
Ibu mertuaku memeluk dan mencium pipiku. Beliau terlihat sangat bahagia melihat aku berhasil datang menemui dia. Padahal sudah beberapa kali janjian, selalu gagal karena aku tidak bisa mengelabui pengawal. Kalau meminta izin Bagas, sama saja bunuh diri. Dia tidak menginginkan aku berkomunikasi dengan Ibu kandungnya, apalagi menemuinya. Tapi aku terpaksa melakukan ini, karena ingin membantu lelaki yang kucintai sembuh dari luka masa lalunya. Dulu Bagas pernah berjanji untuk menceritakan semuanya, tapi semakin hari Bagas semakin menutup diri dari membuka kisah sedihnya.
Setelah berbasa-basi sejenak Ibu mertuaku menarik tanganku pelan.
"Bagas pernah mengalami trauma, dia tidak mau bercerita apa pun tentang kejadian yang menimpanya." Netra lembut selembut netra suamiku kala sedang menunjukkan perasaan sayangnya padaku itu terlihat meredup.
"Kejadian apa Bu."
"Ibu meninggalkan dia di taman bermain hingga malam hari, saat itu ibu diculik anak buah ayah mertua kamu sehingga Bagas sendirian dan diculik seorang lelaki yang meminta tebusan kepada Ayahnya."
"Berapa lama Bagas disekap Bu?" tanyaku pelan.
"Ibu tidak tahu persis karena saat itu ayah mertua kamu mengurung Ibu di rumah kosong. Dia juga tidak mengatakan kalau Bagas menghilang, Ibu tahu justru setelah ibu dibebaskan anak buah kakeknya Bagas, yang pasti sejak bebas dari penculik itu Bagas menjadi sangat pendiam dan tidak mau didekati siapa pun. Bahkan dia sangat membenci Ibu."
Aku terdiam. Rasanya ada yang harus kuperjelas dari penuturan Ibu.
"Ibu diculik saat bersama Bagas di taman? kenapa Ibu diculik?"
Ibu terdiam, netra itu terlihat gelisah.
"Ayah Bagas berselingkuh, Ibu sangat membenci penghianatan itu, kerena beberapa kali Ibu memergoki dia bergumul dengan perempuan itu di ruang kantornya, Ibu meminta cerai, tapi dia tidak mau karena takut pada ayahnya. Kamu tahu Zara, ibu adalah istri yang dipilihkan oleh kakeknya Bagas, dia tidak mencintai ibu, bahkan dia masih menjalin cinta dengan kekasihnya meskipun kami telah memiliki Bagas."
Sejenak hening diantara kami. Ruang private cafe membuat kami berdua lebih leluasa berbicara.
"Saat diculik dan disekap, Ibu dan Bagas sebenarnya hendak pergi meninggalkan rumah. Tapi ayahnya Bagas ketakutan kalau sampai Ibu dan Bagas pergi, maka kebobrokan dia ketahuan oleh kakeknya Bagas, dan perusahaan keluarga tak akan diwariskan kepadanya. Dia menahan Ibu hanya demi warisan Kakeknya Bagas."
Aku terdiam, ternyata masa lalu suamiku sangat menyedihkan. Bahkan Bagas tak tahu konflik hidup ibunya, dia memendam dendam karena ditinggalkan di taman bermain dan diculik orang yang mungkin sangat menyakitinya hingga trauma berat.
"Bagaimana ibu akhirnya bisa meninggalkan ayahnya Bagas?"
Ibu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mata itu berkaca-kaca.
"Kakek Bagas meninggal dunia seminggu setelah mengetahui Putranya berselingkuh dan memperlakukan putri sahabatnya dengan sangat buruk. Beliau terkena serangan jantung."
__ADS_1
Ibu menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Sehari setelah pemakaman dia mengucap talak kepada Ibu dan membawa masuk istri sirinya yang sekarang menjadi istrinya. Ibu mertua kamu."
"Kenapa Ibu tidak membawa serta Bagas?" tanyaku penasaran.
"Ibu tidak diizinkan menemui Bagas sejak talak terucap! Sekolah Bagas dipindah. Semua akses ditutup, akhirnya Ibu menyerah dan pergi, saat ditalak Ayahnya Bagas, Ibu mengandung adiknya Bagas Ra, Bagas dan Ayah mertua kamu tak pernah tahu masalah ini."
Aku terpana, tak menyangka kisah hidup Ibunya Bagas lebih dramatis dari kisah hidupku dan Genta dulu.
"Dimana dia Bu, dia lelaki atau perempuan?" tanyaku antusias.
"Nanti Ibu akan bercerita lagi nak, saat ini Ibu harus pulang, cukup jauh sayang, Ibu tinggal di daerah Jawa Barat."
"Ibu sudah menikah lagi?" tanyaku hati-hati. Ibu menatapku luruh, kemudian menggeleng pelan.
"Ibu tetap sendiri Ra, Ibu sangat mencintai ayahnya Bagas, luka yang ditorehkannya di hati Ibu membuat Ibu sangat trauma pada pernikahan."
Aku benar-benar terenyuh mendengar penuturan Ibu. Dia mencintai teramat dalam kepada lelaki yang sama sekali tidak mencintainya. Sangat tragis dan memilukan hati. Aku sendiri tidak tahu, cinta kah Bagas kepadaku, atau hanya sekedar menjadi pembuktian baginya bahwa dia lelaki normal. Tapi satu hal yang aku yakini, Bagas tak akan menghianatiku seperti ayahnya menghianati ibunya.
"Ra, saat Bagas bersikap kasar padamu, peluk dia, tenangkan dengan kelembutan, jangan lawan dengan kekerasan sayang. Ibu tahu Bagas itu sangat lembut dulunya, kalau pun saat ini dia kasar dan pemarah, itu bukan sifat dan karakter aslinya. Dia tumbuh menjadi seperti itu karena tak mendapat kasih sayang tulus saat dia tumbuh."
Nasehat ibu membuatku semakin bertekad untuk mengenal dan memahami lebih dalam karakter suamiku.
Kami berpisah dan berjanji untuk saling menghubungi. Dari sorot matanya aku tahu, Ibu wanita yang sangat tulus dan lembut hatinya. Karakter baik saat Bagas memperlakukan aku dengan lembut pastilah didapatnya dari sang Ibu, sementara karakter kasar itu aku yakin tercipta oleh trauma dan minimnya kasih sayang orang tua.
Bagas menjadi sesukses sekarang tanpa bantuan dari siapa pun di keluarganya. Ayahnya memang memiliki perusahaan cukup besar warisan dari kakeknya, namun Bagas berdiri sendiri dengan usaha yang dibagunnya dari nol.
Aku kembali ke rumah dengan menumpang taksi online. Sampai di rumah, aku mendapati mobil suamiku sudah terparkir di tempat parkir. Biasanya di jam ini dia masih sibuk di kantornya. Aku sangat gugup saat mendapat isyarat dari Mrs Bianca kalau suamiku menungguku di dalam kamar kami.
Tanganku gemetar saat memutar gagang pintu. Keringat dingin membasahi telapak tanganku.
"Dari mana kamu! laki-laki yang membonceng kamu adalah lelaki yang ada di foto-foto masa lalu kamu yang kamu pandangi penuh rindu di kamar kamu di rumah cicak itu."
__ADS_1
Suara Bagas terdengar sangat dingin dan datar. Aku mengunci pintu kamar kami agar tak ada seorang pun akan mendengar pertengkaran kami. Aku yakin anak buahnya telah mengirimi dia fotoku dengan Rio.
"Kalian janjian Ra?"
Bagas membalikkan punggungnya, kini kami saling berhadapan.
"Jawab!" teriaknya. Wajahnya memerah. Aku tersentak kaget. Bagas meringsek ke arahku. Tangannya hendak menjulur seperti hendak mencengkram bahuku, tapi berhenti di udara. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan wajah merah padam. Aku berjalan cepat ke arahnya dan memeluk dia erat.
Tangan itu masih mengepal, otot-ototnya menegang. Aku mengangkat wajahku dan menatap mata berapi-api itu.
"Aku tidak sengaja menemui dia di lampu merah sayang, aku memilih ikut dia agar bisa terlepas dari pengawalku. Maafkan istri kamu sayang, aku ..."
Tangan Bagas yang mengepal mulai melemah. Ku usap dadanya yang bergemuruh dengan lembut.
"Kamu tenangkan diri kamu sayang, aku akan jelaskan perlahan, maafkan aku ya, karena terus membantah perintah kamu." bisikku lirih di telinganya.
"Apa yang kamu lakukan bersama Rio, sahabat masa lalu kamu itu." desisnya masih dengan intonasi tinggi.
"Aku hanya kebetulan melihat dia di lampu merah, dia mengantarkan aku menemui seseorang. Kita duduk dulu ya. Kaki ku penat kalau lama berdiri, mungkin bawaan bayi kita." ucapku. Mendengar bayi kita, Bagas seperti di sadarkan dari emosinya. Dia membalas pelukanku. Kemudian mengecup pucuk kepalaku lembut.
"Ayo kita duduk, kamu berhutang penjelasan kepadaku sayang." sahutnya dengan intonasi suara mulai terdengar sangat lembut. Tapi aku tak tahu apakah dia akan tetap lembut saat tahu siapa yang aku temui. Aku berusaha membuat dia sangat rilek dan santai. Ku kecup lembut bibirnya. Ku tatap netra indah itu dengan tatapan sangat lembut. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Bagas membalas menciumku sangat mesra. Satu tangannya melingkari pinggangku. Satu tangan lagi menyangga kepalaku. Dia menciumku dengan itens dan lembut.
"Zara, jangan membuat aku ketakutan dan merasa di abaikan dengan membantah permintaanku, aku hanya ingin kamu aman, terlindungi dan ingat sayang, kamu sedang mengandung anak kita. Aku minta kamu di rumah, bukan ingin mengurung kamu, kalau kamu merasa tak nyaman, aku akan minta keluarga kamu semuanya datang dan tinggal bersama kita."
Aku mengalungkan tanganku di lehernya.
"Aku sudah batalkan kontrak dengan Griz, kamu jangan khawatirkan tentang kesetiaan. Aku hampir mustahil menjadi lelaki penghianat." bisiknya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kembali ku cium dia dengan sangat mesra.
"Iya sayang, terima kasih kamu mau membatalkan kontrak Grizella. Aku tahu ini bukan diri kamu yang biasanya profesional dan tak mencampur adukkan pekerjaan dengan urusan pribadi."
Bagas mengangguk, dia kembali mencium bibirku sangat lembut dan menuntut. Aku berharap kemesraan ini akan mengurangi sedikit kemarahannya saat tahu siapa yang aku temui.
__ADS_1
Bersambung