ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 42


__ADS_3

Arkana telah dilarikan ke Rumah sakit. Bagas demikian khawatir dengan kondisi kepala pengawal setianya itu. Arkana selalu berada di barisan terdepan saat dia terancam.


"Sayang, temani aku menjenguk Arkana ya." pinta Bagas padaku yang sedang menyusui Bara. Dia meletakkan dagunya di bahuku. Kedua tangannya memelukku mesra dari belakang.


"Kapan sayang?" tanyaku sembari menoleh kepadanya. Bagas mengecup bibirku lembut saat aku menoleh.


"Setelah Bara selesai menyusu kita berdua berangkat." titah Bagas. Dia tidak melepaskan pelukannya. Bahkan dia memintaku bersandar di dada bidangnya sambil meyusui putra kami. Hangat dan begitu menenangkan posisi ini.


"Ra, seumur hidupku, tak pernah merasa sangat nyaman dengan seseorang. Sangat percaya dan tak ingin berjauhan lama-lama. Bagiku tak ada tempat berbagi selain kamu. Entah kenapa, aku ngga mampu memahami ini. Mungkin semua ini memang telah menjadi skenario Tuhan untukku."


Bagas menempelkan pipinya di pipiku, sembari tangannya mengelus lembut kepala Bara yang ditumbuhi rambut yang hitam dan tebal.


"Anak kita tampan sekali ya Ra, semoga dia bisa menjaga Deva kelak saat sama-sama dewasa." bisik Bagas sembari mengecup lembut kening Bara.


"Insyaallah sayang, mereka akan menjadi saudara yang saling menguatkan dan saling melindungi. Untuk bisa menjadikan mereka seperti itu, kita berdua harus mendidik mereka dengan penuh kehati-hatian. Penuh kasih sayang." sahutku haru.


"Kamu tahu sayang, buat aku ini adalah mimpi terindahku, dipercaya, disayangi dan dicintai sebegitu besar oleh seorang yang tak mudah jatuh hati pada siapa pun. Aku tak pernah membayangkan ini." ucapku lembut. Bagas diam tak bersuara. Kemudian dia berujar.


"Apakah aku telah mencintai kamu Ra? apakah cinta itu seperti yang kurasakan ini? apakah sehangat itu jiwa ini Ra, sungguh aku tak berani mengartikan perasaanku segamblang itu."

__ADS_1


Aku menoleh kepadanya.


"Cinta hanyalah sebuah kata, tak akan bermakna tanpa pembuktian, sedangkan kamu, memberikan pembuktian tanpa harus mendefinisikan apa yang kamu lakukan. Kamu hanya melakukan dan terus memberikan yang terbaik untuk aku dan anak-anak. Biarkan aku saja yang mengartikan untukmu."


Bagas kembali menempelkan wajahnya di pipiku.


"Aku sangat percaya dan sangat yakin, bahwa kamulah dunia yang kuinginkan selama ini Ra, di pelukan kamu aku merasa lebur dalam tenang dan nyaman. Besok setelah semua urusan Arkana beres, setelah tim Black Shadow berhasil meringkus pimpinan Zankoku di Indonesia ini, aku akan menceritakan seluruh kisah masa laluku yang bahkan psikiater saja tak mampu untuk membuatku mengungkapkannya." dikecupnya lembut pipiku. Rengkuhan hangatnya menciptakan rasa aman, nyaman dan tenang. Andai boleh meminta kepada sang Maha segalanya, aku ingin dia menemaniku sampai kami tua bersama, tak terpisahkan selamanya.


"Iya sayang, aku akan menjadi pendengarmu yang tak akan bercerita kepada siapa pun jua. Bahkan kepada anak kita sekali pun sayang." aku mengelus pipinya dengan lembut.


"Bara sudah terlelap sayang, tunggu sebentar ya, aku tidurkan dia di kamarnya dulu."


Aku selalu berada di samping suamiku, terlebih setelah melahirkan. Bagas selalu meminta aku untuk menemaninya dalam aktifitas pekerjaannya. Bagas menginginkan ibu dari anaknya adalah wanita yang memahami dan mampu membantu pekerjaannya bahkan mampu mengambil keputusan penting.


Semua kepercayaan dan posisi penting itu membuat keluarga Bagas menjadi semakin iri dan dengki terhadapku. Kami menyadari hal itu, Kecuali Giandra yang terlihat menjauhi keluarga Ayah Bagas karena sepertinya tak ingin lagi terlibat kejahatan.


Terlebih ketika ibu sambung Bagas mengetahui Bagas menetapkan ahli warisnya hanya Aku, Deva dan Bara. Mereka semakin antipati terhadapku. Bagas menegaskan bahwa apa yang diperolehnya adalah hasil kerja keras dirinya pribadi. Tanpa sangkut paut keluarga. Bagas sengaja membocorkan siapa ahli waris nya dengan tujuan agar keluarganya menyadari posisiku sebagai satu-satunya istri sekaligus orang yang paling dipercayainya. Bagas juga menjadikan aku salah satu pemegang saham di perusahaannya.


Ketika suatu hari aku mencoba menanyakan kenapa dia menjadikan aku begitu penting seolah menjadi bayangan dirinya. Bagas hanya mengatakan bahwa sejatinya aku memang bayangannya. Dia lebih percaya kepadaku dari pada siapa pun di muka bumi ini.

__ADS_1


Sejak lama Bagas membentengi dirinya dari campur tangan mereka. Bahkan sebelum dia mapan seperti sekarang. Suatu ketika Bagas pernah mengatakan kalau dia tak suka dengan Ibu sambung dan anak bawaannya yang begitu menyetir ayah Bagas dalam segala hal. Bahkan kala masa remaja Ayahnya lebih dekat dengan anak bawaan istrinya ketimbang Bagas. Di mata Ayah, Bagas selalu salah.


Bagas tumbuh di lingkungan kekurangan cinta, kasih sayang dan ketulusan. Kondisi itu menambahkan luka yang sudah terlampau dalam oleh trauma masa lalu oleh penjahat yang menculiknya menhadi kian dalam dan suram.


Bagas berubah menjadi manusia yang tempramental dan tak pernah lagi percaya pada orang lain.


Setelah meninggalkan pesan kepada Baby Sitter Bara dan baby sitter Deva, aku segera bersiap untuk menemani suamiku. Tidak memakan waktu lama, kami segera meluncur menuju Rumah Sakit.


Di koridor RS kami berpapasan dengan seseorang yang sangat kami kenal. Giandra. Bagas menautkan giginya hingga rahangnya mengeras.


"Apa tujuan kamu datang ke sini? diutus nenek lampir itu untuk melukai Arkana?" tanya Bagas emosi. Aku meraih jemarinya yang kokoh dan menyelipkan jemariku di sela jemarinya. Genggamanku membuat Bagas rileks dan tak lagi tegang.


"Kamu kaya, berkuasa, memiliki istri cantik yang diinginkan banyak kaum adam, bahkan kamu mampu melawan kejahatan mafia, begitu yang kudengar, tapi semua itu tak mampu membuat kamu mengurai kesalah fahaman masa lalu yang membuat kamu semakin membenciku dari waktu ke waktu. Tanya hatimu Gas, apakah aku pantas untuk dibenci sedalam ini. Aku bukan tiba-tiba begitu saja muncul di hidup kamu, ada history perjalanan kita Gas." Giandra menatap Bagas. Namun Bagas memalingkan wajahnya dan memilih menarikku mengikuti langkahnya.


"Dan kamu Zara, akan tiba saatnya kepercayaan dia terhadap kamu yang maha besar itu tercerabut dan kamu akan menjadi orang yang paling dia benci, itu yang pernah kurasakan." teriak Giandra.


Bersambung


Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

__ADS_1


__ADS_2