ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 11 acting part 2


__ADS_3

Kami sampai ke kamar dan melihat Bagas menggigil. Dia meringkuk di lantai, tanpa sadar aku berlari memeluknya dan menangis. Ku angkat kepalanya di atas pangkuanku. Wajahnya sangat pucat.


Arkana mengambil sebuah kotak berbentuk seperti P3K, dia mengambil suntikan di dalamnya. .


"Apa itu Ar .... obat untuk apa?" tanyaku khawatir.


"Tenang Nona, ini bukan narkotika, Tuan menggunakan obat standar kesehatan yang resmi."


Arkana memberikan suntikan di lengan Bagas. Kemudian dia memintaku membantunya mengangkat tubuh Bagas yang kokoh itu ke atas tempat tidur. Aku berlari mengambil air dingin dan mengompresnya.


"Saya akan berjaga di depan kamar ini Nona, setelah dua jam Tuan baik-baik saja saya akan kembali ke kamar sendiri."


"Jangan! ngga usah berjaga, sudah ada istri saya yang akan merawat dan menjaga saya, kembali saja ke kamarmu, ini perintah!" Bagas tetap terdengar sangat tegas meskipun dalam keadaan sakit.


"Baik Tuan, saya kembali ke kamar." sahut Arkana patuh.


Aku hendak berdiri ketika dia menarik tanganku hingga terjerambab di tempat tidur.


"Jangan kemana-mana, kamu mau aku ditemani Arkana, terus nanti bakalan muncul gosip aku kaum LGB#." matanya Bagas telihat berkilat.


"Aku ngga kemana-mana, cuma mau mencuci muka, apa juga ngga boleh?" ketus aku menyahuti. Tapi sungguh aku merasa kasihan melihat wajah Bagas yang pucat.


Setelah membersihkan wajah, aku berbaring di samping Bagas. Ku ganti handuk yang mulai terasa ikut hangat mengikuti suhu tubuhnya.


"Jangan, jangan pergi." Bagas menangkap tanganku meskipun matanya terpejam. Aku kembali meletakkan baskom tempat air kompres di atas nakas.


Tubuhnya mulai terasa kembali normal.


"Bagas, kamu tengkurap ya, biar aku pijetin." kudorong tubuhnya hingga miring.


"Apaan itu, ya ampuuuun jangan, aku ngga suka balsem. Panas, bau, seperti bau nenek-nenek tau ngga sih!" bentaknya.


"Biar cepat sembuh, kalau ngga dipijet lama baru sembuh!" aku kembali berusaha membalik badannya. Tapi dia bagaikan batu yang tak bisa ku geser walau cuma seinci.


"Ya udah ku pijet dengan minyak zaitun gimana?" tanyaku pelan.


Dia melemah.


"Oke, tapi jangan dicampur apa pun, awas!"


Dia membuka piyamanya hingga tersisa celana pendek ketat. Aku menelan ludah yang terasa tercekat.

__ADS_1


Gila, body lelaki ini sungguh terawat, ototnya demikian sexi, membuatku gemetar saat menyentuhnya.


Aku mulai memijat tubuh atletis itu, hingga meninggalkan gurat merah di belakangnya. Selain itu aku juga memberikan sentuhan koin di sepanjang bilur tulang di belakangnya, tampak sangat merah, sesungguhnya aku khawatir dia akan marah melihat kulit mulusnya penuh bilur merah. Setelah kurasa cukup, aku memintanya berbalik. Ketika dia berbalik aku terkesima, sungguh pemandangan menakjubkan. Aku menutup pemandangan itu dengan piyamanya. Lelaki itu tetap terpejam. Kali ini aku mengurut dan mengerik bagian dadanya. Bilur merah kembali menghiasi di sela tulang rusuknya. Dia sekarang tertidur. Suhu tubuhnya pun mulai normal.


Pagi sekali, Bagas sudah bangun dan sedang menyesap kopi susu dan duduk di balkon, menikmati matahari pagi yang hangat menyentuh kulit. Sepertinya dia kembali sehat.


Aku terbangun karena dia membuka tirai anti matahari di kamar, sehingga ketika matahari mulai bersinar langsung menyentuh kulitku, lelah karena semalaman begadang merawat tuan muda berwajah dingin itu membuatku bangun kesiangan.


Dia berjemur di balkon dengan bertelanjang dada. Masih terlihat gurat merah bekas ku pijat plus di kerokin dengan koin. Dia malah selfie dan meng uploud foto tubuhnya yang penuh gurat merah.


"Hasil karya istriku tadi malam." dengan emo hati bertebaran. Aku yang membaca di Sosmedku karena ditag olehnya menjadi geli sendiri.Seorang tuan muda kaya raya, membanggakan hasil kerokan plus pijatan. Astaga! tepok jidat. Aku ikut membubuhkan emoticon love di postingannya.


Ribuan komentar membanjiri postingan lelaki berwajah dingin tapi sangat tampan itu. Beberapa wanita menunjukkan komentar iri kepadaku.


"Ayo bersiap, kita akan mengunjungi Pantai Malibu, rekan bisnisku sudah mempersiapkan segalanya agar kita merasa nyaman saat di sana."


"Pantai yang mana?" tanyaku cuek sambil mengenakan pakaianku.


"El Matador Beach, cari pakaian yang nyaman untuk mu menikmati matahari di sana. Keindahan pantai itu berbanding lurus dengan kesulitan untuk mencapainya. Jadi seimbang ketika kamu mendapatkan keindahan dengan perjuangan. Oh ya Kamu jangan menggunakan sepatu yang sulit."


Bagas mengukur kakiku dengan jengkal tangannya, kemudian memperkirakan ukuran dalam cm lalu menelepon Arkana meminta untuk segera membeli sepatu untukku dengan beberapa pilihan warna. Hanya dalam waktu setengah jam sepatu itu sudah sampai. Dia bahkan membantuku mencoba semua sepatu itu, Arkana terpaku bisu melihat Tuan besarnya berjongkok di hadapanku untuk membantuku mencoba sepatu-sepatu itu.


"Ayo sayang, semua barang-barang kita sudah di bawa ke mobil, semua sudah siap, tinggal kamu saja lagi, buruan ya." Bagas memintaku cepat.


Bagas seperti mengerti jalan pikiranku, dia meminta Arkana mengemas yang lainnya untuk di bawa pulang. Aku tersenyum lega.


Perjalanan kami memakan waktu sekitar 6 jam lebih. Saat memasuki Area parkir, Bagas mengingatkan Arkana untuk membayar parkir mobil lebih dari satu hari, karena khawatir mobil bakalan di tilang kalau parkir tidak dibayar atau lupa membayarnya.


Bagas berjalan di depanku dan tidak memperdulikan aku yang kelelahan mengikuti laju langkahnya meniti tangga.


Arkana terlihat sangat mengkhawatirkan aku yang mulai terseok meniti tangga bebatuan.


"Aku gendong di belakangku ya Ra, takut kamu kepleset." Arkana hendak menundukkan punggungnya di belakangku. Bagas yang sudah berjalan puluhan anak tangga menoleh kepada kami, dia buru-buru kembali.


"Kenapa?" tanyanya pelan.


"Maaf Tuan, Nona Zara terlihat kelelahan. Saya khawatir kalau Tuan yang menggendong, karena Tuan baru sembuh dari sakit." Arkana tampak serba salah.


"Naik!" titah Bagas sambil berjongkok di depanku. Sejenak aku ragu, namun dia menoleh dengan kilat mata penuh intimidasi. Aku langsung mendekat dan dia menggendongku meniti tangga batu. Aku sempat melihat Arkana seperti tercengang melihat Bagas memperlakukanku.


"Ingat sayang, saat di area umum begini, kamu harus berakting maksimal, bahkan di depan Arkana!"

__ADS_1


"Iya sayang." sahutku kaku. Sesungguhnya aku mulai merasa terbawa perasaan saat terlalu intim dan diperlakukan romantis, meskipun aku tahu ini hanya bagian dari pemenuhan tanggung jawab kontrak.


Kami tiba di area pantai yang luar biasa indah, perpaduan pasir putih dengan bebatuan, banyak sekali curug dan goa karang. Bagas telah menurunkan aku dari gendongan sejak dari tangga terakhir.


"Saat matahari tenggelam kita akan melihat keindahan luar biasa." gumam Bagas di telingaku.


"Tuan, Grizella membuat ulah!" Arkana berlari mendekati aku dan Bagas. Di ponsel Arkana terlihat Grizella sedang diwawancarai oleh salah satu youtuber terama.


"Biarkan saja! kamu urus dan koordinasi dengan televisi swasta kepercayaan di Indonesia, buat tayangan liburanku ke Malibu bersama istriku, di sela-sela perjalanan bisnisku."


"Siap Tuan, saya dan beberapa orang dari klien yang memberi kemudahan dan mengatur perjalan Tuan dan Nona Zara ke sini akan mengambil setiap detail momen bahagia kalian berdua."


"Arkana, kamu pastikan pengawalan di rumahku aman? jangan ijinkan Giandra dan ibunya masuk ke rumahku selagi aku dan Zara tidak di rumah!"


"Siap Tuan."


Aku mendekati Bagas dan bertanya pelan.


"Seberbahaya apa Giandra dan Ibunya sampai kamu tidak mengijinkan mereka mendekati rumahmu, bahkan juga tidak mengijinkan aku berinteraksi dengan mereka?"


Aku mencoba menyelidiki sedikit masalah Bagas yang terasa penuh misteri ini.


"Kamu ngga akan menyangka Ra, tak semua yang kamu lihat baik dan patuh padaku adalah orang baik, kamu akan terkejut kalau tahu seberapa banyak orang yang membenci dan memusuhi aku di balik senyum mereka yang munafik!"


Angin pantai meniup rambut lurus hitam dan menawan itu. Dia memakai kaca mata hitam dengan paduan pakaian yang sangat santai. Tubuhnya terlihat begitu luar biasa bagus dalam balutan kaosnya.


"Kalau menurut kamu aku bisa menjadi sahabat yang baik untuk mendengar cerita kamu, mungkin setidaknya ..."


"Aku akan menceritakan semua itu ketika kamu sudah menanda tangani perjanjian baru kita, revisi pasal pertama."


Aku hanya diam.


"Sekarang ayo kamu ambil bagian dari usaha untuk memperbaiki imageku."


Bagas menarik tanganku dan membawaku berlarian di area pantai yang ramai menuju tempat yang ditunjukkan kenalannya sebagai tempat paling indah dan sepi terlindung karang dengan hiasan bebatuan dan pasir yang indah, akting bahagia kami yang dihiasi senyum dan tawa serta kemesraan itu direkam eksklusive oleh beberapa orang yang diminta Arkana.


Bersambung


bantu like dan dan komen biar tetap update di NT.


😘😘😘😘

__ADS_1


😘😘😘😘


__ADS_2