ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Part 3 Gunung Es


__ADS_3

Hari yang kujalani setelah kehilangan bayiku terasa sangat hampa dan kosong. Kutenggelamkan diri ini kedalam pekerjaan. Keseharian selalu di depan PC berkutat dengan kode perintah yang dapat difahami komputer. Melakukan uji atas hasil program dan jarang berbicara kepada sesama rekan kerja kecuali untuk urusan tertentu, aku hanya berbicara panjang dengan bagian developer yang medesaign program tersebut.


Ruanganku hening, karena aku mendengarkan music melalui headset. Pintu diketuk perlahan, aku mempersilahkan masuk, aku pikir staff programer bawahanku, ternyata Bagas, Bos besar


"Zara, temui saya di ruangan saya setelah pekerjaanmu selesai."


Aku mengangguk dan bergegas menyelesaikan pekerjaan, kemudian segera menemui bos besar yang super dingin dan cuek itu. Dia bahkan tak mengenaliku sebagai adik tingkatnya di kampus.


"Ikut aku ketemu klien ya, kamu bisa jelaskan perusahaan kita dari segi keunggulan IT nya."


"Iya Pak."


Seakan terasa melelahkan mengikuti langkah lebar lelaki di sampingku.


Sesekali dia memberi tahu apa yang harus ku lakukan. Kata-katanya singkat tak banyak bahkan terkesan pelit bicara.


Ketika aku melakukan presentasi di depan semua rekan bisnisnya, dia terlihat puas. Matanya berkilau sarat dengan kekaguman. Saat meeting sudah selesai dia memintaku untuk menunggunya karena ada yang harus dia bicarakan dengan salah satu rekan bisnisnya.


Aku duduk di sebuah ruang tunggu, ada banyak orang duduk di situ, mungkin sedang melamar pekerjaan. Aku hanya menumpang ikut duduk agar tidak lelah berdiri


"Zara, kenapa kamu ada di sini?"


Aku mengangkat wajahku menghadap ke arah suara. Aku terkejut dan replek berdiri.


"Genta? kamu yang kenapa ada di sini?" tanyaku dingin.


"Di sini kantorku, aku database engineer di perusahaan ini." sahut nya pongah.


Dia yang berdiri menjulang di hadapanku adalah Genta. Aku tak lagi memanggilnya Mas karena usia kami sama, dulu aku memanggil Mas karena dia suamiku.


"Kamu jangan bekerja di sini Ra, aku takut orang-orang akan tahu kalau aku mantan suami kamu dan punya anak cacat." Dia mencengkram lengan atasku hingga ku meringis.

__ADS_1


Genta menarikku ke pojok ruangan.


"Jangan merusak reputasiku di sini! pergi dan cari pekerjaan di tempat lain." netra yang di pancarkan dari balik kaca matanya terlihat berkilat. Aku mendorongnya menjauh. Rasa perih menerjang jantungku, membuat degupnya semakin kehilangan ritmenya. Genta hendak mendekatiku kembali tapi sebuah suara melintas di pendengaranku, Genta mengurungkan niat untuk mendekat.


"Zara, ayo kita kembali. Kamu hebat Ra, berkat kamu tender kita menang telak!" puji sosok tinggi tegap dengan jas ketat yang menempel sempurna di badannya yang atletis. Dia tersenyum untuk pertama kalinya kepadaku. Sempat kulihat Genta kebingungan melihat Bagas berbicara padaku.


Tanpa sempat berpikir jernih lelaki dingin dan cuek ini menarik tanganku, dan berjalan sepanjang koridor. Dia masih menggenggam jemariku hingga di dekat mobil barulah dia melepaskan.


"Aku hanya menolong kamu dari lelaki tadi, jangan berpikir yang lain." ucapnya dingin. Dia memberikan kunci mobilnya kepadaku.


"Kamu yang bawa, aku lelah." Tanpa bertanya apakah aku bisa menyetir mobil atau tidak dia langsung menyodorkan kunci mobil kepadaku.


Dulu aku pernah di ajari sahabatku Rio saat di kampus, kami sama-sama ojek online, tapi Rio berubah ke taxi online karena dia memberanikan diri mengkredit mobil. Tapi mobilnya Bagas boss super cool ini aku tak tahu apakah sama dengan milik Rio cara menggunakannya.


Ini mobil super mahal menurutku meskipun aku tak tahu harganya, tapi cukup melihat siapa yang memakainya aku sudah tahu. Bentuknya juga wah banget. Ini mobil Mercedes benz s-class, aku tidak tahu serie apa, biasanya hanya bisa kulihat di film luar negeri. Aku merinding hanya dengan memegang setirnya. Kalau sampai kecelakaan, seumur hidup aku tak bakalan mampu mengganti kerusakannya. Gila, tanganku gemetar.


"Hidupkan saja, ini menggunakan system semi Auto nomous, kamu cukup duduk manis tapi sesekali sekitar 15 atau 20 detik kamu pegang setirnya biar systemnya tau aja kalau ada drivernya, ngerti ya, aku ngantuk."


Aku seperti di masukkan ke arena balap tapi aku tidak tau apa-apa. Biarkan saja kulakukan sesuai informasinya dan benar aku hanya perlu memegang setir 15 detik sekali, mobil ini bahkan bisa mengerem sendiri ketika mobil di depan mengerem. Keteganganku berkurang. Sesekali aku melirik pada sosok yang benar-benar tertidur di sampingku. Hanya sekitar 20 menit dia terlelap, kemudian kami bertukar tempat kembali.


Dia tidak berkata apa pun, seperti biasa rahang kokohnya terangkat sedikit tanpa senyum tanpa kata-kata. Aku pun tak punya keberanian untuk memulai pembicaraan. Dia sekilas melirikku.


"Di rumah atau di kantor."


Sejenak aku tak menyadari ucapannya. Namun sekali lagi dia bertanya.


"Mau di antar ke mana?"


Aku gelagapan dan gugup menjawab.


"Di kantor, motor saya di parkiran kantor Pak."

__ADS_1


Kembali keheningan menyelimuti kami berdua. Hening dan sepi hingga mobilnya masuk ke area parkir kantor. Aku segera pamit dan bergegas turun dari mobil mewahnya. Dia berlalu. Tanpa basa-basi meninggalkanku yang sedikit resah oleh sepinya sekelilingku.


Perlahan ku masukkan kunci kontak ke lubang kunci di motor scoopy hitamku, helm telah bertengger manis di kepala, tapi sudah berkali-kali di stater tetap tidak menyala. Mencoba menghidupi dengan memasang standard dua dan mengengkol namun tetap tak mau hidup. Keringat mulai membanjiri keningku. Bahkan ketika berpuluh kali menginjak kick starter tetap saja motor scoopy tercintaku bergeming. Ku lirik jarum jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 22.30 WIB.


Aku kembali memarkirkan Scoopy kesayanganku dan menguncinya. Meletakkan kembali helm dan bergegas meninggalkan halaman parkir kantor. Dengan langkah tergesa aku menyusuri halaman kantor yang cukup luas, mencoba mengejar waktu, untuk naik angkutan umum. Atau nanti setelah tiba di halte aku bisa memesan gojek. Namun alangkah terkejutnya, ketika suara klakson dari mobil di belakangku berbunyi nyaring, aku menoleh, ternyata mobil Bagas. Dia membuka kaca mobil dan menghentikan mobil di sampingku.


"Naik."


Sejenak aku enggan tapi pintu mobil terbuka dan menghalangi langkahku. Dia menatapku tajam.


"Cepat!" titahnya dengan intonasi tak ingin dibantah.


Akhirnya terpaksa aku harus kembali duduk lagi di sisi gunung es ini. Baru saja duduk dia menyodorkan sekotak tissu. Tanpa kata-kata. Aku menyambut tissu dari tangannya dan mengelap keringat di dahiku yang membanjir. Dia meminta alamatku dan memasukkannya ke system.


Karena sudah tengah malam, jalan terasa begitu lancar dan hanya memakan waktu sekitar 45 menit telah sampai di depan rumahku. Aku berterima kasih, dia hanya mengangguk tanpa menorehkan sedikitpun senyum di bibirnya.


Ketika baru saja mobil Si Gunung es berlalu, aku tertegun. Seseorang yang sangat ku benci duduk di atas sadel motornya. Genta. Matanya terlihat kelam dan menukik tajam tepat ke mataku.


Aku berjalan hendak masuk ke rumah tapi dia beranjak dari motor dan berdiri menghalangi jalanku.


"Sudah punya pacar baru, menggoda bos kamu ya! hebat!" desisnya sambil bertepuk tangan mengelilingiku perlahan.


"Ngga nyangka semurahan itu kamu Zara, tapi apa bos ganteng kamu itu tahu kamu janda dan ibu satu orang bocah cacat? apakah dia mau kalau tahu kamu pernah melahirkan anak tak sempurna itu? jangan-jangan kamu mengaku gadis sehingga dia ..."


"Minggir!" bentakku kesal. Masih tersisa amarah masa lalu di relung hati ini. Aku hendak berjalan melewatinya, namun tangan kurang ajarnya hendak menyentuh pipi ku. Aku menghindar.


"Kak!"


Aryo adik bungsuku keluar dari dalam rumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2