
Aku pamit pulang kepada Ibu dan ayah mertuaku. Mas Genta hanya diam di pojok ruang tengah. Matanya menatap ke arah lain. Aku tahu dia lebih memilih harga diri dan kehormatan keluarga dari pada mempertahankan janin tak berdosa ini.
"Ibu kecewa sama kamu Zara, kenapa kamu pertahankan bayi itu, meskipun kamu telah bercerai dari Genta, tetap saja dia anak keturunan Genta, suatu ketika bakalan cari bapaknya, kamu keras kepala sekali." ucap ibu.
Wajah Ibu terlihat tidak bersahabat, intonasi suaranya juga sangat tak nyaman untuk di dengar. Ayah mertuaku tetap tenang sembari menghembuskan kepulan asap rokoknya.
Aku hanya tersenyum pahit, rasa perih itu semakin samar di dalam hatiku.
"Zara pastikan dia tak akan mencari ayahnya sampai kapan pun Bu, jangan khawatir ya."
Aku mencium punggung tangan kedua mertuaku, karena aku tetap menghormati mereka sebagai orang yang lebih tua, tapi kepada Mas Genta aku hanya pamit saja, tidak ada kewajibanku lagi sebagai istrinya mencium tangan dan menghormatinya karena dia bukan lagi suamiku. Kisah kami sudah berakhir di sini. Aku berharap berakhir untuk selamanya. Aku tak ingin lagi bertemu dengan mereka.
Kutempuh perjalanan jauh dari Malang Jawa Timur hingga Jakarta sendirian. Aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela, sesekali guncangan bus membuatku merasakan mual. Perjalanan ini terasa sangat melelahkan. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga lelah batin ini.
Ketika tiba di rumah orang tuaku di Jakarta, ibu dan ayahku memelukku erat. Keduanya telah tahu kondisi janinku tapi mereka tak perduli.
"Kamu harus ikhlas nak, bayimu pembawa berkah dalam hidupmu. Jangan sampai kamu menyesalinya "
Aku mengangguk. Dan karena janin ini pula aku tahu lebih awal suami seperti apa yang kumiliki. Biarlah, aku akan tetap tegar menjalani semua ini. Aku yakin aku bisa berjuang untuk membesarkan anakku.
Saat tiba waktunya melahirkan, ibu dan ayah membawaku ke puskesmas. Aku melahirkan bayiku tanpa kesulitan. Dia terlahir begitu mudah.
Parasnya begitu tampan, meskipun tangan kirinya hanya sebatas siku dan kaki kirinya sedikit dibawah lutut namun lancip. Ayahku mengadzankan putraku karena ayahnya tak ada di samping kami.
Saat ku bawa pulang ke rumah, adik-adikku sangat menyayanginya. Tak ada satu anggota kekuarga pun yang tidak mencintai putraku, hingga dia tumbuh sehat dan tampan. Usia tiga bulan badannya tumbuh layaknya anak biasa. Di belakang punggungnya terdapat tanda lahir yang unik, seperti sebuah bintang kecil. Aku sangat mencintai putraku yang ku beri nama Panji Putra Pratama.
Saat usia bayiku enam bulan, aku meninggalkannya di rumah di bersama kedua adikku.
__ADS_1
"Aryo, Ratih, kakak titip Panji sebentar ya, kakak mau memenuhi panggilan wawancara kerja. Jangan lengah nanti dia jatuh dari tempat tidur."
"Siap kak."
Kedua adikku menyahut bersamaan. Aku tersenyum kemudian mengecup penuh cinta kening buah hatiku.
"Panji, do'akan Bunda ya sayang, Bunda nyari nafkah untuk kesayangan Bunda."
Panji tetap tertidur lelap, mungkin karena kekenyangan habis aku susui.
Aku mengikuti wawancara itu lumayan lama, karena sangat banyak pelamar lainnya. Ketika sampai giliran, aku masuk ke ruangan itu dengan sangat percaya diri.
Ketika sampai di dalam ruangan aku tertegun, di dalam ada dua orang, satu bertuliskan HRD di name tag yang tergantung di lehernya, yang satu lagi agak jauh duduknya adalah orang yang ku kenal, kakak seniorku di kampus dulu, dia terkenal dengan sifat dingin dan jarang tersenyum. Dia sepertinya tak mengenalku. Aku duduk dan mulai menjawab semua pertanyaan penting HRD yang tampak berusia lebih dari 50 tahun. Setelah selesai wawancara dengan beliau aku disuruh untuk menemui lelaki dingin itu, ternyata dia Direktur Utama perusahaan ini.
"Silahkan duduk." ucapnya dingin.
Aku tergugu dan sangat tegang.
"Saya sedang membutuhkan seorang Programmer, dari nilai kamu yang saya lihat IP kamu sangat tinggi, kamu mahasiswi cerdas dan berbakat, saya minta kamu untuk membuktikan kecerdasan kamu di Perusahaan ini, selamat bergabung ya."
Dia mengulurkan tangan kepadaku, aku menyambut penuh haru.
"Kamu bisa mulai bekerja Senin depan." ucapnya singkat.
Hatiku bergemuruh, terasa sangat bahagia.
Aku membawa berita bahagia itu dengan suka cita, namun sesampai di depan rumahku, banyak orang berkumpul, mereka menatapku dengan tatapan iba. Aku menelan ludah yang terasa pahit seketika.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa banyak warga berkumpul di depan rumahku?" tanyaku heran. Tanpa menunggu jawaban aku menerobos masuk.
"Kakak, maafin kami kak." tangis Ratih meledak ketika melihatku begitu pun Aryo, sementara Ayah dan Ibuku ikut menangis. Aku berlari ke kamar buah hatiku, kosong, tak tersisa apa pun selain selimut dan ...
"Kemana Panji, mana anakku." teriakku menggema, dadaku terasa sesak.
"Aku sedang mandi Kak, Panji tidur, Aryo duduk menunggui, tapi Aryo dipukul dan diikat."
"Ada dua orang lelaki, satu masuk lewat jendela yang satunya menunggu di bawah kak, mereka membawa Panji dan kabur dengan sepeda motor, kami sudah mengejar, tapi tidak terkejar kak, seluruh tetangga juga sudah berusaha tapi mereka tak bisa di tangkap."
Tangisku meledak. Apa mau orang itu menculik anakku.
"Kak ada tulisan di atas tempat tidur." Aryo yang wajahnya lebam memberikan kepadaku selembar kertas.
"Aku minta anakmu, untuk ku jadikan pengemis."
Aku semakin meraung perih, air mata tak henti mengalir, ketika Bu RT masuk bersama seorang polisi, aku tak ingat apa pun lagi, semuanya gelap.
Ketika tersadar, aku ada di puskesmas. Aku kembali menangis. Namun hingga hari berakhir tak jua ditemukan keberadaan Panji.
Tak henti aku meratapi, bahkan pihak kepolisian belum menemukan jejak penjahat itu membawa putraku. Air susuku terus keluar, aku demam tinggi karena payudaraku bengkak akibat airnya tidak diminum anakku. Beberapa waktu kemudian bengkak menghilang dan air susuku mengering. Rasanya teramat sangat menyakitkan.
Aku dan kedua adikku dibantu para tetangga mengedarkan brosur tulisan kehilangan bayi dan disertai foto bayiku. Namun tak jua membuahkan hasil.
Aku memutuskan tetap bekerja agar mempunyai kesibukan untuk melalui rasa kehilangan dan sakit ini. Meskipun kami terus mencari begitu pun pihak kepolisian namun hingga satu tahun berlalu tak jua ditemukan. Aku telah putus asa berharap.
Terkadang aku berpikiran jahat, apakah mungkin semua ini ulah Mas Genta? karena sangat aneh tiba-tiba ada orang masuk ke kamar untuk menculik bayiku.
__ADS_1
Terkadang juga terlintas ini perbuatan keluarga suamiku, bisa jadi mertuaku, tapi aku tak punya bukti selain tulisan di selembar kertas itu.
Bersambung