
Aku masih mengantuk, ketika terbangun di tengah malam, di kamar kami yang luas, kami sudah kembali ke Jakarta. Bagas sedang menelepon seseorang. Terlihat sangat serius dan sepertinya sangat penting.
"Jangan bertindak tanpa perintahku, sebelum matahari terbenam esok sore, aku sudah berada di sana, persiapkan kedatanganku, aku tidak mau ada sedikit pun gangguan."
Aku menggelung rambut panjangku ke atas, mengenakan kembali piyama tidur dan berjalan mendekati Bagas yang tegap berdiri membelakangi.
"Ada apa sayang?" tanyaku sembari menyentuh bahunya. Bagas menoleh melalui bahu nya.
"Kamu terbangun sayang," tanyanya. Netranya kembali menukik pada ponsel, dan dia kembali menghubungi seseorang. Tangan kekarnya yang lain meraihku ke dalam pelukannya. Bagas menghubungi Arkana dan meloudspeaker agar aku bisa ikut mendengar.
"Arkana, nanti kamu dan beberapa pengawal terbaikmu kawal istriku, dia akan sangat sibuk mewakiliku di perusahaan. Jangan lepaskan sedikit pun pengawasan kamu padanya, aku akan bunuh kamu dengan cara mengerikan kalau sampai seujung rambut saja istriku mengalami masalah keamanan!" ancam Bagas tegas.
"Siap Tuan, saya tak akan lengah dan membiarkan istri tuan dalam masalah,"
"Bagus! kamu tingkatkan pengamanan rumahku dan anggota keluargaku di dalam rumah ini, ada dua ipar dan mertuaku juga ibu kandungku, dan tentunya dua buah hatiku, koordinasikan dengan baik pengamanan untuk mereka seandainya mereka hendak keluar rumah, di sini masih ada beberapa tim terbaik Black Shadow."
"Ya Tuan, percayakan pada saya dan tim." sahut Arkana.
"Ingat Arkana, lindungi Istri dan anak-anakku melebihi kamu melindungi nyawamu!"
"Siap Tuan Bagas, saya ngga akan membiarkan Non Zara mengalami hal buruk, nyawa saya taruhannya Tuan," sahut Arkana.
Aku memeluk suamiku dari belakang dengan melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya dan kuletakkan kepalaku di punggungnya yang lebar.
"Zara, aku mau menyelesaikan masalah dengan Zankoku. Pimpinan mereka di Asia kebakaran jeggot dan tak menyangka pihak kita mampu menangkap pimpinan mereka di Indonesia, aku mau menekan mereka sampai keluar dari negeri ini, kerja sama dengan FBI, ingat sayang, jaga diri kamu dan anak-anak kita, menurutlah pada semua aturan yang aku buat, jadwal kamu sudah ku susun rapi, ikuti itu, jangan keluar dari semua jadwal itu, Mengertikan sayang?" tanya Bagas. Netra itu menyentuh lembut netraku. Perasaanku bergetar hebat. Setiap saat aku jatuh cinta pada lelaki ini, lelaki yang menempatkan aku pada posisi sangat berharga. Lelaki luar biasa ini memberikan cinta luar biasa untuk seorang wanita biasa-biasa saja. Bukan dengan rayuan dan ucapan basa-basi belaka, tapi dengan semua sikap dan tindakannya.
__ADS_1
"Besok sore aku berangkat Ra, malam ini biar kuhabiskan bersamamu sepuas hatiku, aku ingin memelukmu sayang," bisiknya lembut.
Paginya, setelah bermain dengan Bara dan Deva, suamiku langsung memintaku untuk meeting kilat dengannya di ruang kerjanya.
"Ra, aku menitipkan perusahaan di tanganmu, namun sepenting apa pun urusan perusahaan kalau itu berbenturan dengan kepentingan kamu dan anak-anak maka dahulukan dirimu dan anak-anak kita, apa pun yan terjadi," tegas Bagas. Tatapan matanya begitu lembut dan sangat meneduhkanku.
"Maaf ya sayang, aku terpaksa meninggalkan perusahaan di tanganmu. Semoga kamu ngga terbebani. Aku bisa pergi hanya sehari, namun bisa juga full satu minggu, bahkan satu bulan." Bagas menggenggam jemariku.
"Bismillah sayang, semoga istrimu ini cukup mampu memikul tanggung jawab di pundakku, Bagas Asia Tekhnology bukan perusahaan kecil, tapi perusahaan raksasa dengan ...."
"Jangan ragukan dirimu Zara, kamu wanita cerdas yang bukan saja kompetan di bidang IT dan tekhnology, tapi kamu cepat belajar saat menjadi wakilku beberapa waktu lalu, aku percaya kamu lebih dari mampu, jangankan satu minggu, atau satu bulan, satu tahun pun kamu tak akan sulit menjadi penggantiku."
Bagas membuka laptopnya dan memintaku mendekatinya. Dia menunjukkan email dari sekretarisnya. Email berisi scedule harian Bagas yang harus aku gantikan.
"Jangan terintimidasi oleh apa pun saat kamu menggantikanku, keputusan mutlak ada di tangan kamu Ra, tak ada satu pun dari mereka yang berada di bawahmu berhak mengaturmu. Ingat sayang, kamu wajib tegas. Kamu adalah Bagas Rainhard itu sendiri, bukan bayanganku apalagi bonekaku, kamu bukan hanya seorang istri bagi Bagas Rainhard."
"Terima kasih sayang, atas amanah luar biasa ini, kamu harus tenang ya. Jangan sampai Zankoku berhasil menyentuh kamu,"
"Iya sayang, tapi kamu juga harus waspada ya, mereka masih mengincar kelengahan kita. Jaga dirimu sayang, aku ngga mau selembar duri pun menggoresmu." ucapnya serius
"Insyaallah aku aman sayang, kamu jaga dirimu ya," bisikku lembut sembari menariknya berdiri dari kursi. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya. Bagas mengecup keningku penuh kelembutan.
Menjelang siang Bagas pergi bersama beberapa orang kepercayaannya. Aku mengantarnya hingga tangga zet pribadinya.
********//////*******
__ADS_1
Hari pertama aku meminta Mrs. Bianca untuk mengawasi kedua baby sitter anakku. Bahkan Mama mertuaku juga membantu megawasi kedua buah hati kami karena aku harus fokus menggantikan tugas suamiku.
Seluruh sceduleku telah rapi disusun oleh suamiku sendiri. Meeting dengan beberapa klien sangat penting, mengontrol perbaikan program di ruang programer dan memastikan keamaanan system perusahaan yang sudah berjalan di masyarakat. Tak terasa 7 hari berlalu, Bagas belum kembali dari perjalanannya. Namun dia selalu menelponku dua jam sekali hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.
"Tuan mungkin akan kembali lusa Non, urusannya belum selesai."
Arkana yang duduk di sampingku sebagai sopir sekaligus keamanan menatapku sekilas. Dua orang pengawal wanita duduk dengan mata waspada di belakang kami. Beberapa pengawal dengan kendaraan roda dua mengekori kemana pun mobil kami meluncur. Mereka tidak tampak seperti pengawal, lebih kepada seperti geng motor.
Hari ini aku menuju sebuah hotel berbintang lima. Seorang dengan perusahaan cukup besar diwilayah asia tenggara menungguku di sana.
"Nona Zara di tunggu di ruang VVIP, silahkan ikuti kami tapi hanya sendiri." kata pengawal mereka dengan tegas.
"Maaf, tanpa mereka terutama Arkana, saya tidak akan menemui siapa pun untuk urusan sepenting apa pun, saya beri kalian waktu 10 menit untuk memutuskan." tegas Zara tanpa basa-basi.
"Proyek ini proyek truliunan Nona, tidak semua orang bisa bertemu dengan bos kami,"
Aku mengangkat pegelangan tangan dan menunjuk jam tangan sambil menghitung waktu mundur. Lelaki dengan tubuh tegap dan berwajah datar itu akhirnya menghubungi keamanannya dan mengatakan bahwa Wakil dari Perusahaan Bagas Asian Technology tidak bersedia masuk ruang pertemuan tanpa pengawal pribadi. Negosiasi berakhir dengan dipersilahkan kami masuk di temani Arkana dan 5 orang yang berdiri siaga di depan pintu bersama dengan tim keamanan Perusahaan yang berpusat di Bangkok Thailand.
Aku merasa ada sesuatu yang janggal saat masuk ke dalam ruangan itu. Begitu mewah namun juga terasa dingin dan misterius.
Arkana tampak waspada bahkan salah satu tangannya siaga menyusup ke dalam jas hitamnya. Sampai ke dalam ruangan, seorang duduk membelakangi aku dan Arkana, kursinya di putar membelakangi kami.
"Silahkan duduk Mrs. Zara Septia, senang bisa berjumpa kembali bersama anda." Aku terpaku di tempatku berdiri, aku sangat mengenal suara lelaki itu.
Lelaki itu memutar kursinya dan tersenyum kepadaku atau lebih tepatnya menyeringai. Arkana langsung berdiri di hadapanku dan meminta 5 pengawal menerobos masuk.
__ADS_1
Beràsambung