental kamu Ra, jangan terlalu banyak mendengarkan omongan buruk netizen," kata-kata Ibu mertuaku begitu lembut dan menenangkan, layaknya seperti kata-kata ibu kandungku.
"Zara, ibu pernah cerita kan tentang adik kandungnya Bagas?" tanya Ibu hati-hati.
"Iya Bu, dimana dia sekarang?" tanyaku antusias. Bagas mendelik ke arahku. Dia tampak tak suka dengan ekspresiku.
"Dia bekerja di Jakarta, tapi dia tidak mau mengatakan dimana tepatnya perusahaan itu. Terkadang Ibu khawatir, karena dia jarang sekali pulang." tutur Ibu terdengar sedih.
"Perusahaannya di bidang apa Bu, siapa tahu saya dan Bagas bisa bertemu."
Bagas melotot kearahku. Sepertinya dia tidak menyukai ideku.
__ADS_1
"Ibu tidak tahu persis, tapi dia kepercayaan big bosnya, semoga suatu saat Bagas bisa bertemu adik kandungnya."
Ibu dan aku terus berbicara banyak hal sambil terus didengar oleh Bagas, dia tidak beranjak dari sisiku. Dia sesekali mengelus perut dan memijat bahuku pelan. Beberapa saat kemudian kami mengakhiri obrolan.
Mrs. Bianca tiba-tiba berjalan tergopoh.
"Tuan, orang tuanya Non Zara di rumah sakit, keduanya kecelakaan, adik nona yang bernama Ratih yang menelepon barusan, menurut Ratih, pengawal yang menjaga mereka ikut kecelakaan," ucap Mrs. Bianca dengan suara tercekat.
Aku terkesiap mendengar berita yang dibawa oleh Mrs. Bianca. Seketika tubuhku terasa lunglai.
"Sayang kamu harus kuasai dirimu, jangan panik sayang. Aku akan urus segalanya. Ayo kita ke Rumah Sakit."
Bagas menelepon Raynald dan kemudian Arkana untuk mengkoordinasi di Rumah Sakit, agar mertuanya mendapatkan pelayanan terbaik. Aku hanya pasrah kepada suamiku dan para kepercayaannya. Berita yang kudengar di dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit, kedua orang tuaku dilarikan ke ruang operasi.
Aku hanya bisa menangis perih di dalam pelukan Bagas. Lelaki itu terus berusaha menenangkanku. Namun entah mengapa perasaanku tak bisa tenang.
"Atur di Rumah Sakit agar Non Zara bisa nyaman, siapkan kursi roda, saat turun dari mobil, dan aku mau dokter yang merujuk ke ruang operasi segera menemuiku."
Entah siapa kini yang diajak Bagas berbicara.
"Jaga kedua adik Non Zara, jangan sampai kalian lengah, kalau sampai terjadi apa-apa dengan kedua anak itu, nyawa kalian taruhannya!"
Aku menatap Bagas penuh tanda tanya.
"Ada apa sebenarnya ini sayang? mobil kita juga dijaga pengamanan dari pengawal terbaik dan dengan system berlapis. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?" tanyaku bingung. Bagas mengusap air mata yang membajiri pipiku.
__ADS_1
"Aku hanya mencoba mencegah hal buruk terjadi pada semua orang terdekatku, termasuk adik-adik kamu sayang. Aku masih menunggu kabar kronologi kecelakaan kedua orang tua kamu."
Bersambung