
Bagas mendekat ke arahku, sambil memegang pistol yang telah digenggamnya erat di tangan kokohnya.
"Kamu bagian dari mereka Zara? apakah kamu juga .... "
"Arkana adik kandungmu sayang, hanya itu yang aku tahu dari mulutnya, dia menceritakan ini sebelum kamu datang dari perjalanan luar negeri."
"Lalu kenapa kamu berdusta mengatakan kalau kamu sudah bicara dengan adikmu, bukan dengan Arkana?"
Bagas duduk kembali di hadapanku, pistol itu dibukanya, ternyata pistol itu tak ada pelurunya, Bagas mengambilnya untuk membersihkan pistol itu dan melepaskan bagian-bagian dari pistol itu kemudian meletakkan ke dalam kotk yang ada di dalam laci di hadapannya.
"Arkana meminta untuk aku merahasiakan ini sampai kamu .... "
"Dia bukan siapa-siapa bagi kamu Zara, kenapa kamu lebih mempercayai dia dan tak menggubris aku yang meminta kamu untuk selalu terbuka kepadaku tentang apa pun. Apakah menjaga rahasia dengan dia lebih penting daripada menjaga komitmen dengan aku?"
"Maaf sayang,"
Bagas diam dan menatap tajam ke arahku.
"Aku percaya Arkana adikku Zara, sangat percaya, karena aku telah menyelidiki ini, namun keberadaan dia sekian tahun disisiku, sangat tak masuk akal Zara. Untuk apa? untuk menjagaku atau mengamankan aku agar dia bisa menguasai semua trik dan rahasia cara aku mempertahankan diri dari musuh-musuhku?"
Aku hanya bisa terdiam, Bagas benar-benar kecewa dan marah kepada semua orang, termasuk kepadaku.
"Aku mendapat informasi dari Grizzela dan Giandra, bahwa Arkana adalah adikku yang berniat merebut kamu dan perusahaanku secara diam-diam. Arkana sudah mengumpulkan banyak kekuatan di dalam perusahaanku, dia bahkan merangkul mereka yang tak menyukai aku. Zara, aku kecewa, kamu yng paling aku percaya malah lebih membela Arkana dan memunggungi aku," desis Bagas.
Aku tak mampu membuka suara, Bagas benar-benar marah.
"Aku ngga memunggungi kamu sayang, ini bukan seperti yang kamu pikir," jawabku sedih.
"Apa namanya kalau bukan memunggungi? kamu tahu sesuatu tentang Arkana dan menurut pada dia untuk tetap diam," sahut Bagas dingin. Raut wajah seperti awal pernikahan dulu kembali lagi.Raut wajah dingin dan kaku.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku tak akan tidur di kamar kita, jangan dekati aku sampai aku menemukan bukti dan fakta kebenaran sesungguhnya. Dan sampai itu terungkap, kamu adalah bagian dari musuh besarku," tegas Bagas. Tubuhku terasa lemah tak berdaya.
"Maafkan aku sayang, semua yang aku lakukan selalu untuk kebaikan kamu," ucapku perih dan sedih.
"Simpan semua rayuan itu Zara, dan ingat, jangan mendekati aku untuk alasan apa pun. Akses kamu ke pada dunia luar akan aku batasi pun demikian terhadap kedua putraku," ucap Bagas dingin.
Dia menyeretku keluar dari ruangan rahasianya, kemudian dia mengubah pasword, kemudian membuang pasword gambar tanganku.
Bagas berjalan melewatiku dengan cuek, bahkan bahunya menyenggol bahuku tanpa dia menoleh. Aku merasa sangat sakit, namun tak berdaya. Aku memang salah.
Meskipun dia terus menolakku, tetap aku mencoba mendekatinya, namun aku tahu ini perjuangan tak mudah.
Mungkin inilah yang dimaksud Arkana, entah mengapa hati kecilku lebih percaya kepada Arkana daripada keterangan Grizella dan Giandra. Mereka memang sangat tak menyukai aku dan Bagas bersatu. Terutama Grizella.
Aku memeluk Bara sambil menyandarkan tubuhku di bangku taman samping rumah. Bara terlelap sambil memelukku, kepalanya berada di dadaku.
Pengasuh datang dan dengan sungkan meminta Bara untuk diambil dari pelukanku dan dibawa ke kamarnya.
Yang kudengar selanjutnya, Arkana dicopot dari jabatannya sebagai CEO di perusahaan keamanan milik Bagas, dia juga di non aktifkan sebagai kepala pengawal. Hari ini aku mendapati Arkna dipaksa bertemu dengan ibu kandungnya di pekarangan samping rumah Bagas dengan posisi diborgol.
Ibu yang melihat Arkana langsung histeris saat melihat kondisi putranya yang babak belur dengan tangan diborgol. Bagas muncul dari dalam rumah sembari bertepuk tangan melihat Ibu memeluk Arkana.
"Reunian yang mengharukan," ujarnya sembari berdiri tegak di hadapan keduanya. Bagas terlihat sangat dingin dan kejam, tatapan matanya tak menyisakan sedikitpun belas kasihan apalagi penghormatan kepada Ibunya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, dia sedang berada pada konsisi tak bisa kudekati, dia telah mengunci dirinya di dalam ruang amarah dan kebencian, rasa dikhianati membuat dia tak lagi memiliki belas kasih itu, bahkan kepadaku.
"Bawa perempuan itu juga ke sini, tak perlu diborgol cukup seret dia," bengis suara Bagas menyadarkan ku, siapa yang dia maksud.
"Bu Zara maafkan saya," kata pengawal yang tampak menatap ke lantai tak berani menatap wajahku, aku tersenyum dan memberikan tanganku untuk di seret.
"Laksanakan perintah Tuanmu Reno, aku ikhlas," bisikku lembut. Reno menarikku dan menjatuhkan ku sehingga terpental di hadapan Bagas.
__ADS_1
"Kamu mencintai istriku Arkana? kamu menginginkan dia?" gelegar suara Bagas memecah kesunyian. Telingaku seakan pekak dan tak bisa sungguh-sungguh mendengar ucapannya.
"Istrimu terlalu terhormat untuk mengkhianti kamu, lelaki bengis tak punya hati, kamu hanya akan menyesali semua tindakan kamu terhadapnya hari ini, aku dan Ibu melindungi kamu, aku dan Ibu menyayangi kamu, tapi kamu lebih mempercayai orang yang membuat hidup kamu berantakan, aku menyembunyikan identitasku agar selalu bisa mengawal kamu, melindungi kamu dari orang-orang munafik disekitar kamu!"
"Tutup mulut penipumu itu!" gelegar suara itu kembali membahana. Bagas bagaikan banteng terluka.
"Semua bukti sudah aku simpan, kamu dan Ibu kamu ini merencanakan hal paling busuk yang bisa aku bayangkan," geramnya.
"Dan kamu Zara Septia, sungguh menyakitkan bagiku bahwa kamu mengetahui kedekatan mereka, kamu tahu dia adik yang menyamar, kamu dijanjikan apa oleh dia? kekayaanku, perusahaanku, saham, atau pernikahan indah bersamanya?" Bagas menatapku nanar. Aku berdiri, meskipun lututku terluka dan berdarah. Bagas menatap lurus pada keningku yang terbentur ujung meja, keningku mengucurkan darah segar.
"Sebagian sahammu sudah kamu serahkan untuk aku dan kedua anak kita, semua yang aku mau sudah kamu berikan dengan sempurna, apakah menurut kamu aku masiih memiliki alasan untuk meninggalkan kamu Bagas Rainhard?" ucapku lembut. Bagas memalingkan wajahnya.
"Aku tak akan tertipu oleh wajah innocent kamu Zara. Aku pun tak akan menceraikan kamu sampai aku puas menyiksa hidupmu."
"Silahkan sayang, siksa aku dengan cara paling kamu suka, kalau itu bisa membuat kamu puas, tapi satu hal yang tak akn pernah aku maafkan seumur hidupku, kalau kamu mengkhianati pernikahan kita dengan perempuan lain, dan ingat Bagas Rainhard, orang yang paling mencintai kamu adalah orang-orang yang saat ini kamu campakkan di kaki mu ini, kelak kamu akan meyadari bawa .... "
"Tutup mulutmu sebelum aku rontokkan gigi-gigi indahmu itu," teriak Bagas murka.
"Kalian semua sampah tak tahu terima kasih!" geramnya. Aku tersenyum lembut dan berjalan mendekati suamiku.
"Aku mencintai kamu melebihi aku mencintai nyawaku Bagas, bunuh aku kalau itu bisa membuat kamu puas," bisikku di telinganya. Bagas menatapku tajam, tepat di manik mataku.
"Aku tahu Arkana adik kamu baru satu hari yang lalu sayang, dan tadi malam dia .... "
"Tutup mulut kamu Zara Septia, aku tak ingin mendengar sepatah kata pun lagi dari bibir kamu."
Ibu menangis sedih sambil memeluk Arkana.
"Ibu sudah mengira kamu ada di sini nak, sejak dulu ibu sudah peringatkan kamu untuk jangan mendekati keluargamu. Tidak cukupkah hanya Ibu yang menjadi fokus kamu? apa yang kamu cari Bima?"
__ADS_1
"Keluarkan Ibu dan anak kesayangannya itu dari rumahku, dan wanita ini, buang ke pulau yang sudah aku katakan tadi malam, jangan beri akses dia untuk keluar, Mrs. Bianca kamu bertanggung jawab mengurus tahanan ini di pulau itu."
Bersambung