
Minggu tenang untuk keluarga kecil kami, meskipun tidak demikian buat Tim BS yang sedang berusaha mendapatkan informsi markas Mafia Zankoku di Indonesia. Setelah Bagas melakukan pembersihan di dalam perusahaannya, mereka tampaknya menyembunyikan aktifitas mereka karena menyadari Bagas Asia Technology sudah mengetahui strategy mereka. Namun yang tidak mereka ketahui adalah Bagas Rainhard mencari mereka secara diam-diam. Terutama mencari keberadaan pimpinan utama mereka untuk wilayah indonesia.
Untuk sementara tak ada riak yang berarti di dalam kehidupan kami, sampai terdengar berita tidak mengenakkan. Mantan ayah mertuaku meninggal dunia di dalam penjara padahal hanya tinggal 1 bulan lagi bebas bersyarat. Mantan Ibu mertua dan Genta datang ke rumah kami. Ketika itu mereka di tahan di pos penjagaan pertama di lingkar paling depan. Melihat kesungguhan beliau untuk bertemu, Bagas meminta pengawalnya memeriksa mereka secara ketat sesuai prosedur keamanan, setelahnya mereka dipersilahkan masuk dengan pengamanan yang ketat. Ada dua pengawal yang menemani Genta dan Ibunya masuk. Sementara aku diminta Bagas untuk tidak menemui mereka dan hanya melihat dia yang berbicara pada mereka.
Mantan Ibu mertua menanyakan keberadaan ku, dia ingin berbicara denganku.
"Ada keperluan apa anda dan Ibu anda menemui istri saya, kalau hanya hendak menyalahkan kematian ayah anda di penjara, salahkan dirinya sendiri yang memerintahkan orang lain membunuh cucu kandung sendiri, hanya karena merasa berdarah biru dan terhormat, sehingga tak sudi menerima keturunan yang tidak sempurna."
Wajah Bagas menyiratkan kemarahan luar biasa yang berusaha sekuat tenaga ditahannya.
"Kami minta maaf atas kejahatan ayah Genta terhadap Panji, tolong ini jangan di perpanjang lagi Tuan Rainhard, saya mohon jangan tutup semua akses bagi Genta untuk bekerja. Dia dipecat tidak hormat atas tuduhan yang tidak masuk akal, saya tahu Tuan memiliki kekuasaan tak terbatas, dan kekayaan tak terhitung, tapi tolong jangan tindas kami yang lemah tuan," pinta Ibunya Genta sambil matanya menunduk tak berani menatap langsung pada Bagas.
Bagas tertawa menggelegar, dia melemparkan keramik asal cina seharga dua buah kendaraan roda dua type matic ke lantai di depan Genta dan Ibunya.
"Tujukan ucapan itu ke diri anda sendiri, bukan saya yang semena-mena karena kaya raya, bercerminlah, bukankah anda semena-mena terhadap istri saya dulu, anda menindas dia dan menghina hanya karena anda kaya, dan Zara anda nilai sebagai orang lemah?" kalimat penuh amarah itu melintas dari mulut Bagas. Sejenak hanya hening dan diam.
"Rangkai kembali keramik itu hingga utuh tak meninggalkan bekas gurat retak sedikit pun! itu keramik seharga kendaraan yang kalian pakai menuju rumah saya!" gelegar suara Bagas membuat mereka tak mampu berkutik.
"Bisa atau tidak membuat keramik itu tanpa cela! kembali seperti semula? kalau bisa saya yang akan memberikan kamu pekerjaan dan kemewahan! bisa atau tidak!" teriak Bagas semakin kalap.
Genta gemetar, dia semakin menunduk. Sepertinya keangkuhanya rontok di lantai keramik rumah Bagas.
__ADS_1
"Saya bisa merangkai kembali Tuan, tapi akan tetap terlihat gurat bekas ...."
Brak!
Bagas menggebrak meja di hadapannya.
"Bagaimana kamu tega menyiksa darah daging kamu lelaki jahan**? sementara kamu tahu tak akan mudah mengembalikan hati yang sudah terserpih dan berserak kamu menciptakan trauma luar biasa pada bocah tak berdosa! dia tidak meminta kamu menjadi ayahnya, Tuhan yang memilihkan untuknya. Keramik pecah saja tak bisa kembali sempurna, apalagi hati manusia!"
Genta berlutut di lantai, dia memohon ampunan atas kesalahannya.
"Bukan saya yang berhak memberi ampunan tapi Deva anakku! tapi tunggu dia besar dan mampu memutuskan apakah akan memaafkan kamu atau tidak!"
"Tuan, saya mohon, pekerjaan saya sangat berharga Tuan." rintih Genta memelas. Air matanya bercucuran.
"Berhenti berlutut, aku bukan tuhan!" bentak Bagas. Ibu dan Genta duduk di sofa dengan wjah pucat pasi.
"Papa, Deva sudah bisa," Deva berlari degan lincah ke dalam pelukan Bagas. Dia megangsurkan gedgednya. Bagas menyambut dan tersenyum senang.
"Tuh kan Papa bilang juga apa? anak Papa pasti bisa." sahut Bagas. lembut.
Deva melirik ke arah Genta dan terkejut, dia menangis dan memeluk leher Bagas menyembunyikan wajahnya di pundak suamiku.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" bisik Bagas lembut.
"Kenapa ada om jahat Pa,? Deva takuuuut."
Bagas berusaha menenangkan Deva. Wajahnya memerah.
"Bawa mereka pergi!" perintah Bagas pada anak buahnya.
"Tuan, Bagaimana nasib saya, Tuan belum menjawab," Genta memohon penuh harap.
"Aku akan membantu kamu saat anakku sembuh dari 'traumanya,"
"Tapi Tuan,"
"Tunggu apa lagi? bawa mereka jauh-jauh."
Aku keluar dari persembunyianku, mendekati Deva yang menggigil ketakutan dalam dekap Papanya.
Trauma putraku demikian dalam. Genta begitu jahat dan keji pada darah dagingnya sendiri.Bagas memerintahkan tim BS untuk mengorek pengakuan lelaki itu tentang alasan dia menyiksa Deva
Dari hasil paksaan di pos penjagaan BS keluar pengakuan kalau dia iri dan marah dengan nasib baikku menjadi nyonya besar dari lelaki paling digilai banyak wanita. Dia melampiaskan itu pada putranya yang di gunakan untuk mengemis bersama siapa pun yang menyewanya. Dia puas menyakiti darah dagingku.
__ADS_1
Bersambung
maaf agak lama authornya sedang sangat sibuk guys, insyaallah besok lanjut.❤❤❤