
"Ada apa Dra? kenapa kamu menemui Bagas?" tanya Pak Subrata kepada mantan asistennya.
"Maafkan saya Tuan, ini harus saya lakukan, tak mungkin rasanya membiarkan Tuan Bagas tak tahu bahwa Nona Griz dan Giandra sebenarnya ...."
"Terima kasih atas informasinya, tapi pihak informan saya sudah memberikan informasi jauh lebih up to date," ucap Bagas santai.
"Tuan tahu kalau Giandra dan Grizella mencoba merusak hubungan Tuan dengan Nyonya Zara?"
Bagas mengacungkan jempolnya kepada mantan asisten Pak Subrata.
"lebih dari tahu," sahut Bagas singkat. Dia berjalan menjauhi Andra.
Pak subrata mengekori Bagas.
"Kenapa Grizella dan Giandra begitu bertekad mengganggu kamu Gas? apa yang sebenarnya ada di antara kalian bertiga, tak mungkin kalau hanya karena alasan cinta ditolak," tanya Pak Subrata dengan ekspresi terlihat sangat heran.
Pak Subrata berjalan menuju ke arah Bar di area ruang tengah, kemudian menuangkan segelas anggur dengan kwalitas nomer 1 yang umurnya lebih tua dari umurku. Bagas memang mengoleksi berbagai anggur kelas dunia di Barnya. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi hanya untuk menjamu tamu-tamunya, yang lebih sering klien luar negeri.
Bagas menghampiri ayahnya menuju Bar dan menuangkan segelas cola dengan potongan es batu ke dalam gelasnya.
"Apakah ayah tak tahu saat aku diculik dan disekap disebuah rumah kosong saat masih kecil? di sana aku melihat anak laki-laki mengintip lewat kaca jendela, dia adalah Giandra, aku baru menyadari kalau itu adalah Giandra setelah melalui berbagai proses pengembalian ingatan yang tak mudah untuk menyembuhkan traumaku, satu tahun sebelum aku menikahi Zara. Giandra tahu aku disiksa dan disekap, tapi dia tak mengatakan apa pun kepada siapa pun untuk menolongku Yah, aku membenci dia setelah mengingat itu, dan dia dengan santai menceritakan kepada Grizella tentang apa yang pernah aku alami, meskipun tak sepenuhnya benar seperti yang dia ceritakan ke Griz," tutur Bagas.
"Dia tahu kamu diculik dan disekap? tapi dia tak berusaha menolong kamu minimal memberikan informasi kepada orang lain bahwa kamu diculik? astaga."
Pak Subrata terperangah.
"Bagas, seberat apa penyiksaan itu nak, apakah kamu ingat siapa orang yang telah menyiksa kamu?"
__ADS_1
Pak Subrata menatap luruh pada putranya. Aku ingin mendekati dan memeluk suamiku dari belakang dan menenangkannya, tapi aku harus sabar, semua belum terungkap dengan jelas, aku harus menangkap basah semua kejahatan mereka yang menyakiti suamiku hingga mengalami trauma mendalam di hidupnya. Betapa aku merindukan bersandar di bahu nan kokoh itu, menikmati hangat pelukannya. Sekuat tenaga ku tetap tegar berdiri di atas kakiku di sudut ruangan, mencoba menahan diri dari menghambur ke dalam pelukan lelaki pemarah yang sangat kurindukan itu.
"Tak akan mampu ayah membayangkan penyiksaan seperti apa yang telah aku lalui, dan si penyiksa itu sepertinya sangat membenci ayah," sahut Bagas. Setelah menguapkan itu raut wajah suamiku terlihat sangat dingin. Dia menuturkan segalanya seperti tanpa ekspresi.
"Membenci Ayah? maksud kamu dia ada mengatakan itu Gas? tapi kenapa kamu tak pernah bercerita selama ini? kamu seakan baik-baik saja di hadapan Ayah?" tanya Ayah sedih. Wajah lelaki paruh baya itu tampak menyiratkan kesedihan yang cukup dalam.
"Bagaimana aku akan bercerita kesakitanku Yah, sementara ayah sibuk menyayangi istri dan anak-anak sambung kesayangan ayah, bahkan satu kata pun dari mulutku tak berati apa-apa bagi ayah. Aku hanyalah putra dari seorang wanita yang sama sekali tak pernah ayah cintai. Pernikahan ayah dan Ibuku bagai beban maha dahsyat bagi ayah karena memisahkan cinta sejati ayah dengan tante Helena itu," tutur Bagas.
Pak subrata meneguk anggurnya pelan-pelan. Di menunduk menekuri gelasnya. Keduanya seakan lupa pada Andra yang masih berada di ruang tamu.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa dua anak beranak itu kini saling mencoba keluar dari cangkang mereka masing-masing.
"Apa kata yag diucapkan penculik kamu dulu Gas?" tanya Pak Subrata pelan. Bagas terdiam sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuska nafasnya perlahan.
"Sudahlah Yah, aku ngga sanggup membahas ini lagi, semua cerita ini hanya bisa kuungkapkan dengan Zara Istriku, hanya dia yang mampu menenangkan aku saat ingatan menyedihkan itu muncul." Bagas mengelak untuk mengatakan situasi menyakitkan masa kecilnya itu.
Bagas menyeruput es colanya hingga habis dan meninggalkan ayah yang masih duduk di kursi bar sambil meneguk anggurnya perlahan. Bagas berjalan kembali ke ruang tamu di seberang ruang tengah yang megah dan berkelas.
"Tuan Bagas, apakah saya boleh bekerja sebagai asisten Tuan? karena saya ngga mungkin kembali ke rumah Tuan Subrata, sementara saya sangat membutuhkan pekerjaan."
Andra memohon kepada Bagas untuk menjadi asisten pibadinya. Dia terlihat demikian baik dan sopan, namun mata hatiku mengatakan ada sesutu yang disembunyikannya dibalik senyum polosnya itu.
Seingatku, dia diberhentikan karena difitnah hendak memperkosa anak sambung Pak Subrata. Namun informasi yang kudapat dari anak buah Niken dan Richhard, Andra sering kedapatan bersama dengan Giandra dan Grizella, bahkan sering menemani Nyonya Subrata. Sepertinya dia sengaja mencoba menarik simpati Pak Subrata dengan berpura-pura teraniaya oleh orang yang sebenarnya di dukungnya. Aku melihat Andra lebih berbahaya dari Giandra. Semoga Bagas dapat menangkap ketidak tulusan laki-laki berwajah oriental itu.
"Maaf Dra, saya memang bersimpati kepada kamu dan berterima kasih kamu memberikan informasi yang sebenarny telah aku tahu, tapi sekali lagi maaf, Bagas Rainhard bukan manusia yang gampang percaya kepada sembarang orang. Semua orang yang saat ini berdiri di sisiku adalah orang yang telah melalui seleksi tak mudah. Silahkan kamu mencari pekerjaan di bidang lain di perusahaanku, tapi tidak semudah itu kamu mendapatkan posisi sebagai asistenku," tolak Bagas tegas. Aku bangga mendengar keputusan Bagas. Dia tetap Bagas Rainhardku yang mempesona dengan kehati-hatiannya.
Pak Subrata sendiri tak menggubris keputusan yang diambil Bagas untuk menolak mantan asistennya. Sepertinya Pak Subrata lebih mempercayai intuisi putranya saat ini. Aku melihat kini Pak Subrata memilih berada di sisi Bagas. Mungkin saja untuk menebus sesalnya atas derita yang dilalui Bagas sepanjang hidupnya di masa anak-anak hingga remaja.
__ADS_1
Sebelum Andra pulang, aku pamit untuk ke toilet, padahal aku mencoba mendahului Andra, aku menyelinap dan memasuki mobil Andra di luar gerbang, meskipun harus berlari di sisi terlindung dari pengamatan pengawal, aku mengenal tiap sudut rumahku dan hapal diluar kepala jalan rahasia untuk melewati pengawal. Ketika sampai di mobil Andra, aku meletakkan kamera super mini di area paling tepat untuk menangkap semua aktifitas di dalam mobil itu, bahkan merekam semua suara sekecil apa pun itu.
Andra keluar dikawal dua pengawal Bagas. Dia tak memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun di area rumah Bagas, bahkan ketika dia meminta untuk ke toilet, pengawal membawanya ke toilet khusus markas Black Shadow.
Andra meninggalkan area rumah Bagas dan memacu kendaraannya dengan cepat, aku mengawasi dia dari balkon rumah dengan teropong kaca mata canggihku.
Kutekan alat di telingaku dan mulai menangkap rekaman di dalam mobil Andra.
"Maaf bunda, Andra ngga mampu menyusup ke area di sekitar Tuan Bagas, dia terlalu hati-hati dan waspada."
Andra sepertinya sedang menelepon seseorang, semoga saja dia melakuakan panggilan dengan loudspeaker, agar aku bisa mengenali suara orang yang diteleponnya, ternyata harapanku terkabul.
"Bodoh sekali dan terlalu gegabah kamu Dra, Bunda sudah bilang jangan langsung ke sana, gunakan tak tik lebih profesional dan elegan, kamu pikir Bagas sebodoh Subrata tengik itu!" gelegar suara seorang wanita. Aku terpana, ternyata itu suara wanita yang bersama dengan Grizella. Dia begitu licin, bahkan saat team BS hampir berhasil meringkusnya ketika menemukan lokasi terakhir dia berteleponan dengan pengasuh Dafa waktu itu, dia sudah tak terlihat lagi batang hidungnya di lokasi.
"Maafkan Andra Bunda," sesal Andra, warna suaranya menunjukkan perasaan sangat tertekan.
"Kamu memang bodoh seperti almarhum ayah kamu itu Dra," bentak suara wanita itu dengan nada sangat tak ramah dan merendahkan. Andra tak mengatakan apa pun.
"Andra akan usahakan untuk mendekati Bagas lagi Bu."
"Jangan lakukan apa pun tanpa instruksi dariku! aku tak mau karena kebodohan kamu akan merusak semua rencanaku!"
Bersambung
Author akan tetap up di NT hingga ending meskipun slow up. i love you my readers, mksih like dan votenya
__ADS_1