
Demam Bagas semakin tinggi tapi dia menolak ku bawa ke Rumah Sakit.
"Jangan coba-coba membawaku ke Rumah Sakit! awas!" bentaknya ketika aku berusaha membujuknya pergi.
Namun untuk kali kedua dalam pernikahanku, aku membangkang perintahnya. Melihat dia sangat kesakitan dan merintih pelan meskipun telah ku kompres, tanpa menunggu persetujuannya aku meminta Arkana mengosongkan satu lantai ruang VVIP di Rumah Sakit milik rekan bisnis Bagas. Saat Bagas semakin demam, aku dan Arkana melarikan suamiku ke Rumah Sakit mewah dan bergengsi itu. Di lantai yang sama dengan Bagas seluruhnya steril, tidak ada pasien lain. Di berbagai sudut ditunggui para pengawal kami. Dokter yang diminta merawat suamiku adalah dokter ahli di bidangnya.
"Nyonya Bagas, suami ibu mengalami infeksi pada luka tembak di bahu kirinya. Apa ibu sudah memeriksa lukanya dalam satu dua hari ini?"
Aku terperanjat mendengar ucapan dokter itu. Tapi segera aku berpura-pura tidak terkejut.
"Belum Dokter, apa saat ini beliau berada di dalam kondisi berbahaya?"
tanyaku khawatir. Aku benar-benar merasa menjadi wanita manja dan bodoh, ternyata Bagas mengalami penderitaan . Selama sebulan Bagas menghilang dan aku tak khawatir sedikit pun adalah karena luka akibat tembakan mafia di Jepang. Malah aku menunggunya dengan hati penuh amarah yang membuncah di relung hati. Hari ini aku baru sadar, dia merahasiakan kalau sebenarnya dialah yang bersama Arkana dan team kepolisian yang telah menyelamatkan aku.
"Sudah lewat masa kritis Bu, untung cepat dibawa ke sini. Mungkin Pak Bagas harus dirawat beberapa hari di sini."
"Kenapa bisa terjadi dok, padahal Tuan sudah diberikan perawatan yang baik saat mengalami luka ini."
Rahang Arkana mengeras, terlihat dia teramat marah kepada proses perawatan sebelumnya.
"Sepsis terjadi akibat zat kimia yang dilepaskan ke dalam aliran darah untuk memerangi infeksi malah memicu respon inflamasi pada tubuh. Pak Bagas mengalami keracunan dalam darahnya, untung bukan Sepsis yag akut, karena sudah ditangani secara intensif insyaallah tidak berbahaya lagi, masa kritisya sudah lewat."
Meskipun masa kritis sudah lewat, aku tetap sangat khawatir. Aku menunggui Bagas di sisi pembaringannya sambil menggenggam tangan kokoh itu.
"Ra, sayang, kenapa kamu tega membawaku ke sini, aku sudah bilang jangan bawa aku ke Rumah Sakit."
__ADS_1
Itulah kalimat yang keluar dari mulut Bagas ketika terbangun. Dia terlihat sangat marah.
"Suamiku, kalau tidak dibawa ke sini nyawa kamu dalam bahaya. Kamu mau kehilangan kesempatan menjadi ayah dari seseorang?" bisikku di telinganya. Bagas menoleh ke arahku.
"Kamu mengalami Sepsis akibat luka kamu yang infeksi Sayang. Harus mendapat pertolongan medis."
Bagas menoleh ke kiri dan ke kanan. Seperti takut disekitar kami ada orang lain. Dia tertegun melihatku.
"Kamu ...." Bagas menatapku lekat. Kemudian memegangi bahunya. Aku tersenyum padanya. Mungkin bagi dia itu rahasia yang tak ingin aku ketahui.
"Maafkan aku yang mengira kamu ngga perduli kepadaku, maafin aku yang ngga tahu kalau kamu tertembak karena menyelamatkan nyawa aku."
Aku sudah begitu melodrama, bahkan sudah menitikkan air mata, namun Bagas malah menyelentik jidatku.
"Sayang, apa kamu rela mati demi kucing tetangga, sejak kapan ya seorang Bagas perduli terhadap tetangga?" sahutku sambil menahan senyum. Dia memang lelaki yang tidak pandai merayu dan pemarah luar biasa, tapi hanya dia yang bahkan rela mati demi seorang wanita biasa sepertiku. Lelaki langka yang unik. Dan yang paling mendebarkan adalah, dia ayah dari janin yang sedang ku kandung.
"Sayang, cepat sembuh ya, aku kangen kamu yang baik hati dan selalu memelukku di mana pun kita berada."
Ku kecup punggung tangannya lembut. Aku hendak berdiri untuk mengambilkan ponselnya, mungkin dia booring kelamaan di tempat tidur rumah sakit.
"Zara, sayang ...."
Bagas menangkap tanganku dan menarikku hingga terjatuh di atas dada bidangnya yang berotot.
"Jangan tinggalkan aku meskipun aku kasar dan pemarah, jangan berpaling dariku bahkan hanya sekilas kepada wajah lelaki lain, dan jangan coba-coba meminta cerai dariku. Apa yang sudah menjadi milik aku, tak boleh pergi dari genggamanku."
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengulurkan tangan menyentuh wajahnya yang begitu tampan dan gagah. Lelaki idaman banyak wanita ini sedang menyatakan isi hatinya dengan cara berbeda dari lelaki kebanyakan.
"Iya Bagas Rainhard, milikilah aku seumur hidup kamu, dan jangan pernah berani-berani memiliki wanita lain di hidup kamu, karena aku juga wanita mengerikan saat diserang rasa cemburu!"
Bagas tersenyum sembari menarikku untuk naik ke tempat tidurnya.
"Sayang, pelukin aku ya, please honey."
"Ini Rumah Sakit bukan kamar hotel sayang." bisikku pelan di telinganya.
"Kunci pintunya, banyak pengawalkan di depan? lantai ini kosong kan? jangan bilang kamu membiarkan orang lain dirawat bersamaku di lantai yang sama."
Bagas terlihat hendak marah dan memanggil Arkana melalui ponselnya, aku segera merebut ponsel itu dari tangannya.
"Astaga sayang, aku ini istri kamu, sudah faham maunya kamu seperti apa, tenang saja Tuan Muda yang penyendiri, lantai ini steril dan hanya milik kamu seorang diri."
Bagas tersenyum licik dan nakal.
"Kalau begitu, aman kan sayang?"
Dia kembali menarikku ke dalam selimut Rumah Sakit.
Bersambung
komen, like ya readers, kalau ikhlas tolong juga di share ❤❤❤❤
__ADS_1