
Setelah semua kesibukan selesai, Bagas menelepon. untuk mengajakku pulang karena harus bersiap kerumah mertua untuk pesta pertunangan adik tirinya, aku yang baru selesai meeting dengan devisi Database Administrator dan software developer, kemudian ke toilet wanita khusus karyawati. Saat aku masuk masih sepi, tapi lima menit kemudian aku mendengar beberapa orang wanita masuk, mungkin mereka membenahi dandanannya.
"Eh Yesi, kamu denger ngga kalau Pak Bagas dan Bu Zara keciduk Satpol PP? lucu banget ngga sih, ngga nyangka banget ya? eum aku benar-benar nyesel ngga mendekati dia, kupikir dia ga# lo, secara sikap dinginnya terhadap wanita ngga ketulungan."
"Iya aku denger Nit, ngga nyangka ternyata dia seagresif itu sampai ...."
"Ah! sumpah ya Nita pas meeting bareng beliau tadi pagi imajinasiku liar banget lo, sumpah! aku berkhayal ditangkap bersama dia pas lagi bugil, ha ha ha."
Mereka yang sepertinya berjumlah empat orang itu masih membicarakan kami.
"Hem, masih mendingan kamu menghayal begitu, aku gara-gara berita itu setiap melihat dia jadi pengen melucuti semua pakaiannya."
Mereka kembali tertawa bersama.
"Eh tapi istri beliau Bu Zara itu cantik banget lo, dulu biasa aja ya waktu jadi karyawan biasa, eh pas jadi Ny. Bagas, gila bangeeet... artis korea saja kalah cantik lo, riasannya natural banget, ngga mencolok tapi cantiknya kebangetan sih, gimana Pak Bagas ngga nafsuan sama dia."
"He uem, dia selalu jadi bahan imajinasi para karyawan juga, dengerin aja kalau mereka habis meeting dengan Bu Zara, hem .... yang bujang yang duda bahkan yang punya bini aja ngerumpiin dia, body nya itu lo, mungkin kalau kita punya suami kaya raya seperti dia bakalan cantik juga kali ya."
Obrolan mereka terus berlanjut tapi akhirnya pergi juga, hanya meninggalkan tawa renyah mereka yang seakan menggema di kepalaku. Sementara aku hanya bisa menertawakan diri sendiri, karena kenyataannya pernikahan kami pernikahan kontrak yang super ajaib, karena bisa direvisi sesuai suasana hati pak suami. Aku bergegas keluar dari toilet setelah memperbaiki riasanku. Di koridor ruang staff programer aku berpapasan dengan suami gunung es yang sepertinya sedang mencariku.
"Kemana saja sayang, aku nyariin kamu dari tadi." Bagas mendekat, beberapa karyawati mencuri pandang kepada kami berdua. Tiba-tiba ada sesuatu masuk ke dalam mataku. Aku mengucek mata yang terasa perih. Bagas bergegas menarik tanganku.
"Jangan di kucek sayang. Nanti luka kornea mata kamu."
Dia menarikku ke sofa ruang tunggu, dan mendudukkan aku dengan hati-hati, dia meniup mataku, banyak mata pegawainya yang melihat perlakuan Bagas yang sangat perhatian kepadaku.
"Masih sakit?" tanyanya, kali ini aku melihat bukan seperti akting. Dia benar-benar khawatir. Aku mengangguk. Bagas mengambil ponselnya.
"Reynald, kamu ke lantai 4 ya, ke devisi Programer. Bawakan pencuci mata di kantorku, segera!"
Tidak berapa lama, Reynald muncul membawa cairan pencuci mata. Bagas memintaku segera mengerjab di gelas kecil dan seekor binatang kecil mengapung di dalam cairan itu. Reynald membuang bekas cairan itu.
Bagas berlutut di depanku yang sedang duduk. Matanya begitu teduh. Dadaku bergemuruh antara bahagia dan waspada, karena saat berduaan pasti semua keindahan ini musnah seketika.
"Masih sakit sayang?" tanyanya lembut. Aku menggeleng.
"Sudah sembuh sayang," sahutku mesra sembari mengulurkan tanganku menangkup wajahnya.
"Makasih ya sayang," bisikku tulus. Kali ini aku melanggar pasal dalam kontrak. Aku baper kali ini. Bagas mengerjapkan matanya yang indah berhias bulu mata panjang dan alis tebal namun sangat rapi itu.
__ADS_1
"Iya sayang. Ayo kita pulang, kita harus ke pertunangan Intan kan?"
Bagas berdiri dan meraih tanganku kedalam genggamannya. Setibanya di dalam mobil dia meminta Arkana menghubungi salon kecantikan langgananku untuk segera ke rumah kami. Aku merasakan sensasi sebagai si upik abu yang berubah menjadi putri cantik nan rupawan. Dicintai oleh pangeran tampan. Tapi memang tak sama, karena pangeran tampan yang menikahiku begitu pemarah dan tak konsisten dengan sikapnya.
******/////******
Kami berdua disambut dengan keramahan yang kurasakan sangat dibuat-buat oleh keluarga Bagas. Aku baru tahu kalau ibu kandung Bagas sudah lama menghilang, sejak ayahnya memilih poligami dengan ibu tirinya. Bagas tidak pernah tahu kemana Ibunya pergi, karena sang ayah tidak pernah mau bercerita. Kepergiannya meninggalkan perasaan terluka di hati Bagas. Masih menurut cerita Bagas, Ibunya pergi saat dia berusia 7 tahun. Saat itu dia ditinggalkan Ibunya di taman bermain.
Selebihnya Bagas belum mau bercerita lagi tentang Ibunya. Yang ada di rumah besar keluarga ayahnya adalah satu putri bawaan Ibu tirinya dari pernikahan pertamanya yang bernama Intan, satu putri hasil pernikahan mereka bernama Citra. Yang sekarang bertunangan adalah Intan. Citra sangat supel dan murah senyum. Berbeda dengan Intan yang terlhat tidak begitu ramah.
Di rumah itu sudah pasti aku bertemu dengan Giandra. Dan seperti biasa dia tak pernah marah meskipun Bagas tak menggubris ucapannya. Aku seperti melihat rasa sakit hati teramat dalam di hati suamiku terhadap semua keluarganya, termasuk Giandra. Namun segalanya masih tertutup kabut yang sulit ku singkap.
"Ra, suatu saat nanti aku ingin kamu menjadi jembatan bagi aku dan Bagas berbaikan. Kami dulu seperti amplop dan perangko tapi karena kesalah fahaman yang fatal, aku dan dia menjadi sangat jauh."
Giandra mendekatiku yang baru selesai berbasa-basi dan berpamitan dengan semua orang.
"Semoga ya Dra, aku ngga bisa janji. Karena aku ngga bisa begitu saja mendamaikan kalian tanpa aku tahu sedalam apa luka yang tercipta di hati suamiku," sahutku sembari tersenyum.
"Aku mohon Ra, nanti aku akan bercerita tentang permasalahannya." Giandra mengekori kemana pun aku pergi. Di sudut ruang ku lihat Arkana memperhatikan kami. Tatapan tak suka jelas terlihat di sorot mata Arkana. Tapi aku tak mengerti apa yang di pikirkannya. Arkana dengan berbagai ekspresi yang dimilikinya masih merupakan misteri yang juga belum terjawab dan sedikit mengganggu perasaanku.
"Ra, ayo pulang, kamu sudah pamitan kan? kenapa masih di sini." datar suara Bagas tanpa menatap Giandra.
Bagas meraih jemariku.
"Jangan pernah mendekat ke area pribadiku, dan tidak ada yang ingin ku bicarakan kepada kamu, ngga ada yang penting untuk dibahas!"
Bagas menarik tanganku dan kami segera pergi. Di halaman saat menuju mobil Bagas menghentikan lagkahnya.
"Siapa yang memperbolehkan kamu berbicara dengan bajingan itu hah?" sinar netra yang berkilat itu menandakan dia teramat marah.
"Kamu ngga bisa membatasi orang yang ingin berbicara kepadamu di ruang pesta," sahutku, dengan ekspresi yang juga mengimbangi kemarahannya.
"Ingat Zara, bukan hanya kepada Giandra aku melarang kamu dekat bahkan kepada semua lelaki di dunia ini, faham!"
"Tapi di pasal ...."
Bagas menutup mulutku dengan bibirnya. Kemudian melapas ciuman singkat itu.
"Bodoh! kamu ingin mengumumkan semuanya di sini?"
__ADS_1
Aku terdiam. Hampir saja aku megucapkan hal paling berbahaya, rahasia besar kami.
Bagas kembali membawaku berjalan cepat menuju mobil Arkana telah menuggu disamping mobil.
*******///////******
Kami sebenarnya hendak langsung ke rumah orang tuaku. Namun batal, karena aku meminta untuk tidak membawa mobil mewah di lingkungan rumahku, aku tidak mau terlihat mencolok. Bagas menuruti saja, saat sampai rumah dia membawa beberapa pakaian dan mengajakku ikut menyiapkan pakaian untuk tiga hari di sana. Aku tertawa geli melihat baju yang dibawanya satu koper besar.
"Sayang, kita cukup membawa beberapa lembar." protesku sebari memilihkan beberapa pakaian dan memasukkan kedalam tas jinjing.
"Ra, kamu jatuh cinta kepadaku?"
Bagas menatap mataku tajam. Aku tergagap.
"Kenapa? apa yang membuat kamu berpikiran begitu?" elakku.
"Kamu menyebutku sayang saat tak ada siapapun."
"Kebiasaan! sulit memilah kata karena kebiasaan kita saat di tengah orang banyak."
Bagas menarikku dan mendekatkan wajah kami.
"Aku merasakan debaran berbeda saat kita berdekatan seintim ini Ra. Kamu tidak?" aku bergeming. Bagas tertawa
"Dasar bodoh! hanya di ucapkan kalimat seperti itu saja wajahmu memerah. Awas Ra, jangan baper!"
Dulu ketika dia berucap begitu aku akan membantah dan marah. Tapi entah kenapa kini aku memang main hati. Akhir-akhir ini perasaanku mulai tumbuh subur. Tapi aku tak akan mengatakannya pada lelaki pemarah itu. Dia pasti akan habis-habisan mengejekku.
Bagas meminta Arkana tidak mengawal kami saat di rumah mertuanya.
"Tapi Tuan, bagaimana kalau sampai Tuan sakit atau ...." Arkana terlihat sangat khawatir.
"Aku akan biarkan kalian megawasiku dari kejauhan. Jaga jarak, membaur saja dengan penduduk sana. Jangan gunakan pakaian mencolok."
Arkana mengangguk.
Bagas memboncengku dengan salah satu motor besarnya.
Bersambung
__ADS_1
Keseruan di rumah lama Zara akan hadir di bab selanjutnya.