
Visualisasi Bagas
...
...
Langkah kaki ku terseok ketika hendak berlari ke parkiran motor, aku menabrak sesosok tubuh begitu keras dan berotot di balik jas hitamnya. Mataku yang berair sempat menangkap bayangan lelaki di hadapanku, dia Pak Bagas.
"Menangis sambil berlari adalah pekerjaan bodoh yang dilakukan setiap wanita. Benar-benar memuakkan." gerutunya.
Aku berpaling dan hendak berlari lagi.
"Kamu mau kemana!" tanyanya dingin. Aku tidak menggubrisnya, langkahku kembali ku ayun cepat, tapi tangan kokoh itu menarik lenganku kasar. Dia menyeretku masuk mobilnya dan menghempaskan aku di kursi penumpang.
"Kamu terlalu sombong untuk ukuran orang yang sedang membutuhkan tumpangan." Dia membanting pintu Lamborghini Aventador LP 720-4 yang jarang dipakainya ini. Aku merasa tak berdaya ketika dia bertanya tujuanku.
"Ra, kamu denger ngga!" bentaknya.
"Rumah Sakit Setia Medica." sahutku pelan. Lelaki ini benar-benar tidak tahu cara memperlakukan wanita apalagi cara menghibur, dia kaku seperti batu kali.
Mobil tiba di parkiran Rumah Sakit Setia Medica, tanpa sempat mengucapkan terima kasih aku langsung berlari.
Ayah sedang ditangani di ruang IGD. Namun beberapa kali ayah kehilangan denyut jantung dan dokter memberikan kejut jantung sampai 200 joul. Ayah kembali tapi harus masuk ruang ICU. Tapi untuk masuk ke ruangan itu memerlukan biaya tidak sedikit.
Untuk satu dua hari aku bisa menanggung dengan menjual semua barang berharga dan perhiasan yang ku miliki. Bagaimana kalau itu melebihi dua hari.
Dokter kembali memanggilku, kali ini sepertinya lebih serius.
"Ayah saudari harus secepatnya dioperasi paling lambat besok. Pendarahan di otak dan kemungkinan ada cedera parah di otak. Kalau terlambat Ayah saudari tak bisa diselamatkan lagi."
Aku terduduk tak berdaya di depan ruang ICU. Ibu tampak lebih setres lagi dari pada aku.
"Andai yang menabrak itu tidak lari tapi bertanggung jawab sudah pasti kita tak akan mengalami kesulitan ini." desis ibu.
"Bagaimana kronologisnya Bu, terus mobilnya warna apa dan merek apa?"
"Ayah ditabrak dari belakang, ibu melihat saat hendak menghampiri Ayahmu. Mobil warna Silver, sedan, kayanya mobil mahal Ra. Tapi meskipun kaya, orang itu pengecut karena langsung kabur."
Aku menggeram, tapi juga tak berdaya. Ibu tidak melihat plat mobilnya, bagaimana bisa di cari. Mobil sedan Silver di Jakarta itu sangat banyak.
Hasil penjualan semua barang berharga hanya cukup untuk biaya MRI dan ruang ICU ayah. Haruskah kami menjual rumah? perasaanku kacau balau tak tentu arah.
Saat baru selesai membayar semuanya, pihak rumah sakit bertanya.
"Untuk operasi di perlukan minimal ..."
"Saya bayar full Mbak, sampai selesai operasinya. Sampai sembuh, berikan perawatan terbaik untuk Pak Indra."
Aku ternganga melihat kegilaan lelaki sok keren dengan sifat cool yang saat ini membuatku muak.
"Kamu tidak perlu repot membayar biaya ayahku berobat, aku bisa menjual rumahku, suster ..."
__ADS_1
"Zara maafin ibu, rumah itu bukan rumah kita lagi, dua tahun yang lalu ayahmu menjualnya dan saat ini kita hanya mengontrak di sana."
Ibu datang tiba-tiba dan merusak semua kepercayaan diriku.
Lelaki dihadapanku yang tak pernah tersenyum itu mendekat kepadaku.
"Cepat putuskan, jangan bermain-main dengan nyawa ayahmu." ucapnya dingin.
Aku berjalan melewatinya, mencoba mengumpulkan kewarasanku.
"Zara, biarkan bos kamu membantu kita." Ibu mendekatiku. Mencoba membujukku.
"Ayahmu dalam bahaya nak, turunkan ego mu."
Wajah ibu sangat memelas, memintaku membiarkan bos gila ini membantu, tapi ibu tak pernah tahu kehidupan seperti apa yang akan putrinya jalani setelah ini. Aku akan bersuami lelaki yang tak menyukai wanita. Mungkin saja iya mungkin saja tidak. Tapi siapa wanita yang rela hidup bersama gunung es ini?
Tanpa mendengar jawabanku dia
menyelesaikan urusan administrasi ayah. Dan jadwal operasi ayah akan dilakukan sore ini juga. Ibu tampak lega. Sementara lelaki di hadapanku menatap sinis ke arahku.
"Uang itu sagalanya di dalam hidup, karena dengan uang aku bisa membeli segalanya bahkan hidupmu sekarang digenggamanku." ucapnya dingin.
Aku hanya diam tak berkutik.
"Ikut aku sekarang!" perintahnya sarkas dan tak mau dibantah.
Ada apa sebenarnya dengan hidupku, lepas dari si penghianat dan pecundang Genta Adiguna, aku dihadapkan dengan lelaki gunung es yang sombong dan mendewakan uang diatas segalanya.
Aku tercenung menatap amplop coklat itu. Perasaanku sangat terluka. Tapi aku harus bagaimana. Terkadang orang miskin tak punya banyak pilihan selain menerima kesewenangan orang kaya.
Aku menandatangani kontrak pernikahan itu. Setelah dia menandatangi di sebelah tanda tanganku dia memberikan rangkap kedua untukku.
Lalu dia meminta nomer rekening bank, aku masih tak percaya ini terjadi di dalam hidupku.
"Cepat, aku tak punya banyak waktu lagi!" bentaknya.
Aku memberikan nomer rekening bank ku, apakah dia tidak sedang bercanda dengan kontrak gila ini.
Dalam waktu hanya beberapa menit Muncul notifikasi MBanking dana 1M. Aku bahkan tak bisa menelan air liur yang tersangkut di tenggorokanku.
Besok aku akan kirim orang untuk menjemput kamu. Kita harus berlatih menjadi pasangan sungguhan, sekalian aku minta semua data pribadi kamu, kita harus mengesahkan pernikahan secepatnya. Jangan sampai ada satu mata pun yang curiga tentang kontrak ini."
Dia berlalu tanpa perasaan. Aku kembali ke rumah sakit dan menunggui operasi ayah.
"Bu, aku akan menikah."
Ibu menoleh ke arahku dengan wajah melongok.
"Kamu sudah gila Ra? baru saja bercerai satu tahun sekarang sudah mau menikah, dengan siapa? Rio atau kembali sama kadal buntung Genta itu!"
Aku diam bergeming.
"Ra!"
__ADS_1
Ibu mengguncang bahuku.
"Dengan Bagas." sahutku singkat.
"Siapa Bagas! ibu ngga pernah kamu kenalkan lelaki itu, jangan menikahi lelaki yang tak bertanggung jawab Ra! kamu dulu memaksa ayah dan ibu menerima Genta, lihat apa akibatnya!"
"Bagas itu Bos yang membayar semua biaya Rumah Sakit Ayah Bu, belum lupa kan? Ibu yang meminta untuk ..."
"Astaghfirullah! mimpi jangan ketinggian Ra."
Ibu terlihat sedih, mungkin dia berpikir sangat mustahil aku menikahi lelaki itu. Aku juga tak yakin. Tapi aku tak hendak memaksa ibu untuk percaya. Biar besok Ibu melihat sendiri.
"Keluarg Pak Indra." salah satu dokter yang mengoperasi ayah memanggil kami. Sepertinya pemimpin operasi itu.
"Kondisi Pak Indra stabil, tapi tetap harus di pantau di ruang ICU untuk beberapa hari ke depan."
Kami saling berpelukan. Ayah telah melewati masa kritisnya.
******//////*******
Mobil berwarna hitam panjang berhenti di depan rumah. Aryo dan Ratih memanggilku ketika dua orang lelaki berpakaian jas resmi warna hitam memasuki perkarangan rumahku.
"Kak ada mafia bertamu ke rumah kita, siapa mer ...."
"Ini rumah Zara Septia? bisa bertemu sebentar?" tanya lelaki yang ku kenal sebagai Reynald sekretaris Bagas.
Ratih berlari ke kamarku, dia menarikku yang sedang memasang sepatu. Wajah Ratih terlihat pucat. Dia seperti ketakutan.
"Kakak ngutang sama rentenir Kak? ya Allah jangan-jangan kakak mau dijual karena ngga bisa bayar."
Aku tertawa tergelak.
"Dia anak buahnya bos kakak Tih, kamu ngga usah takut ya. Tuh di meja belajar kamu ada laptop yang kamu idam-idam kan. Buruan menulis. Katanya pengen banget jadi penulis."
Ratih membuka mulutnya lebar.
"Kakak beneran? kakak ngga bohong kan?" teriaknya sambil berlari ke kamarnya. Terdengar suara tawa gembira dari kamarnya. Aku hanya tersenyum. perlahan hidup kekuargaku akan berubah. Aku akan berusaha berakting sebaik mungkin demi keluargaku. Aktingku dibayar lebih setara dengan main sinetron mungkin. Melihat kebahagiaan adik-adikku dan keselamatan Ayahku, rasanya aku harus total memainkan peran ini.
Aku pamit pada Aryo yang duduk di teras sambil memainkan kamera sony terbaru yang ku belikan untuk menyalurkan hoby potograpnya.
Masuk ke dalam mobil limusin mersedez benz s-600 pullman yang biasa di pakainya untuk menjemput klien dari luar negeri, membuatku merasa sangat nervouse.
...
...
mobil meluncur membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.
"Kami akan bawa Non Zara ke rumah pribadinya Pak Bagas. Tapi sebelumnya kita harus rombak dulu penampilan nona Zara. Aku hanya diam tak menyahut. Terserah mereka mau merombak seperti apa. Aku hanya harus mengikuti permainan ini tanpa protes.
Bersambung
__ADS_1