ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 43 Kasmaran Lagi


__ADS_3

Mendengar ucapan Giandra, jujur perasaanku sedikit terganggu. Ada secuil rasa takut menyelip di dasar sanubariku. Masuk akal, melihat kepribadian Bagas yang dingin dan bisa membenci siapa pun yang dianggapnya menyakitinya, bukan mustahil dia tiba-tiba kehilangan rasa percaya pada orang terdekatnya.


Tapi aku tak mau menjadi apatis untuk itu. Biarlah semua mengalir bagai air, tak perlu mengkhawatirkan apa pun tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Aku tidak mau mati sebelum mati, menikmati saat ini dan terus mengharap segalanya akan tetap baik-baik saja pasti akan membuat pikiranku lebih jernih.


Beberapa pengawal berjaga di depan kamar Arkana, mereka menunduk takjim dan hormat kepada kami dan membukakan pintu untuk kami masuk ke dalam ruang rawat Arkana.


"Bagaimana bisa pengawal terbaikku tertembak, kamu punya nyawa rangkap?" Bagas menepuk bahu Arkana, pengawal dengan mata teduh dan selalu pendiam itu meringis.


"Setelah kamu sembuh, kembali ke tugas utama kamu, mengawalku, jangan ikut memburu Zankoku, biarkan mereka, BS tim saja yang berburu. Awas kalau kamu membantah!" tegas Bagas. Arkana tersenyum sambil mengangguk ke arah kami.


"Non Zara sudah melahirkan?" tanya Arkana.


Bagas tertawa mendengar pertanyaan Arkana.


"Seisi dunia tahu Zara sudah melahirkan lebih dari satu bulan lewat, kemana saja kamu Arkana!"


"Maaf Tuan, fokus mencari informasi Zankoku membuat saya tidak mengikuti perkembangan keluargaTuan."


"Ngga mengapa Arkana, yang penting kamu selamat." sahutku menimpali.


Dokter masuk memeriksa luka Arkana.


"Awas ya Dok kalau sampai Arkana mengalami infeksi seperti saya dulu, akan saya pastikan izin kerjamu dicabut, dan rumah sakit ini saya tutup!" ancam Bagas dengan wajah sedigin es balok.


"Ya Tuan, kami sudah lakukan yang terbaik, Tuan Arkana tak akan mengalami infeksi. Kesembuhannya kami jamin 100%." sahut dokter yang tampak usianya tidak begitu jauh dari Bagas. Arkana tersenyum simpul melihat Bagas kumat mengancam setiap orang.


"Kamu Tuhan?" ketus Bagas masih dengan wajah dingin.


"Maksudnya Tuan?" Dokter itu terlihat bingung.


"Hanya Tuhan yang bisa memberikan kepastian 100%,"

__ADS_1


Dokter itu hanya bisa menahan kesal tanpa bisa menjawab. Dia dan dua perawat segera meninggalkan ruang rawat Arkana setelah melakukan segala sesuatu untuk memantau kondisi luka tembak Arkana.


"Kami pulang Arkana, langsung kembali ke rumahku, kawal aku atau Zara saja, jangan membantah, aku tidak bisa tenang istriku dikawal pengawal lain, aku was-was meskipun pengawal itu perempuan sekali pun. Karena hanya yang terbaik yang pantas mengawal milikku yang sangat berharga." ucap Bagas tanpa ekspresi. Tak tahukah dia hatiku bertalu dan jantungku berdenyut manja oleh kata-kata romantisnya. Dia mengatakan ucapan semanis itu tanpa ekspresi. Membuat hati ini menjadi gemas dan semakin bucin padanya.


"Arkana, kami pamit ya, segera kembali secepat kamu bisa!" ucap Bagas sambil menepuk bahu Arkana.


Aku hanya bisa terseyum melihat cara Bagas menunjukkan keperduliannya kepada kepala pengawalnya yang sangat setia.


"Cepat sembuh Ar," ucapku sembari mengagguk ke arahnya. Arkana membalas dengan mengangguk dan tersenyum lembut padaku. Entah kenapa perasaanku ada yang tak biasa setiap Arkana menatap mataku. Aku hanya menyimpan itu di dalam relung tanya di sudut rahasia hati ini. Sebagai wanita dewasa aku tahu, Arkana menyimpan rahasia hati kepadaku. Entahlah. Mungkin saja aku keliru dan kelewat percaya diri.


"Ra, kita terbang ke Nihi Sumba NTT besok pagi, hanya berdua sayang, dengan zet Pribadi, eum dengan pengawalan ketat. Di area yang akan kita datangi bakalan steril, kamu jangan khawatir ya,"


"Anak-anak ditinggal sayang?" tanyaku sedikit tak nyaman membayangkan Bara yang baru berumur 45 hari akan tanpa aku Ibunya.


"Kita cuma 24 jam di sana, paginya kita kembali lagi sayangku, istriku, canduku." bisik Bagas di telingaku.


"Hah? 24 jam?" ngapain?" aku melongo.


Bagas merapat dan semakin menempel padaku.


Wajahku terasa menghangat karena sedikit malu membayangkan suamiku sangat merindukan diri ini setelah usia bayi kami telah 45 hari.


"Merayakan kemerdekaanku kembali bisa memiliki istriku seutuhnya. Kamu siap sayang?" Bagas terlihat sangat menggodaku dengan senyum nakalnya. Aku berjalan mendahuluinya karena malu.


Bagas merengkuhku dari belakang. Diantara begitu banyak orang berlalu lalang dirumah sakit itu. Meskipun jarak mereka jauh karena area tempat kami selalu di sterilkan untuk kenyamanan Bagas yang tak begitu suka berada di kerumunan orang lain.


"Bagas Rainhard sudah ngga tahan pengen mendengar desahan dan ucapan nakalmu saat berada di puncak keindahan surgawi itu sayang, dikepalaku selalu terngiang pujianmu padaku, rintihan manjamu, ekspresimu, astaga sayang rasanya udah ngga sabar ...."


"Sayang, kamu mesum banget sih pikirannya? idih sayang, kita udah punya bayi lo, masa mesumnya ngga ilang-ilang sih?" godaku sambil mencoba melepaskan rengkuhannya.


"Mesum sama istri sendiri ngga ada yang bisa melarang sayangku," Bagas mengecup pipiku penuh kelembutan.

__ADS_1


"Ngga ada sih, tapi masa iya saat melihatku yang ada di pikiran mu semua yang kulakukan saat ...."


"Beneran Ra, aku mau gila kamu suruh puasa 40 hari ini. Bayangan kita bercinta menyiksaku. Rasanya .... sulit untukku menjabarkannya sayang, kamu jangan lupa gunakan alat kontrasepsi ya, biar kita pacaran halalnya bisa lama."


"Mesum ah," rajukku manja. Bagas tertawa geli, dia mengangkatku dan menggendongku, replek aku merangkul lehernya. Pengawal kami semuanya tersenyum melihat ulah Bagas yang memanjakan istrinya dengan menggandong sampai ke mobil.


Hanya satu jam pasca Bagas menggendongku di area publik berita sudah merebak disitus online, seseorang atau mungkin beberapa orang mengabadikan momen keromantisan suami gateng nan machoku. Ribuan komentar menghiasi setiap berita.


"Lelaki kaya raya super ganteng itu teramat bucin pada istri cantiknya, bikin iri aja"


"Beruntungnya Zara, lelaki dingin dan macho itu hanya mimpi bagi kita."


"Aku juga akan begitu kalau Zara istriku, cantiknya bikin hati deg dega an .... bagaimana Bagas ngga bucin akut?"


Namun ada satu komentar yang membuatku terganggu.


"Lelaki seperti Bagas kalau lagi butuh disanjung, coba saja saat dia mulai bosan, paling juga dilepeh."


Bagas merebut ponsel dari tanganku. Dia mendekatiku hanya dengan handuk melilit di pinggang rampingnya. Pesona perut rata dan berotot itu membuat pikiranku semesum suamiku.


Tangan nakalnya mulai membuatku tak karuan, nafas terasa demikian memburu dibuatnya.


"Jangan menyiksaku sayang," rintihku manja.


Bagas tersenyum penuh kemenangan manakala kini aku yang memohon padanya untuk segera dibawa melayang hingga ke langit ketujuh.


Malam itu begitu panjang dan melelahkan namun sangat indah. Bagas begitu luar biasa merindukan momen ini aku pun sama. Padahal perjalan ke Nihi Sumba esok pagi. Namun malam ini sudah menjadi malam pertama kami pasca melahirkan.


"Sayang, saat di Nihi sumba nanti, aku akan mencoba menceritakan kisah hidupku padamu. Tentang trauma mendalamku." bisik Bagas sambil memelukku di bawah selimut kami.


"Aku akan setia untuk mendengarkannya sayang, mendengarkan dengan jiwa ku," ku tangkup wajahnya dan ku kecup lembut kelopak mata itu. Bagas tersenyum sambil kembali mengecup bibirku penuh gairah.

__ADS_1


"Sentuhanmu sekecil apa pun kepadaku terasa membakarku Ra, kamu wanita pertama yang membuatku mengerti rasa ini, kamu akan menjadi wanita terakhirku, kamu yang telah ajarkan betapa indahnya saling memiliki, setiap sentuhanmu akan membuatku kembali eum ... kembali menginginkanmu sayang, istriku canduku." desisnya penuh gairah.


Bersambung


__ADS_2